Sosial Politik
Tinggalkan sebuah Komentar

Bakat Engineer Masyarakat Indonesia

Ketika diberikan kompor gas gratis untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah, banyak masyarakat yang memanfaatkan ‘kebaikan’ pemerintah tersebut untuk mendapatkan sekadar uang tambahan. Jual lagi kompornya. Balik lagi ke kompor minyak.

Ketika terdapat kebijakan untuk memekarkan daerah supaya pembangunan daerah menjadi lebih modular dan fokus, ada oknum memanfaatkan untuk menjadi bupati setelah kalah pada pilkada. Bawa sedikit masa, mekarkan daerah baru, jadi bupati pertama. … profit!

Ketika ada proyek bernilai sekian em harus ditender, kenapa nggak kita pecah saja menjadi banyak proyek di bawah nilai em. Nggak perlu tender. Tinggal tunjuk perusahaan sodara. Terus kalau perusahaan sodara yg ditunjuk bukan ahlinya? Gampang. Tinggal si perusahaan sodara ‘meneruskan’ proyek. Cari lagi yang bisa ngerjain. Terus, hingga yang mengerjakan ternyata adalah mahasiswa.

Ketika ada ujian nasional untuk memberikan standar, seluruh perangkat bersatu untuk mengalahkannya. Bagi tugas. Ada yang mengawas dengan renggang. Ada yang memeriksa jawaban murid. Ada yang memastikan murid bisa diajak kerja sama. Ada yang membuat jaringan karisidenan dan menyebar info.

Ketika menemukan bahwa daftar Paypal itu bisa menggunakan verifikasi manual oleh staf Paypal sendiri, orang pun berbondong-bondong mencoba. Maksud hati si Paypal sih baik, eh malah kebanjiran permintaan. Ya akhirnya ditutup deh verifikasi manualnya.

Masyarakat kita itu terkenal pinter. Termasuk pinter ngakali seperti ini.

Menurut saya hal ini menunjukkan kalau masyarakat Indonesia itu sebenarnya bakat menjadi seorang insinyur alias engineer. Insinyur pada prinsipnya kan mencoba mencari kelemahan sistem atau mencari sela kemajuan di antara sebuah batasan atau sistem yang menjadi pokok masalah. Atau bakat jadi enterpreneur ya, kan pintar mencari profit itu namanya. Hal ini juga mengalir di darah saua sebagai orang Indonesia tulen. Saat  melihat elegantthemes.com memberikan prinsip “jaminan kepuasan – 30 hari tak puas uang kembali tanpa pertanyaan”, saya langsung kepikiran, “oh ya udah, entar langsung bilang nggak puas aja kalau begitu”. ^^ Tentu aja tidak benar-benar saya lakukan ya..

Dan pada umumnya, engineer itu mirip seperti bangsa kita: malas. Mereka selalu berfikir bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah dengan secepat dan seefisien mungkin. Toh, kerjanya ya rekayasa, rekayasa, dan rekayasa.

Bukti lainnya cukup banyak. Salah satunya pencolongan listrik. Banyak terjadi, kan? Padahal itu listrik dari tiang kan voltasenya tinggi, struktur rumit, dan perlu ahli untuk memasangnya. Eh, ini warga biasa bisa seenaknya aja masang kabel ekstensi ke sana. Bahkan kalau mau, yang dicolong bukan listriknya, tapi kabelnya. Nggak perlu sekolah, tapi bisa dan aman. Bakat sekali kan?

Yap, saya yakin kita ini bakat jadi engineer. Coba bisa disalurkan ke tempat yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s