Jadi Ceritanya..., Sosial Politik
Tinggalkan sebuah Komentar

Keseimbangan: Rakus Peluang dan Tahi Kucing?

Waktu saya tingkat satu, cisitu dipenuhi dengan banyak tikus. Tikus dalam artian harfiah loh ya. Tikusnya besar-besar pula, hampir sebesar anak kucing. Jika kita berjalan malam-malam, di setiap gang peluang melihat ada tikus yang sedang maraton sangatlah besar.

Waktu itu, kondisi jalan cisitu masih lumayan nyaman, setidaknya jika kita jalan kaki di siang hari. Ada tikus yang lewat itu mah biasa. Paling jijik atau serem doang saat mereka lewat. Kita maklum bahwa got disini kotor dan saling terhubung satu sama lain.

Sekarang, sepertinya ada cat-boom di kawasan Cisitu Lama ini. Berangsur-angsur, populasi kucing bertambah. Entah siapa yang memulai kok bisa begini. Sepertinya, tiap beberapa blok rumah punya piaraan kucing sendiri. Perlahan, di setiap gang kita bisa melihat hewan unyu itu sedang jalan, berkelahi, atau sekedar bersantai.

Tentu saja, jika harus memilih, manusia manapun [citation needed] akan memilih kucing dibanding tikus. Banyak tikus berkeliaran atau banyak kucing berkeliaran? Lebih terkesan menyenangkan yang kedua yak…

Namun, jalanan di gang-gang dalam Cisitu Lama sekarang menjadi kurang nyaman. Bau, kotor. Tidak hanya dari comberan yg memang dari sananya terkadang agak bau, eek kucing sekarang ada dimana-mana. Sepertinya, eek tikus lebih tidak seberapa dibanding eek kucing. Kucing sih lucu, tapi kalau berak sembarangan itu loh.

Kucing Cisitu yang Suka Mampir di Kosan

Memang sepertinya yang bagus adalah yang seimbang. Bukan kebanyakan kucing atau kebanyakan tikus. Alam sudah mengajarkan bahwa keseimbangan itu penting. Rusaknya keseimbangan bisa menyebabkan bencana besar. Ledakan populasi suatu predator bisa merusak seluruh ekosistem.

Dalam prinsip ekonomi modern, keseimbangan adalah segalanya. Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang bagus. Akan tetapi, terlalu tajamnya pertumbuhan akan menyebabkan kehancuran yang berbahaya dalam sistem uang. Harus ada penyeimbang sehingga pendapatan penduduk yang kian meningkat itu tidak semakin meningkatkan harga, inflasi, dan sebagainya. Suku bunga pun dinaikkan. Orang-orang berduit lebih tertarik menabung. Aktivitas jual beli menurun dan harga kembali stabil. Stabilitas itu yang utama. Jika tidak, uang yang beredar tidak akan terkontrol lagi. Kehancuran pun menunggu.

Dalam islam, keseimbangan juga penting. Tidak bisa kita hanya memikirkan akhirat saja terus jatuh seperti sufi yang berkelana, memiskinkan diri, dan fokus ke ibadah saja. Kemudian kita mengabaikan dunia dan sosial kita. Tidak bisa kita hanya bekerja saja untuk dunia dan melupakan ibadah dan tetangga. Juga tidak bisa kita hanya bersikap sosial ke tetangga tanpa memikikirkan diri dan keluarga serta agama dan kehidupan sesudah mati nanti. Semua harus seimbang. Sama saja, kalau punya istri lebih dari satu, keduanya pun harus dianyom secara seimbang. Tidak boleh ada berat sebelah.

Poinnya adalah, keseimbangan itu susah. Sangat susah.

Sekarang asumsi kamu adalah seorang yg baru melihat peluang-peluang di dunia. Secara umum ada 5 peluang yang ada di dunia, khususnya Indonesia sekarang.

  1. Kebutuhan akan pekerja banyak
  2. Penelitian di kampus menggairahkan
  3. Kegiatan sosial-dakwah juga bagus dan menguntungkan untuk koneksi (misal di masjid kampus)
  4. Buat start-up sendiri di negeri ini juga masih menarik
  5. Proyek lepas banyak.

Ada lagi nggak? Itu sepertinya sudah semua kemungkinan peluang yang ada ya. Semuanya menarik bukan… Pilih yang mana ya?

Yah, jika memang superman, ambil saja lima-lima nya. Mantab sekali ya. Jadi staf perusahaan besar iya, kelompok sosial iya, lab ada, proyekan juga, founder start-up pula.

Tapi mungkin pertanyaannya, apakah Anda superman? Bisa gitu menyeimbangkan semuanya? Buat kestabilan di kelimanya? Ambil dua dari 5 peluang tadi saja, kebanyakan orang belum tentu bisa fokus secara seimbang ke keduanya. Padahal peluang yg didaftar diatas belum termasuk kuliah dan tugas akhir. Hmm..

Yah, kalau merasa mampu sih silakan. Akan tetapi, jangan sampai alam dan ekonomi tadi terjadi. Atau kasus dunia-akhirat tadi. Terlalu banyak berkutat di satu sisi sampai mengorbankan yang lain. Jika memang begitu, ya tinggalkan saja salah satu dari variabel tadi. Jangan rakuslah. Kasus terakhir ini bisa mengubah variabel dengan mudah kan, tidak seperti alam, eknonomi, dan dunia-akhirat.

Jangan juga seperti kasus tikus dan kucing Cisitu. Mengganggu sistem lain dengan banyaknya tahi yang dibuang sembarangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s