Diskusi dan Ide, Jadi Ceritanya...
Comment 1

Re:Zero, A Masterpiece

ReZero

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali.

Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!!

Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL:

IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION!

Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!!

Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya…

Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis!

Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini.

Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV Series, Sinetron, Film, Novel, VN, etc.) bisa buat seri artikel sendiri. Mungkin bisa diringkas dengan tiga kata: variasi, kedalaman, dan eksekusi. Namun itu bahasan untuk lain kali.

Intinya, saya sudah banyak nonton anime. Udah muak lah… Pahamlah sama semua klise, trope, dll. Namun, banyak hal yang baru saya alami setelah saya menonton Re:Zero di musim ini.

  • Pertama kali saya merasakan zetsubou (putus asa) yang mendalam setelah menonton episod dan masih terngiang hingga beberapa jam setelahnya. Harus nonton video kucing dulu supaya bisa tidur.
  • Pertama kali saya menonton episod yang sangat-sangat spektakuler, yang saya nggak bakal mau nonton ulang. Ehm, episod 15 ehm… Kenapa? Karena well, cek poin sebelum ini.
  • Pertama kali saya spontan teriak F word ke layar. Teriak lho… Teriak! You know, it’s not in my character to say that. Yes, the author of this series is a troll (reddit, point 3) .
    Note: by F word of course I mean: Friends!
  • Pertama kali saya tertawa ngakak melihat super panjangnya list kekuatan dari seorang tokoh super duper imba (ehm, Reinhart, ehm….) dan sangat bersyukur bukan dia yang jadi MC.
  • Pertama kali saya merasa nggak nyaman ngeliat MC yang lemah, pathetic, membohongi diri sendiri dan sekelilingnya, terus hampir gila kena trauma alias PTSD, tapi masih tetap lanjut nonton.

Dan belakangan, di episod 18.

  • Pertama kali saya menangis, literally meneteskan air mata. Bukan cuma mata haru, benar-benar merembas deras. Deras! Sepanjang episod!! Yang isinya padahal cuma dua orang berdiri di tempat yang sama. Separuh isinya monolog dan separuh laginya dialog.

Mungkin kira-kira kayak ini lah raut wajah waktu saya nonton.

Don’t get me wrong. Ada banyak contoh episod anime/ tv series yang isinya cuma dialog tapi sangat menarik untuk ditonton. Contoh konret: Bakemonogatari. Hampir semua episod malah! Ada banyak juga contoh anime/ tv series yang membuat saya terharu dan mengabutkan mata. Clannad, Tokyo Tower, AnoHana, Shigatsu Kimi no Uso, One liter of tears, dan banyak seri lainnya.

Namun, episod 18 Re:Zero ini… Is in a whole different dimension. 

Episod 18 ini saja, bisa mengalahkan semua romance di J-Drama, K-Drama, sinetron, holiwut atau boliwut manapun… Saya yakin nggak bakal ada drama live action itu bisa mengubek-ubek emosi melebihi episod ini.

Episod yang sangat-sangat super, sampai saya ragu mau nonton lagi. Nggak tahan sama emosi gan…

Supaya ngerti, bagi yang belum tahu ttg anime ini, sedikit overview. Premisnya, ttg seorang NEET bernama Subaru yang tiba-tiba nyasar ke dunia fantasy yang well kejam. Disini eh dia punya kekuatan seperti karakter di game. Dia punya save point, kalau mati bakal reset lagi ke save point tersebut. Starting from zero.

Nah, cerita Re:Zero ini mengisahkan bagaimana reaksi manusia biasa, manusia beneran kayak saya yang nulis blog ini dan Anda pembaca, dengan segala pola pikir dan psikologinya, saat ditaruh ke dunia fantasy dengan kekuatan absurd kayak premis di atas. Menghadapi rentetan tragedi. Didorong sampai ke titik nadir…

Sebuah story telling akan berusaha menempatkan tokoh utamanya (MC) sebagai seseorang yang relatable dengan pembacanya. Jadi pembaca bisa menempatkan diri di sepatunya si MC. Empati… Cerita yang bagus bakal membuat kita lebih dari empati. Membuat pembaca merasakan yang dirasakan oleh si MC, berpikir wajar kalau aing kena kejadian gini, aing akan berbuat, dan bereaksi demikian. And Re:Zero have an excellence job at it!!

Sangat rekomendasi untuk nonton episod ini. Namun, kayaknya kalau nggak nonton dari episod 1 ya nggak akan kena emosinya deh… Soalnya episode 18 ini puncak dari seluruh episode sebelumnya, dan akhir dari prolog cerita Re:Zero. Akhirnya, cerita sebenarnya dimulai juga.

Re:Zero asalnya dari web novel yang bisa dibaca disini (URL: http://ncode.syosetu.com/n2267be). Setelah musim ini selesai pengen banget baca, tapi kanjinya itu…

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s