Diskusi dan Ide, Racuan Si Blog
Comment 1

Bagaimana Saya Dulu Mengisi Blog Ini

This article is in Indonesian. If Indonesian is not your language, you can read this article in English here. This article is part of introduction sequence of this blog to our dear reader about the way this blog WAS written.

Saya membuat blog ini tanpa tujuan. Tidak ada titik akhir yang jelas yang saya ingin tuju. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian saya memberikan tujuan utama pembuatan blog ini: untuk mengasah tulisan. Mungkin tujuan lainnya ya menuangkan ide atau membagi cerita yang dihadapi selama ini ke dunia. Akan tetapi, tujuan yang pertama tadi masih dipegang sampai saat ini.

Isian blog saya (dulu) adalah keacakan yang nyata (mungkin sampai sekarang pun masih acak sebenarnya). Tidak ada ciri khusus. Yah, hal ini bukan merupakan hal sebuah abnormasi karena isi blog kebanyakan orang juga hal-hal yang random. Tidak tertata jelas. Mau bagaimana lagi, memang itulah prinsip dari sebuah weblog. Tanpa proses editing (sebenarnya bisa juga anda tambahkan tahap editing dalam proses penulisan blog anda) kepada pembaca awal atau seorang editor sungguhan. Isi sesuka hati Anda. Isi sesuka pikiran dan cerita Anda. Walaupun ada juga beberapa blog yang didedikasikan untuk konten tertentu, hal unik atau fotografi misalnya.

Randomisasi konten tulisan tadi juga ditambah dengan randomisasi waktu tanggal penulisan. Ya, saya tidak (dahulu) punya jadwal yang tetap untuk mengisi blog. Entah mengapa, kurang ide. Kemudian, tidak ada kesempatan untuk menulis blog walaupun idenya ada. Padahal sudah dibuat draftnya dalam perangkat lunak teks editor Microsoft word. Ya walaupun mungkin itu adalah alasan palsu yang dibuat-buat oleh jejaring impuls listrik yang beredar di dalam tengkorak saya.

Sama seperti sekarang, dahulu saya juga pernah mencanangkan pengisian blog dengan tema. Hitung-hitung untuk mengurangi kadar keacakan yang ada pada blog sehingga cukup ada kohesi yang jelas yang bisa ditarik antar tulisan demi tulisan. Beberapa tema (yang saya ingat) yang pernah saya udarakan adalah : Empat elemen, komunikasi, dan liburan lebaran.

Sayangnya, tema ini hanya hasil dari impuls sesaat belaka bukan perencanaan yang matang. Setiap tema itu hanya berhasil meraup dua sampai tiga tulisan sahaja. Namanya juga sekedar terlintas di neuron. Tulisan yang berhasil tertuang dalam blog ini dapat anda baca kembali pada link berikut : 

Empat Elemen
Komunikasi
Liburan Lebaran
Well, walaupun sedikit untuk setiap tema tulisan di atas dahulu saya membuat kategori baru loh. Maklum, pada waktu itu saya belum mengetahui secara pasti apa itu tag. Kini kategori itu sudah dimusnahkan dari muka blog ini.

Teman saya menulis blog pada masa-masa awal hingga tingkat tiga kuliah hanyalah teman-teman akrab yang saya temui pada masa SMA. Dapat dihitung oleh satu tangan teman-teman kuliah yang saya tahu blognya. Salah saya juga kenapa saya tidak memanfaatkan Google untuk mencari mereka. Akan tetapi, yang saya heran ya mengapa di ITB tidak ada komunitas blog seperti di IPB. Hmm…

Karena sedikit teman, sedikit pengunjung, sedikit pulalah interaksi yang terjadi di atas blog ini. Saya juga pada waktu itu belum mempublikasikan akun jejaring sosial Facebook saya ke khalayak ramai. Saya mengaku tidak punya Facebook, dan itu benar. Akun Facebook ini pun hanya dinikmati oleh koneksi-konek ke orang-orang tadi, yang berhasil memburu akun Facebook saya dari pos-pos blog. Karena blog tidak dihubungkan dengan Facebook tentu saja yang baca dikit. Apalagi saya juga jarang blog-walking. Rerata pengunjung harian mencapai dua digit merupakan sebuah anugrah yang sangat indah pada masa-masa kelam itu.

Sedikit teman, sedikit interaksi, sedikit pula motivasi untuk mengisi blog. Akhirnya, tidak jarang blog ini terlantar sampai empat atau enam bulan lamanya. Tanpa post baru tanpa sentuhan. Setelah itu, blog akan diisi dengan post berjudul serupa “Blog ini bangkit kembali” yang disuarakan oleh si blog itu sendiri. Hal ini terjadi kurang lebih sampai empat kali dalam seumur blog kemaren siang ini.

Gaya tulisan saya dahulu juga gaya kaku yang tercemari karena terlalu banyak menulis SensOpost. Ya, kebanyak joke di SensOpost memang mengandalkan kebahasaan. Gaya bahasanya mengesankan seolah-olah hanya strata langit yang bisa memahami. Bahasa tingkat tinggi kata orang. Tidak seperti sekarang yang saya berusaha menghindari sekuat mungkin serapan asing apalagi kata-kata asing, pada tulisan terdahulu, banyak istilah asing yang tersisipi. Penggunaan kata Indonesia yang berlebihan atau aneh ditelinga atau bahkan susunan kalimat dan paragraf yang sulit dimengerti sering ditemui. Banyak juga majas-majas yang sembrono digunakan. Kalimat panjang asal tulis dan tidak disederhanakan. Ya, intinya sulit dimengerti. Anda bisa melihat sepercik nya pada artikel yang sedang Anda baca ini yang sengaja dibuat semirip mungkin dengan gaya tulisan saya pada waktu dahulu.

Meskipun mungkin, jelas saya bias. Meniru gaya bukanlah hal yang mudah dilakukan, walaupun itu gayamu sendiri yang dahulu pernah engkau jalani. Pasti sudah bercampur dengan kebiasaan yang ada sekarang. Kebiasaan merupakan musuh yang sulit dilawan. Kemudian belum tentu pula gaya tulisan saya yang sekarang berbeda atau lebih sederhana. Lihat dan bandingkan saja postingan bulan pertama saya jika anda merasa kurang puas dengan sampel yang ada di artikel ini.

Related Article

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s