Hari itu sudah siang. Kelas kami XII IPA 2 sedang menempati ruangan di sebelah selatan sekolah, di satu-satunya ruang kelas di gedung baru di belakang sekolah. Meskipun materi pelajaran kami bisa dikatakan hampir habis, seluruh murid di kelas kami hadir. Tampaknya materi yang didiskusikan hari ini penting sekali.
Pak Prian (bukan nama sebenarnya) sedang memberikan satu dua nasihat kepada kami, murid yang sebentar lagi menghadapi salah satu ujian terpenting dalam hidup kami, Ujian Nasional.
“Kita pasti bisa menghadapi ujian ini. Kita pasti bisa lulus… “, begitulah sepenggal kalimat Pak Prian yang kuingat saat itu. “Jangan sampai kita membiarkan teman kita, satupun, tertinggal di sekolah ini. Ayo bersama kita lulus…” Nasihat yang luar biasa.
Setelah Pak Prian memberikan wejangan dan meninggalkan ruangan, hidangan utama kelas di siang itu dimulai. Baiat, untuk bersatu padu menghadapi UN ini. Untuk menanamkan dalam-dalam ke lubuk hati, wejangan bapak wakil kepala sekolah tadi. *Apa pun caranya*.
Yah, tidak perlu takut suudzon. Anda benar. Apa pun caranya. Ini bisa dibilang konsolidasi ‘lokal’ untuk menyerang balik sistem yang bernama UN. Sistem yang bisa memperlambat kelajuan masa depan murid SMA ini satu tahun.
Aku yang kebetulan cukup ‘diakui’ di sekolah ini juga diambil ‘sumpah loyalitas’-nya. Tentu saja kawan – bukannya sok suci, tapi aku tidak mau ikutan dengan ‘konspirasi’ begini. Tapi sayang kawan, anda bisa bayangkan, ini ditengah rapat. Anda dituntut kerja samanya oleh (hampir) satu kelas.
“Ayolah bet, dengerkan kata Pak Prian tadi… Tega kamu bet…”
“Kali ini aja bet… Demi temen, dikit aja lah. Satu dua nomer.”
Terpojok, aku pun memberi separuh janji. Tentu, dengan kalimat cukup ambigu yang bisa ku berkelit nantinya.
“Okelah, kita liat nanti aja ya… Semoga bisa.” Dengan kata-kata ini, lepaslah aku dari pojokan mereka.
Long story short, sore harinya atau setidaknya esok sorenya cellphone-ku berbunyi. Nomor tak dikenal. Begitu kuangkat, suaranya akhwat (^^ uhuy…). Dari SMA lain ternyata, sebut saja SMA #. Keperluannya?
“Akh, ane denger antum ikutan di jaringan UN ya. Ya ampun akh, kok bisa sih. Istigfar akh.. Jangan akh, itu menjerumuskan teman namanya. …bla-bla…”
Err, ukhti don’t you see that i am victim here. Well, kalimat si akhwat (dan dialog lain di artikel ini) tidak eksak begitu sih. Tapi anda bisa mendapat intinya kan?
Baca Selengkapnya