Sosial Politik
Comments 10

Sekelumit Cerita menjelang UN

Hari itu sudah siang. Kelas kami XII IPA 2 sedang menempati ruangan di sebelah selatan sekolah, di satu-satunya ruang kelas di gedung baru di belakang sekolah. Meskipun materi pelajaran kami bisa dikatakan hampir habis, seluruh murid di kelas kami hadir. Tampaknya materi yang didiskusikan hari ini penting sekali.

Pak Prian (bukan nama sebenarnya) sedang memberikan satu dua nasihat kepada kami, murid yang sebentar lagi menghadapi salah satu ujian terpenting dalam hidup kami, Ujian Nasional.

“Kita pasti bisa menghadapi ujian ini. Kita pasti bisa lulus… “, begitulah sepenggal kalimat Pak Prian yang kuingat saat itu. “Jangan sampai kita membiarkan teman kita, satupun, tertinggal di sekolah ini. Ayo bersama kita lulus…” Nasihat yang luar biasa.

Setelah Pak Prian memberikan wejangan dan meninggalkan ruangan, hidangan utama kelas di siang itu dimulai. Baiat, untuk bersatu padu menghadapi UN ini. Untuk menanamkan dalam-dalam ke lubuk hati, wejangan bapak wakil kepala sekolah tadi. *Apa pun caranya*.

Yah, tidak perlu takut suudzon. Anda benar. Apa pun caranya. Ini bisa dibilang konsolidasi ‘lokal’ untuk menyerang balik sistem yang bernama UN. Sistem yang bisa memperlambat kelajuan masa depan murid SMA ini satu tahun.

Aku yang kebetulan cukup ‘diakui’ di sekolah ini juga diambil ‘sumpah loyalitas’-nya. Tentu saja kawan – bukannya sok suci, tapi aku tidak mau ikutan dengan ‘konspirasi’ begini. Tapi sayang kawan, anda bisa bayangkan, ini ditengah rapat. Anda dituntut kerja samanya oleh (hampir) satu kelas.

“Ayolah bet, dengerkan kata Pak Prian tadi… Tega kamu bet…”

“Kali ini aja bet… Demi temen, dikit aja lah. Satu dua nomer.”

Terpojok, aku pun memberi separuh janji. Tentu, dengan kalimat cukup ambigu yang bisa ku berkelit nantinya.

“Okelah, kita liat nanti aja ya… Semoga bisa.” Dengan kata-kata ini, lepaslah aku dari pojokan mereka.

Long story short, sore harinya atau setidaknya esok sorenya cellphone-ku berbunyi. Nomor tak dikenal. Begitu kuangkat, suaranya akhwat (^^ uhuy…). Dari SMA lain ternyata, sebut saja SMA #. Keperluannya?

“Akh, ane denger antum ikutan di jaringan UN ya. Ya ampun akh, kok bisa sih. Istigfar akh.. Jangan akh, itu menjerumuskan teman namanya. …bla-bla…”

Err, ukhti don’t you see that i am victim here. Well, kalimat si akhwat (dan dialog lain di artikel ini) tidak eksak begitu sih. Tapi anda bisa mendapat intinya kan?

Sekedar menyimpulkan. Ini pasti sudah rahasia umum lah ya. Ujian Nasional, sebagai tolok ukur kelulusan murid sekolahan, banyak ditentang oleh masyarakat. Yah, murid sebagai pemain utama, entah didorong oleh rasa was-was dengan momok itu, atau solidaritas antar murid, pun membuat kartel perjuangan. [Untungnya ada kartel antinya dan saya berhasil diselamatkan. Hanya saja, bagaimana janji kosong saya di sebuah ruangan bisa terdengar sampai jauh di sekolah lain, dalam waktu singkat, masih misteri.]

Seperti yang anda baca tadi, kartel ini jangkauannya luas kawan. In case sekolah anda cukup suci hingga anda tidak tahu, minimal sekaresidenan lah. Pada era saya, mungkin bisa dikatakan sepertiga jika tidak seluruh provinsi. Setidaknya murid dengan sekolah lintas kabupaten bisa saling berkoordinasi. Luar biasa bukan. Jadi pada hari H, murid di sekolah X kota A bisa mendapat jawaban dari murid di sekolah Y kota B. Koordinator daerahnya siapa? Wah, saya juga pengen tahu,,

Tidak hanya murid. Mungkin saja guru, pengawas, atau bahkan panitia bisa terlibat. Terkadang pengawas ada yang sengaja melonggarkan pengawasannya. Dan kudengar ada yang malah membocorkan soal, atau meng-encourage muridnya untuk saling bantu. Jawaban datang sebelum soal, sudah biasa terdengar beritanya. Anda ingat nasihat Pak Prian tadi. Secara eksplisit memang seperti mendorong murid untuk belajar giat dan saling mengajari satu sama lain. Implisitnya ya “tolonglah kawanmu, jika kamu tahu jawaban yang benar”. Serius, bukan hanya dugaan ini. No offense. Bagaimanapun wujudnya, bagi saya guru masihlah tetap pahlawan tanda jasa. Mahfum, tentu saja tidak ada guru yang senang melihat muridnya tidak lulus. Setuju tidaknya seorang guru dengan metode ini, bergantung pada point of view guru itu, relationship dengan UN, serta keteguhan hati dan iman.

Cerita terakhir, saat saya SMP dua orang teman diskusi setelah UAN matematika. Mereka menjawab beberapa soal dengan pilihan jawaban yang berbeda. Beberapa juga jawabannya terbukti salah. Serunya, mereka berhasil memperoleh nilai 10 (sempurna) di DANUM. Hebat ya? Jadi penasaran dengan sistem penilaiannya…

Nah, anda tahu kan, hal di atas sebenarnya rahasia umum. UN, sudah sistem jelek, soalnya standar (dirancang untuk menguji kelulusan bukan kompetisi siapa yang terbaik), suka ketusuk paku, dikonspirasi pula. Bagaimana nanti jika dipakai untuk masuk universitas sebagai pengganti SNMPTN? (x.x)!!

NB. In case anda benar-benar tidak tahu tentang rahasia umum “jaringan contekan UN” ini, saya salut pada kesucian anda dan komitmen sekolah anda.

10 Comments

  1. Ping-balik: Komentar Aneh Tentang Ujian Nasional | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Sekelumit Cerita menjelang UN | Seribu Cerita Tentang Ujian Nasional

  3. Bambang says

    Oya win ?? kok ane lupa ya pernah ujian nasional, lebih inget momen2 bimbel di NF, haha

  4. Ping-balik: Oh, UN itu Begini? | Blog Kemaren Siang

  5. dulu di kelas ane juga gitu bet, padahal katanya kelas unggulan.
    eh salah, kelas bertarif itnernasional. yang skrg udah dilarang sama emkah.

    temen2 buat jaringan jawaban. udah digambar gitu di papan tulis. dikasih tau jalur2nya. yang soal tipe A ke mana. yang soal tipe B ke mana. rapih deh.

    untung ane sama si bembi nolak. huhuhu.

  6. Ping-balik: Bakat Engineer Masyarakat Indonesia | Blog Kemaren Siang

  7. Ping-balik: Bagaimana Saya Sekarang Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s