Year: 2013

Cerita Pak Kimura: Sampah di Jepang

Pak Kimura bercerita tentang sampah di Jepang. Kalau disini, kita buang sampah bisa seenaknya. Saat saya bilang seenaknya, itu berarti seenak kita. Mau buang di kotak sampah, selokan, bawah kolong meja, dll. Bahkan saat buang di kotak sampah pun hampir tidak ada yg peduli untuk memisahkan yg mana yg organik mana yg anorganik. Padahal kategorisasi sampah disini hanya dua. Kalau mau buang sampah pun, disini bisa pakai plastik apa saja kan? Mau trash bag betulan merek apa saja, mau kantong bekas dari minimarket, atau kresek biasa. Bebas. Di Jepang, kata Pak Kimura kita tidak bisa bebas. Disana setiap rumah kalau mau buang sampah wajib berlangganan ke perusahaan pengelola sampah kota. Kalau nggak berlangganan, ya nggak bisa buang sampah. Simpen sendiri aja di rumah. Nah, kalau sudah berlangganan boleh tuh meletakkan sampah di tempat penampungan sampah. Kemudian, tidak seperti disini yg pakai kantong apapun boleh. Sampah yg dibuang di Jepang harus dikemas oleh kantong plastik khusus dari kota. Intinya, harus beli merek tertentu yg disediakan oleh pemerintah kota. Nggak bisa sembarangan. Cek dulu kantong di kota …

Cerita Pak Kimura: Universitas Sakura dan Bank Tomat

Dalam rubrik Cerita Pak Kimura ini, saya akan menceritakan cerita yg diceritakan kepada saya oleh Prof. Kimura, profesor dari Tohoku University yg tinggal di Indonesia mengepalai Tohoku University International Relation Office (TUIO) di ITB. Saya sudah bertemu dengan beliau kira-kira satu tahun untuk belajar bahasa Jepang. Beliau membuka kursus gratis di kantornya di atas IRO ITB, depan lapangan sipil. Kalau Anda mau ikutan, tunggu aja kira-kira Agustus/September. Semoga saja masih buka japanese language course-nya. Beliau mengajar bahasa Jepang dengan bahasa Jepang (+bahasa Inggris logat Jepang sikit-sikit). Dan beliau banyak menceritakan hal-hal trivial di Jepang sana yg mungkin disini agak terlihat aneh. Nah, cerita ini yg akan saya tulis sikit-sikit. Ceritanya beberapa berkaitan dengan kehidupan di Jepang. Saya sih belum pernah kesana. Tadinya ingin menulis cerita Prof Kim ini setelah dapat melihat langsung kebenaran cerita beliau. Namun, kayaknya butuh ngisi blog nih. Hitung-hitung juga mengisi hati di bulan ini. Jadi ya dipercepat publikasinya. Sekalian menyemangati diri kali ya, supaya cepat kesana. Aamiin. Nah, suatu ketika di buku Minna no Nihonggo, terdapatlah sebuah teks dengan tulisan Sakura Daigaku, alias …

Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Sabtu kemaren, tanggal 08 Juni 2013, Bandung dilanda hujat hebat. Bukan lebat tapi hebat. Sudah naik tingkat lah dari l ke h, bentar lagi d mungkin. Saya kebetulan waktu itu sedang berkendara dari arah selatan ke utara. Hari itu gelap. Langit di kejauhan utara berwarna agak aneh, kelabu jingga. Kelabu dengan rona oranye sedikit. Semakin ke utara suasana semakin mencekam. Semakin gelap. Hingga sampai saya di jalan Riau, masuk arena distro dan mau keluar ke jalan dago di Dukomsel, hujan itu pun tiba. Kebetulan saya juga terjebak oleh mobil aneh yg entah kenapa parkir menghalangi jalan meskipun di pinggir, saya pun berhenti sejenak memakai ponco. Jalan Santo Yusuf Maulana Yusup saat saya memakai ponco dan perempatan ke Jalan Juanda kemudian belok kanan perempatan di bawah Jembatan Layang Pasupati sebenarnya tidak jauh. Hanya 40 meter dan 40 meter. Namun, ketika saya sampai di bawah Jembatan Cikapayang tersebut, jalan raya sudah menjadi danau. Itu belum seberapa, setidaknya danau disana alirannya tenang dan masih sangat sedikit. Maju sedikit, tampak Jalan Juanda ke arah simpang dago melewati perempatan jalan Ganesha …

I am in a deep shit!

Semuanya dimulai dari kelulusan saya di Bulan April 2013. Tanggal kelulusan yg merupakan rencana terbaik (best plan) dan terburuk (worst plan) dari wisuda saya, dengan kemungkinan tengah-tengah ada di antaranya. Loh, gimana bisa? Best dan worst di satu tanggal dan tengah-tengah di antaranya?

Muallaf Istiqlal, Manajemen Masjid Raksasa, dan Sedikit “Sisi Gelap”

Masjid Istiqlal begitu luas. Sayang jika tidak dijelajahi, pikir saya waktu itu. Kebetulan punya banyak waktu juga saya. Sambil menunggu jam 4, saya akhirnya memutuskan untuk berkeliling. Pertama, saya menyusuri koridor di hadapan tangga utama. Koridor ini sepi, hanya dua tiga orang saja yg duduk-duduk. Kiri kanan koridor terbentang luas tempat shalat terbuka. Membuat koridor tersebut sepoi-sepoi meskipun di duduk di tengah jantung Jakarta.  Tadinya sih saya mau nyari colokan untuk buka laptop dan cas hape, tapi saya penasaran dengan ujung koridor sana. Sampai ujung, ternyata ada tangga ke bawah. Pintu sebelah utara rupanya lebih rendah dari area lantai utama, kagum saya waktu itu. Ya iyalah! Bodohnya saya. Lantai utama kan di lantai dua (tadi kan naik tangga dulu). Saking luasnya lantau utama tersebut (dan teras shalat luar tadi), saya sampai tidak merasa itu di lantai dua. Hmm… Area utara jauh lebih sepi dibanding Pintu Al Fattah di tenggara. Hampa. Gelap. Tapi tetap, ada satpam yg berjaga di pintu keluar masuk sana. Di kiri dan kanan ruang pertama pintu tersebut, langsung terhampar tempat wudhu hingga ke …

Melancong ke Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal alias masjid kemerdekaan adalah masjid terbesar di Indonesia, atau bahkan Asia Tenggara? Tentu dengan gelar yang mengagumkan tersebut, kita sebagai warga biasa yg suka penasaran, penasaran dengan masjid sosok masjid ini. Minggu kemarin saya mendapat kesempatan untuk menjejakkan kaki ke masjid kenegaraan ini. Saya yakin sebagian besar pembaca  (yg umumnya teman kuliah-SMA saya) belum pernah kesana bukan? Wong yg di Jakarta saja belum tentu pernah, seperti kata orang. Kalau tidak disempat-sempatkan, ya tidak akan pernah sempat. Pada artikel ini, saya ingin membahas tentang arsitektur dan pemandangan yg saya dapatkan dari hasil berkeliling di Masjid Jantung Ibukota ini. Pada artikel berikutnya, saya akan menceritakan obrolan saya dengan seorang muallaf yang kebetulan bertemu saat sedang bersantai di ruang utama masjid. Masjid Istiqlal bisa dibilang terletak di  jantung ibukota. Lokasinya persis di sebelah Monumen Nasional dan Statiun Gambir, dan juga disekitar pusat perkantoran pusat (udah pusat, pusat lagi). Pertamina pusat di seberang jalan ke utara, kementrian keuangan pusat juga disana, dan kantor-kantor pusat lainnya. Mungkin katedral besar di depannya pun suatu gereja pusat juga kali ya. Kubah Masjid …

Salah Konsep Blog Kemaren Siang, Perlu Ganti Nama?

Pada waktu memulai blog ini, saya merumuskan judul blog “Blog Kemaren Siang” dengan konsep berikut. Saya adalah anak culun, yang baru memulai melihat dunia maya (alih-alih dunia nyata). Baru saja lulus SMA waktu itu. Untuk menggambarkan konsep itu, ada adagium yang cukup terkenal “anak kemaren sore”. Maknanya, anak yang baru saya sadar akan dunianya kemaren sore. Jadi belum bisa berbuat apa-apa lah. Nah, saya menganggap bahwa blog saya ini lebih rendah dari sekedar blog kemaren sore. Blog yang baru muncul kemaren sore, belum ada apa-apanya lah. Blog saya lebih cupu lagi. Oleh karena itu saya beri nama “Blog Kemaren Siang”. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, kayaknya keputusan itu memiliki kesalahan fundamental yang luar biasa. Logikanya nggak pas. Anak kemaren sore itu dipandang sebelah mata karena dia baru melek kemaren sore, dalam artian pengalamannya masih sedikit, baru sedikit mengenyam asam garam. Dari kemaren sore sampai hari ini, ah baru sebentar. Nah, dengan keinginan saya untuk merendah, lebih rendah dari itu, harusnya saya menulis Blog Kemaren Malam atau Blog Tadi Pagi. Kan lebih sebentar lagi. Itulah kesalahan logika …

Kantor Pos Cisitu ~ Bagaimana Nasib Pos Indonesia?

Jumat dua minggu lalu, saya bertandang ke kantor pos. Ngapain? Mau ngenet, mau ngirim pos lah! Maklum, STNK saya harus diperpanjang di Lampung. Jadinya terpaksa saya kirim STNK+BPKB ke teman ibu saya di Metro, Lampung. Saya sudah cerita kan? Saya kesana jam 10. Sesampai disana saya kaget. Rame banget. Maksud saya, bagian depannya ramai pengunjung. Mau masuk ke ruangan teras depan meja petugas saja susah. Berdesakan. Kok bisa ya? Namun, di meja hanya ada satu petugas. Sepi. Sebagai pengunjung dan warga yang baik, saya pun menunggu. Memang tidak ada baris antrean disana. Kacau pada berdiri sesukanya. Juga tidak ada tanda-tanda nomor antrean disana. Tapi ya tunggu aja lah. Mau nanya bapaknya juga kayaknya itu bapak kepo banget. Sibuk. Cap sana-sini, geser lima langkah ke kiri, liat monitor, lari sana. Nggak efisien lah. Lima belas menit saya menunggu, saya baru menyadari pengunjung yg memadati ini keperluannya apa dan sistem antreannya bagaimana. Mereka ini kebanyakan (atau semua?) ingin membayar listrik/air/pajak/dll. Dengan demikian, mereka antre dengan memberi si bapak tadi kuitansi atau slip apa lah untuk pembayaran itu. …

Semarak Iklan Via SMS

Di jaman serba canggih sekarang ini, sepertinya privasi sudah tidak ada lagi. SMS yang notabene media komunikasi paling privat sekarang (ah kata siapa) sudah ikut-ikutan jadi sarana marketing. Bukan! Bukan sms mama minta pulsa atau… Gokil banget tuh orang, sms minta kirim uang ke rekening yg sama dua kali pake nomor HP berbeda. Silakan kalau ada yang mau menyumbang ke rekening tersebut atau “sekadar” membalas dendam.  Namun, maksud saya adalah iklan. Ya, entah dapet nomor darimana tuh orang-orang. Saya nggak mencantumkan di laman about/me ataupun di profil Facebook loh padahal. Masa saat isi nomor di konter pulsa, isi daftar hadir di acara mana, atau isi yg lain-lain terus si empunya daftar menjual daftar nomornya. Huh, annoying bastards. Walaupun saya mau buka toko, toko online, jasa servis, atau apapun saya nggak mau lah pake cara annoying begini. Email aja sudah cukup mengesalkan apalagi sms yang lebih privasi. Jangan sampe lah ikutan terjerumus ke lembah spam dan scam, padahal kalau niat sedikit sih database nomor ponsel se-ITB berangkatan-angkatan bisa aja saya cari. Saya mulai berpikir untuk membalas dendan kepada …