Sastra dan Cerpen
Comments 4

Sepotong Senja Pantai

Saat sedang melihat berkas-berkas lama, saya menemukan puisi di bawah ini. Entah sedang kesambet malaikat apa waktu itu, sampai-sampai saya menulis puisi ini. Puisi ini tertulis di binder catatan kuliah saya waktu TPB (Tahap Persiapan Bersama, sebutan untuk tingkat 1 di ITB).


Dipersembahkan untuk : Kak Muslimin bin Bukhari (Murabbi saya saat SMA)

Sepotong senjang jingga kemerahan
Bersinar indah digenggaman tangan

Koral dan kepiting kecil berterbaran
Pasir putih terbawa debur ombak yang damai
Angin sepoi diiringi cahaya keemasan
Siluet batu karang tampak di sela jemari
Lalu kubawa sepotong senja pinjaman itu
Ke tempat dimana kawanannya bertengger
Tepi pantai barat nan jauh ku berjalan
Usai sampai penat hilang jua

Itulah kecil ibarat perjuangan dalam hidup kita
Menggenggam asa s’lalu nan gemilang cahaya
Setitik padahal luas dan lebih
Hasrat menggapai cinta padahal milik sang kuasa
Beban berat namun indah kita pikul dan genggam
Jalan berliku melintas guning dan bukit
Membawa risalah Muhammad, seindah senja tepi pantai
Menyebar… Menebar…
Memperlihatkan keindahannya
Mesti sepotong

Perjalanan jauh menuju tepi daratan ujung
Melangkah ke teluk dimana senja terhampar luas
Membentang ke seluruh samudera
Melihat debur angin badai, ombak menggulung
Karang menjulang dan membentang
Penuh kesejukan juga tantangan
Memuaskan para pencapainya

Sampailah berhasil ke tepi pantai
Bersama orang-orang yang t’lah terpana
Takluk ‘kan keindahan sepotong senja pinjaman
Namun… Tiadalah kita terlupa
Bahwa senja tidak sepotong saja
Pantai bukan secuil jua
Meski tiba tepi pantai
Masih jauh juga berat perjalanan kita
Lebih berbahayanya lautan lepas
Serta ganasnya sang samudera

Setidaknya kita tahu…
Senja indah tetap bersama kita

Perjuangan selama ini
Sukses
Namun sebenarnya tak seberapa
Masih banyak proyek yang bertumpuk
Masih harus kita memeras keringat
Memandang jauh ke masa depan
Kita dan dunia

Jangan berpuas diri dengan yang t’lah diraih
Masih ada daratan di seberang
Berpanorama megah berkilau

Jangan pula takluk oleh perjalanan dan waktu
Oleh badai yang menghempaskan karang
Oleh karang yang mengaramkan kapal
Telah banyak para penakluk samudera
Kini giliran kita

Jika burung camar nan melintas lautan
Dapat jumpa dengan kerabatnya lagi
Elok pulalah jika kita semua dapat bertemu kembali
Tuk sekadar bercerita tentang petualangan
Senja
Di samudera masing-masing

Karya: m.ln.albadr


Pada judul sebenarnya tertulis “– half version“. Menyiratkan kalau ini cuma separuh dari yang mau ditulis. Tapi saya nggak tau – atau lupa – separuhnya lagi dimana.

Dan untuk sekedar catatan, saya (yg sekarang) sendiri nggak tahu maksud dari tulisan di atas apa.

4 Comments

  1. Ping-balik: The Glorious Death | Blog Kemaren Siang

  2. anwari says

    eits, albadr lutan nasution ternyata punya sisi romantis juga. *loh?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s