Sastra dan Cerpen
Tinggalkan sebuah Komentar

Antipati

Kelabu. Langit hari itu menunduk rendah. Berjalan lambat dan tenang ditiup monsun November. Jika bukan karena jiwa ketertarikannya yang besar sehingga mengelabui warna tubuhnya, mungkin tidak ada yang berpikir bahwa ia sedang memperhatikan hewan-hewan melata di bawahnya. Mengintip dengan tenang, menyembunyikan senyuman. Sesekali berkomplot dengan angin dan awan. Menggoda sahabat lama yang sepanjang sejarah selalu diusik oleh kelakuan hewan melata tersebut. Menambah suasana misteri dan ironi yang terjadi di atas wajah sang bumi.

Aku terjatuh. Terduduk. Lemas dan terengah. Pandanganku kosong ke depan. Tanganku menggenggam erat lantai berumput yang ditemuinya. Di hadapanku terhampar pelataran yang biasa menjadi pusat keramaian. Kini pelataran itu tampak seperti lapangan pasir belaka. Terbang seperti badai yang sering terlihat di film-film timur tengah, partikel pasir tersebut menutupi pandangan. Sesekali menerpa wajahku, memelintir rambutku hingga menutupi mata. Menyembunyikan pepohonan, bangunan-bangunan kecil, air mancur, dan monumen yang seharusnya berdiri megah di ujung cakrawala sana. Dengan warna kelabu cokelatnya seolah ingin tampak serasi dengan langit saat itu.

Angin berpasir perlahan berdansa di depanku. Masih memainkan rambutku yang terurai. Ia pun mengajakku menoleh ke belakang dengan lamat-lamat. Di belakangku jalan tidak sempit yang seharusnya dipenuhi lalu lalang kendaraan itu masih di sana. Memang masih tampak sejumlah kendaraan di sana. Sebagian besar tidak bisa dikatakan sedang berlalu lalang, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa berlalu lalang lagi. Setiap orang yang melihat serakan kaca, reyot tubuh, dan centang perenang mereka seolah diparkir oleh kaki Godzilla, pasti akan setuju dengan pendapat tersebut.

Debu. Debu menutupi permukaan, trotoar, dan seluruh perabotan tak tertata yang ada di jalan berhantu itu. Jendela-jendela gedung tinggi. Dan rambu-rambu lalu lintas. Kesunyian sangat terasa menemani debu-debu mengisi ruang-ruang kosong di antara pencakar langit. Senyap. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Hanya ada tanda kematian dan aroma darah. Ya, karena sisa-sisa yang hidup sudah menjadi pernak-pernik tak bergerak. Menghiasi sudut-sudut jalan dan pintu-pintu mobil.

Merah putih cantik menghiasi jalur peregang nyawa tersebut. Ada yang terciprat di jendela toko yang sudah setengah pecah. Ada yang bersimbah begitu saja di atas zebra cross. Ada yang tampak berlindung dengan percuma di balik tiang lampu lalu lintas. Onggokan mayat merona merah. Dengan debu putih yang setia menyelimuti. Udara kelabu juga tidak lupa menutupi jarak pandang. Mencegah siapa pun yang ingin mengintip ada apa gerangan di ujung jalan sana. Aku yang sedang tersungkur ini hanya bisa menggenggam akar rumput dan tanah. Gemetar. Menahan rintih dan tangis. Sambil berharap hijau-hijau di kejauhan yang menyibak udara kelabu itu tidak membuatnya merasakan takut lebih dari yang sekarang ia rasakan.

Dentum.

Aliran gelombang udara berfrekuensi rendah dengan cepat merambat ke arahku diikuti oleh tarian asap dan abu. Sekilas semantik cahaya bulat jingga menyeruak dari ujung koridor raksasa berhias merah putih kelabu itu. Sejenak refleks aku menutup mata untuk menghindari partikel yang berlarian dari jalan sana. Godaan badai debu yang mengajak rambutku berdansa kalah oleh angin baru dari utara tersebut. Membuat rambutku – dan tubuhku – serasa didorong kuat ke belakang.

Sesaat kemudian, bunyi kaki dan gemerisik mesin berkeluaran. Semakin lama semakin terdengar keras seperti rombongan pegawai negeri sipil buru-buru hendak pulang ke rumah. Asap dan abu yang menutupi koridor jalan tadi sudah sedikit lebih tipis diterbangkan oleh angin dentum. Pemandangan depan sudah mulai dapat ditangkap oleh mata sayu dan sembab ini. Tampak hijau baret yang mengganggu ketenangan asap kelabu di jalan raya tadi berlarian ke sini. Beberapa masih berusaha bangun dari posisi tidurnya. Beberapa memanggul temannya yang tampak pincang. Namun, mereka semua memiliki satu kesamaan: wajah panik.

Satu orang hijau baret paling depan melambai-lambaikan tangan kirinya tinggi ke para prajurit di koridor, kemudian menunjuk ke arah diriku yang masih mematung di tanah selama beberapa detik yang lalu. Tangan kanannya memegang sebuah alat komunikasi besar. Merah-merah di yang mengalir dari dahinya menunjukkan bahwa wajah paniknya pasti punya penyebab yang cukup hebat.

Setelah beberapa sahabatnya melewati posisi tempat ia berdiri, ia pun bergerak maju. Mendekati ke arah pelataran tempat aku masih berdiam tanpa kata. Suara deru mesin yang datang dari kejauhan meningkatkan kemampuan mengguncang gendang telinganya. Membuat para baret hijau –yang sebagian berlari, sebagian bergerak mundur sambil mengacungkan senjata– itu mempercepat langkahnya.

“Lapor, ada satu warga masih di lokasi. Anak perempuan 16 tahunan. Kami turut evakuasi ke pangkalan.”

Salah satu hijau yang paling dekat denganku terperanjat ketika menyeberang jalan memasuki pelataran tersebut. Menemukan seorang gadis kecil bersimpuh di atas lapangan rumput berpasir. Sendirian. Tak berdaya. Menyisikkan air mata.

“Dik, kita harus segera pergi dari sini. Saya bantu ya…” Tanpa ramah tamah dan basa basi, apalagi perkenalan, tentara itu mengembangkan tangannya untuk merangkul tubuhku. Sontak aku refleks mundur menghindari cengkeraman baret hijau tersebut. “Tidak apa-apa, ayo…” Baret hijau itu pun memaksa. Kali ini dua tangannya dipanjangkan untuk menggendong erat tubuhku. Aku tahu aksi itu pasti berat sekali mengingat tangan kanannya tadi begitu erat menggenggam senjata laras panjang yang menggantung di tubuhnya. Sejenak kemudian, aku pun berada di punggung baret hijau tersebut. Kami pun berlari menuju pusaran badai debu di ujung taman sana. Bersama dengan baret hijau lain yang berlari mundur di belakang kami.

Setelah beberapa ratus meter berlari, diiringi dengan musik yang dihasilkan oleh sahut menyahut peluru sebagai melodi dan bom sebagai bassnya, tampak di hadapan kami beberapa helikopter terparkir. Masing-masing dikawal oleh dua orang petugas dengan lampu kimia batangan. Hari memang belum gelap, tetapi jingganya cahaya mentari sore kurang cukup menembus gumpalan asap dan debu yang berkeliaran di mana-mana. Baret hijau yang membawaku menemui salah satu dari mereka. Petugas pun menunjukkan jalan menuju pintu helikopter dan mendudukkan aku di pinggir pintu. Baret hijau yang membawaku turun melompat, masuk ke dalam entah memeriksa apa, kemudian keluar lagi berjaga di pintu. Menyuruhku duduk di kursi dekat pintu sambil tersenyum yang menyiratkan pesan “kita akan baik-baik saja”. Kuharap itu bukan senyum palsu karena mimik wajahnya tidak sesuai dengan senyum yang ia berikan.

Beberapa menit kemudian sebagian baret hijau sudah menaiki helikopter. Sisanya, yang kehabisan tiket kereta, bertiarap di bawah sambil menerima orkestra yang suara musiknya kian mendekat. Helikopter pun meningkatkan deru baling-balingnya dan terangkat ke udara.

Seiring mengecilnya lapangan tempat kami bertolak tadi, kilatan-kilatan cahaya makin ramai muncul di bawah sana. Di ujung taman, tampak gajah besi muncul. Dengan gagah memuntahkan api dari ujung belalainya. Aku mengintip dari jendela mencari-cari titik hijau yang tersebar di landasan heli tadi. Khawatir terhadap beberapa baret yang masih tertinggal dan bertahan di sana. Saat itu juga aku teringat sesuatu. Aku memandang lagi arah jalan merah putih tadi. “Mamaa…” Kata itu terucap di dalam kepalaku. Ingin sekali aku meneriakkan kata itu, namun tidak ada suara yang keluar.

Heli meninggi. Horizon di kejauhan mulai tampak di sela-sela pencakar langit. Kosong, hampa, kesan yang terpancar dari hutan beton tersebut. Asap menghiasi sela-sela pancang bumi. Beberapa bahkan muncul dari gedung yang terpenggal kepalanya. Riuh suara orkestra makin bertalu-talu di bawah sana meskipun jarak kami merenggang. Matahari duduk tidak jauh dari batas laut, memancarkan cahaya merah jingga. Membuat kota ini seperti lautan darah. Namun, bukan itu yang membuat pemandangan sore itu menarik. Setidaknya menarik pandangan kami.

Semakin helikopter menggapai altitude, semakin tampak pula hamparan laut di utara kota tua ini.  Akan tetapi, tidak seperti laut biasa yang polos tak berfitur, laut ini dihiasi ornamen-ornamen indah kejinggaan. Tidak. Bukan pantulan cahaya mentari sore yang menghasilkan pemandangan tersebut. Rona-rona merah, kuning, jingga bermunculan di jendela langit. Kiri kanan atas bawah. Di barisan ujung ufuk sana, seperti air terjun terbalik, air tampak berubah merah dan terangkat ke udara. Menyatu kepada sebuah ujung kuning putih yang melompat tinggi ke langit. Dihiasi awan putih yang muncul dan hilang seketika. Terkadang bunga turut bermekaran di segala penjuru. Bunga-bunga jingga itu dengan cantik menghiasi objek yang mengambang beraturan di atasnya. Seperti festival. Satu persatu muncul, sesaat. Satu persatu terbang ke langit. Satu persatu berakhir menjadi kembang api, mengiasi samudra dan angkasa.

Kembang api itu tidak hanya berasal dari kapal-kapal yang berbaris di air, di ujung lautan sana. Menghantam pantai, gedung, atau kapal lain yang sedang apes berada di jalur lintasan. Tidak. Di angkasa, burung-burung tak terhitung jumlah saling berkejaran. Memuntahkan biji-bijian bercahaya jingga. Kembang api jenis lain rupanya. Dan kadang menembakkan kembang api yang juga mirip dengan kembang api air tadi.

Bercahaya, lalu bergerak indah, berdansa di udara. Kadang sendirian, lebih sering berpasang-pasangan. Berputaran. Diikuti oleh berkas cahaya api yang turut meliuk-liuk. Menari balet mengejar burung dan capung yang berada di hadapannya. Diakhiri dengan cahaya api bundar berbentuk bunga. Aku berbinar melihat adegan itu. Pemandangan yang sekilas membuat pikiran ku kosong. Aku tidak peduli lagi dengan keluarga yang hilang, kota yang hancur, apalagi pertempuran konyol yang entah untuk kepentingan siapa itu. Wajah dan tanganku menempel ke kaca, dengan antusias aku menatap atraksi udara tersebut. Tak ingin kehilangan satu momen pun. Tak ingin aksi itu cepat hilang dari pandangan.

Satu burung sedang terbang menyisiri pantai kemudian berbelok sedikit ke atas hutan beton. Ia adalah burung yang paling dekat dengan kami. Tiba-tiba, ia berbalik sejenak menghadap kami dan perlahan melepas anak kesayangannya. Dari ketiak sayap induknya, anak burung itu bercahaya. Kemudian melesat cepat dengan api berkobar di belakang ekornya. Melayang ke arah kami.

Seketika tenangnya perjalanan kami terusik. Helikopter yang aku naik tiba-tiba memiringkan diri ke kanan membuatku terjerembab ke kursi seberang. Satu prajurit yang ada di pintu masih dengan susah payah bertahan untuk berdiri di pintu sambil memegang sebuah pipa besar. Setelah menemukan saat yang tepat, baret hijau itu pun menarik pelatuk dan beberapa pelor pun keluar dari ujung pipa. Beberapa waktu kemudian, puluhan kembang api muncul tidak jauh dari ekor helikopter. Menyambut kedatangan si anak burung.

Semua berlalu dengan cepat, seolah-olah tidak memberiku kesempatan untuk mengedipkan mata. Helikopter oleng lagi ke kiri dan aku pun terlempar ke pintu. Aku berhasil menangkap bahu si prajurit pipa tadi tetapi ia juga sepertinya kehilangan pijakan. Helikopter juga seperti terhempas tegak lurus dengan arah ia terbang. Hanya pegangan tangan kiri si prajurit ke sela pintu helikopter yang membuat kami tidak terjatuh. Tergantung di pintu ke arah bawah sementara helikopter berusaha mengembalikan posisi terbangnya. Terbang miring ternyata tidak senyaman yang kukira.

Secepat kilat, tidak tentu tidak sampai secepat kilat, hanya saja kami dapat merasakan efek geraknya di udara dengan jelas, dua pesawat dari arah berlawanan menyambut burung besi yang mengamuk dan mencari anaknya yang hilang tadi. Beriringan seperti sepasang kekasih mereka berpapasan dengan burung besi tersebut dan saling melepas tembakan. Beberapa tembakan mengenai lambung helikopter karena burung besi tersebut mengarah ke sini. Menambah sudut miring helikopter hingga heli berbalik pada tulang belakangnya.

Tanganku yang hanya berpegangan pada leher sang prajurit tergelincir. Aku sedikit turun tetapi sempat menangkap kerah seragam sang prajurit dengan tangan kananku. Helikopter masih berusaha menenangkan diri. Prajurit pun mengulurkan tangan kanannya untuk memegangku lebih erat tetapi peganganku terhadap kerah itu sama rapuhnya dengan jahitan kancing pada seragam sang prajurit. Kancing terlepas. Aku terjatuh. Beruntung tangan kanan sang prajurit yang sudah siaga sempat meraih tanganku.

“Bertahan. Kita akan baik-baik saja.” Sang prajurit kembali tersenyum dan berbisik. Sekali lagi aku berharap itu bukan senyuman palsu karena sama sekali tidak sesuai dengan mimik wajahnya. Tangan kanannya erat merengkuh tangan kananku meski jelas peluh mengaliri tangan dan membuat pegangan licin. Miringnya helikopter yang tak kunjung pulih sama sekali tidak membantu kondisi kami saat itu. Hanya perlu sedikit dorongan, ya hanya sedikit saja. Misalnya tabrakan dari helikopter sebelah yang bernasib sama. Akan menghempaskan kami dari tumpuan yang memang tidak stabil ini.

Dan kami pun terhempas. Dua helikopter itu tidak terlalu akrab satu sama lain. Mereka berseteru dan saling bergesekan. Pegangan tanganku dari sang prajurit pun terlepas sudah. Beberapa saat kemudian, sang prajurit juga kehilangan pegangannya yang ditarik oleh helikopter tetangga. Kedua helikopter yang jauh lebih berat dari kami itu pun mendahului kami menyelam ke udara.

Sementara helikopter berubah menjadi bola api di sudut bawah sana, tiga burung besi tadi masih menari-nari di angkasa. Mereka saling pamer kebolehan di atas langit kelabu. Pertukaran api, gerakan berputar-putar seperti penari balet, dan ekor yang saling mengekor. Kilau permata bertebaran  seiring gerakan atraksi mereka. Diiringi pula misil yang bergerak lincah di antara luwesnya gerakan tubuh ketiga burung. Pertempuran tersebut tampak seperti pertarungan dua naga. Sungguh indah dan memanjakan mataku.

Angin menerpa punggungku selama ketinggianku kian berkurang dimakan gravitasi. Nyaman. Menyejukkan dan menenangkan rasanya. Rambutku diterpa angin menutupi pandanganku ke arah langit. Terpaksa aku sesekali menyibaknya dari hadapan mataku. Kini aku hanya tertarik pada satu hal: pertarungan tiga naga di atas sana. Urusan dunia, urusan siapa yang benar siapa yang salah, urusan siapa yang hancur siapa yang luntur. Aku tidak peduli lagi. Aku antipati. Kejadian hari itu mengubah hidupku. Sambil diiringi dua tiga kembang api yang bermekaran di sekelilingku, aku mengepalkan tangan. Kini aku tahu impianku. Aku tahu arah hidupku. Dan aku akan melampiaskannya ke dunia yang telah menghancurkan hidupku ini. Untuk menghancurkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s