Sastra dan Cerpen
Comments 4

Saturday

Sabtu satu tahun tiga bulan lalu. Tidak. Karena hari tulisan ini ditayangkan hari Jumat, lebih tepatnya satu tahun tiga bulan kurang satu hari yang lalu. Hari itu hari Sabtu seperti Sabtu biasanya. Udara di pagi itu segar meskipun belum sedingin dinginnya Bandung hari ini. Cahaya matahari dengan ramah dan halus menerangi atap-atap rentetan kosan dan perkantoran di sekitar daerah Cisitu, menari-nari indah di angkasa, menyelimuti pagi ini dengan kehangatan.

Hari itu seperti hari Sabtu biasanya. Sabtu yang seharusnya indah, yang seharusnya ku tunggu-tunggu. Akan tetapi, entah mengapa ada perasaan yang tidak enak menjalar di tubuhku. Hari Sabtu, satu seperempat tahun kurang satu hari yang lalu. Tidak. Meskipun hari ini dan hari itu sama-sama di pekan ke dua dari bulan, yang akurat adalah satu seperempat tahun kurang empat hari yang lalu jika perbedaan tanggal diperhitungkan. Aku berharap itu Sabtu seperti biasanya. Akan tetapi persaan tersebut begitu membuatku gelisah. Mungkin, perasaan tidak enak itu berusaha memberitahuku, memperingatkatku atas kejadian mengerikan yang siap menerkamku di tengah hari. Akan tetapi, pagi itu aku belum menyadari apa-apa akan takdir yang telah disiapkan untukku.

14 Mei 2011. Hari itu kuingat seolah terjadi kemarin. Akan tetapi, aku masih tidak mengerti akan kegelisahan yang timbul di diri pada pagi itu. Seharusnya hari ini adalah hari yang bersemangat, seharusnya hari yang dinanti. Akan tetapi, tidak seperti sabtu biasanya, entah mengapa rasanya malas sekali diri ini untuk berangkat. Ataukah karena hari ini hari Sabtu terakhir aku dapat melihat senyum manis dan tingkah lucunya itu. Hari terakhir sebelum hari terakhir bertemu minggu depan. Ah, setiap hari adalah hari terakhir. Kemudian, setidaknya sepanjang semester depan, kita tidak akan bertemu lagi. Tidak-tidak, bukan karena itu. Justru hal itulah yang menjadi dorongan, memberi alasan untuk menjejakkan kaki ke dunia luar sana.

Setelah berkompromi dengan diri, aku pun menyeret kedua kaki ini melewati daun-daun pintu hingga ke teras sana. Dengan kendaraan yang selalu setia mengantarku kemana saja, aku melaju menembus angin dan lalu lintas yang tidak seberapa padat di Sabtu pagi ini. Karena kelas yang ku tuju tidak jauh dari gerbang belakang kampus dan waktu sudah tidak mau bekerja sama lagi denganku, aku memilih belok ke jalan Sumur Bandung agar lebih cepat. Keputusan yang tidak biasa atau bahkan keputusan yang tidak pernah kulakukan di Sabtu-Sabtu sebelumnya. Keputusan impulsif yang sangat aku sesali. Keputusan yang merealisasikan segala kegelisahan yang kurasakan dari pagi tadi. Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa aku melakukan hal tersebut. 

Sekitar 15 meter dari gerbang parkir belakang kampus, gerombolan berrompi hijau itu berjaga-jaga. Di persimpangan dua segitiga dekat kampus, mereka memparkirkan motor-motor besar yang menggambarkan wewenang mereka di pinggir jalan. Mereka bahkan mencegat motor-motor yang melintasi daerah kekuasaan yang baru mereka tempati itu dengan tebang pilih. Tidak tahu apa kriterianya.

Aku yang kaget, berusaha menenangkan diri, memosisikan motorku ke titik terjauh dari pinggir jalan. Taktik ini ku pilih karena beberapa hari yang lalu (mungkin empat hari yang lalu) aku juga menghadapi gerombolan yang sama di sebuah jalan protokol lain. Waktu itu, aku apes. Karena aku berjalan terlalu ke kiri dan terlalu lambat, hal ini didukung pula oleh keadaan jalan yang buruk yang entah sepertinya sengaja tidak diperbaiki-diperbaiki oleh pemerintah dan juga konstelasi susunan motor waktu itu, aku pun tertangkap. Aku digiring ke pinggir jalan oleh sosok berseragam yang berdiri di jalan. Akan tetapi, beberapa motor yang melaju lebih cepat, tidak. Mungkin aparat berperut besar itu tidak berani menghadang objek yang agak cepat dan yang jangkauannya sedikit jauh dari pinggir. Mungkin bapak itu juga tidak kuat lari ke tengah jalan sana.

Dewi fortuna sepertinya melupakan aku sepanjang minggu itu. Taktik yang sudah kuuji saat melewati daerah gerombolan yang sama saat aku pulang empat hari yang lalu tidak bisa dimanfaatkan kali ini. Maklum, medan yang ada sangat berbeda. Empat hari lalu medannya berupa jalur protokol dua arah. Hari ini medannya berupa jalur sempit diantara dua segitiga jalan yang sebenarnya sangat vital bagi alur lalu lintas Bandung. Salah satu aparat sudah ada yang berdiri di pinggir kanan jalan dan tidak segan-segan menyetop diri ini dan menyuruhku ke pinggir. Duh..

“Pagi dek, bisa lihat SIM dan STNK?”, ujar Pak Ahmad (nama sebenarnya).

Haduh, saya lemas, saya menyerah. Empat hari hari yang lalu saat aku mau ke Samsat Bandung untuk mengurus surat gesek nomor mesin untuk perpanjangan STNK, saya bertemu sejenis bapak dan hilanglah Rp100.000,- uang saya karena SIM saya belum diperpanjang. Itu pun harga “mahasiswa” katanya. Harga damai lah. Cih! Walaupun SIM ada, jika lewat masa berlaku tetap saja rupanya. Kini, kedua surat itu sedang di Lampung pak. Ladi diperpanjang pak, di Bandung nggak bisa sih! Begitu kira-kira alur pikirku dalam hati. Bapak yang empat hari lalu ramah dan lucu sih jadi tidak menjadi fokus tulisan ini tetapi Pak Ahmad ini sedikit berbeda.

Walaupun aku yakin si bapak tidak akan menyia-nyiakan mangsa empuk ini, aku pun menyerahkan kopian dari surat yang diminta. Seperti yang kuduga, bapaknya langsung mengeluarkan kertas merah bertuliskan macam-macam. “Dek-dek, kalau nggak bawa surat ini dendanya sekian, kalau yang ini dendanya sekian”. Angkanya Rp200.000 untuk SIM dan Rp500.000,- untuk STNK kalau tidak salah.

“Sekarang terserah adek, mau diurus disini atau di pengadilan”. Pertanyaan yang sama dengan empat hari yang lalu. Kalau saja pengadilannya tidak berjarak dua-tiga minggu ke depan, saya pasti lebih memilih pengadilan. Akan tetapi, batas pajak STNK sudah mepet sehingga STNK harus saya kirimkan ke Lampung agar pajak tepat di bayar. “Kalau mau di pengadilan, sidangnya Jumat dua minggu lagi. STNK-nya ditahan dulu, eh adek STNK-nya nggak ada ya…” Nah, sudah kuduga kata-katanya sama. Dua minggu juga. Kini, ketika STNK dan SIM sudah tidak ada, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan. Motornya yang akan dibawa dan itu akan menjadi masalah yang lebih besar.

“Kalau adek mau, bayar disini nggak papa. Kalau di sidang, adek liat sendiri nih, bisa sampai Rp500.000,- bayarnya. Kalau mau diurus disini bisa juga lah. Biar cepet juga separuhnya aja. Rp250.000,-” Okay, that’s not the case here sir. Gara-gara bapak, saya sudah membuat dia menunggu dan saya juga sudah ketemu sespesies bapak beberapa hari yang lalu. Beruntungnya saya. Dan yang terpenting, uang di dompet saya sekarang nihil. Oke, kita coba. Kira-kira apa jawaban bapaknya kalau korbannya tidak punya uang. Dalam beberapa kasus, dari cerita yang saya dengar, bisa dikorting atau bahkan kasihan bapaknya.

“Di ATM ada nggak? ATM dekat sini ada kan.”, jawaban pak Ahmad begitu mengejutkan. “Sana, pake motornya ambil uangnya dulu.” Pak Ahmad memberiku kunci motor yang dia sita tadi. Sesaat aku bingung sekaligus bahagia dengan keanehan ini bapak, tetapi… “Eh, STNK mu kan nggak ada ya..” Harapan semu itu hilang. “Udah jalan kaki aja nggak papa. Saya tunggu disini…”

Di belakang Kampus Ganesha ITB, sekitar 20 meter dari TKP, terdapat kantor cabang Bank Rakyat Indonesia dan ATM-nya, setidaknya itu yang kuingat saat ku terakhir melewati daerah belakang kampus beberapa bulan yang lalu. Sayangnya, itu hanya ada dalam ingatanku saja. Kagetnya diriku begitu sampai di lokasi kantor itu sudah bukan bank lagi.

“Bisa dateng nggak?”, sms singkat-padat-jelas dan tanpa embel-embel yang tidak perlu seperti biasanya itu sampai ke ponselku.

“Lagi dijalan tapi dicegat polisi di operasi belakang kampus”, jawabku.

“Ya udah, tinggalin aja motornya terus kesini.”

*.*? あの。それは冗談ですね、お嬢さん。You must be joking, right? Aduh-aduh.. Ke-straightforward-annya never ceases to amaze me. (dan ini adalah contoh kalimat Indolish yang baik)

Oke. Toriarezu, saya harus mencari ATM dekat sini. Baru saya ingat, di dekat CircleK sekitar 30m ke arah berlawanan dari TKP ke kampus, ada ATM BNI. ATM itu dekat kafe jadi kayaknya nggak bakalan hilang tiba-tiba kayak ATM BRI yang barusan. Aku pun berjalan kaki lagi melewati dua segitiga persimpangan jalan tempat gerombolan berrompi hijau masih merajut jejaring laba-labanya itu. Motorku terpinggir di dekat trotoar. Pak Ahmad tidak terlihat dimana pun, mungkin sedang mencari mangsa lain. Astagfirullah… Kenapa hal ini terjadi. Kenyataan kembali merasuki diriku. Penyesalan dan depresi mulai bertunas di hati. Kegelisahan yang tadi pagi muncul kini kian merasuk. Arrgghhh…

Setelah 15 menit berjalan bolak-balik, walaupun aku ragu dan sangat tidak rela, aku kembali membawa uang yang dijanjikan. Pak Ahmad masih tidak ada di dekat motor tetapi setelah kutunggu rupanya dia menyadari kehadiranku dari kejauhan.

“Gimana, ada ATM-nya..?”

Arrgghh.. Astagfirullah. Astagfirullah. Aku masih tidak rela tetapi sudahlah. Pasrah. Ikhlaskan. Tidak ada pilihan lain. Kalau motor yang disita, aku membayangkan hal yang lebih buruk akan terjadi. Meskipun hal ini sangat merugikan negara, aku pun memilih jalan hitam ini. Astagfirullah.. Now, think. Aku harus mendapatkan informasi tambahan dari kejadian ini.

“Lain kali kalau nggak ada STNK jangan dipakai motornya ya.” Kemudian bapaknya mengajakku sedikit menjauhi keramaian, sedikit menjauhi tepi jalan, menuju pohon besar di pinggir selokan.

“Iya pak.” Kalau transportasi bagus, saya bakal sama sekali nggak pakai motor pak! “Ini pak, uang dendanya…”

“Oke, terima kasih.” Bapaknya pun menghitung uang tersebut. Kemudian kejadian unik terjadi di depan kepala saya. Seorang kawan Pak Ahmad yang juga sosok berrompi hijau datang menghampiri Pak Ahmad. Ia pun berbisik-bisik dengan Pak Ahmad. Mereka pun berbalik badan membelakangiku. Terlihat dari sela-sela badan mereka bahwa mereka saling bersalam-tempel ria. You know what I mean. Aku tidak mau bersuudzon ria tetapi bukannya ini sudah menjadi rahasia umum? Akan tetapi, baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa mereka membagi-bagi hasil harta rampasan perang tersebut ke sesamanya dan tidak malu beraksi langsung di hadapan si mangsa.

“Ngomong, ngomong pak. Boleh saya minta bukti dendanya. Semacam kuitansi gitu,” ujarku ke Pak Ahmad.

Sekilas bapaknya bingung atau panik. “Eh, emm.. Kalau disini, prosedurnya memang nggak pakai kuitansi. Langsung aja.”

“Lah pak, kalau saya lewat daerah yang kebetulan operasi lagi hari ini bagaimana pak. Gimana saya ngasih bukti kalau saya baru didenda? Misalnya kalau pas pulang saya lewat sini lagi gimana”.

There’s no way I will pass this damn triangle street ever again. Lewat sini pagi ini pun merupakan kesalahan yang sangat besar. Biasanya aku lewat jalan H. Juanda dan parkir di depan kampus. Jalan H. Juanda adalah jalan protokol dua arah yang lurus, bagus, lancar di satu sisi dan macet di sisi lain, dan sangat vital. Dengan demikian, kemungkinan ada operasi polisi disini adalah 0 (atau mendekati). Kenapa aku lewat today of all days, mari salahkan luck.

“Eh? Hmm…”, pak Ahmad kebingungan lagi. “Gini aja, saya kasih nomor saya. Nih, 0xx9x159176. Kalau ada apa-apa telpon saya aja.”

“Oh gitu, oke pak. Nama bapak?” Aku pun menyimpan nomor Bandung itu.

“Nama saya Ahmad. Coba tes, masuk nggak. Biar saya tahu juga…”

And that’s conclude my despair that day. Sayangnya aku tidak mengerti tanda pangkat yang ada di seragam. Bertanya pangkat dan jabatan akan sangat tidak alami. Tidak tahu harus bertanya apa lagi, aku pun “pamit”. Dengan lemas, aku pun menaiki kuda putihku yang hampir saja kehilangan nyawanya hari ini. Kegelisahan, penyesalan, dan depresi menyalakan cahayanya kembali. Tujuan awalku lewat sini supaya aku bisa parkir di parkir gerbang belakang kampus pun tidak tunaikan. Di gerbang tertulis “Tanpa STNK Dilarang Masuk”. Walaupun aku tahu, peringatan itu belum begitu diterapkan dengan benar (pada saat itu, sekarang sudah dicek setiap motor keluar), jiwaku yang sedang terguncang tidak berani melawan peraturan tersebut. Aku pun terus melaju melewati jalan Taman Sari menuju parkir Masjid Salman, tempat aku biasa parkir.

Sampai di Salman, aku tidak tahu harus berbuat apa. Mau ke kelas kok rasanya malas sekali. Frustasi. Menghilangkan lelah, aku pun ke kamar mandi Salman, cuci muka, nongkrong sebentar, kemudian istirahat di bench di depan kantin salman.

“Dimana?”, sms singkat-padat-jelas itu membuat ponselku meraung-raung.

“Di Salman, lagi menenangkan diri.”

“Ayo sini. Ada makan-makannya loh.”

Kalau bukan karena ajakan yang terakhir ini, mungkin aku sudah duduk termenung di Salman seharian. Aku pun beranjak dari sana untuk menggapai tujuan yang dari tadi ingin kucapai. Tiga puluh menit telah berlalu dari waktu kedatangan yang ditentukan. Perjalanan dari salman hingga kelas yang tadi berusaha kuhindari untuk menghemat waktu malah memboroskan waktu (dan uang) jauh lebih dari yang kubayangkan. Kini, kulewati jalan yang berusaha kuhindari tadi dan sepertinya semua kekhawatiranku tentang waktu yang tidak bersahabat tadi terlalu berlebihan.

Sesampainya di kelas, aku melihat dua sosok – perempuan dan lelaki – sedang duduk berhadapan. No wonder she persistently ask me (and perhaps others) whether i’ll come.  Si perempuan duduk di kursi mandiri seolah-olah dia dosen yang sedang mensidang salah satu mahasiswanya karena ketinggalan pelajaran. Aku pun duduk di samping lelaki yang sedang “disidang” tersebut.

“Jadi gimana tadi?”

“Ya gitu deh… ” Aku pun menceritakan kembali kejadian memilukan tadi yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan tidak perlu diingat tersebut, dengan bahasa Jepang hancur lebur karena disuruh si buguru. Aku sendiri tidak ingat bagaimana aku menceritakan kembali cerita yang tidak perlu diceritakan tersebut.

Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Sabtu yang biasa pun kembali lagi walaupun perasaan penyesalan tentu masih tersisa puing-puingnya di kepala. Kemudian, datang sekelompok pelajar dari kelas lain. Rupanya ada penggabungan kelas. Oh, rupanya yang dari kelasku harus presentasi. Oh, iya juga. Rupanya aku lupa menyiapkan. Oh tidak….

“Ah kecewa…”, ujarnya sambil tersenyum. Kata-kata itu terngiang-ngiang, merasuk ke jiwa, menyentuh puing-puing frustasi tadi, menterpurukkan keadanku. Akan tetapi, itu adalah akhir dari frustasiku hari itu. Setelah pelajaran berakhir, seperti janjinya, kami pun makan-makan karena ini adalah kelas yang hampir terakhir. Makan onigiri (plus melihat wujud dan merasakan rasa nori) untuk pertama kali. Ditambah onigiri buatan tangannya (+cetakan) sendiri. Ah, sepertinya semua penderitaanku tadi terbayar sudah.

Pada saat pulang, aku menghindari jalan Sumur Bandung tadi. Sudah kuduga, lewat jalan H. Juanda memang keputusan yang paling baik. Walaupun operasi siang itu masih ada di persegitaan Sumur Bandung (aku agak mengintip saat pulang), jalan protokol dago lengang dan lancar seolah tidak ada apa-apa. Sejak saat itu, aku waspada jika akan lewat dua persegitaan belakang kampus tersebut, karena ternyata memang disana sering bercokol gerombolan berrompi hijau. Meskipun begitu, jika hal itu terjadi, lewat Jalan Dayang Sumbi dan terus melewati sisi segitiga yang dekat kantin pinggir jalan (dekat gerbang) memiliki risiko yang cukup rendah. Peluang tercegatnya jauh lebih kecil. Hal ini aku amati beberapa kali (dan pada saat mengintip tadi).

Demikianlah cerita Sabtu setahun tiga bulan kurang empat hari yang lalu ini. Cerita yang tidak perlu diingat dan belum kuceritakan ke siapa-siapa ini.

Moral of the story. Jangan pernah lewat belakang kampus jika tidak diperlukan. Jika benar-benar ingin ke belakang kampus, selalu lewat Jalan Dayang Sumbi, jangan pernah lewat Jalan Sumur Bandung. Selalu waspada dengan apa yang ada di 100 meter di depan, terutama jika SIM dan STNK Anda sedang dikirim ke kampung untuk diperpanjang.

4 Comments

  1. Ping-balik: Cerita Pak Kimura: Anjing, Polisi, dan Tentara | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Medical Check Up Is Damn Expensive / Cek Kesehatan Itu Mahal Sumpeeh..! Anyir!! | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Reformasi Birokrasi Pemerintah dan Pembayaran Pajak Motor Tahunanku | Blog Kemaren Siang

  4. Ping-balik: Lucu dan Nggak Lucu : Mana Yang Benar sih? | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s