Pos-pos Terbaru

Pertemanan, Lingkungan, dan Kompetisi : Sekelumit Cerita dalam Melompati Batu Loncatan Pendidikan dan Kehidupan

Menurut teori kognitif sosial, perilaku manusia itu dipengaruhi oleh lingkungan. Katanya, tiga komponen sosial : manusia, lingkungan, dan perilaku secara intens saling memengaruhi satu sama lain. Lingkungan dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu: lingkungan fisik seperti tempat, ukuran ruangan, atau pencahayaan. Dua: lingkungan sosial, seperti keluarga, tetangga, dan kolega eh teman.

“Dekatilah orang yang menjual minyak wangi. Sesungguhnya bau wangiannya itu akan turut mewangikan kita. Jangan dekati tukang buat besi kerana bau busuk yang ada padanya akan melekat kepada diri kita.” (Hadits, katanya)

Dari hadits di atas jelaslah bahwa lingkungan itu memengaruhi kita. Rasulullah pun memerintahkan kita untuk mencari kawan atau lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik akan membawa kebaikan kepada kita. Lingkungan yang buruk akan membuat kita terhempas keburukannya pula.

Kompetisi hadir adalah pertarungan antar organisme, individu, organisasi, atau entitas (duh, ini bahasa inggris semua) dalam mencapai tujuan atau memperebutkan sumber daya [1][2]. Kompetisi hadir secara alami kapan saja dalam lingkungan. Selama hal yang diperebutkan pihak-pihak tadi tidak dapat dibagi, ada kompetisi. Terkadang kompetisi bahkan sengaja dihadirkan, terutama dalam pendidikan dan bisnis. Kompetisi akan memaksa setiap pihak untuk berjuang setinggi mungkin sehingga meningkatkan kualitas masing-masing pihak. Alasannya, karena hanya pihak yang paling berkualitas lah yang akan menang.

Datang bekompetisi, jadilah yang terbaik. (Olimpiade Sains Nasional)

Itu adalah slogan Olimpiade Sains Nasional yang ada di setiap kaos peserta OSN sejak penyelenggaraannya di tahun 2004. Kebetulan saya pernah menjadi salah satu wakil lampung saat OSN 2006 yang diselenggarakan di Pekan Baru, Riau. Ya, kompetisi adalah bagian dari kehidupan. Ia diperlukan untuk meningkatkan standar-standar yang ada.

Alur kehidupan itu dapat digambarkan dalam graf. Setiap titik dalam kehidupan itu hanyalah batu loncatan untuk titik lainnya pada garis nyawa. Setiap kemungkinan yang ada pada masing-masing titik merupakan cabang dalam graf berarah tersebut. Titik pada yang ingin kita tuju di masa depan sangat bergantung dengan titik di masa lalu. Dengan demikian, kita dapat memanfaatkan graf tersebut untuk merancang masa depan kita atau membaca masa lalu. Baca makalah tugas mata kuliah Struktur Diskrit saya yang cupu disini.

Baca Selengkapnya

Beautiful Landscape of Mutun Beach and Tangkil Island – part 1 of 3 : The Coast

I’ll even reach the sea, the origin of life, defeat it, and eventually meet you on that island.

Lampung positioned in Sunda Stait has many amazing beach and water tourism. One of them and maybe one of the most beautiful is Mutun Coast. Compared to another beach tour site, it is relatively new. The beach is clean and white just like powder, but not as soft as it of course :D. It’s virgin and well maintained I can say, not like the tainted beach on Java. I went to the beach in 2007 on our Science Club Activity “Karya Ilmiah Remaja” trip and the photo in this post was all taken at that time. I don’t know what it looks like now but I believe it’s still as beautiful as I set my feet there five years ago.

Just like Klara Beach provided in last week post, Mutun Coast is not far from the capital of Lampung, Bandar Lampung. It takes roughly 40 minutes by car. As we wait to please our eyes on the beach, we will be provided by enjoyable scenery on the way there (by there I mean the Klara Beach and Mutun Coast). The beauty of green trees, fields, and mountains is good to pass time. And we can see some mineral mountain excavated just like the picture below.

Baca Selengkapnya

Abadan Kabar SensOpost : Rahasia Kehidupan

Suatu hari, pada tahun 1990, lahir dua anak bernama Jomes Fragile dan Vesica Urinaria. Lalu, mereka pun beranjak dewasa. Versica berubah menjadi gadis remaja nan jelita. Tapi Jomes langsung menangis jika Sica membobokkannya. Aneh sekali.

Orangtua mereka terkejut, setiap Jomes menangis ia berubah menjadi seorang pangeran. Satu bulan telah berlalu. Tapi mereka belum mendapat pasangan.

Orang tua mereka berputar-putar ke seluruh alam nan indah ini. Sejak ditinggalkan orang tua mereka, mereka selalu bertengkar. Ada aja masalahnya. Apa gerangan yang mereka rebutkan?

Ternyata sebuah kotak. Aduh.. Aduh..

Kalian ini hanya sebuah kotak kok rebutan to.. to. Ya ampuun.

Sesudah orangtua mereka pulang, mereka pura-pura akrab. Walaupun harus dipaksakan. Sebal hati Sica. Saat mereka pura-pura akrab nah ketahuan lu bedua pade. Mampus lu ya. Kapok. Cap jempol. Enak nggak?

Saat ditanya Buyut mereka, “Jom, Ca, ada apa sih di dalam kotak itu ?”

Mereka menjawab, “Fotonya Lopes’s bin Jurnalis dan gambar bola.”

“Memangnya untuk apa ?” tanya buyut mereka.

“Kalo foto untuk ditempel dan bola untuk main sepak bola.” Jawab mereka pelan.

“Lho, gimana caranye gambar bola kok bisa untuk maen bola dan gimana caranye lu pade bisa begitu. Buyut pengen tahu,” tanya buyut itu.

“Ya ditempel di bola”. Jawab mereka.

Beberapa hari kemudian mereka berdua mencari pohon. Tapi bukannya mencari pohon, ee… malah nyari Senso.

Sesampainya di laut, mereka sepakat setelah musyawarah bareng. Untuk mencari pisau listrik itu, mereka naik kapal layar. Setelah malam hampir tiba, Sica tidur dengan nyenyak, sementara Jomes berteman dengan sepi. Toh, pikir dia hari sudah larut malam mendingan aku tidur aja. Ketika mereka bangun mereka menemukan Senso.

Berhasil.. Berhasil.. Hore mereka menirukan gaya Dora dan Spongbob..

Setelah itu, akhirnya mereka berdua hidup bahagia selamanya….

Tulisan di atas adalah salah satu artikel kiriman pembaca sebut saja Khaerunnisa (umur sekitar 10 tahun pada waktu teks ditulis), adik salah satu editor eSPe. Artikel ini berjudul “Rahasia Kehidupan”. Ia diterbitkan pada rubrik dongeng SensOpost edisi abad 31 setelah proses editing “seadanya”.

Abadan Kabar SensOpost : Pengenalan dan Cuplikan

Kehidupan sekolah memang fase yang dipenuhi dengan hal-hal lucu. Setiap kita pasti punya keisengan  bersama teman sepermainan masing-masing yang dijalani pada masa-masa tersebut. Atau tidak?

Pada saat saya SMP dan SMA, salah satu keisengan saya dan sobat adalah membuat sejenis surat kabar atau majalah sekolah yang isinya humor. Humornya sih jayus dan sering kali terlalu tinggi untuk dimengeri. Apalagi kebanyakan isinya merupakan rekaman kejadian sekitar (ya iya lah, ini kan surat kabar) sehingga pembaca yang tidak mengalami langsung tidak akan memahami isi cerita.

SensOpost (dibaca senso post, disingkat eSPe) diprakarsai oleh empat orang: saya sendiri, teman saya, teman saya yang lain, dan teman saya yang satunya lagi. Keempatnya berperan sebagai editor. SensOpost dimulai sebagai reaksi terhadap guru kesenian yang menegur si teman saya yang satunya lagi ketika ia menggambar senso pada pelajaran. Makanya, SensOpost.

SensOpost adalah self proclaimed koran walaupun bentuknya seperti majalah. Memang sih empat abad yang pertama ia memiliki tata letak (layout.red) seperti koran. Saat menjadi majalah, SensOpost dapat dikenali dengan ciri logo senso (berubah menjadi silet di abad 3x) di atasnya dan kover yang terbalik dengan isinya. Dengan kover terbalik ini, pembaca akan terlihat seperti membaca buku terbalik saat ia membaca isi secara normal.

Baca Selengkapnya

Facebook dan Google+ : Mengapa Google+ Terlihat Sepi

Pada waktu Google meluncurkan platform jejaring sosial barunya, Google+, semua penduduk Internet bergairah untuk mencobanya. Akan tetapi kini, Google+ hampir seperti kota kosong. Benarkah?

Tidak juga. Akun Google+ Anda kelihatan hampa mungkin karena beberapa hal.

  1. Teman Anda sedikit yang ada disana.
  2. Meskipun banyak teman Anda yang sudah Anda lingkari, mereka sama-sama tidak aktifnya dengan Anda.
  3. Lingkaran Anda hanya berisi teman-teman seperti layaknya Facebook.

Ketika penduduk Internet beralih dari Friendster ke Facebook beralih pula tren dunia dari kecenderungan promosi diri dengan halaman alay ke kecenderungan curhat dan interaksi dengan halaman rapi. Coba tengok sebentar tulisan teman saya tahun 2009 ini dan amati bagian komentarnya. Cukup lucu. Banyak orang yang tak rela (halaman profil) Friendster dikatai alay. Coba banyangkan pada tahun ini pasti tidak ada lagi orang yang mau membuat halaman sakit mata seperti itu lagi. Banyak yang tidak tahan, mereka pun mencoba-coba Facebook. Pada akhirnya, Facebook menang dan Friendster mati.

Kemudian Google membawa sesuatu yang seolah dapat menggantikan Facebook. Dengan mendengar kata jejaring sosial, mungkin banyak orang berfikir bahwa Google+ itu akan seperti Facebook: tempat sesama teman saling curhat ke dunia. Ternyata tidak! Sama seperti kasus Friendster tadi, Facebook sudah punya gaya alaynya tersendiri: curhat dan laporan status mundan. Google+ sang pembawa risalah baru jelas lebih terasa unsur resmi dan normatifnya. Terasa janggal gimana gitu saat kita menulis status “Makan-makan ayam bakar pak Kumis” di Google+. Iya bukan? Baca Selengkapnya

A-Z Archive: S! Challenge | Shadow and Silhouette

The letter in this week archive is my favorite. There is so many picture so can post  that beginning with letter S. Sun, Sky, Sea, Sand and Shore, almost every landscape starts with it. I expect there will be amazing picture going around in the WordPress universe with this challenge.

I, myself, particularly love a landscape picture with shadow or silhouette. I like it because silhouette can change ordinary scenery into something gorgeous or at least acceptable. Therefore I decide to join this week archive with compilation about it. Hope you enjoy it.

Oh, before that you should also check my other post with the same theme. Maybe you will enjoy it too.

Dusk in Bengkulu

Dusk in Bengkulu

Glittering Tree

Glittering Tree

Baca Selengkapnya

Facebook’s friend ~ Teman di Facebook

Most of you probably have hundreds if not thousands of “friends” on Facebook. I guess 500 is everyone average. But I just reach my second hundreds, 200 last week.

Kebanyakan dari kamu mungkin punya ratusan jika bukan ribuan friend alias teman di Facebook. Ya, rata-rata sekitar 500 teman lah ya. Kalau saya beda, saya baru menggenapi angka 200 minggu kemarin.

For the last three years, I have my Finds Friend button hanging over my blue bar and on the left-side panel. Some friends then ask why when they saw that: “how the hell you have that button”. I just said “don’t know, maybe because my friends is still a few”.

Tiga tahun belakangan ini, saya punya tombol Find Friends di batang biru Facebook saya dan juga di panel samping kiri. Beberapa orang yang melihat sampai bertanya “kok kamu ada tombol itu sih”. Saya cuma menjawab “nggak tahu ya, mungkin karena temanku masih dikit”.

In the early of my dwelling on Facebook, I even had under 40 friends. It lasted for at least two years. Yeah, I didn’t even tell my college friends my Facebook account. I just said I don’t own Facebook (which is true).  The Facebook Friends at that time is my buddy from high school that accept my challenge to prove whether I have Facebook account or not. And if I have, what is the account. That challenge is written in the form of blog post titled Probatio Diabolica that contain the essay that proving someone’s Facebook account is nonexistent is hard and nearly impossible. Devil proof aka Probatio Diabolica. Yeah, that is my Facebook’s account’s name.

Di awal semedi saya di Facebook, saya bahkan  hanya mempunya di bawah 40 teman. Hal itu berlangsung setidaknya dua tahun. Ya, saya bahkan tidak mengumumkan akun Facebook saya ke teman-teman kuliah. Saya cuma bilang “Saya gak punya Facebook” (dan itu benar). Teman Facebook waktu itu hanyalah sobat SMA yang menerima tantangan untuk membuktikan apakah saya punya akun Facebook atau tidak. Dan jika saya punya, apa akunnya. Tantangan tertulis dalam bentuk artikel blog berjudul Probatio Diabolica yang berisi ulasan bahwa membuktikan akun Facebook seseorang itu tidak ada adalah hampir tidak mungkin.   Devil Proof alias Probatio Diabolica. Ya itulah nama akun Facebook saya.

Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge : Unfocused

Unfocused is this weekly photo challenge theme. It’s an interesting theme but rather “hard” or maybe confusing I think. Well, never you deliberately take a blurred picture, don’t you. Well, unfocused does not only means blurred. A picture with too much object in it and you actually don’t know what object you want to be featured the most. But that kind of picture is harder than the former and I don’t have that kind of photo at least the interesting one. So I post these four picture instead. Hope you like it.

Branches and leaves.

Rose in the morning backyard

Baca Selengkapnya

Kelapa Rapat Beach, Lampung

Pictured above: Kelapa Rapat Beach. What poetry should I put on this picture? It’s that kind of picture, isn’t it. Have any idea?

Kelapa Rapat is one of many famous beach in Lampung Province located in Teluk Ratai, Pesawaran. Kelapa Rapat basically means “dense coconut” because of many coconut tree around the beach. It’s usually called Kelara for short (or Clara for fancy English version :D). The landscape here is beautiful signified by the white sand and blue water. The beach’s wave is nearly nonexistent make it a perfect place for swimming.

The sea water is still blue transparent and has no wave.

Baca Selengkapnya

Thursday

Sky
Vast and blue
Where I reside today
So many stars burning
Planets dancing beautifully
Comets running hurriedly
I am here to finish a duty
Chase the falling rock
Swirl the galaxy
Set the ray balance
Evaluate the structure
Assess the source of magic
Assist the angel of light

Suddenly the faerie doors opened
And you comes out of the blue sky
At last we met
In the same realm
In this Orphic world we met
Magical things do happen
Baca Selengkapnya

A-Z Archive : R! Challenge | Rocket

This week I decide to join A-Z Archive photo challenge held by frizztext. This week’s letter is the letter R. I start the challenge with the picture below. It’s just a picture in my database. A picture taken when my campus reach its 50 anniversary. This is one of the decoration placed inside the campus. A bamboo miniature of rocket (letter R). The rocket signify the hope that we will fly to the sky from now on.

Just a rocket on my campus' golden anniversary three years ago.

You can see the other submission on letter R here.

Pelabuhan Nelayan, Panton, Tanjungbalai

Panton adalah pelabuhan nelayan di dekat Kota Tanjungbalai. Meskipun begitu, dari kota jarak tempuhnya hampir mencapai satu jam. Ya, pelabuhan ini bukan lagi ada di Kota Tanjungbalai tetapi masih di Kecamatan Tanjungbalai, Bagan Asahan.

Pelabuhan panton berbentuk segi empat lebar dengan jalan kecil berbeton di atas perairan. Di atas jalan ini banyak sekali pedagang yang membuka lapak sebagaimana yang sering kita lihat di taman kota atau sekitar masjid saat jumatan. Pelabuhan ini seolah-olah menjadi tempat wisata sendiri bagi masyarakat sekitar, padahal bukan. Banyak juga yang mancing disini. Meskipun begitu, masuk kesini biasanya dicegat anak muda setempat yang berlaku seperti penjaga gerbang tempat wisata pada umumnya: minta ongkos masuk.

Bentuk Segiempat Pelabuhan Panton

Baca Selengkapnya

Pantai Bunga Batubara, Ramai dan Berpasir Putih tapi Tak Terurus

Sekitar satu jam dari Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara terdapat sebuah tempat wisata yang cukup digemari masyarakat sekitar. Pantai Bunga namanya. Pantai ini terletak di wilayah pesisir timur Sumatera Utara dan berada di daerah Kabupaten Batubara. Pantai Bunga memiliki tanah berpasir yang sangat putih. Akan tetapi, pantai ini sangat kecil dan minim wahana-wahana wisata. Tempatnya pun terasa kurang terurus meskipun relatif bersih dibanding pantai terkenal lain. Panjang lokasi wisata hanya sekitar 100-200 meter saja.

Di sekitar Pantai Bunga sebenarnya ada objek wisata pantai-pantai lain loh seperti Pantai Sejarah dan Pantai Datuk, tetapi yang saya dan keluarga kunjungi waktu itu adalah Pantai Bunga ini. Masuk pantai ini dari jalan raya luar juga cukup jauh, belasan kilometer. Di jalan ini kita disuguhi pemandangan pepohonan sawit dan daerah perkebunan. Jalannya juga cukup bagus dan lancar.

Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge: Together

Bandung Institute of Technology (ITB) '08 generation students together form the ITB letter with red-white Indonesia's flag's color.

Together we can form anything.

This week photo challenge is “together”. Yeah, the theme seems is very easy but finding a cool picture to submit to the challenge is not easy. Seeing the theme I only can think a picture about human taking picture together. Yeah everyone have that kind of picture. Together with family, friends, or random stranger. Isn’t it too ordinary? Even though the sample picture on the challenge announcement page suggests something creative, I still can’t think of anything.

So in this post, I try my best to compile some photo to meet the challenge.  I hope you like one of the picture. It’s all about my campus though. In the picture above, we, approximately 3000 students of 2008 generation of Bandung Institute Technology (Institut Teknologi Bandung – ITB) formed the ITB letter with red and white color represent our county’s, Indonesia’s flag’s color. I think it’s a cool picture myself because when I didn’t think we really could form the letter. Of course the picture is a not mine, I am in the picture.  The photo is credited to the INKM Students Family Initiation committee “Panitia Inisiasi Keluarga Mahasiswa”, the committee who held the event

Baca Selengkapnya

Unik di Bandung

Setelah beberapa hari menulis tulisan berupa laporan perjalanan (baca: jalan-jalan) dengan disertai sejumlah foto yang tak tanggung-tanggung, saya berniat untuk menggenapi tulisan satu minggu ini dengan tema serupa. Sayangnya, saya tidak mendapatkan wangsit untuk menulis hal tersebut. Ada perjalanan yang mungkin bagus tetapi kurang informasi dan foto yang terkait. Tidak ada fotonya tidak seru kan. Ada perjalanan yang punya banyak foto tetapi ceritanya biasa saja, tidak kepikiran narasinya, atau terlalu timpang ke kejadian tertentu. Sepertinya saya mengalami  kebuntuan penulis “writer’s block“.

But the show must go on.

Kalau tidak, bisa-bisa  blog ini bisa terlantar lama lagi.

Oleh karena itu, kali ini saya memutuskan untuk menyatukan beberapa foto yang diambil di sekitar Bandung yang saya anggap cukup menarik. Tidak semenarik itu sih sebenarnya, tapi ya apa boleh buat. Namanya juga lagi buntu. Saya harap teman-teman bisa menikmatinya.

Saya memulai dengan sebuah buku yang saya temukan di Gramedia. Maklum, lagi masa-masanya jadi saya dahulukan foto buku ini. Masa-masa tugas akhir atau lebih dikenal skripsi di sebagian besar perguruan tinggi. Buku ini menawarkan trik cepat menyelesaikan tugas akhir. 30 hari katanya. Untuk lebih meyakinkan lagi, lihat di sebelah kanan bawah, penulisnya adalah biro jasa penulisan skripsi. Dengan bangga ia menulis begitu. Miris sekaligus ingin tertawa saya. Apalagi setelah ada salah satu situs biro skripsi yang secara sengaja menyalin daftar makalah dari situs salah satu dosen saya. Cuma bisa berdecak-decak saja deh.

TA? Hmm.. Apa saya beli buku ini aja ya…

Baca Selengkapnya