Dunia Maya
Comments 14

Facebook dan Google+ : Mengapa Google+ Terlihat Sepi

Pada waktu Google meluncurkan platform jejaring sosial barunya, Google+, semua penduduk Internet bergairah untuk mencobanya. Akan tetapi kini, Google+ hampir seperti kota kosong. Benarkah?

Tidak juga. Akun Google+ Anda kelihatan hampa mungkin karena beberapa hal.

  1. Teman Anda sedikit yang ada disana.
  2. Meskipun banyak teman Anda yang sudah Anda lingkari, mereka sama-sama tidak aktifnya dengan Anda.
  3. Lingkaran Anda hanya berisi teman-teman seperti layaknya Facebook.

Ketika penduduk Internet beralih dari Friendster ke Facebook beralih pula tren dunia dari kecenderungan promosi diri dengan halaman alay ke kecenderungan curhat dan interaksi dengan halaman rapi. Coba tengok sebentar tulisan teman saya tahun 2009 ini dan amati bagian komentarnya. Cukup lucu. Banyak orang yang tak rela (halaman profil) Friendster dikatai alay. Coba banyangkan pada tahun ini pasti tidak ada lagi orang yang mau membuat halaman sakit mata seperti itu lagi. Banyak yang tidak tahan, mereka pun mencoba-coba Facebook. Pada akhirnya, Facebook menang dan Friendster mati.

Kemudian Google membawa sesuatu yang seolah dapat menggantikan Facebook. Dengan mendengar kata jejaring sosial, mungkin banyak orang berfikir bahwa Google+ itu akan seperti Facebook: tempat sesama teman saling curhat ke dunia. Ternyata tidak! Sama seperti kasus Friendster tadi, Facebook sudah punya gaya alaynya tersendiri: curhat dan laporan status mundan. Google+ sang pembawa risalah baru jelas lebih terasa unsur resmi dan normatifnya. Terasa janggal gimana gitu saat kita menulis status “Makan-makan ayam bakar pak Kumis” di Google+. Iya bukan?

Namun, tidak seperti kasus yang lalu, penduduk Internet kali ini sudah terlalu nyaman dengan Facebook. Nyaman dengan bentuk alay melalui kata-kata tadi. Mungkin pada dasarnya manusia itu memiliki sifat untuk mengekspresikan diri (seperti pada kasus halaman profil Friendster). Dunia nyata memiliki banyak batasan dalam berekspresi, tetapi Facebook memberikan fasilitas untuk itu. Dan orang sudah biasa melihat hal seperti itu di news feed. Google+ sebaliknya merupakan tempat yang terasing. Anda tidak akan berani teriak yang aneh-aneh di desa lain yang asing bukan?

Selain karena Google+ baru, masih suci, masih sepi dan asing jadi orang enggan beralay ria disana, penyebab lain mungkin karena Google+ tidak membatasi jumlah karakter pada pos. Kebanyakan curhat dan status keduniawian (baca: mundan) di Facebook tentu saja tidak memerlukan huruf banyak-banyak. Jika diberi fasilitas huruf banyak tentu saja kita akan agak sungkan mengepos dengan kalimat pendek. Serasa menyampah saja kan.

Kini, Google+ sudah seperti situs untuk berbagi berita dan cerita. Setidaknya seperti itulah saya sekarang menggunakan Google+. Banyak orang-orang yang membagikan tulisan, gambar, atau video menarik di sana. Setelah fitur laman atau page dibuka oleh Google+, banyak perusahaan dan komunitas yang membuat lamannya sendiri. Kita bisa memilih untuk mengikuti berita dan cerita (tidak hanya celoteh dan link seperti di Twitter) mereka jika kita tertarik. Misalnya saja kita tidak ingin ketinggalan berita tentang Google Glass, update paling cepat ya di lamannya Project Glass di Google+ (selain di blognya tentu saja).

Orang menganalogikan: Facebook itu untuk berinteraksi dengan orang yang kamu kenal, Google+ itu untuk berinteraksi dengan orang-orang baru.

Kalau dari fitur Google+ dan Facebook mungkin bisa dibilang setara. Banyak inovasi dari masing-masing mereka. Mereka juga saling contek. Akan tetapi, mungkin Google lebih mementingkan privasi Anda dibanding Facebook. Semua fitur di Facebook bisa anda temukan padannya di Google+. Bedanya, Google+ menyatukan seluruh produk Google, maklum asalnya dia bukan perusahaan jejaring sosial kan. Sadar atau tak sadar, Anda itu menggunakan Google+, kecuali jika Anda sama sekali tidak punya akun Google atau tidak mengaktifkan Google+nya.

Memang saya bukan pemakai intens keduanya. Saya hanya menjadi bystander di keduanya. Di Facebook saya hampir tidak pernah memasang status. Meskipun pernah, saya hanya memasang status mundan, tentu saja, dan pembagian tautan ke blog dan pranala lain. Penggunaan yang paling sering mungkin ya melihat info di grup dan menyampah dengan teman-teman SMA. Sebagai selingan coba baca Facebook’s friend ~ Teman di Facebook. Hmm…

Di Google+ saya juga hampir tidak pernah berinteraksi ke orang lain. Saya hanya menggunakannya sebagai pemersatu akun Google (Picasa, Gmail, dkk kan nemplok ke sana) dan sebagai layaknya situs berita. Yah, mungkin sesekali komen atau mem+1 pos orang yang menarik. Hmm…

Oh ya, berlawanan dengan pendapat saya tadi di atas, saya cenderung lebih suka menyampahi server dengan status keduniawian di Google+ loh. Kenapa? Paling utamanya karena di sana lebih sepi, setelahnya karena lebih bisa diatur pembacanya, hehe. Di Facebook sedikit lebih sulit mengatur privasi, butuh banyak tahap ini dan itu.

Oh ya, kabarnya Microsoft juga “diam-diam” membuat jejaring sosialnya sendiri loh walaupun mereka mengakunya kalau itu bukan apa-apa. Namanya SoCl. Bagaimana bentuknya bisa Anda cona di So.Cl. Hm… Bagaimana akhirnya ya.

14 Comments

  1. Mantap sekali ulasannya tentang perbandingan antara FB dan G+. Lucunya, baru di tahun 2015 ini saya menemukan artikel ini. Mantap banget.

    • Niken says

      Keren. Butuh bgt ulasan mengenai medsos.. btw.. mau ngiklan barang dimana yag medsos yang efektif?

  2. Ping-balik: 21 situs sosial media | blog no name

  3. Ping-balik: 15 Jejaring Sosial Terpopuler dan Beberapa Situs Lainnya | Blog Kemaren Siang

  4. Ping-balik: Masuk Buletin STEI | Blog Kemaren Siang

  5. Ping-balik: Bagaimana Saya Sekarang Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

  6. Ping-balik: Jejaring Sosial Nyata (3 dari 3) ~ Privasi | Blog Kemaren Siang

  7. Ping-balik: Jejaring Sosial Nyata (2 dari 3) ~ Pengaruh dan Identitas | Blog Kemaren Siang

  8. Ping-balik: Jejaring Sosial Nyata (1 dari 3) ~ Relasi Sosial | Blog Kemaren Siang

  9. Bdr, minta izin tulisanmu ini saya pilih untuk dimasukkan ke Buletin STEI untuk rubrik “Dari Blog ke Blog”. Ntar kalau udah dicetak saya berikan satu exp buat kamu.

    • Iya pak Rin, silahkan saja. Saya malah senang kok pak. Ternyata ada Buletin STEI toh, baru tahu saya malah. Hehe… Terima kasih sudah memilih tulisan saya pak, walaupun tulisannya begini-begini saja.

      • Badr, buletin STEI sudah terbit 3 kali, terbit setiap dua bulan sekali sebagai media internal STEI. Di situ saya ketua redaksinya, nggak tahu kenapa saya yang dipilih STEI, mungkin karena saya rajin tulis menulis kali.

        Salah satu rubrik di sana adalah Blog yang memuat tulisan blog dosen/mhs/karyawan STEI. Untuk terbitan yang lalu saya pilih tulisan Andi Hendra EL’2007), terbitan sebelumnya lagi tulisan M Dhito *IF’2007), nah setelah saya blog walking maka saya pilih tulisan kamu. Menurut saya blog kamu berisi tulisan yang bagus-bagus dan digarap serius. Tetap teruskan menulis ya sebab menulis itu mengubah dunia.

      • Siap pak. Saya lagi semangat-semangatnya ngisi blog ini. Sekalian memaksakan latihan menulis. He, semoga bertahan lama.
        Oh sudah (atau baru) terbit tiga kali ya pak buletinnya. Tidak disebar luas sepertinya ya. Iya, mungkin karena bapak rajin blogging makanya ditunjuk jadi pimred pak.
        Ya, kalau jadi dimuat tulisan saya ini, ditunggu buletinnya pak. He, terima kasih lagi atas pilihan bapak. Baru ngerasa begini ya senangnya kalau tulisan sendiri dimuat di media publikasi orang. Hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s