Pos-pos Terbaru

Berbagi Tulisan WordPress ke Facebook dan Bugnya

Jika Anda memiliki blog dan ingin dikunjungi banyak orang, salah satu langkah paling jelas adalah membagi tulisan kamu ke Facebook. Terlebih lagi jika kamu punya ratusan atau bahkan ribuan teman. Seseorang yang dekat punya peluang memberi perhatian yang lebih besar daripada orang asing terutama di dunia maya Internet. Tentu saja, belum tentu temanmu itu mengklik link ke tulisan Anda. Akan tetapi, beberapa orang khususnya blogger pasti ingin membaca dan berbagi tulisan satu sama lain.

WordPress memiliki pengaturan berbagi (sharing option) yang jika diaktifkan akan otomatis membagi link artikelmu ke jejaring sosial yang kamu hubungkan. Pengaturan ini ada pada submenu Berbagi atau Sharing di bawah menu Perkakas atau Tools. Sampai saat ini hanya ada 5 jejaring sosial yang bisa dihubungkan yakni Facebook, Twitter, LinkedIn, Tumblr, dan Yahoo! Updates. Jika diaktifkan, artikel Anda akan muncul di beranda masing-masing jejaring sosial ketika artikel dipublikasi secara otomatis.

Saya sendiri hanya menghubungkan pengaturan berbagi ke akun Facebook dan Yahoo!Updates. Maklum, saya tidak punya Twitter (cara Twitter berbagi aneh sih) dan Tumblr (masih setia dengan WordPress). Akun LinkedIn tidak saya hubungkan karena percuma juga: koneksinya masih sedikit dan jarang dibuka.

Setelah mengaktifkan pengaturan berbagi ke Facebook beberapa lama, saya mengamati bahwa ada beberapa kesalahan atau bug mungkin pada pembuatan pos di news feed Facebook. Perlu diketahui bahwa saat fitur pengaturan berbagi diaktifkan yang akan ditampilkan pada news feed Facebook (dan mungkin beranda jejaring sosial lainnya) adalah judul dan kutipan paragraf pertama dari artikel yang dibagi. Jika kamu menambahkan excerpt atau kutipan pada artikel, kutipan paragraf pertama akan diganti dengan excerpt ini.

Sementara ini, beberapa bug yang saya amati terjadi saat :  Baca Selengkapnya

Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Menerima Mahasiswa Baru Tahun Ini

Mau ngerasain kuliah di ITB walaupun nggak masuk ITB? Ikuti (dan lulusi) ujian masuk Institut Teknologi Sumatera (ITERA). ITERA ini adalah universitas yang dibangun oleh dan berafiliasi dengan ITB. Letaknya di Lampung (tempat saya besar tuh, yee) pula. Sementara bangunan kampus di bangun, mahasiswa ITERA akan berkuliah di kampus ITB Jatinangor. Asyik kayaknya, kan?

avatar rinaldimunirCatatanku

Ini kabar baik bagi anda yang tidak lolos SNMPTN tetapi ingin kuliah di PTN. Dua perguruan tinggi negeri baru telah dibentuk Pemerintah tahun ini dengan role model masing-masing dari dua institut teknologi terkemuka, ITB dan ITS. PTN pertama adalah Institut Teknologi Sumatera di Lampung, dan PTN kedua adalah Institut Teknologi Kalimantan di Balikpapan. Institut Teknologi Sumatera berafiliasi dengan ITB, sedangkan yang di Kalimantan berafiliasi dengan ITS.

Kampus Institut Teknologi Sumatera yang di Lampung (belum ada nama resminya) mulai dibangun tahun ini dan diperkirakan selesai ada tahun 2014 (baca beritanya di sini). IT Sumatera akan menjadi kembaran ITB, karena role model-nya seperti ITB. Saya mendapat info dari Pak Rektor ITB, di IT Sumatera akan dibuka Program Studi Fisika, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Geodesi, Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi), dan Kewirausahaan (SBM?).

Meskipun kampus IT Sumatera belum ada, namun penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai tahun ini. Penerimaan mahasiswa…

Lihat pos aslinya 226 kata lagi

Weekly Photo Challenge : Movement ~ Train from Solo

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The pictures above were taken on Klaten Train Station. The train was going to Bandung from Solo.

I took some pictures when the train approached us on the station on some interval. Here by using slideshow, I want to give you the impression of movement of the train. In the last picture though, we can feel the train movement because of blurry color in it.

Share your picture with interpretation of movement and visit another fellow challengers of Wordpres Daily Post’s Weekly Photo Challenge. Let the world move with our movement.


Related articles
Baca Selengkapnya

Mengarang Judul Artikel yang Efektif

Judul adalah gerbang depan dari segala macam tulisan. Ia menjadi kriteria terkuat bagi calon pembaca untuk memilih satu dari puluhan bacaan yang tersedia. Apalagi dalam era informasi sekarang ini, banyak sekali artikel yang tersedia di dunia maya yang siap dibaca kapan saja. Artikel mana yang beruntung untuk “terpilih” sangat bergantung pada judulnya. Dengan demikian, membuat judul artikel yang baik dan menarik seperti menjadi ilmu yang wajib bagi siapa saja yang berkepentingan tulisannya untuk dibaca orang, termasuk saya: blogger.

Terdapat banyak sekali acuan (referensi) mengenai tips pembuatan tulisan, artikel, atau blog di luar sana, termasuk juga pembuatan judul. Sambil belajar, saya disini akan mencoba meringkasnya.

Apa yang harus dicantumkan dalam judul?

English: Logo of Headlines Today

(Photo credit: Wikipedia)

Tentu saja hal yang berhubungan dengan tulisan Anda. Jangan pernah mencantumkan judul yang berbeda dengan isi tulisan karena ini dapat membuat pembaca kecewa. Misalnya Anda ingin menulis kisah cinta Anda saat masih SMA. Jangan menulisnya dengan judul seperti “Kuliah dan Cinta” apalagi dengan “Kisah Cintaku Waktu Itu”.

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam paragraf pembuka, persaingan untuk memperebutkan perhatian pembaca di web sangat tinggi. Orang membuat keputusan sekejap untuk mengklik atau tidak mengklik artikel Anda. Keputusan ini dibuat setelah mereka membaca rentetan judul artikel sekilas. Mungkin sih, orang datang ke laman anda karena gambar yang dilihatnya. Akan tetapi, judullah penjelas utama dari tulisan Anda.

Dengan demikian, judul yang kita buat harus kuat, menarik, dan tajam. Judul harus membuat calon pembaca cukup tertarik untuk mengklik tautan ke laman Anda. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan kesesuaian dengan isi tulisan. 

Utamakan meletakkan kata-kata kunci utama dari artikel Anda pada awal judul. Kenapa? Selain supaya kata kunci tadi akan lebih mudah terbaca oleh pembaca, juga supaya kata kunci tadi tidak terpotong oleh . Misalnya Anda ingin menulis tentang betapa menjadi orang gila itu gampang. Jangan memberi judul “Setelah Saya Pikir-Pikir, Kayaknya Menjadi Orang Gila Itu Mudah”, lebih baik jika “Mudahnya Menjadi Orang Gila, Menurutku”.

Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge: Fleeting Moment

Fleeting moment on the street. Sure it’s hard to find picture like that. This picture below is taken last Sunday in Bandung. Yeah, on Sunday horse and delman (we called this type of vehicle delman, not sure what it is in English) is allowed on streets. It’s a fun moment to see this traditional vehicle running around side by side with car. Just like Bandung tempo doeloe (Bandung classic’s time).

Baca Selengkapnya

Daftar Blog STEI 2008 dan Keluarga STEI yang Saya Ketahui

Wah, setelah seminggu lebih saya mengisi blog dengan rentetan artikel foto-foto menjawab beberapa photo challenge yang saya ikut, kemudian seminggu lebih saya vakum dari mengisi blog ini (hampir saja saya mematisurikan blog ini lagi), akhirnya dua hari ini saya kembali ke trek utama saya yakni mengisi blog ini dengan tema yang direncanakan: seputar blog.

Menyambung artikel beberapa saat sebelum alur blog ini berubah, saya terakhir mempublikasikan tentang keluhan saya mengapa tidak ada komunitas blog di ITB. Hal ini berhubungan juga dengan susahnya ditemukan pengagregator blog-blog milik keluarga STEI sehingga tim redaksi Buletin STEI, salah satunya pak Rinaldi Munir, sulit untuk memburu pos bagus milik keluarga STEI sendiri. Oleh karena itu, saya disini akan mendaftar beberapa blog teman STEI yang berhasil saya dapatkan. Cara mendapatkan daftar ini cukup mudah. Karena saya kurang lebih memiliki daftar email seluruh mahasiswa kubu Informatika 2008 dan kubu Elektroteknik 2008 di Google Contact saya, fitur find friends milik WordPress menjadi sangat membantu.

Tentu saja, hasil yang saya dapatkan lebih banyak dari yang saya cantumkan di bawah ini. Ada proses penyaringan (screening) dari daftar mentah yang diberikan WordPress. Penyaringan yang saya lakukan adalah:

  1. Menghapus blog yang saya tidak ketahui milik siapa. Hal ini termasuk blog yang banyak tulisannya tetapi tidak memiliki halaman About. Hal ini jadi pelajaran betapa pentingnya halaman About yang menceritakan dengan jujur siapa pengelola blog tersebut. Di dunia maya dimana perhatian merupakan sumber daya langka ini, perhatian banyak bisa didapat dari orang yang Anda kenal. Jika Anda tidak memberitahu siapa Anda, siapa yang bakal kenal Anda.
  2. Langsung menghapus blog yang tulisannya hanya satu artikel standar wordpress saat blog masih baru. Ya langsung saya hapus tanpa mencari tahu ini blog siapa. Jumlah blog yang seperti ini cukup banyak, sekitar 30 blog lebih dari 150 blog yang ditemukan.
  3. Menghapus blog yang bukan keluarga STEI. Tentu saja karena artikel ini berjudul Daftar Blog STEI.

Tentu saja daftar ini jauh dari lengkap. Satu, karena ini hanya dari email yang saya miliki yang kebanyakan mahasiswa 2008. Dua, karena ini hanya blog yang dihost di WordPress saja. Tiga, banyak yang punya blog tetapi tidak ada isinya. Hanya sedikit blog yang saya tambahkan yang bukan WordPress dan tidak ada di daftar yang diberi si WordPress Find Friends tadi. Semoga daftar ini bisa saling mendekatkan kita di dunia perbloggan.

Baca Selengkapnya

Apa yang salah dengan kultwit?

Akhir-akhir ini saya mendengar istilah baru (sudah lama sih, mungkin saya saja yang telat): kultwit. Pada intinya, kultwit itu kumpulan tweet yang bahasannya jadi satu. Dengan kata lain, artikel yang dipisah jadi tweet-tweet. Saya jadi heran, orang mana yang menciptakan cara tak mangkus, tak sangkil, dan menyusahkan seperti ini. Saya ingin membahasnya tetapi artikel berikut sudah menjabarkan panjang lebar. Silakan disimak.

avatar pmohamad>280 characters

A note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon —at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding.

Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau…

Lihat pos aslinya 798 kata lagi

Resepsi Pernikahan Megah Nan Sederhana

IMAG1405

Tanggal 9 Juni kemarin, saya dan teman-teman berkunjung ke Bekasi Timur pada acara resepsi pernikahan murabbi kami Aditya Satrya. Kisah perjalanan pergi dan pulang kami sudah saya ceritakan tetapi acara resepsinya sendiri belum saya sampaikan disini. Setelah melihat resepsi pernikahan kak Adit ini, saya jadi berfikir bahwa saya ingin resepsi pernikahan saya seperti ini. Acara yang terbalut dengan hiasan yang tampak mewah walaupun sebenarnya sederhana. Mungkin.

Resepsi pernikahan Aditya Satrya dan Listya Citra S. ini diselenggarakan di Gedung OSO Sport, Bekasi Timur. Pertama sampai ke depan gedung ini saya merasakan kesan “wah” karena gedung ini memang cukup terlihat prestis. Di dalam pun, daerah resepsionis gedung tampak tertata rapi. WC gedungnya saja mirip WC di mall (kami langsung mencari toilet untuk cuci muka ketika kami sampai). Intinya saat baru masuk saya merasa masuk ke gedung yang mewah.

IMAG1385IMAG1404

Setelah mengisi buku tamu, kami masuk ke ruangan utama. Kami langsung disambut oleh hiasan kain berwarna-warni di dekat pintu dan dinding-dinding gedung. Di ruangan utama terdapat dua baris meja berisi makanan prasmanan memanjang mengikuti panjang ruangan. Di tengah terdapat meja terdapat blok es besar dengan hidangan pencuci mulut di sekitarnya. Hiasan di meja prasmanan ini menambah kesan mewar dan bagus dari acara resepsi.

Baca Selengkapnya

Jalan-jalan ke Bekasi Timur ~ Perjalanan Pulang

Seperti layaknya makanan, bukanlah hidangan pembuka yang paling mengesankan. Akan tetapi, hidangan penutup lah yang paling ditunggu-tunggu. Siapa yang tidak menunggu-nunggu waktu pulang coba di dunia ini? Waktu pulang sekolah, pulang kerja, pulang kampung. Kami pun begitu, setelah hampir satu jam di lokasi resepsi kami pun pulang. Ya mau bagaimana lagi, resepsinya juga sudah selesai pukul 14.00 tersebut.

Dari gedung OSO Sport kami pun berjalan kaki ke jalan utama tadi (jalan yang bersisian dengan sungai tadi). Cukup jauh. Ya, kayak berjalan mengelilingi kampus UI Depok lah, suasana dan jaraknya. Maklum tidak ada angkutan umum di daerah perumahan Grand Wisata ini. Ojek juga libur. Hal ini membuat kami berfikir: Apakah orang-orang yang merancang perumahan all in one itu tidak memikirkan sarana transportasi di kompleks perumahannya? Apakah mereka memiliki ekspektasi bahwa semua penghuni kompleks punya kendaraan masing-masing? Jangan-jangan bukan anak ITB nih arsiteknya… Kemudian, keadan perumahan yang sepi ini membuat kami bertanya-tanya. Penduduknya saling bersosialisasi nggak ya? Kan rumahnya jarang-jarang… Kayaknya lebih baik buat rumah di desa yang bisa berbaur dengan tetangga dibanding di perumahan mewah begini.

Setelah sampai luar kami kaget, karena ada plang yang panahnya menuju ke arah dalam perumahan tadi dan bertuliskan “Bandung via Tol”. Loh, jangan-jangan kami salah pilih arah lagi. Untung saja, saya bertemu kakak tingkat mas Dodo yang sedikit paham tentang perbekasian dan sarana transportasi ke Bandungnya. Beliau sedang menunggu ojek untuk ke jalan raya samping sungai tadi. Akan tetapi, karena jembatan di depan padat merayap, saya pun menyarankan untuk berjalan kaki saja. Sambil mengobrol kan enak.

IMAG1449.jpgJembatan di depan melewati dua aliran. Satu aliran jalan tol, dua aliran sungai. Karena jalan kaki, kami bisa mengamati semuanya dengan puas. Toh, pakai ojek pun sepertinya waktu tempuhnya sama dengan jalan dalam kondisi macet begini. Tidak juga sih, dengan kondisi capek begini semua teman saya semangat untuk pulang, hanya saya yang sesekali tertinggal untuk memfoto hal-hal tidak jelas. Seperti gambar di samping.

Di ujung jalan jembatan kamu pun naik angkot nomor 39 ke arah pulang. Sampai saat ini, kampi belum menyangka hal itu akan terjadi.

Ah lebay. Apa sih?

Jalan yang bersisian dengan sungai ini cukup padat, walaupun sebenarnya tidak sampai ke taraf macet. Akan tetapi, entah hobi atau merasa tertantang atau memang karena supaya cepat, angkot yang kami tumpangi ini tiba-tiba berbelok saat menemukan satu jembatan kecil. Ia berpindah jalur dari jalur lancar di sisi sungai dengan pertokoan mewah ke jalur berbatu-becek ala off-road di sisi sungai dengan perkampungan kumuh. Wew, mungkin ini supir angkot ingin menyadarkan para mahasiswa yang ada di dalam angkotnya supaya tidak hanya berada di zona nyaman saja tetapi juga berkunjung ke daerah orang-orang bawah.

Sungai dari Sisi Kumuh

mungkin supir angkot ini ingin menyadarkan para mahasiswa yang ada di dalam angkotnya supaya tidak hanya berada di zona nyaman saja tetapi juga berkunjung ke daerah orang-orang bawah

Baca Selengkapnya

Jalan-jalan ke Bekasi Timur ~ Perjalanan Berangkat

Hari Sabtu 9 Juni kemarin, saya dan teman-teman berangkat dari Bandung ke Bekasi Timur untuk menghadiri resepsi pernikahan murabbi kami Aditya Satrya. Tidak seperti undangan jauh lain, kami memilih untuk berangkat memakai kendaraan umum. Kenapa? Ya karena tidak bisa nyetir. Akan tetapi, untungnya walaupun capek, saya akhirnya sadar betapa asyiknya terjaga dalam perjalanan jauh seperti ini. Banyak hal dan kejadian yang bisa diamati dan dialami. Maklum, biasanya saya hanya tidur atau terkapar hampir seluruh waktu perjalanan.

Kami menunggu bus pengantar kami di persimpangan depan pintu gerbang tol Pasir Koja. Seperti yang kita ketahui bersama, sekarang bus tidak boleh mengetem (menunggu penumpang) di ruas depan muara gerbang tol. Tentu saja supa tidak memacetkan muara tol dan tidak membuat penumpang menunggu lama. Akan tetapi, menaikkan penumpang dari persimpangan terutama saat berhenti lampu merah masih diperbolehkan. Kami memilih naik bus dari persimpangan Pasir Koja ini supaya tidak menunggu bus mengetem lama dibandingkan naik bus dari terminal Leuwi Panjang Bandung.

Karena masih ada satu teman dari Cimahi yang belum datang, kami pun menunggu di trotoar persimpangan. Walaupun semua memakai batik, kami tetap berjemur dan duduk-duduk di samping jalan tersebut. Sambil rehat menenangkan CPU Usage pikiran saya yang sebagian sudah disita pusing, saya pun mengamati keadaan sekitar sambil berfoto ria. Persimpangan Pasir Koja

Beberapa hal menarik untuk disebut. Pertama, ternyata bus ke Bekasi dan Bekasi Timur itu berbeda. Untung saja kami menunggu dulu sehingga tidak salah naik bus. Lalu, bus (dan kendaraan umum lain) yang melintas di persimpangan ini sudah berhenti walaupun lampu masih berwarna hijau. Loh? Iya, walaupun masih ada 10-20 detik lagi, bus nya tetap saja melambat atau bahkan berhenti. Tentu saja bukan supirnya yang buta warna atau tak tahu angka. Sepertinya ini sengaja untuk meningkatkan peluang mendapatkan penumpang lagi. Setelah bus masuk tol, mereka tidak akan bisa mendapat penumpang lagi bukan?

Selanjutnya, lampu lalu lintas di persimpangan ini agak aneh. Penghitung waktu (timer) di kebanyakan lampu lalu lintas berjalan mundur, maksudnya angkanya turun dari kecil ke besar dari besar ke kecil. Di persimpangan ini tidak. Terkadang penghitung waktunya naik. Entah ini sengaja atau memang agak ngaco sirkuitnya. Kemudian, waktu berhenti disini sangat lama. Pol, seluruh angka dipakai: 199 detik. Mana kadang naik turun pula. Dengan kombinasi bus dan lampu lalu lintas ini, jarak 50 meter pada ruas jalan dekat persimpangan bisa memakan waktu 20 menit. Fuih…

Setelah menunggu hampir satu jam, teman kami pun datang. Tidak berapa lama bus Bekasi Timur yang kedua (selama kami menunggu disana) pun lewat. Langsung kami naik. Tidak seperti perkiraan salah satu teman kami, masih banyak kursi yang kosong. Alhamdulillah, saya belum membayangkan gimana mau berdiri 3 jam selama perjalanan. Setelah tidak berapa lama duduk di kursi yang nyaman ini, obrolan lumayan mengering, seperti biasa saya tidur terlelap hingga bus sampai ke tujuan.

Sekitar pukul 12 kami sampai di Bekasi Timur. Karena agak bingung dimana letak Jembatan Kalimalang, tempat berhenti menurut petunjuk denah lokasi, kami akhirnya nyasar. Terlewat jauh entah berapa km dari angkot yang kami tuju. Di sebuah persimpangan kami turun dan kemudian bertanya-tanya ke orang sekitar dimana letak Gedung OSO Sport. Wow, ternyata tidak ada yang tahu. Tanya ojek pun tak tahu. Malah mereka menawari untuk ke sana sambil mencari dengan ongkos Rp30.000,- per motor. Makjang… Angkot nomor 39 pun tidak lewat sana. Terpaksa deh, kami berjalan kaki menelusuri jalan panjang yang bersisian dengan sungai ini. Persis jalan yang bus kami lewati tadi. Lumayan lah, melihat-lihat keadaan kota ini.

IMAG0007

Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge : Close ~ The Flowers

After leaves, I present you close with flowers. Leaves cannot be left alone without flower, can it?

Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge: Close ~ The Leaves

Close can be interpretated as literal close or close of relationship (as with friends or family). Sara Rosso on her dailypost’s weekly photo challenge’s post cover both aspect with one picture. For this theme, I decided to post photos about the former interpretation with leaves for the sub theme. I found a lot on my database. Well, I mostly taken inanimate object when photographing after all. Here’s some of them.

Baca Selengkapnya

外れ

残念だけど。。今日ポストはありません。私がこの日を外れしました。ー。-

くやしだけど、しかたないです。 過去ものが過去に残されましょ。仕事がまだいっぱいです。だからまえにすすもしよ。。 

Golden Shining Mosque

Image taken in Kampus, Metro, Lampung


Today maybe I can only post this picture of a mosque near my friend’s home in Metro, Lampung.

Weekly Photo Challenge: Friendship (2) ~ The Friendship Monument

This is my second submission for this week’s WordPress’ weekly photo challenge themed friendship. For the first submission, please head to Weekly Photo Challenge: Friendship that feature my candid picture with friends in various group.

This picture below is a monument located in the center of my college’s campus: Bandung Institute of Technology. The monument is called “Friendship Monument”. The text in the monument read “Sekali Teman Tetap Teman” which mean “Once Friend, Forever Friend” in English.

Friendship Monument of Plaza Widya Nusantara, Bandung Institut of Technology

Near the monument, there is a pond called Indonesia Tenggelam “sinking Indonesia”. It is featured in my first friendship submission here. Some time ago, we have tradition to throw off a friend to the pond called on his birthday. Everyone catch the birthday person and bring him to the center of campus and swing him off the pond.

Catch the birthday one!
Catch the birthday one!
And throw him to the hell! Um, pond I mean.
And throw him to the hell! Um, pond I mean.

A truly friendship. You can’t be friend before you play prank to each other, can you? 

Baca Selengkapnya