Pos-pos Terbaru

A-Z Archive: X! Challenge

So it comes to this already. X uh? Very hard… I have think this for two weeks but I don’t get anything. Arggh.. It’s hard to find something beginning with X here in Bandung. I give up. I will post this instead… Better than nothing, right? Hope it will sufficient.

X enough?

Hey, it forms X letter, doesn’t it.

Baca Selengkapnya

Travel Theme: Oceans | Pantai Panjang, Bengkulu

Earth consists water up to it’s 60% area. The water area is called oceans. So, everywhere you go travelling, visiting a nearby oceans (or beach) is a must.

In this blog, I have posted almost all of beach (and water body) pictures that I have visited. Because of that, I really really want to go to beach now. Arrghh… Well, maybe these picture below are one of selected few and not so great picture that I left.

Pantai Panjang, literally translated be “long beach”, is a tourism site on Bengkulu city, Bengkulu province, Indonesia. Maybe it is called like that because Bengkulu is a long thin province and the beach is extend from end point to end point of the city.

Pantai Panjang is facing the Hindian Ocean. That way, the wave here is very big. However, the sight of someone swimming and playing in the water is not that rare. Swimming too far from the land is not recommended though.

Inside the beach, there is many attraction. You can find standard beach property such as restoruant, family park, sport center, etc. Additionally, you can ride horse and elephant, yeah ELEPHANT here in Pantai Panjang. I am sorry I can’t convince you that hard for I don’t have the picture.

Yeah, I admit, compared to beached out there, Pantai Panjang is rather plain. It is too long but give no exciting scenery. There is only park on one side and plain sea to the horizon on the other side. The shoreline of Pantai Panjang is just straight from point to point. Furthermore the beach is facing almost South so when the sun set, you can’t always see it in the far oceans. That is what making it’s plainness. But, it still a good site to see when you visit Bengkulu, I promise you.

That is what I got when I visit Pantai Panjang of Bengkulu last 6 year when I am in junior high school. And these are other oceans of Indonesia that I have visited. As you can see, they are more gorgeous than Pantai Panjang above. I recommend you to visit these place (besides the much more famous one) . See also the post for further information and photograph. Click on the picture to go to the post.
Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge: Friendship

We have friends everywhere.  Their structure is very complex. There is a group of friends here and there and both of them don’t really have incision. We go with our different persona in front of them. Their purpose and interest maybe different from each other groups but  they are person that always be there when we need them. And of course, we have a bunch of photo to capture our moment and have it last for eternity.

In this post, I attach some photo from my different groups of friends for the weekly photo challenge this week.

This is I and my friends on the Indonesia Tenggelam (sunken Indonesia) pool on our campus. They are my college friends that came from same region: Lampung. Beneath the pool, we can see a map of South East Asia with Indonesia in green tiles.

Indonesia Tenggelam

This is I and my friends when we take a tour to National Monument Indonesia. They are my upperclassmen from my college. I am the person floating in front of the picture.

Try to take “flying photograph” with friends

Baca Selengkapnya

Reset Data Pabrik

HTC Wildfire S adalah ponsel saya yang ketiga selama hidup saya. Ponsel pertama dan kedua masing-masing bertahan selama 3 dan 5 tahun setelah saya serong ke yang lain. Nah, ponsel yang terakhir ini adalah ponsel pintar pertama saya. Secara spesifikasi, ponsel ini sudah cukup hebat dan memuaskan bagi saya. Layar, kamera, dan sistem operasi Androidnya (+antarmuka pengguna HTC Sense-nya) mantab. RAM, dan prosesor ya lumayan lah. Memang ukurannya yang mungil (hanya 3.2 inch) terasa agak tanggung. Banyak pula kawan yang menyatakan ukurannya tak cocok dengan muka saya (padahal saya kan lumayan imut juga ya? :D).

Akan tetapi, kelemahan terbesar ponsel ini adalah kapasitas memori internalnya. Besarnya hanya 150MB. Sebenarnya nilai yang tertulis pada kotak adalah 512MB tetapi setelah dipakai sistem operasi, cache, dll hanya segitulah jatah untuk aplikasi. Ruang ini diperkecil lagi dengan adanya aplikasi bawaan HTC menjadi hanya 120MB.

Ukuran memori yang terbatas ini sangat mengganggu terutama karena sebagian besar aplikasi Android dipasang pada memori internal. Secara default begitu. Memang beberapa aplikasi bisa dipindah ke memori luar (eksternal). Akan tetapi, aplikasi tadi juga tetap meninggalkan jejak beberapa mega di memori internal. Belum lagi jumlah aplikasi yang mendukung fasilitas tersebut masih jarang.

Sampai pada titik ekstrem penggunaan ponsel saya, tinggal beberapa mega (rerata < 6MB) saja sisa memori internalnya. Padahal aplikasi yang saya instal tidak banyak-banyak. Sebagian juga sudah dipindah ke memori eksternal. Beberapa diantaranya adalah GO Keyboard, AdobeReader, dan Winamp kemudian aplikasi yang kecil (kurang dari 1 MB) adalah Cartoon Camera, iQuran, Quran Anroid,  dan File Manager. Aplikasi besar yang sudah dipindah ke memori eksternal adalah Evernote, game Fruit Slice, game Ninjump dan Obenkyo.

Android StoreApplication SpaceSpace

Setelah ruang kosong (free space) menyentuh batas 3MB, saya akhirnya memutuskan untuk memakai fasilitas penambah ruang kosong paling ampuh memori milik Android: reset data pabrik (factory data reset). Memang ini berarti menghilangkan semua data di ponsel termasuk aplikasi, kontak, dan sms. Akan tetapi, saya sudah mencapai batas kesabaran.

Untungnya hal ini tidak terlalu merepotkan. Saya hanya mencadangkan (backup) sms. Aplikasi biarlah kembali seperti awal, toh saya ingin merencakan peta aplikasi terpasang saya lebih ketat lagi. Kontak tidak perlu saya cadangkan karena daftar kontak saya selama ini sudah terhubung dengan Google Contacts. Santai data ada di awan sana. Data lain seperti catatan Evernote, agenda, dan email juga ada di awan. Mungkin hanya highscore di game yang tidak bisa diapa-apakan, Yang lupa diselamatkan adalah data milik aplikasi Obenkyo yang mencatat kemajuan hafalan kanji saya. Saya terlalu berekspektasi tinggi dengan aplikasi tersebut karena datanya disimpan di memori eksternal. Ternyata setelah diinstal ulang, data yang masih di memori eksternal tadi ditimpa oleh aplikasi yang baru. Hmmm…

Sesaat setelah reset data pabrik, saya mendapat 120MB ruang kosong di memori internal. Lumayan…

Space AsliOriginal App SortApp Seperti BaruNo ContactNo Messages

Kemudian saya memasang beberapa aplikasi yang saya rasa penting. Aplikasi yang saya unduh adalah: GO Keyboard (papan kunci keren pengganti punya Android), Evernote (untuk pencatatan segala macam), Obenkyo (belajar kanji dan kosakata Jepang di ponsel), dan WhatsApps (baru instal pertama kali, katanya pesan singkat sekejap [instant messaging] ke semua platform). Kemudian saya juga memutakhirkan beberapa aplikasi bawaan yang saya rasa penting: PlayStore (buat unduh apps), Gmail (tau lah ya),  dan Facebook (nggak penting sih sebenarnya, cuma iseng).

Hasilnya ruang kosong memori saya sekarang sebesar 60MB-an. Posisi tertinggi pemakaian memori dipegang oleh si aplikasi yang nggak penting tadi, Facebook dengan pemakaian 14MB. Sebenarnya aplikasi di atas tidak terlalu berbeda dengan yang dulu dalam segi pemakaian ruang individual. Aplikasi besar seperti game sudah dipindah ke memori eksternal (sisa di internal hanya 2MB-an). Beberapa aplikasi lain yang dulu saya instal dan sekarang belum sangat kecil (kurang dari 500kB). Hal ini membuat saya heran, jadi setan yang memakan memori saya waktu itu apa ya?

Memori internal pada ponsel pintar memang sangat penting karena kepintaran ponsel sangat bergantung pada aplikasi yang terpasang. Sangat disayangkan HTC Wildfire S milik saya ini terlalu lemah di lini ini. Jika tidak ponsel ini sudah sempurna untuk saya (dan budget saya yang pas-pasan). Ngomong-ngomong soal ponsel pintar, sekarang ada HTC One V loh yang jauh lebih hebat dibanding ponsel saya ini dan banyak ponsel di luar sana dengan harga yang selisih tipis saat saya membeli HTC WIldfire S sepuluh bulan bulan lalu. Wow, jadi pingin…

Bagaimana menurutmu kawan? Ponsel gimana yang bagus menurutmu? Bagi yang punya ponsel pintar, khususnya Android, aplikasi apa saja yang kamu pasang? Aplikasi apa yang menurutmu penting untuk ada di ponsel?

Internet: Three, Axis, Smartfren dan Operator Lain

My Most Visited Page

Sebagai penghuni dunia modern dan mahasiswa Informatika, Internet hampir menjadi kebutuhan primer saya, minimal sekunder lah. Banyak keperluannya misalnya untuk berkomunikasi, mencari berita dan referensi, membuat web, seneng-seneng, dan yang terpenting untuk menulis blog ini. Nah, orang yang ingin berinternet itu mau tidak mau harus punya modem (KBBI : modulator dan demodulator yg terpasang pd telepon untuk mengubah informasi digital ke dl bentuk suara dan sebaliknya).

Pertama saya hanya mengandalkan internet di kampus. Jaringan disana sangat memuaskan. Kecepatannya koneksi ke luarnya rata-rata dunia (sekitar 3 Mbps). Maklum jaringan internet ITB konek langsung ke Jepang sana. Ditambah lagi banyak konten bagus di situs internal kampus. Siap unduh bergiga-giga layaknya kopi dari harddisk ke harddisk. Film, anime, dan manga tontonan mingguan. Mantab!

Smart

IMAG1382 Namun, saya merasa lama-kelamaan repot juga mesti ke kampus kalau mau menikmati akses internet. Akhirnya sekitar tahun 2009 akhir saya membeli modem CDMA. Waktu itu CDMA khususnya operator SMART lagi populernya. Jaringan baru lebih cepat. Di web internal kampus (sebut saja rileks) ada tawaran modem Haier CE100 dari sesama mahasiswa. Beberapa yang sudah mencoba memberikan komentar yang positif dan bahkan menampilkan screenshoot dari kecepatan internetnya. Lumayan 300 kbps saat mengunduh pakai download manager. Waktu itu, model masih mahal cuy. Modem yang saya beli itu aja harganya hampir mencapai satu juta. CDMA unlock padahal. Setelah saya pakai, entah saya yang agak kurang beruntung atau gumana, kecepatannya tidak secepat yang saya harapkan. Hanya sekitar 120an kbps saat mengunduh pakai download manager. Mungkin karena kosan saya di wilayah cisitu yang banyak rumah tinggi (kosan saya yang rendah) sehingga sinyal tertutupi. Setelah memakai beberapa bulan dengan frekuensi jarang, saya agak menyesal juga membeli paket modem+kartu SMART ini. Waktu itu bayaran per bulan unlimited nya adalah sekitar 100 ribuan, jadinya males juga.

Telkom Speedy

Selang beberapa lama, saya dan teman sekosan memasang jaringan internet Telkom Speedy. Wah, serasa di surga. Jaringan ini cukup dapat diandalkan. Setidaknya kecepatannya jauh di atas kecepatan modem kebanyakan. Dengan pemasangan jaringan ini, frekuensi saya di kampus berkurang drastis. Yang tadinya saya mengunduh file manga terpaksa di kampus, kini saya berani mengunduh dari torrent dan dari awan sana. Tinggal tunggu satu malam sambil tidur, film bisa dinikmati esoknya. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, keterhandalan Speedy berkurang. Sering sekali terjadi gangguan jaringan sehingga tampak tidak ada sinyal di ikon wireless di taskbar. Apalagi kalau hujan, beuh. Mati. Kami sendiri heran kenapa ini terjadi. Beberapa teman yang menggunakan Speedy mengaku lancar-lancar saja. Padahal Speedy kami hanya dipakai bertiga. Makin lama perilaku buruk ini makin sering terjadi. Kekesalan ini ditambah dengan meningkatnya tarif paket Speedy kami dari Rp225.000,- per bulan menjadi Rp330.000,- per bulan. Merasa tidak sanggup membayar Rp110.000,- per bulan, kami pun memutuskan untuk putus.

Axis dan Three

Tak terelakkan, saya dan teman sekosan pun membeli USB modem. Supaya beda, saya membeli paket 3 (three.red) dan dia (sebut saja Fikri) membeli paket Telkomsel Flash. Harganya sama, hanya beda model modem.

Hasilnya si Fikri beralih ke Axis setelah satu minggu mencoba Flash. Kenapa? Karena kuota bulanannya sudah habis seketika. Ketika kuota bulanan Flash habis, kecepatannya turun menjadi 64 kbps. Akan tetapi, tidak seperti operator lain, jaringan Flash menjadi tidak dapat digunakan sama sekali (kata Fikri).

Axis Stabil

Axis biasa stabil di sekitar 120kbps atau 60kbps

Tiga minggu kemudian, saya pun beralih ke Axis. Kenapa? Baca Selengkapnya

Mana Komunitas Blog ITB?

Saya agak heran. Kenapa ya di ITB tidak ada komunitas para blogger ITB? Dari semenjak saya mulai menulis blog (2008) hingga sekarang saya belum pernah mendengarnya. Entah sayanya yang kurang rajin atau bagaimana. Tapi iya kok, di googling juga nggak ketemu. Padahal ini ITB loh, yang katanya dipenuhi aktivis berkepala besar karena kebanyakan pikiran, dosen-dosen canggih, mahasiswa pilihan, bla-bla-bla.

Komunitas blog? Yang saya maksud dengan komunitas blog disini adalah sebuah kelompok yang didedikasikan khusus dalam bidang tulis menulis dengan blog atau portal khusus yang menghubungkan masing-masing civitas academica ITB dan segenap keluarganya (dosen, staf, dan alumni) yang memiliki blog sehingga para blogger tersebut dapat saling berbagi cerita dan kunjung-mengunjungi blog masing-masing.  Duh, sudah kayak membuat definisi istilah di makalah.

Pak Rinaldi Munir juga pernah bercerita bahwa beliau sulit menemukan blog keluarga ITB apalagi STEI. Tidak ada agregrator yang memberikan daftar blog-blog mahasiswa, dosen, atau staf ITB (umumnya dan STEI khususnya).

Kalau kita tengok ke negeri seberang, mereka sudah mempunya komunitas blog yang mapan (established). Di Universitas Indonesia terdapat komunitas.ui.ac.id yang menggabungkan konsep blog dan jejaring sosial dan bisa diakses seluruh pemilik akun UI. IPB punya komunitas blog yang sudah tampak maju. Hal ini dapat langsung terlihat pada portal komunitas blog di bloggeripb.org. Portal ini sudah seperti portal berita yang berisi banyak artikel beragam topik. Kemudian, yang paling penting adalah komunitas ini selalu dimutakhirkan (update). Kontributornya banyak. Ya jelas, komunitas sangat bergantung pada anggotanya. Jika anggotanya aktif berkontribusi di komunitas, komunitas akan ramai dan berlangsung dengan sendirinya.

ITB memang punya portal blog sendiri: blogs.itb.ac.id. Keluarga ITB bisa membuat blognya disana. Sayangnya, portal blog ini tidak mengiris blog-blog dari luar karena memang tujuan utamanya adalah memberikan fasilitas blogging, bukan menyatukan blog para civa. Tujuan yang agak tidak berguna menurut saya karena fasilitas dan kapasitas yang diberikan disana sangat sedikit dibanding yang ditawarkan oleh wordpress.com atau blogspot. Siapapun yang mengurus portal tersebut, saya sarankan Anda mengganti konsep portalnya. 

Memang apa sih gunanya komunitas blog? Baca Selengkapnya

Masuk Buletin STEI

Alhamdulillah, setelah kembali aktif mengeblog selama dua bulan, akhirnya saya mendapat buahnya juga. Bulan lalu salah satu dosen saya, Bapak Rinaldi Munir, memilih salah satu tulisan saya untuk dimuat di buletin STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, salah satu fakultas di ITB). Tulisan saya tersebut berjudul Facebook dan Google+: Mengapa Google+ Terlihat Sepi. Tulisan ini dimuat pada Buletin STEI Tahun 2 Vol.2 (April-Mei 2012).

Buletin STEI merupakan media internal dari fakultas STEI yang terbit dua bulan sekali. Buletin ini dibagikan kepada lab-lab di STEI dan beberapa pihak yang memiliki kerja sama dengan STEI. Pada buletin ini terdapat rubrik “Dari Blog ke Blog” yang menampilkan tulisan dari blog yang ditulis keluarga STEI. Kebetulan, setelah blogwalking, Pak Rin menemukan tulisan saya tersebut.

Saya memang belum merasa tulisan saya sudah bagus untuk dimuat di media lain selain blog. Akan tetapi, saya sangat ingin memiliki kemampuan seperti teman-teman yang tulisannya bisa tembus ke majalah, koran, atau media elektronik. Dengan demikian, tawaran dari Pak Rin sangat membahagiakan. Walaupun buletin STEI ini hanya media terbatas, ini mungkin awal dari jalan saya menuju penulis yang baik. Amin.

Nah, bagi teman-teman keluarga STEI lain khususnya mahasiswa, siapkan saya tulisan yang bagus di blog masing-masing. Siapa tahu Bapak Rinaldi Munir, sang pimred buletin STEI,  memilih tulisanmu di edisi mendatang. Lumayan kan dibaca oleh mahasiswa-dosen-staf STEI dan perusahaan-perusahaan yang ada relasi ke STEI.

Berikut ini saya sertakan hasil pindaian ke-12 halaman dari buletin STEI tersebut. Selamat menikmati.

Baca Selengkapnya

A-Z Archive: W! Challenge ~ Wed

Cuteness Overboard

These pictures was taken on my uncle’s wedding. These two children is my cousin. They accompanied the two brides at the party. They wore a Bengkulu’s traditional clothing as wedding dress. 

Baca Selengkapnya

Apakah Blog Masih Relevan?

Kita lihat masa sekarang banyak sekali layanan jejaring sosial betebaran. Mereka adalah tren baru dan gaya masa kini. Teknologinya paling terdepan. Sebaliknya blog merupakan media kuno yang sudah ada semenjak web dikenal orang. Perkembangannya ya begitu-begitu saja, tidak sepesat layanan “jejaring sosial” (walaupun terkadang blog juga dianggap sebagai salah satu jejaring sosial). Pemakainya jangan-jangan cuma orang-orang tua 40 tahunan ke atas.

Belum lagi, beberapa jejaring sosial tersebut memiliki fasilitas serupa weblog. Di Facebook misalnya sudah menjadi gaya untuk menulis nasihat, hikmah, atau sekedar puisi di notes dan disebarluaskan ke seluruh friends yang ada. Pada grup pun ada fasilitas doc yang bisa dijadikan catatan bersama. Twitter sering disebut-sebut sebagai sarana microblogging. Kecepatan pesebaran informasinya katanya melebihi kecepatan gempa. Google+ apalagi, dengan jumlah karakter nyaris tak terbatas pada satu posnya, ia nyaris bisa digunakan sebagai catatan web seperti blog. Hal ini menimbulkan pertanyaan, masih zaman kah blog? Masih relevan gitu?

Jawaban singkatnya : SANGAT MASIH LAH!!

Memang, banyak orang yang sangat nyaman dengan jejaring sosialnya. Nyaman bisa menspam umpan berita teman-temannya dengan ocehan mundannya. Nyaman juga bisa berbagi artikel dengan tautan atau notes. Beberapa bahkan membagi tulisan yang ditulis pada deskripsi foto. Menyebar pesan dan berita lewat jejaring sosial tampak jauh lebih mudah.

Begini, akun anda pada jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Google+ itu kan pada dasarnya tanah sewaan kan? Masa kita mau bangun rumah di atas tanah sewa. Parahnya lagi tanah sewaan tadi terlalu padat lalu lintas tidak jelas.  Bau. Bising. Lokasi yang jelek sekali untuk bangun rumah bukan. Facebook dkk. itu bisa dan akan dan sudah pernah merubah peraturan pada lahannya. Masih maukah kita hanya punya rumah disana.

Sebaliknya yang punya blog ya kamu sendiri. Memang jika masih gratisan blog tersebut masih dibawah domain wordpress atau blogspot misalnya, masih “nyewa”. Akan tetapi, kepemilikan blog tersebut 100% ada di tangan Anda. Isi dan tampilan seluruhnya terserah Anda. Tidak ada orang lain yang mengatur. Apalagi bagi sebuah bisnis atau bahkan perusahaan, analogi tadi makin terasa. Tentu saja sangat aneh perusahaan yang tidak memiliki “rumah” sendiri sebagai sarana pusat informasi utama.

Perbedaan analisis google antara nggak nge-blog dan nge-blog pada sebuah bisnis

Inti dari sosial media adalah konten yang bagus. Bagaimana sebuah bisnis dapat memberikan ladang pusat untuk kontennya harus menjadi konsen utama bagi pelaku bisnisnya. Website dan bentuk alternatifnya blog dapat menjadi sumber/ ladang utama bagi target produk kita. Di sana kita bisa memberikan informasi yang lebih detail, menarik, dan menggugah tentang bisnis kita dibanding hanya melalui jejaring sosial tertentu. Berdasarkan riset dari  Content Marketing Institute, 65% dari bisnis B2B sekarang memanfaatkan blog sebagai ladang pusat. Buat artikel-artikel yang membuat orang mengerti produk mu dan buat seheboh mungkin supaya orang tertarik untuk menyebarkannya. Nah, itu baru hebat.

Pada blog, kita bebas mengontrol ide yang kita miliki sendiri. Kitalah pemimpinnya. Kita pemilik dapurnya. Kita bisa memberikan propaganda apa saja mulai dari berbagi pengalaman, tips-tips, opini, sampai pemikiran berat. Pengelolaan blog juga akan memberikan kesan pakar atau profesional dibanding hanya menulis pada pos jejaring sosial saja.

Pos yang muncul pada aliran umpan berita di jejaring sosial hanya muncul sesaat. Beberapa jam ia sudah tenggelam tak terselamatkan lagi. Sebaliknya pos pada blog bertengger selamanya. Ia bisa mengundang pembaca sampai berhari-hari atau berbulan-bulan kemudian. Bahkan, pos pada blog masih dapat ditemukan pembaca lewat mesin pencari. Pengelolaan konten dan pencarian pada blog juga jauh lebih mudah dibanding pada jejaring sosial.

Memang mesin pencari sekarang bisa juga menjamah hingga ke dalam jejaring sosial. Akan tetapi, saya bertanya balik. Jejaring sosial mana saja? Fitur mana saja? Kemudian, pernahkan anda mendapat info yang anda butuhkan dari pos pada jejaring sosial saat anda yang melakukan pencarian (a.k.a. googling)? Sangat jarang bukan?

Blog merupakan sarana media sosial yang sangat fleksibel. Ia bisa dijadikan kanal informasi pusat dan dapat dengan mudah dihubungkan dengan banyak kanal lain seperti jejaring sosial.  Terlebih lagi tidak ada batasan dalam blog. Anda bisa menulis sepanjang apa pun. Video, foto, tautan, kutipan semua bisa diletakkan bercampur aduk menjadi satu. Jumlahnya terserah kita sang penulis. Sama persis seperti artikel pada koran dan majalah.

Makanya konyol orang yang meletakkan artikel pada deskripsi foto. Susah dibaca. Mereka melakukan dua kesalahan. Baca Selengkapnya

Weekly Photo Challenge : Today | My Own Room in Cartoonish

This week’s theme is very surprising and frightening. Shit just got real when the challenge is like:

Today! This week’s theme is a bit different (but you like that, don’t you?) – it’s about TODAY. This day. The day you’re reading and reacting to this post. No rules or guidance on what to post other than the photo must be taken today! Don’t cheat, don’t go into your photo archives on your computer, don’t link to an old post. Get your camera out, right now, and snap a picture to share with everyone! 

Well. The problem is, I read the post challenge on Friday 23.25 so today is a very small window (only 35 minutes to come up with something) considering I haven’t taken a single photo today. Post a photo on the day you read and react to the photo? On this dark night with my phone camera? Well, it can’t be done except I take pictures of my own room.

Hey, that’s it. I just need to take a photo of my own room. These photo is taken on that small window time but it seems I am late to post the photograph on the day it was taken. But, it just for fifteen minutes anyway. Writing takes time you know.

These photo was taken with my android phone with the help of CartoonCamera application. It really nice to see something in cartoon especially the black line on white board one. It gives you different feeling to something you see everyday. Here it is. Behold my own room:

This side of my room consist a TV, two book shelf, a printer, android handmade signboard, and kanji practicing board.
The kanji board.
My book collection.
Baca Selengkapnya

15 Jejaring Sosial Terpopuler dan 6 Situs Jejaring Sosial Terkenal Lainnya

Layanan web jejaring sosial kini menjadi bagian integral bagi masyarakat modern umumnya dan penduduk internet khususnya. Ada banyak sekali layanan web jejaring sosial di luar sana. Mungkin jejaring sosial terkenal oleh orang Indonesia hanyalah Twitter, Facebook, MySpace, dan mungkin Google+. Sebenarnya banyak sekali jejaring sosial di luar sana dan masing-masing memiliki segmen masyarakat sendiri. Berikut adalah beberapa jejaring sosial yang terkenal alias populer di dunia maya sana. Untuk daftar jejaring sosial secara utuh, Anda dapat mengunjungi halaman wikipedia ini.

Situs Jejaring Sosial Terpopuler, 15 Teratas

Peringkat pada artikel berikut disadur dari Top 15 Most Popular Social Networking Sites yang juga dipublikasikan hari ini (01 Juni 2012). Informasi tambahan diambil dari halaman Wikipedia masing-masing jejaring sosial. Sumber pranala utama dari informasi dapat dilihat pada tautan yang disediakan. Logo juga diambil dari halaman wiki masing-masing. Jika tidak ada, logo diambil dari situsnya langsung. Perbandingan jejaring sosial lain berdasarkan fiturnya (bukan berdasarkan popularitas) dapat Anda baca di toptenreviews.com.

1. Facebook

Siapa yang tak kenal dengan situs ini. Logonya pun kini banyak dipasang di iklan produk mana pun. Semua kalangan pun dari semua jenjang setidaknya pernah mendengar jejaring sosial paling terkenal ini. Semua orang tahu sehingga tidak perlu dibahas banyak-banyak.

Facebook adalah situs jejaring sosial paling populer saat ini dengan 900 juta pengunjung berbeda setiap bulan. Situs ini diprakarsai oleh Mark ZuckerbergEduardo SaverinDustin Moskovitz, dan Chris Hughes pada tahun 2004. Facebook tergolong situs jejaring sosial yang umum. Tidak dikhususkan untuk suatu relasi sosial tertentu. Minimal umur untuk bisa menikmati layanan Facebook adalah 13 tahun.

Pendiri utama Facebook, Mark Zuckerberg, selalu mendapat tuntutan hukum dari Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss (pendiri UConnect) dengan tuduhan telah mencuri ide mereka membuat jejaring sosial semacam Facebook. Memang dulu Mark dipekerjakan oleh mereka untuk membuat sebuah situs jejaring sosial untu Harvard. Akan tetapi, Mark pun membuat versi jejaring sosialnya sendiri dengan ide tambahannya sendiri. Facebook atau dulu namanya The Facebook pun merambah secara “eksklusif” dari universitas ke universitas di Amerika. Karena eksklusif untuk mahasiswa elit, ketenaran Facebook pun meningkat drastis hingga puncaknya menjadi situs jejaring sosial paling terkenal sekarang.

2. Twitter

Twitter memiliki pengunjung hingga 300 juta orang setiap bulannya. Termasuk pemain baru, Twitter langsung melejit menjadi situs jejaring sosial terkenal kedua di dunia. Banyak yang menggemari Twitter karena ringkas dan sangat cepat dalam update informasi. Twitter memang berfokus pada layaan blogging mikro (microblogging) dan RSS untuk pesebaran informasi. Ia sering disebut-sebut sebagai “SMS-nya internet”. Bahkan ada iklan yang mengatakan bahwa Twitter lebih cepat dari gempa.

Twitter dibangun oleh Jack DorseyNoah GlassEvan Williams, dan Biz Stone pada 15 Juli 2006. Tingkat pertumbuhan Twitter sangat luar biasa. Setahun setelah meluncur terdapat lebih dari 400.000 tweet yang lewat dalam layanan Twitter. Jumlah ini berlipat ganda hingga 100 juta tweet di tahun 2008. Kini rata-rata tweet harian Twitter adalah 340 juta tweet per hari. Logo situs ini pun selalu bersanding di samping logo Facebook pada setiap iklan produk dan promo acara, menunjukkan betapa terkenalnya situs jejaring sosial ini.

Baca Selengkapnya

Firasat, Keteguhan Hati, Doa, Istikharah, dan Ikhtiar

Kamis, 17 Mei 2012 merupakan hari bahagia bagi Mas Yulianto sesepuh kami di ADK angkatan 2008 dan mantan ketua ADK 2008. Dengan semangat menggebu-gebu kami serombongan sahabat kampus menyambut hari bahagia ini. Empat mobil dikerahkan menuju Cilacap. Sebenarnya katanya ada tujuh mobil tetapi yang tiga sampai kami pulang tak tampak batang hidungnya. Entah kemana rombongan anak matem itu.

Perjalanan cukup melelahan. Berangkat saat matahari membuka matanya, kami tiba di Cilacap saat dzuhur mengetuk pintu. Enam jam di jalan dan melewati jalur berlenggak-lenggok membuat saya terkapar saja.  Tiba-tiba sudah rehat sebentar di Masjid Raya Ciamis. Sisa perjalanan hanyalah tinggal sejarah saja.

Pesta walimah yang diadakan cukup sederhana, hanya menggelar tenda tarup di depan rumah tanpa diiringi organ tunggal. Akan tetapi, seperti walimah pada umumnya makan yang tesedia sangat menggugah selera. Saat mengambil jatag, semua menu dicicipi. Sayangnya karena isi perut sudah tidak ada, tenggorokan saya jadi trauma menelan makanan karena kelelahan, saya kurang nafsu makan jadinya. Hanya sampai teman-teman beranjak ke masjid lah saya bertahan memegangi piring makan saya.

Setelah salat jama’ dzuhur dan ashar, kami membuat forum “interogasi”  dengan Mas Yul. Intinya ya menuntut untuk dikenalkan dan menanyakan bagaimana proses mereka dari awal. Forum dimoderatori oleh Gagarin Aditama, IF 2008.

“Istri saya Sugiasih ini dulu pernah satu SMA.”

“Pertama itu, saya mulainya dari firasat. Kayaknya yang ini nih jodoh saya…”

“Terus ya saya coba berdoa dan istikharah. Ternyata bener.”

Sebagaimana penonton yang menggebu-gebu kami, sangat reaktif dengan kata kunci – kata kunci yang disebut Mas Yul. Firasat, Doa, dan Istikharah.

“Jadi gimana tadi mas, firasat dulu. Terus istikharah.”

“Bukan bukan. Firasat dulu terus yakin mau maju nggak: keteguhan hati. Lalu doa dan istikharah.”

Peserta forum pun manggut-manggut kegirangan.

“Kalau dari mbak Sugi sendiri gimana mbak. Kok bisa-bisanya mau sama Mas Yul ini,” tanya moderator ke istri Mas Yul.

“Hmm… Gimana ya… Kepelet doanya mas yul kayaknya”, jawab mbak Sugiasih lugu. Seketika para hadirin forum pun tergelak.

“Nah, terus kita kan nggak bisa cuma doa aja nih mas. Bisa nggak diceritain gimana langkah riil nya nih…”

“Ya, ikhtiar. Berusaha terus lah.”

“Jadi mas, yang terakhir ini bentuk konkret ikhtiarnya gimana ya mas. Apakah menyiapkan dana dulu atau gimana mas. Biar yang disini bisa, eyaa..”

“Aduh… Yaa… banyak. Detailnya nanti kita buka forum di Bandung aja deh.”

“Ayo mas, dikit aja mas…”

“Ya, perbanyak silaturahim, ketemu orang tuanya saat lebaran, nanyain kabar. Begitulah. Lengkapnya nanti aja ya.”

Tentu saja memang bukan hanya itu ikhtiarnya. Mas Yul belum membuka seluruh rahasia yang dilakukannya. Penulis juga belum mengikuti forum interogerasi yang di Bandung. Kesimpulannya adalah dalam berjuang untuk melengkapi hidup ini kita harus melewati beberapa fase yaitu Firasat, Keteguhan Hati, Doa, Istikharah, dan Ikhtiar. Itulah tips & trik yang kami dapat dalam perjalanan ini.

Catatan kaki :

  • Dialog yang ditulis disini tidak 100% sesuai dengan keadaan karena tidak ada rekamannya. Penataan tempat dan kalimat dialog hanyalah improvisasi penulis.
  • Sebenarnya masih banyak cerita menarik dsalam perjalanan ini seperti saya yang “mabuk-mabukan”, debat Fikri dan Garin atas sebuah nama, percakapan di mobil, dan gotong royong hijau pada saat pulang. Akan tetapi, biarlah semua itu menjadi sejarah saja di dalam ingatan kita. 

Facebook dan Google+ : Perbedaan Hukum Asal Privasi

Privasi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Paul Adam pada presentasinya yang saya ringkasi disini, justru privasi harus menjadi prioritas utama bagi pengguna umumnya dan perancang jejaring sosial pada khususnya. Kesalahan perancangan setelan privasi bisa membahayakan pengguna layanan kita atau bahkan memberikan rasa curiga pengguna terhadap sistem.

Privasi merupakan awal dari kepercayaan yang merupakan titik penting dari bisnis. Jika Anda membuat web bisnis dan perlu berkomunikasi dengan konsumen Anda atau antar konsumen perlu berinteraksi, pertimbangkanlah dalam-dalam masalah privasi ini. Tanpa ada privasi, tidak ada kepercayaan, kemudian tidak ada bisnis.

Penggunaan jejaring sosial yang tidak awas privasi bisa membuat bencana pada kehidupan nyata kita. Sayangnya, hal ini sering terjadi. Kasus nyatanya adalah saat salah satu mahasiswa ITB didemo karena “salah” mengejek salah satu suku di Indonesia pada dinding Facebooknya. Akhirnya dia diskors dan tidak jadi fast track langsung lulus gelar master. Dia tidak paham bahwa seluruh perkataan kita di jejaring sosial bisa menyebar kemana saja. Seperti yang dijelaskan oleh Paul Adam, ia adalah termasuk orang yang :

  1. meremehkan jumlah pemirsa dari kontennya, dan
  2. tidak mengira bahwa konten yang dibagi itu persisten

Hal ini dapat dipahami secara wajar karena dua hal di atas berlaku pada dunia nyata. Dalam dunia nyata kita bisa mengatur seberapa besar orang melihat/ tahu kita. Informasi yang kita aurakan juga cenderung bersifat sementara, bisa hilang. Tidak dalam dunia maya. Pos kita bisa dilihat seluruh dunia dan ada selama sistemnya ada. Terkecuali jika sistem layanan tersebut mendukung tingkat privasi yang tinggi dan terus mengingatkan penggunanya.

Contoh lain adalah saat saya melakukan Kerja Praktik di salah satu instansi di Bandung. Di sana saya menemukan berkas bertumpuk (di atas lemari di ruangan kerja) berisi bukti dan laporan beberapa mahasiswa yang diskors. Bukti berupa daftar tweet dan potretan layar. Isi tweetnya kurang lebih hanya sekedar keluhan terhadap sistem pendidikan atau kalimat lega karena sudah masuk liburan. Isinya kira-kira begini:  Baca Selengkapnya

A-Z Archive: V! Challenge ~ Various Effects

Letter V. What are your theme with letter V? At first, it seems hard to find a picture beginning with letter V. But after squeezing my head, I found some picture that will fit the theme. Various pictures. It also begin with V. What a fitting theme for the letter. This is a collection of V picture and I applied some Picasa effect on it.

This picture was taken in front of my rent room. One day, when the morning still dark, I notice that the dawn sky gave this rare violet color. This picture then enhanced with Orlonish effect of Picasa to bring out the silhouette. The scenery that time was priceless and I think the picture is priceless as well. But, if you look at the scene on daytime, it is a very ordinary view actually. Yeah, that’s why I love silhouette picture. They change something ordinary to acceptable or great. Well, the scene at that time was nice though, at least for me.

Violet Vista

This is my high school’s principal’s car. I don’t know what type or brand it is. But it was an old, a vintage car. Well, it IS. This picture is enhanced by 1960’s effect of Picasa so that the antique feeling from the car shine more brightly.

Vintage Vehicle

Baca Selengkapnya

Travel Theme: Street Market ~ Pasar Simpang Dago Bandung

I tell you. There is no term as “street market” in Indonesia. Why is that? Because, taking half of the street or the sidewalk and change it to shopping center is everyday phenomenon here. Not only that, you can find such thing almost everywhere. By everywhere I mean almost on every road segment on the country. At least you can find one of the so called “Pedagang Kaki Lima” five feet merchant on a segment of a road. Well, not in a tool road and highway of course.

Pedagang Kaki Lima called like that because when Dutch still around, they instructed us to build five feet wide sidewalk for each street. Gradually over time, some merchant made their own shop on top the five feet sidewalk hence “five feet merchant”.

Because we can see it everyday, Indonesian doesn’t think a street market as something special. So, when we make vacation on some tourist site, we never think to take picture of street market there. I am no exception. Now, when Ailsa invited me to join her photo challenge this week, I regret that. Why I never think that street market can an interesting object.

Here, I share some pictures of Pedagang Kaki Lima street market near my lodgement. Dago street, Bandung. The market is well known as “Pasar Simpang Dago” dago joint market. 

Morning street market on Simpang Dago

The picture above is the morning part of the market. It provides traditional Indonesian food for breakfast. At night, this street will filled with other market that sell food for dinner. At the picture below, you can see one of the Pedagang Kaki Lima. He sells “Lumpia Basah”. It literally means “wet spring roll” which means spring roll without frying. It is one of Indonesia’s food. Lumpia basah made from bean sprouts and eggs and lumpia’s skin. It tastes good you know.


Baca Selengkapnya