Cerita Jepang
Comment 1

Dokter Tulang di Jepang

seiyukai_mukaiyama1

Jadi saya cidera tangan saat lomba lari pada perhelatan hebat, War of 5 Kingdoms di Chubu Match kemaren. Detail cerita dari sisi “cidera”-nya sudah saya sampaikan di artikel sebelumnya. Pakai pembuka agak nyeleneh sedikit pula. Di artikel ini saya ingin menceritakan kekaguman saya dengan klinik tempat saya berobat.

Saya ke dokter tulang empat kali. Sehari setelah hari H. Tiga hari kemudian. Kemudian dua minggu kemudian. Terakhir satu bulan setelah kejadian.

Berkat hoken alias asuransi kesehatan, saya hanya membayar 30% dari harga aslinya. Tidak begitu mahal. Disini semua orang harus daftar asuransi kesehatan (kayaknya sih nggak harus, cuma kok pada daftar semua). Kayak BPJS gitu. Nanti, kalau ke dokter kita dapat potongan. Kalau setahun nggak kepake, nanti dapat cashback kupon belanja.

Yang paling mahal yang pertama, saya membayar 4230 yen. Namun, waktu itu saya mendapat periksa rontgen, gips dan perban, plus obat tiga jenis. Jadi wajar agak mahal.

Kalau di lihat di bawah, kita bisa menebak pembagiannya. Di tabel ada angka kemudian kani point 点. Tebakan saya sih tiap point itu harganya 10 yen. Coba aja kalau di jumlah kemudian dikali 30%, hasilnya persis dengan uang yang saya bayar.

Yang paling murah yang kedua, saya cuma periksa doang. Terus dokternya komentar dikit.

“Oke, kamu pake lagi gips nya dua minggu… Ntar tanggal sekian check up lagi.”

“Sir! Yes, Sir!”

Untungnya murah, cuma 380 yen. Itu lah makanya, daftar BPJS yuk rame-rame.

Yang saya heran, pas datang keempat, hoken saya di Toyohashi sudah saya tutup. Hoken di Nagoya belum dateng si kartunya…  Jadi saya berada dalam posisi limbo.

Kebetulan jadwal main ke Toyohashi, saya mampir ke klinik lagi, walaupun nggak ada hoken. Ada sih memo dari City Hall Nagoya, cuma ternyata nggak bisa dipake juga. Hhahh… Bayar full deh. Namun mereka baik… Karena gak pake Hoken, akhirnya cuma periksa dokter aja. Nggak jadi rontgen dll, padahal mau check-up terakhir cek udah baikan belum si tulang.

Nah herannya, harganya langsung melonjak tajam. Periksa dokter doang yang tadinya cuma 380 yen, jadi 2630 yen. Mau naik haji! Point 点-nya sih 175 tapi dikalinya 150%. Apa-apaan yak….  Yuk lah, mari kita daftar BPJS.

Oh ya, perawatan disini super deh. Begitu kita datang, staf sudah tahu kita ini sakit apa dan dalam tahap apa periksa disininya. History kesehatan dan kedatangan sebelumnya lengkap. Jadi bisa tahu kalau datang ke tiga harus langsung ke ruang rontgen atau lepas gips atau apa gitu.

Rontgen juga kayak foto kamera aja. Tangan cuma ditaruh di kotak, terus dari atas ceklik. Begitu keluar ruang rontgen dan pindah ke ruang dokter, si foto tulang saya tadi sudah terpampang di layar komputer si dokter. Canggih…

Jadi inget nge-Xray di Bumi Medica Ganesha. Foto sekarang harus ambil besoknya (atau sorenya ya?). Harus ganti kamera tuh.

Sayang saya nggak minta softcopy nya.

Kemudian, sistem informasi disini juga rapi. Seingat saya di Indonesia kalau periksa dokter juga ikut ngurusi administrasi. Maksud aing, dokter juga nulis resep, ngotak-atik berkas, nyatet rekam medis. Kalau ada komputer, ya dokter juga.

Disini, dokter punya asisten. Si dokter cuma megang mouse dan melototin layar aja. Sisanya tugas asisten. Dokter tinggal bilang sesuatu “buatin obat ini itu, jadwalin check up lagi tanggal sekian kita check ini itu, bla bla”. Yang ngetik si asisten, dokter cuma cek akhir aja dan ngobrol ke pasien.

Simpel. Jadi dokter, apalagi yang tuek-tuek itu, nggak perlu lagi ngapalin UI/UX software macem-macem buat isi dan liat rekam medis. Cukup mbak-mbak yang masih muda aja yang ngetiknya lebih jago.

Oh ya, obat yang dikasih tadi ada tiga jenis. Dan dikasih keterangannya lengkap coba, seperti gambar di bawah. Yg apa obat apa, manfaatnya apa. Rata-rata cuma obat penahan rasa sakit, sama obat penurun panas. Dibiarin alami sembuh sendiri, jadi lama deh sembuhnya. Emang denger-denger disini dokter ngasih obat langka dan dosisnya rendah. Nggak kayak kita dikit-dikit antibiotik. Nuklir langsung dikeluarin.

Daftar Obat

Begitu rupanya dokter di Jepang. Jadi bisa merasakan. Walaupun datasetnya cuma satu, saya terkesan dengan penanganan disini. Penangannya gesit. Sistemnya tertata rapi. Mbaknya cakep. Alatnya canggih. Dan biayanya murah. Kalau pake BPJS, tapi.

Namun kalau di Indonesia mungkin cuma butuh pemulihan seminggu dengan sangkal putung kali. Lebih canggih lagi.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s