Sosial Politik
Comments 5

Tabiat Orang Batak? Atau Sumatera Secara Umum?

Kamis, 11 Oktober 2012 kemarin, saya menjaga stand Sandang Indonesia di acara expo start-up IT mahasiswa Informatika, Colosseum. Sebagaimana penjaga stand pada umumnya, tentu saja saya bertemu dengan banyak orang. Salah satunya adalah seorang perempuan, sesama peserta pameran, yang jelas dari gaya bicara dan wajah merupakan orang batak.

Entah bercanda atau gimana, pertanyaan yang beliau ajukan terkesan “menyerang” Sandang Indonesia. Pastinya sih bercanda walaupun nada bicaranya tinggi dan menyerang. Yah, kebanyakan orang batak dan Sumatera memang memiliki nada bicara rata-rata yang lebih tinggi dari orang normal (baca: Jawa).

Si mbak itu tidak mengobrol dengan saya. Yang diajak ngobrol teman penunggu stand, Gagarin. Ngobolnya memang terkesan berbantah-bantahan persis para pengacara di ILC itu. Garin agak tenang menahan kesal dan si mbak tertawa-senyum. Bercanda sambil bertengkar. Mungkin mereka memang saling kenal atau sesama anggota apres.

Dari obrolan itu, melihat pula kebanyakan pengacara-pengacara sok adalah orang batak, saya mulai melihat kebelakang terhadap diri saya sendiri. Jangan salah, ini bukan artikel bernuansa pelecehan SARA ya. Saya sendiri orang batak jadi menyindir membahas suku sendiri jelas tidak apa-apa dong ya…

Walaupun orang batak (batak mandailing dg marga Nasution), saya kurang ekspresif. Volume bicara cukup rendah. Perawakan tenang tak peduli. Muka selalu datar dan bukan muka batak (melainkan melayu, mandailing kan melayu). Bahkan sesekali medok seperti orang jawa. Bahasa dan logat jawa pasaran lebih saya pahami dibanding bahasa dan logat batak. Maklum, kota Metro tempat saya besar dikelilingi perkampungan imigran jawa. Nama daerahnya saja jawa semua: margototo, wates, pekalongan, kauman, dll.

Akan tetapi, mungkin ada satu ciri kebatakan (atau kesumateraan?, agak tidak yakin saya) yang sepertinya masih tersisa dalam diri saya. Ini baru saya sadari jelas saat mengamati obrolan mereka tadi. Ialah kekeraskepalaan.

Si mbak berkata :

Loh, kenapa harus Sandang Indonesia. Apa prospeknya? Bukannya makanan itu lebih menjanjikan pasarnya? Perajin dan UKM pelosoknya juga ada.

Kalau kalian produknya ori asalnya tau disesuaikan tempat gitu nggak. Kan ada tuh soto medan di Bandung, tetapi rasanya tuh ya beda banget sama yang di rumah. Kenapa sih pedagang itu nggak menjual yang asli saja. Kenapa rasanya diubah-ubah… Kenapa coba?

Loh, kenapa kalian membuat sistem begitu? Harusnya kan kalian bisa …

Sebenarnya perkataan mbaknya masih lebih banyak dari itu. Kebanyakan bikin kesal juga menjawabnya (yg diatas nadanya sudah tereduksi berkali-kali lipat). Akan tetapi karena saya pelupa dan tidak pedulian, saya tidak ingat pastinya. Kalau ada yang ingat, ingatkan saya. Dan juga CMIIW.


Saya memang menyadari bahwa dalam mengkritisi saya cukup lihai. Saya memang “agak” pendiam. Akan tetapi, dalam diskusi (atau debat) sepertinya saya bisa sekeras kepala mbak tadi atau pengacara2 ILC itu. Karena kali ini berhadapan dengan orang batak yang sengaja menunjukkan kekeraskepalaannya langsung, tepat di depan mata, saya jadi sadar. Mungkin emang hal itu ada di darah saya.

Pernah saya berdiskusi tentang pembuatan suatu game. Seperti halnya diskusi, ada beberapa orang yang mengusulkan ide, kemudian teman yang lain memberi saran. Waktu itu, pembuat ide adalah teman saya, Nur Adi Susliawan. Saya hanya menimbrungi. Well, it turns out to be .. what you called “massacre”. Pembantaian, sama seperti Sidang TA lah. Mungkin kalau saya jadi dosen, saya akan cepat mendapat gelar pembunuh. Pertanyaan menujam. Konsep ditentang. Masalah ini masalah itu dipertanyakan. Segala kemungkinan what if. Aneh juga kalau mengingat itu sebuah diskusi tim. Yah, alasan saya waktu itu, saya menempatkan diri sebagai pengamat yang kritis.

Beberapa kejadian serupa pun terjadi saat diskusi, debat, atau kontroversi mengenai pemahaman orang atau status facebook.

Yang (hampir) terakhir, adalah saat menentukan teks mana yang lebih bagus dan tidak pasaran. “Mutu berkualitas, harga termurah” atau “menempatkan produk perajin pelosok di etalase dunia“. Berbagai argumen beterbangan tuh. Tentu saja saya memihak moto yang kedua yang menurut saya lebih logis.

Untungnya dalam setiap argumen hasil kekeraskepalaan saya, saya masih menganut landasan yang logis. Jika saya tidak logis dan tidak punya alasan, ya saya diam. Sepertinya kuliah di informatika yang banyak mengajarkan logika yang benar lumayan bagus untuk orang-orang seperti saya. Dengan demikian, saya tidak seperti lawyer sok keren yang ditipi itu.


Kekeraskepalaan ini tidak saya sadari karena selama ini dalam “kehidupan nyata” saya memang mengedepankan semangat konservasi energi. Introvert atau ketidakpedulian. Bahasa halusnya sih ya tenang dan sopan. Mungkin karena bertatap wajah langsung jadi ada yang merem saya.

Setelah melihat kebelakang berkat obrolan Garin dan mbak tadi, selain saya sadar bahwa tabiat keras kepala tadi masih ada di diri saya, ternyata kekeraskepalaan itu lebih mudah muncul pada “kehidupan maya” saya. Via obrolan (chat) misalnya, atau forum (komentar Facebook sementara saya anggap forum). Mungkin karena tidak berhadapan muka-ketemu-muka, ditambah teks adalah sarana sempurna untuk menuangkan pikiran introvert, dan ada latensi dalam komunikasi via internet, pada diskusi jarak jauh semua kedok pendiam tadi terbongkar.

Jadi begitulah. Bertambah satu lagi artikel di blog ini ttg diri saya: keras kepalanya orang batak/Sumatera. Kira-kira, keras kepala ini ada di diri (kebanyakan) orang batak atau orang Sumatera secara keseluruhan ya? Saya juga nggak tau, ini tabiat yang baik atau buruk. Menurutmu?

Ngomong-ngomong soal kritik dan keras kepala, beberapa pos ke depan mungkin saya akan menghujani berbagai pihak dengan kritik macam-macam. Walaupun pihak tersebut adalah teman-teman terbaik dalam hidup saya. Jadi ya, mohon dimaklumi (bagi yang merasa). Kurangi makan gula dan kambing supaya tidak darah tinggi saat membaca artikel-artikel kejam saya berikutnya.

5 Comments

  1. egina says

    Percaya deh… Liat kedalam mata wanita batak… Ada yg berbeda disana… Mau dr. Kampung kek, mau dr kota kek, terpelajar kek, petani kek… Mata mereka hidup, menantang, penuh perjuangan dan optimistis.. Mungkin ada bbrpa mantra yg dihembuskan inang (ibu) mereka kedlm pikirannya.. Entahlah klian akn tahu ketika memiliki istri si wanita gagah perkasa ini… Hahahahaah

  2. wandy says

    sorry bung…saya orng melayu sumatera yg udah merantau lama di jkrta….kaya nya anda mau berupaya mengeneralisasi kesukuan ya….saya menolak dikatakan tabiat orng batak dan summtra secara umum sama….batak ya batak, melayu ya melayu, minangkabau ya minangkabau….kalo anda menemukan perilaku sosial suku batak yg tidak menyenangkan itu wajar…dan suara2 seperti anda ada bnyk diluaran sana…tapi saya menolak kalau anda hubungkan dengan generalisasi suku di sumatra…memang orng batak cenderung menyebalkan (berdasarkan opini masyarakat) tetapi amat sangat berbeda denga suku2 lain yg ada di sumatra seperti melayu dan minang kabau….diliat dari geografis nya memang kita memang satu pulau …tp dari kedekatan adat jelasss…jau bebrbeda…batak itu berbeda sendiri…kalo melayu dan minang kabau terdapat kedekatan historis maupun kesukuan….makanya di sumatra sendiri…suku2 lain jg sudah tau sekali mengenai suku batak…sekali lg saya utarakan suku batak dengan suku2 lain disumatra sangat jauh berbeda……trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s