Year: 2012

Pantai Krui

Krui berada di wilayah pantai kabupaten Lampung Barat. Jika kita bepergian melewati Jalur Lintas Barat Sumatera, khususnya dari Bandar Lampung ke Bengkulu melewati jalur Liwa – Mana, kita pasti melewati wilayah Krui ini. Salah satu ruas jalan yang dilewati memberikan pemandangan pantai yang sangat menarik. Ruas jalan ini sangat berdekatan dengan garis pantai. Jarak ruas jalan ke laut hanya sekitar 100 meter atau kurang. Bahkan konon, pada malam hari pasangnya air laut bisa menggenangi badan jalan. Memang ruas jalan ini bukan satu-satunya jalan di Krui, tetapi sangat sayang untuk dilewatkan jika Anda kebetulan melintasi Krui pada siang hari. Saya dan keluarga pasti melewati pantai Krui ini setiap kami berkunjung ke rumah nenek di Bengkulu. Pantai Krui ini kami jadikan tempat singgah makan siang baik pada perjalanan pergi maupun perjalan pulang. Sekali bersinggah kami bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam disini.

Modus Operandi: Tabrak Mobilnya

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2007. Saya dan keluarga sedang melakukan perjalanan dari kota Metro, Lampung ke kota Bengkulu, Bengkulu. Menjelang masuk kota Bengkulu kami melaju di sebuah jalan raya yang lurus. Waktu sudah menunjukkan pukul 22. Hari sudah gelap sehingga jalanan cukup sepi. Perjalanan Metro – Bengkulu memakan waktu sekitar 14 jam perjalanan. Seperti biasa, kami berangkat pada pagi hari sekitar pukul 7 pagi. Dengan demikian wajar saat menjelang masuk kota Bengkulu hari matahari sudah bersembunyi di dalam selimutnya. Kami melaju dengan kecepatan sedang. Maklum hari sudah malam tidak bisa terlalu cepat meskipun kami sudah penat duduk berlama-lama di dalam mobil sewaan ini. Ingin rasanya cepat-cepat merebahkan diri di kamar panggung rumah nenek. Aku yang cepat lelah dalam perjalanan seperti biasa sedang tertidur ayap-ayap di kursi tengah mobil. Ayahku menyetir ditemani mengobrol oleh ibuku di depan agar tidak mengantuk. Aku tidak melihat secara persis peristiwa ini. Hey, aku sedang hampir mabuk kendaraan dan kejadian ini berlangsung dengan sangat cepat. Saat melaju dengan cukup santai, ayahku melihat motor dari depan yang berjalan tidak wajar. Lajur yang motor itu ambil …

Benih Liberal di Sekitar Kita

Sudah mafhum bahwa gerakan sekularisme, liberalisme, dan pluralisme semakin gencar. Loh, darimana kita tahu? Ya ini kan zaman informasi. Berita banyak dimana-mana tentang penyebutan tiga paham ini. Bisa dilihat pula terjadi banyak pembelaan dan penentangan dengan tiga paham ini. Sebenarnya itulah yang mewarnai berita tersebut. Dalam keorganisasian, mereka bahkan sudah punya badan resmi tersendiri: JIL. Tentu saja kita mafhum mereka sudah dalam posisi menyerang. Akan tetapi, sebenarnya bagaimana sih taktik tempur mereka? Bagaimana kondisi kita kalah? Apakah dengan menyerah dan masuk menjadi anggota JIL? Apakah dengan mengaku terang-terangan pluralisme itu oasis yang perlu diperlebar? Apakah dengan mendukung UU Feminisme? Anda tahu ghazwul fikr alias perang pemikiran?  Sekularisme, liberalisme, dan pluralisme itu adalah sebuah paham dengan kata lain pemikiran. Ranah peperangan mereka bukanlah ranah fisik, bukan pula ranah media apalagi ekonomi. Medan tempur ada di dalam kepala anda, pikiran. Mari kita sama-sama merenung, bagaimana kita menyikapi hal-hal yang ada di sekitar kita. Terutama yang berkaitan erat dengan masalah sepilis ini. Apakah kita sudah mulai termakan dengan gagasan-gagasan mereka atau masihkah kita punya ruang gerak untuk bertahan?

Terbalik di Indonesia

Beberapa hal di Indonesia sepertinya tampak terbalik dibanding hal-hal yang seharusnya. Contoh sederhananya adalah saat ada orang yang ulang tahun. Ucapan selamat dan doa masih bisa dimaafkan lah. Doa kan hal yang baik walaupun tidak seharusnya hanya diucapkan pada hari itu. Akan tetapi, tradisi yang ada di sekitar kita ialah orang yang ulang tahun mesti mentraktir teman-temannya. Hmmm… Saya belum melihat hal ini terjadi di masyarakat luar, setidaknya sejauh film yang saya tonton. Biasanya orang yang berulang tahun itu diberi selamat dan hadiah, setidaknya kue lah. Dengan demikian, orang yang berulang tahun itu berhutang budi kepadanya. Jika sang pemberi hadiah tadi berulang tahun, orang yang ia beri hadiah tadi kemungkinan besar akan ikut memberinya hadiah. Hari ulang tahun pun bisa menjadi hari yang berbahagia yang sebenarnya, bukan sekedar hari menjelang tua. Di lingkungan kita terjadi sebaliknya. Pengulang tahun mentraktir teman-temannya seolah-olah ia telah memenangkan suatu pertandingan. Mungkin ini karena sifat masyarakat kita yang cenderung opportunis kali ya. Dalam hal teknologi informasi terdapat pula yang terbalik di Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketenaran IRC (Internet Relay Chat). Pada permulaan …

Weekly Photo Challenge: Journey Together | Junior Highschoolers’ Journey Together

These pictures was taken on my journey with my friend Bambang to Cililin, South Bandung two years ago. An unsightly scene that we found on our way home. A bunch of junior highscoolers were on their way to school with just single ‘Angkot’. As you can see below, some of them were in extreme position on and beside and behind the car. It should be noted that this picture was taken in at least 40 kmph speed.

Hofstadter’s Law: A Hard to Escape Truth

Hukum Hofstadter sangat dekat bagi orang yang menangani pekerjaan kompleks atau proyek, termasuk kita mahasiswa, apalagi mahasiswa teknik informatika yang sedang mengerjakan TA. Mungkin anda pernah mendengar hukum Murphy – if anything can go wrong, it will. Sejiwa dengan hukum Murphy, hukum Hofstadter menyatakan bahwa : It always takes longer than you expect, even when you take into account Hofstadter’s Law. Pernyataan ini mengemukakan sulitnya memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan kompleks. Hukum tersebut bersifat rekursif menggambarkan fenomena yang terjadi di mana-mana bahwa kita sulit menentukan kekompleksan suatu pekerjaan sekuat apa pun kita berusaha, termasuk mengetahui bahwa pekerjaan itu kompleks. Kalimat lainnya: hampir seberapapun kita memperkirakan waktu pengerjaan, waktu yang dibutuhkan pekerjaan itu untuk selesai lebih lama dari yang kita perkirakan, meskipun kita sudah memperhitungkannya (waktunya sudah ditambah dengan perkiraan delay). This matter is strangely strikingly true, isn’t it? Terkadang kita di tengah jalan, kita baru sadar bahwa perkiraan waktu yang kita tentukan di awal ini konyol sekali. Contoh gampangnya saja lah, Anda pernah membuat ceklist atau to do list untuk esok hari. Pertama saat menulis kita yakin dengan seyakinnya …

Sepilis: Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme (part 2/2)

Masalah liberalisme kian merebak di negeri ini. Jaringan Islam Liberal memposisikan diri sebagai lini depan paham ini. Secara terang-terangan mereka memasarkan ide mereka dan menunjukkan kebencian mereka terhadap islam. Banyak sekali contoh yang bisa kita cari ejekan-ejekan mereka yang semuanya tidak benar. Sudah jelas nama islam yang ada di JIL tersebut hanya bertujuan untuk menyesatkan orang dan juga sebagai pernyataan perang terhadap islam. Hal ini disebabkan karena musuh utama bagi liberalisme adalah islam. Islam sebagai agama yang diridhai Allah memiliki seperangkat peraturan yang lengkap, mulai dari kita bangun tidur sampai kita bangun tidur lagi. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip liberal mereka, dimana mereka tidak ingin ada aturan apa pun yang mengekang mereka. Dengan demikian, islam lah yang jadi sasaran bagi utama mereka untuk mereka robohkan fondasinya dan sesatkan orang-orangnya.

Sepilis: Balas Dendam Para Peri (part 1/2)

Zaman dahulu kala, di suatu pojok barat dunia, terdapatlah negeri-negeri yang dihuni oleh para peri. Negeri-negeri ini diatur segala urusannya oleh istana Elifia sebagai kepanjangan tangan dari kerajaan langit. Istana ini memiliki prajurit perang yang sangat hebat dan kekuatan yang besar. Seluruh penghuni negeri tunduk dan menyembah kepada istana ini.

Sekelumit Cerita menjelang UN

Hari itu sudah siang. Kelas kami XII IPA 2 sedang menempati ruangan di sebelah selatan sekolah, di satu-satunya ruang kelas di gedung baru di belakang sekolah. Meskipun materi pelajaran kami bisa dikatakan hampir habis, seluruh murid di kelas kami hadir. Tampaknya materi yang didiskusikan hari ini penting sekali. Pak Prian (bukan nama sebenarnya) sedang memberikan satu dua nasihat kepada kami, murid yang sebentar lagi menghadapi salah satu ujian terpenting dalam hidup kami, Ujian Nasional. “Kita pasti bisa menghadapi ujian ini. Kita pasti bisa lulus… “, begitulah sepenggal kalimat Pak Prian yang kuingat saat itu. “Jangan sampai kita membiarkan teman kita, satupun, tertinggal di sekolah ini. Ayo bersama kita lulus…” Nasihat yang luar biasa. Setelah Pak Prian memberikan wejangan dan meninggalkan ruangan, hidangan utama kelas di siang itu dimulai. Baiat, untuk bersatu padu menghadapi UN ini. Untuk menanamkan dalam-dalam ke lubuk hati, wejangan bapak wakil kepala sekolah tadi. *Apa pun caranya*. Yah, tidak perlu takut suudzon. Anda benar. Apa pun caranya. Ini bisa dibilang konsolidasi ‘lokal’ untuk menyerang balik sistem yang bernama UN. Sistem yang bisa memperlambat …