Area Serius
Comments 2

Renungan Pasca Beberes Kamar

Kemarin saya melakukan beberes kamar. Tadinya yang saya ingin lakukan hanyalah menyiapkan sedikit ruang di rak dengan menyusun kembali buku-buku dari satu rak ke rak lainnya. Dengan demikian, ada ruang yang cukup untuk baju yang tidak cukup lagi di lemari susun tingkat empat saya. Akan tetapi, karena semaraknya debu yang beterbarang selama buku-buku itu ditata ulang dan sebagian dari mereka telah mengambil alih pojok-pojok area kamar dan sela-sela barang, saya jadi gerah. Akhirnya, (hampir) seluruh kamar terkena imbasnya.

Harus Anda ketahui bahwa saya ini cukup pemalas. Aktivitas beberes kamar saya lakukan sangat jarang: mungkin satu semester sekali (tapi masih lebih sering dari kebanyakan orang, sepertinya). Akan tetapi, saya cukup menganggap serius kerapihan dan kebersihan kamar. Tentu saja, karena ini adalah tempat saya bernanung setiap harinya.

Selama kegiatan ini, saya menemukan banyak sekali tumpukan kertas, plastik-plastik, dan barang tak terpakai di bawah atau sela-sela rak.  Ada yang berupa brosur iklan. Ada majalah entah dapat dari mana. Buletin. Ada bungkus barang-barang yang sayang dibuang, misalnya bungkus mouse di bawah. Ada juga tumpukan buku catatan (notes) dari mana-mana yang tidak pernah saya gunakan.

Salah satu dari barang ekstra yang sayang dibuang yang ada disela-sela rak.
(Catatan: akhirnya bungkus mouse ini dibuang juga)

Saya perlu pertimbangan berulang kali untuk memilih di antara berkas-berkas dan barang-barang itu mana yang tetap disimpan mana yang dibuang. Padahal, peluang barang-barang itu dipakai lagi di masa depan sangatlah kecil. Kemudian, jika disimpan bagaimana cara menyusunnya agar rapi. Pada akhirnya, hanya beberapa kertas iklan dan dua kotak mouse lah yang bernasib di kotak sampah.

Di kamar ukuran 4×4 atau 4×5 ini, cukup banyak juga kerjaan yang harus dilakukan untuk membersihkannya. Bawah meja makan isinya kardus sampah seperti barang-barang tadi semua (dan akhirnya tidak begitu saya ubah). Sarang laba-laba, debu, dan pasir meraja lela. Setiap dibersihkan, mereka selalu muncul lagi si suatu tempat bahkan di tempat yang sebelumnya sudah disapu. Seolah-olah mereka bersekongkol untuk menghabiskan waktu dan tenaga saya.

Semua hal ini membuat saya berpikir dan merenung.  Hal ini baru beres-beres sederhana di kamar sendiri yang ukurannya tidak seberapa. Saya jadi membayangkan bagaimana jika saya punya keluarga nanti. Apakah saya mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Tentu saja kepala keluarga itu punya keluarga sendiri yang di luar orang tua. Punya istri. Punya rumah – bukan cuma satu kamar kos (harapannya T.T). Setelah beberapa saat mungkin anak. Aktivitas kekeepalakeluargaan tentu saja berlangsung setiap hari. Harus kerja. Harus mengurusi istri, anak, dan rumah. Setiap hari.

Kalau rumah harus dibereskan, secapek apa rasanya. Pastinya lebih rutin dari satu semester sekali dan lebih luas dari sekedar kamar pula. Karena orangnya lebih banyak, betapa banyak pula barang-barang kurang berguna yang “sayang” dibuang menempel sana-sini. Orang tua, mertua, dan tetangga pun bisa memiliki opini terhadap kita tidak seperti saat kita sendiri.

Jika hal itu dibayangkan tentu saja rasanya sangat sulit dan menantang. Membuat kita terbayang betapa hebatnya orang tua kita dan betapa besar jasa-jasa mereka. Dengan kondisi saya yang cukup pemalas sekarang, hal ini memang serasa tebing yang sulit dilalui. Akan tetapi, mau tidak mau harus saya lalui. Ya jika begitu, tidak ada jalan lain selain belajar mandiri dari sekarang. Kalau ada barang yang tidak berguna ya tidak usahlah sayang-sayang. Rumah kamar bukanlah gudang. Seperti kata orang, menikah dan menjadi keluarga itu tidak perlu latihan, hanya mungkin perlu ilmu dan pembiasaan dalam detail kesehariannya. Saya yakin saya bisa menjadi kepala keluarga pro suatu saat (semoga).

Aktivitas beberes kali ini memakan waktu 4 jam lebih mulai dari sehabis shalat dzuhur sampai pukul 4.30. Debu-debu beterbangan seenaknya dan bebas masuk ke lubang hidung saya. Hal ini membuat saya flu seketika, melelehkan cairan hidung dan air mata, seolah-olah saya sedang terharu-biru akan datangnya kekasih yang lama dinanti-nanti, hanya saja disertai batuk-batuk. Selesai beberes, saya terkapar kelelahan dan langsung terbaring di pinggir kasur. Kemudian, ketika dunia perlahan-lahan menggelap, muncullah semua pikiran, renungan ini, komik yang baru dibaca tadi, algoritma buat TA, mimpi aneh, dll.

2 Comments

  1. Ping-balik: Masalah Mahasiswa : Tahun Tiga, Empat, dan setelahnya | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s