Hari: 4 Oktober 2009

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.2 – Tragedy

Selang kemudian, kami melaju di Jalan Baros (ukuran sedang, padat anjir) setelah melewati rel kereta api untuk ketiga kalinya. Mulai berangkat sekitar 50 menit telah berlalu. Setelah Baros, jalan mulai menanjak dan tampak gunung di depan. Di bundaran bada Baros, kami belok ke kanan menuju Nanjung. Ternyata disinilah akhir dari Jalan Lebar di perjalanan kami. Jalan di Nanjung kecil selayaknya jalan di dalam kompleks kelurahan. Jalan kecil dan padat ini pun menurun. Saat menuruninya, hal yang tak terduga terjadi.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.3 – Turning Point

Perjalanan yang cukup panjang ini terasa cukup melelahkan. Satu seperempat jam lebih sudah kami berjalan tanpa henti. Motto kami saat itu, hanya dua hal yang bisa menghentikan kami: sampai atau nabrak orang. Setidaknya banyak hal unik yang terjadi di perjalanan ini, apalagi segarnya udara plus asrinya pemandangan kanan dan kiri jalan. Memang, hal terbaik dari petualangan adalah pemandangan yang unik dan kondisi yang tak terperikan.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.4 – Readvance

Perjalanan pun kami lanjutkan. Ciwidey tujuan kami. Kabar dari satpam situs sebelumnya, tidak jauh dari situ sekitar satu kili ada tempat wisata. Kami pun melaju. Bambang dibelakang memegang kamera dan memfoto sekeliling sambil jalan. Sesampai disana, ternyata tempat wisata dimaksud adalah Stadion Sepakbola. Di depan stadion banyak penjual baju bola. Uniknya hampir (jika tidak) semua baju yang dijual adalah kaos kesebelasan persib. Perjalanan kami lanjutkan. Tujuh kilo rasanya tidak sebanding dengan perjalanan kami sampai disini. Jalan yang kami lalui cukup berkelok-kelok dan naik turun, meskipun tidak mengalahi kelokan jalan di Bukit Kemuning.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.5 – Return to Base

Tanpa pernah mencapai tujuan final, kami melakukan immediate respon terhadap kondisi. Prosedur Return To Base kami lakukan dengan terpaksa. Setelah tiga jam setengah perjalanan panjang tanpa hasil, kami dipaksa pulang oleh alam. Perjalanan tanpa arti ini setidaknya memberi beberapa pesan dan ilmu yang cukup menggugah. Juga memberi kami suatu perjalanan yang sangat panjang yang belum pernah kami capai dengan mengendarai motor.