Cerita Jepang
Tinggalkan sebuah Komentar

Cerita Pak Ujihira: Agama Orang Jepang

Saya dulu punya dosen bahasa Jepang yang nyentrik. Pak Ujihira namanya. Beliau bisa bahasa Indonesia dan tabiatnya juga mirip orang Indonesia. Pernah di Indonesia juga. Beliau banyak cerita ttg Jepang (dan kadang ttg Indonesia), salah satunya adalah tentang agama orang Jepang.

Orang Jepang, ngakunya, beragama Shinto. Shinto ini bisa digolongkan ke kelompok animisme, walaupun ada studi modern yang bilang bukan. Btw, di buku SD animisme ini dikatakan agamanya orang primitif. Nyatanya Jepang super modern gitu masyarakatnya yak…

Intinya, mereka memuja leluhur. Jadi nih, ada orang hebat di masa lalu, entah mereka raja atau panglima atau ilmuwan. Misalnya ada cerdik cendikia penemu peti penyimpan es, jadi deh dia dianggap dewa es.

Mungkin kata dewa disini setara dengan kata imba kali. Wah… Dewa… Quiznya dapat 100 mulu. Lokak IP 4 nih…

Makanya di Jepang ini dikit-dikit dewa. Di satu komplek kuil, altarnya bisa belasan. Masing-masing punya nama dan kekuatan spesifik. Cem pokemon gitu. Semuanya ada delapan juta kata si Bapak. Sebutan semua dewanya itu  yaoyorozu no kami (八百万の神), delapan juta dewa. Istilah ini adalah romantisasi dari istilah teknis “banyak lah pokoknya…” . Juga berarti ada dimana-mana.

Menurut Pak Ujihira, orang Jepang itu menjunjung harmoni. Mereka plural, pluralisme at its best. Lihat saja jalur kehidupan orang Jepang. Mereka dilahirkan sebagai Shinto, melaksanakan ritual Shichi-Go-San. Setiap tahun baru pun melakukan Hatsumode, kunjungan ke kuil. Namun, saat menikah mereka memakai tradisi Kristen, pria memakai jas dan wanita memakai gaun di gereja. Eh, saat meninggal, mereka mati sebagai budha dan biksu membacakan kyō (sutra) kepadanya.

Jepang_nikah_kristen

Submber: dw.com

Pak Ujihira melanjutkan, ketika dia di Indonesia dia jadi muslim. Namanya Ahmad.

Si Bapak bilang orang Jepang itu munafik. Bukan suma si Bapak, banyak orang Jepang yang saya temu menertawai diri sendiri, sebenarnya agama mereka itu apa sih… Nggak jelas. Atheis bukan, theis juga bukan.

Jepang bilangnya mereka sekuler. Karena itu, Parlemen Jepang melarang mengajarkan atau penerapan praktik agama tertentu di sekolah. Itulah yang menyebabkan dilemanya ada ruang shalat di kampus. Namun, banyak bagian dari tradisi dan kepercayaan yang tetap diajarkan di SD-SD. Seperti ttg obon, ritual melempar setan, dll. Mereka beralasan bahwa hal tersebut tidak apa diajarkan adalah budaya, bukan agama.

Jadi entah, Shinto itu apa…

Dengan prinsip harmoni / plural mencampuradukkan semua agama seperti ini, si Bapak menjelaskan bahwa orang Jepang tidak mengerti kenapa ada konflik agama. Kok bisa ada orang di luar sana itu bisa berantem gara-gara itu.

Namun yang saya penasaran, state orang Jepang yang apatis dg agama ini terjadi di zaman modern atau sejak kapan ya. Si Bapak nggak cerita tuh…

Zaman dulu, duluuu bangeet, kan masyarakat Jepang sangat menentang dengan kedatangan Budha dan kemudian Kristen. Awal-awal, biksu Budha dan monk-nya Shinto itu saingan kekuatan. Sekitar abad 15-16, Shogunate Tokugawa melarang agama Kristen di seluruh Jepang. Sampai ada yang pembantaian ratusan orang Kristen. Baru sampai Restorasi Meiji agama selain Shinto bisa berkembang di Jepang.

Yasukuni Shrine.JPG

Yasukuni Shrine, April 2015

Habis perang dunia dunia, para jenderal Jepang disemayamkan di kuil Yasukuni. Dengan kata lain, dianggap sebagai dewa… Atau minimal dihormati sebagai pahlawan. Hal ini menyebabkan China dan Korea sangat sensitif ketika ada pejabat Jepang melawat ke kuil satu ini.

Berarti mereka masih ada ghirah beragama kan tuh ya? Setidaknya sampai PD II. Setidaknya sebagian dari mereka, dan pemerintahnya, masih menganggap penting si agama. Hm…

Peluang dakwah kah? Mengisi kekosongan relung hati mereka? Sambil ngobrol gitu… Gimana caranya ya? Jehova Witness  aja disini guguh berjuang. Sampai hampir di depan setiap eki mereka ada.

Tapi kayaknya susah deh… Konsep “tuhan” mereka udah beda jauh… Kalau kita kan ya Pencipta… Kalau mereka, entahlah,,,,, orang jago? 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.