Wisata Jepang
Comments 5

Enam Jam Berjalan Kaki Keliling Nara

Cheese...

Hari ketiga dalam Perjalanan Liburan Musim Dingin: Kansai, tujuan kami adalah kota Nara. Kota ini adalah ibukota Jepang kuno. Nggak kuno-kuno amat sih, sekitar 1300 tahun lalu. Menurut peta, situs-situs yg bisa dilihat di kota ini jaraknya dekat-dekat. Banyak tapi dekat. Katanya kalau tidak menghabiskan waktu minimal dua jam berkeliling disini, nggak puas. Jadi kami mendedikasikan setengah hari untuk menjelajahi ini. Enam jam akhirnya kami berjalan kaki berkeliling (dan itu blm cukup juga ternyata!). Pada rencana sih, maunya seharian penuh dari pagi jam 9. Hanya, paginya kami main-main dulu di Osaka sebentar karena kemaren belum sempat ke Osaka.

Pertama-tama, dari tempat menginap di Osaka, kami bergerak ke stasiun JR Nara. Stasiun ini sebenarnya lebih jauh dari lokasi situs dibanding stasiun Kintetsu Nara. Namun, kami kan pergi dengan 18-Kippu, biar murah (gak harus bayar lagi) ya sudah kami lewat jalur JR. Dari stasiun, Nara Park dapat ditempuh dengan 20 menit berjalan kaki. Kami sampai pukul 12 lewat dalam keadaan lapar, jadi mampir dulu ke Saizeriya (dari kemaren nggak kepikiran untuk makan di restoran yg cukup aman dan murah ini).

Lima belas menit jalan kaki menuju lokasi kumpulan situs bersejarah di Nara cukup worth it. Bayangkan saja, di jalan raya, terdengar musik-musik tradisional yg mengiringi pejalan kaki. Ternyata di tiang listrik ada speaker-nya. Jadi serasa kayak di mall gitu cuma ini lagunya pas banget sama situasi tradisional di jalan itu. Mantab jaya konsepnya!

Situs yg pertama kali kami temui adalah sebuah kuil (harap maklum, ini di Jepang, kebanyakan situs wisatanya ya shrine atau temple). Lupa namanya apa. Kayaknya Kofukuji Temple. Ada pagodanya juga. Oh ya, yg kami cari-cari di Nara ini adalah ingin melihat rusa berkeliaran dengan bebas. Disini akhirnya kami bertemu untuk pertama kalinya, dua ekor rusa. Wowowow… Foto bareng dong…

Yang saya heran adalah ada tempat bermain yg isinya cuma beberapa batu lebar pendek yg ditanam dengan jarak tertentu. Entah itu maksudnya apa. (lihat gambar di bawah).

Setelah itu kami menyeberang jalan dan masuk ke Taman Nara. Nyeberangnya with style dong. Disini penyebrangan tunnel semua, nggak ada yg naik ke atas. Kayak di sunken-nya Kampus Ganesha ITB. Wow…

Sebelum masuk taman, kami nemu kuilnya dewa es. Himuro Shrine namanya. Jadi kawan, ini kuil didedikasikan untuk tiga orang. Zaman dulu ada orang yg pinter untuk nyimpen es (jadi bisa makan es di musim panas, wow, dewa….). Nah karena kedewaan (baca: kepintaran) orang itu (saya lupa namanya) akhirnya dianggap dewa, yah mungkin mirip-mirip kayak kita nganggap koder yg menang Imagine Cup itu dewa, kali ya.

Dua orang lagi adalah orang yang mengantarkan si insinyur es tadi ke raja, dan raja itu sendiri yg mengaplikasikan teknik milik si es-bender tadi. Jadi deh, akhirnya ketiganya naik status menjadi trio dewa es.

Sedih ya… Inilah agama Jepang, dewanya ada 8 juta, bukan agama budha dan juga bukan agama shinto. Agama Jepang. Kapan-kapan saya buat artikelnya, sudah ada draftnya sih di blog ini. Masih males nyelesaiin… Cerita Liburan Musim Dingin ini aja belum selesai diceritakan.

Ternyata di Taman Nara rusanya jauh lebih buanyak lagi. Nongkrong aja mereka seenaknya… Wowow… Banyak yg jual biskuit rusa lagi. Iya betul, ada biskuit khusus untuk rusa. Jadi kalau beli ini, rusa-rusa bisa ces hatinya ke kita. Nempel.

Oh ya rusa disini jinak ya. Aman, tanduknya sudah dipotong. Namun, bukan berarti kalau mereka tidak berbahaya, bisa aja kita ditendang, diseruduk, atau di-body sama dia. Peringatan ada dimana-mana, termasuk peringatan jangan menjadikan rusa sebagai kuda-kudaan (atau rusa-rusaan ya?).

Setelah Taman Nara, kami menemukan kuil dengan gerbang raksasa (kayaknya kuil terbesar disini). Todaiji Temple dan Nandaimon Gate. Isinya katanya patung budha besar. Namun, kami nggak ngeliat dalemnya, bayar sih (500 yen).

Cari tempat shalat disini agak susah. Soalnya rusa dimana-mana yg artinya e-e-k nya juga dimana-mana… Temple juga dimana-mana (sebenarnya gak papa sih kayaknya shalat di temple). Kami pun sampai mencari pojokan yg sudah agak diluar area situs wisata dekat perumahan dan mengasumsikan kalau rusa nggak pernah kesana. Bisa jadi asumsi kami salah….

Setelah itu kami mengelilingi Isuien Garden, yg kayaknya bagus di gambar tapi biasa aja di realita. Mungkin karena musim dingin, kalau musim semi pasti bagus kayak di web Japan Guide itu. Ada lagi danau yg katanya terkenal dan bersejarah tapi ternyata kecil dan gitu doang, kayak selokan besar saja. Mungkin bagi Jepang dan agamanya ada signifikansi kali ya.

Terus ketemu temple lagi, nggak tahu kali ini buat dewa siapa. Di dekat situ, ada temple lain lagi. Dan juga temple lain lagi yg kecil dan besar. Entah, kok bisa ya ada banyak temple dengan jarak hanya 100 meteran gini. Dewanya banyak sih, iya… Mungkin juga masing-masing raja juga buat temple buat dirinya sendiri. Hmm… Nggak paham.

Kebanyakan temple bayar supaya bisa liat dalemnya. Bukan bayar yg lempar koin ke kotak di bawah lonceng berkain itu loh ya, itu lain lagi. Bayar untuk dapet tiket supaya boleh masuk. Karena bayar, kebanyakan hanya kami potret di depan saja. Oh iya, di bawah ini ada foto sebuah toko kecil di bawah bel raksasa. Rasanya unik gimana gitu. (Bapaknya bayar sewa kemana ya)

Setelah itu kami ya nemu kuil lain lagi. Yang ini agak besar. Tapi nggak tahu kuil apa, nggak nemu walaupun saya nyari di Japan Guide. Arsitekturnya agak asyik…

Sudah jam 4.30 tapi kami jalan terus menuju tanjakan, naik, dan naik. Ada sebuah tempat yang kayaknya taman berbukit gitu. Kayaknya bisa liat Nara dari atas kalau kita ke puncaknya. Sayangnya bayar. Dan sudah tutup juga waktu kami sampai disana. Oh ya, di tempat ini rusa masih ada loh. Kami juga nemu rusa antri ke mini market nih.

Walaupun senja menghampiri rasanya masih tanggung nih kalau mau pulang. Sayang juga kalau balik dengan rute yang sama dengan rute pergi. Rugi gan… Kami pun lanjut setelah melihat Kasuga Taisha di papan petunjuk jalan. Jaraknya satu kilo ke depan. Kalau mau balik ke stasiun, sekitar 4 kilo. Yosh, maju magnum…

Entah memang kami yg cepat atau petunjuk jarak disini agak lebay, cuma jalan sebentar sudah sampai di kompleks Kasuga Taisha. Ternyata kompleks kuil gabungan tera dan jinja (temple dan shrine) ini cukup besar juga. Banyak gedung, jalan, dan objek bersejarahnya…

Gedung utamanya cukup menarik. Banyak pilar berwarna merah di koridor yg cukup panjang. Serunya ada staf (atau biksu?) yang mondar-mandir pakai baju kekuilan yg sering kita liat di dorama itu. Dan masuknya gratis!

Oh ya, kami kesana pada tanggal 31 Desember 2013. Dengan kata lain, malam ini malam tahun baru dan besok adalah tahun baru. Banyak persiapan disana sini, seperti yg kami lihat di Osaka Tenmangu Temple tadi pagi misalnya. Di Kasuga Taisha ini juga. Di jalan banyak orang menyiapkan gerobak-warung untuk jualan. Di dalam bangunan utama ada panggung besar, yg ternyata bukan untuk performans tapi ya untuk wadah duit gan!

Oh ya, orang Jepang kalau ke kuil melakukan hal berikut. Dateng ke altar, kalau ada lonceng goyangin lonceng supaya dewanya bangun. Lempar duit ke kotak. Tepok tangan di depan dada untuk menghormati dewa (yg baru bangun). Kemudian, doa deh. Biasanya duit yg di lempar ya uang receh, 10 yen atau 100 yen sudah maksimal. Untuk doa nikah misalnya, mereka lempar 5 yen (japan: go-en) sebagai permainan kata dari nikah (goen).

Nah, kalau gak ada bel ya berarti ini dewa gak perlu dibangunin dulu. Dan di Kasuga Taisha ini wadah duitnya itu wew, kain besar kayak panggung.

Di luar bangunan utama, terdapat lokasi keren karena buanyak lampion batu berjejer. Ratusan ada kali. Kalau lampionnya hidup semua pasti lebih keren lagi. Saya membayangkan lampionnya otomatis hidup, namanya Jepang kan. Japanese High Technology. Jangan-jangan rusa tadi juga sebenarnya robot semua, saya berkelakar dengan sidik tetapi tidak ditanggapi. T.T

Eh, ternyata tebakan saya tidak begitu salah. Ada lampion yang nyala begitu hari gelap. Nggak semua sih… Canggih dan mistis juga kalau semua. Cuma yang besar dan dekat gerbang depan aja.

Sambil rolling back action menuju stasiun, kami mengambil rute yang berbeda. Kami lewat daerah barat yang tadi belum kami lewati. Ada danau besar yang kami lewatkan. Hari sudah gelap, hampir pukul enam. Agak susah melihat dan memfoto danaunya. Namun kelihatannya sih seru. Soalnya ada gazebonya di tengah danau dan bersih danaunya, tidak seperti di Indonesia. Tadi juga kami melewatkan Nara National Musem. Ah. Enam jam ternyata belum cukup juga… Kaki sudah gempor padahal.

Setelah itu kami hanya berjalan menuju Saizeriya yang tadi untuk makan malam dan kembali ke stasiun. Jalannya gelap dengan penerangan yg remang-remang saja. Lagu yang diputar di jalan raya menuju stasiun Nara tadi masih lagu yang sama. Kirain kalau malem lagunya bakal lagu soundtrack-nya Higurasi gitu. Cek di bawah, sedih (bukan serem) menurut saya. Kalau lagunya ini kan semakin seru…

SELANJUTNYA: Kyoto dan Lautan Manusia di Seribu Gerbang Fushimi Inari

5 Comments

  1. Ping-balik: Liburan Tahun Baru 2015: Hokuriku~Chugoku | Blog Kemaren Siang

  2. Wah, I love Nara very much. Oh iya batu-batu lebar yang kamu temui di Kofukuji Temple itu dudukan tiang-tiang kayu. Kan sedang direnovasi, tiangnya masih nunggu dari Afrika. Aku ketemu volunteer guide berbahasa Inggris, jadi diceritain macam-macam.🙂

  3. Ping-balik: Kyoto: Kiyomizu Temple, Kuil Tanpa Paku Pun Sebatang | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s