Cerita Jepang, Islam
Tinggalkan sebuah Komentar

Langgar di Sekulaku

Salah satu hal yang diamanahi ke saya selama disini adalah mengelola langgar di sekulaku. Atau lebih tepatnya, hal yang secara nggak sengaja saya dan teman kacaukan sehingga terpaksa dikelola dengan lebih rapi.

Di sekulaku ini, terdapat sebuah ruang di lantai teratap yang selama ini dipakai oleh komunitas orang beriman disini untuk bersujud.

Jadi. Jaman dahulu kala, di era ketika naga masih terbang bebas di angkasa, sihir merajalela, dan komputer masih benda mahal yang hanya bisa dibeli oleh kaum borjuis, terdapatlah tujuh legenda. Mereka mematerialkan mimpi dan menaruhnya di kahyangan, titik tertinggi realm, yang dipinjam karena pada saat itu tidak digunakan dari grand wizard yang kini sudah pensiun.

… jodan-jodan 

Kembali ke masa sekarang. Kahyangan alias kamar di atap itu rutin dipakai mahasiswa setiap hari, meskipun kondisinya agak gimanaaa gitu. Buecek. Kuotor. Tirai butut. Boklam sekarat. Ruang lembab. Karpet lobong. Namun, setidaknya fungsional sebagai langgar sehari-hari.

Awal dua taun silam, pihak sekula ngadain rapat antara rektorat kampus dan ketua-ketua komunitas pelajar asing. Katanya mau saling tukar ide. Biar pelajar asing di Toyohashi, semoga hidupkan jadi lebih baik… tugas yang berat… dilaksanakan… berjuang agar lebih baik… 

ehm

Jadi setiap ketua komunitas diminta untuk memberikan sedikit komen (atau meneruskan komen dari komunitasnya) ttg apa sih yang kurang di sekulaku ini.

Dari komunitas Indonesia dan Malaysia, saya ketua PPI dan wakil dari PPM waktu itu menyampaikan terima kasih atas langgar dan juga menu halal di kantin yang disediakan di kampus, sangat membantu hidup kite-kite orang malay. Kemudian kami memberikan semacam rekues. Makanan yang kurang bervariasi. Lampu di langgar yg pada mati, lantai yang becek, dll. Kan pertemuan itu katanya mau tanya hal yang bisa meningkatkan kesejahteraan pelajar asing disini kan? Makan halal dan shalat itu bagian integral dari kami. Jadi minta petunjuk buat itu langgar lebih baik.

not a bad start, rite?

Ternyata, hal itu gahwat. Sangat gahwat… Siapakah yang dapat melaksanakannya?
Sekarang berusaha mewujudkan!

De ting is kamar sembayang yang disana itu non-opisial! N-O-N plus O-P-I-S.  Alias tidak diakui kampus. Secara opis! Dan membawa hal nono di pertemuan opis seperti itu tadi,  ternyata agak, atau yaaa sangaat, nggak bagus.

Dan seketika meningkatlah kondisi ruang itu dari waspada menjadi awas.

Jepang adalah negara sekuler. Artinya secara hukum tidak boleh mengutamakan agama tertentu di dalam institusi pemerintah. Universitas negeri adalah salah satu tangan pemerintah. Ergo tunduk dalam regulasi tersebut. Jadi universitas negeri nggak bisa mengajari atau menyediakan ruang keagamaan. Katanya begitu.

Side note: obong, lempar2 setan pakai kacang, pasang boneka puteri dan pangeran di awal maret, gitu-gitu dianggapnya budaya, bukan agama. Jadi diluar konteks si hukum ini.

Universitas swasta sih nggak ngepek. Bukan kroni negara soalnya. Banyax saya temui univ swasta yang di webnya dengan bangga nampilin kalau dia punya mushala. Dipajang sebagai iklan, tuk menarik siswa baru juga kali. Nah, universitas pemerintah kagak bisa gt…

Selama ini, ternyata, kondisi langgar di sekulaku ini adalah situasi tahu-sama-tempe. Mereka tahu tapi pura-pura tempe. Kan tak resmi, jadi tak bole kaka… Namun, staf pada tahu kalau siswa muslim butuh akan eksistensi ruang itu dan secara praktis setiap hari memakainya.

Initinya mereka menutup mata sebelah, seolah-olah ruang itu tak ada di peta kampus.

Memberikan rasa terima kasih dan meng-invoke keberadaan ruang diujung atap tadi dalam forum resmi, kenegaraan, yang menitnya tercatat, dan jg dihadiri entitas lain yang belum tentu tahu-sama-tempe (e.g. lain komunitas pelajar asing), bisa menimbulkan… Banyak emas salah…

Selain hukum administrasi kenegaraan td, kecemburuan adl. salah 1-nya. Sebuah ruang yg cm bole dipakai o/ sebagian dan bukan keseluruhan komunitas kampus adl. hal yg sulit diterima di era democrazy ini. Ruang publik, tapi buat golongan ini doang, KUSUS! And they are not even a UKM!! Bumbu kecemburan dari padang tuh. Pedas.

Disini, UKM juga ada banyak dan pada minta ruang sekre jg. Kalau mereka tahu ada satu kamar yg seringnya kosong tp cuma bs dipake oleh sebagian umat, bisa-bisa pada ngamuk.

Ditambah lagi fakta bahwa ada masjid toyohashi di dekat kampus. Cuma butuh jalan 5-10 menit. Begitu argumen salah satu protestan dari, sebut saja negara komie di asia tenggara, setelah blunder di rapat ofisial tadi terjadi.

Sikil Note: Itulah sebab kenapa ini tulisan bergaya kosa dan gramar yg aneh n penuh sngktn. Agar org natip.jp yg make gugel trenslet tetep kaga bs baca ini artikel. Agar wong.asg yang kaga solat juga ga ngerti klopun make mbah gugel. Hanya org.id dg segala pengetahuan kultur dan reperensi yg bs baca, dg agak sakit mata dikit. Tapi keknya, gugel skrg muakin canggih-gih sich, jadi tetep aje kebaca separo. Moga mugi artikel ini ga begitu piral.

 

Namun, untungnya staf kampus paham benar butuhnya siswa akan langgar di kampus meskipun sudah ada masjid dengan jarak walkabel. Beruntungnya kami memiliki dosen yg paham, karena ia warga negara mayoritas islam. Beliau pun ngasi pengertian ke sang protester. Misal, case solat kalau cuma punya waktu di antara zemi dan kuliah. Atau hujan. Atau banyak use-case lainnya.

Dan beruntungnya lagi, Pak Rektor sekulakku ini juga penuh cinta.

Cahaya cinta perlahan menyilaukan!

Beliau mengadres keluhan yg di utara rapat. Beliau kemudian blusukan ke si langgar. Meliat gmn sie kondisinya. Dan beliau pun keciwa… Oh oh kacewa… Soalnya… itu kamar dan sekitarnya kaya kaga terawat sama sesungai.

Meskipun kecuwa, sang rektor tetap memberi kesempatan kedua kepada komunitas.

Itulah mimpi kehidupan kedua.
Mimpi itu dari mana datangnyaa?

Singkat cerita beliau pun meng-hard reset ruang ini. Lampu langsung dibenahi. Lantai dibersihkan dan diganti karpet baru. Dipasang hijab beneran, pake rel biar mantap biar bisa dibuka tutup kapan saja. Wastapel yang biasa dipakai tempat wudhu dan sudah dalam kondisi memprihatinkan, diganti total dg keran rendah supaya bisa cuci kaki. Plus kehangatan! Selang disambung ke water heater dan air yang keluar tidak lagi mematikan saat musim dingin.

Ruang jadi seperti baru! Seperti mimpi! Kok bisa ya?

Jawabnya ada di ujung langit.
Kita ke sana dengan seorang anak.
Anak yang tangkas,, dan juga pemberaniiii, hiiiii!!!

Reboisasi dilakukan selama kira-kira satu bulan. Saya terbelalak dengan dedikasi para staf dalam masa reparasi tersebut. Gara-gara komentar atau keluhan kami di rapat komunitas kan mereka jadi repot. Masalah administrasi negara tuh. Namun, mereka tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan kami dan merejuvenisasi kamar ini, yang sebenarnya bukan kewajiban kampus atau bahkan tidak boleh karena bisa jatuh ke favoritisme.

<Taruh Gambar Before/After Disini>
<HDD rusak sebelum artikel ini selesai, jadi fotonya ilang>
<Kalaupun dipasang nanti malah ketahuan ini kahyangan ada dimana>

Saya sering dimintai adobaisu dlm eksekusi reklamasi kamar ini. Contonya, kalo wudu itu bijimana. Biar nyaman. Hoo… Butuh ada tempat cuci kaki atau minimal keran agak rendah biar kagak harus ngangkat sikil ke wastapel. Hoo… Kalo bisa aernya anget biar kalau akhir tahun kagak menggigil. Hoo… Harus dikasi karpet biar kaga becek.

Kemudian soal merehabilitasi lantai ruangan yg menyedihkan. Bagusnya bijimana. Warna apa.

Kemudian soal merevitalisasi hijab pemisah area geulis dan kasep bijimana. Enaknya seberapa tinggi. Oh ya, sama mereka dibikinin rel hijab gan! Tadinya cuma digantung pake tali menyedihkan gitu. Sekarang tampak lebih keren dan lebih luas. Apa nggak wow!

Kemudian soal lemari enaknya gimana. Yang terakhir ini akhirnya tidak kongkret revolusinya. Karena alasan yg akan dikemukakan kemudian.

Saya efektiply jadi custodian of the *high realm. Pas reparasi dilakukan, pihak kampus meminta saya buat oversight mamang-mamangnya. Ngecekin doang sih sama nge-okay ukuran si mamang.
*High soalnya kan di lantai tertinggi di sekulaku. Haha…

However, from great power comes great responsibilities.

 

Reboisasi ini dilakukan dengan perjanjian. Antara pihak sekulaku dan pihak komunitas. Perjanjian non-formal tahu sama bakwan tentunya. Ringkasnya adl. sbg. berikut.

Satu, harus dijaga kerapihan dan kebersihan. Mesti ada kebersihan rutin mingguan. Vacum karpet. Jendela. Dan terpenting pel koridor dari tempat wudu ke high realm. Pun sepihak saya buat jadwal komunitas ID, MY, Others, dan TOGETHER setahun penuh buat bersih-bersih.

Namun sayang, pada praktiknya ID yg paling sering melakukan, MY kadang, Others entah kemane dan TOGETHER hampir tidak pernah. Pengennya yg others itu tahu jg ttg pentingnya perjanjian ini. Tapi mereka kan ga bisa baca artikel ini, by design.

Use it. Clean it. Ladies included!

Peraturan_simple.jpg

Dua, harus ada peraturan penggunaan. Tidak boleh simpan benda pribadi di ruang. Lampu mati kalau keluar ruang. Sajadah dirapikan kembali. Slipper jangan masuk. Dll. Kalau ada yg rusak, komunitas yg mengelola/mengganti/mencuci.

Sajadahnya dicuci dong gan!

Tiga, harus ada penyebaran sekaligus penanganan informasi. Peraturan harus dipastikan bisa turun ke generasi berikutnya. Generasi berikutnya harus paham status realm ini. Dan info ttg ruang harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan yg salah tidak diketahui non-komunitas. Basically, never claim that it is a langgar outside the community.

Yang terakhir ini juga meliputi pemakaian ruangan kalau ada komunitas lain pengen make (ketahuan gt). Makanya si hijab dibuat bisa buka tutup, biar ada alasan ini buat kamar ganti atau apa gitu. Juga perlengkapan sembayang juga harus dirapikan lagi, supaya kalau org lewat dan ga sengaja liat ga berkesan ini ruang buat sembayang.

Side note: Nah yg masalah lemari tadi, tadinya ada lemari yg mau ditaruh disini. Cuma lemarinya kaca. Dosen yg membela kami tadi gak setuju kalau kaca (tembus pandang, isi dalemnya keliatan). Dan kaga jadi deh dipindah. Jadi akhirnya soal lemari, janji sekulaku remains unsolved. Akhirnya, saya beli kotak aja buat tempat sejadahnya.

Psstt… Nothing’s here.

 

Begitulah ringkasan janji darah yg sekulaku dan kami bertiga setujui tersebut.

Dan artikel ini saya tulis juga sebagai benang merah, untuk generasi berapa tahun kemudian yg penasaran ttg sejarah. Dan jaga-jaga kali-kali hal-hal serupa lagi-lagi terjadi.

Dan sebelum lulus, karena saya orang Indonesia, saya menitipkan ruang ini ke PPI TY dan KMIT sebagai custodian resmi. Repot memang hampir selalu komunitas PPI yang ngepel ngilangin cap sepatu di lantai dan tangga. Tapi itu demi hidup kita sendiri kan. Syukurilah langgar di sekulaku tersebut. Dan bertarunglah untuknya.

Bertarunglah Dragon Ball!
Dengan segala kemampuan yang ada…
Bila kembali dari langit.
Semoga hidupkan jadi lebih baik.


 

A year later. A week ago. (habis draft ini terlantar setahun) I paid a visit to the angel. After being blessed by an awkward smile, pink blushed cheeks, and bright light on her victorious face. After I got some five minutes of pleasantries, much much more than I expected, deserved. After all of that, I turn my gaze to the high realm.

Agak kecewa juga. Sadajah yg cewe plus mukena ngumpel-ngumpel nggak masuk ke kotak. Kalau kurang kotaknya, bisa sediakan pribadi lah. Paling beli di amajon lima ratus. Di Daiso ada juga kok. Terus-terus, sepertinya mulai ada tanda-tanda meninggalkan barang pribadi ke ruangan tuh. Hm hm…

Tempelan pengumuman keknya yg udah tua banget, nggak di prin ulang. Sajadah bau. Bawa ke rumah, masukin mesin cuci, luas bawa lagi, keknya nggak respot deh.

Namun, cukup senang melihat jadwal giliran ngepel sudah diupdate sampai tahun depan (yg saya print cuma sampai 2017), dan yang tepenting lagi banyak terisi. Walaupun nggak penuh rapat setiap minggu seperti yang saya inginkan dan komunitas janjinkan ke sekulaku sih.

Slipper rapi dan lantai bersih. Yah not bad lah. Semoga bisa lebih baik.

Ngomong-ngomong, masalah langgar di sekula seperti ini harusnya adalah masalah internasional. Ndak cuma TY, tetapi juga kota-kota lain di Jepang, dan juga Eropa kan. Pihak sekulaku juga penasaran, sekula lain gimana sih ngelola kisah kasih seperti ini.

Bagaimana kisah langgar di sekulamu? Dare to share a story?

Mungkin berat melaksanakan tugas mengelola ruangan publik yang bukan kamar sendiri. Apalagi tanpa koordinasi. Namun, itu ruang punya kita. Kampus, dengan TRUST, ngasih pengelolaan ke komunitas. Bukan ke koordinator. Hey, kampus nggak wajib nyediain ini ruang in the first place! Setidaknya berjuanglah supaya tetap bisa menikmati ‘fasilitas’ ini.

Tugas yang berat!
Dilaksanakan!

Berjuang agar lebih baik…
Siapa yang dapat melaksanakannya
Dan berusaha mewujudkan…

Siapa lagi kalau bukan kita!!!

Semua itu demi hidup yang baik.
Hanya kita sendiri yang mampu..
Melaksanakannya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s