Sosial Politik
Comments 6

Semarak Buku Pencitraan, Kok Saya Nggak Suka

Buku Bernama Tokoh

Sumber Gambar: banyak sumber yang digabungkan. Bisa juga moto bukunya satu-satu.
Dicantumkan disini dengan semangat fair use. Hak cover adalah milik pemiliknya masing-masing.

Saat ke Gramed*a kemarin, saya menemukan banyak sekali buku-buku yang judulnya nama orang. Sayangnya, judul-judul tersebut adalah nama-nama yang orangnya masih berkeliaran sampai saat ini.

Misalnya saja di salah satu pojok toko buku, Terdapat satu buah rak cukup besar yang didedikasikan khusus untuk buku-buku ttg. seorang Dahlan Isk*n. Dahlan series mungkin. Buku-bukunya berima sekitar “Kursi Dahlan”, “Sapatau Dahlan”, “Surat Dahlan”. “Dahlan Juga Manusia”, “Dahlan Bla-bla”, dan bla-bla-bla… Jumlahnya bisa lebih dari 5 judul dan semuanya ada namanya, trust me. Mungkin sebentar lagi bakal keluar “Hidung Dahlan”, “Kaos Kaki Dahlan”, “Dahlan Rock”, dll.

Ada lagi yang bertebaran di seluruh penjuru toko (belum dikumpulkan di satu rak sepertinya), J*kowi series. Judulnya kira-kira berima seperti “J*kowi: Tokoh Perubahan”, “J*okowi: Spirit Bantaran”, “J*kowi: Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi”. Nah, si tokoh yang satu ini bahkan sudah ada yang judulnya “Pemimpin Berjiwa Rocker”. Sesuatu banget ya?

Banyak lagi buku-buku yang menyelip di antara buku normal lain karena belum sebanyak dua “tokoh” di atas, entah itu “T*ten Masduki Panglima Domba Melawan Korupsi”, entah itu “Si Anak Singkong”, entah itu tokoh mana lah, panglima TNI mana, bla-bla… Domba? singkong? what t

Sakit saya melihatnya.

Belum juga ngapa-ngapain udah nulis sejuta biografi. Dipandang dari sisi inilah, sisi itulah. Emangnya jadi menteri udah hebat gitu. Emangnya jadi pengusaha hebat gitu. Dua kali menjabat udah hebat gitu. Nyalon gubernur hebat gitu?

Okelah hebat. Sangat hebat. Tidak semua orang bisa kan?

Tapi ya mbok, uhh… Susah saya ngomongnya. Jasa apa yang tokoh-tokoh itu berikan sehingga “perlu” ada biografinya. Saya termasuk orang yang agak geli melihat orang yang masih hidup ditulis biografinya (terutama jika orang itu pejabat dan kemungkinan berkeinginan jadi pejabat yang lebih tinggi). Apalagi kalau tidak jelas manfaat yang telah mereka kontribusikan kepada masyarakat. Tidak jelas posisi mereka dalam hati masyarakat.

Justru nggak jelas itu kan? Makanya dibuat buku.

Well. Itulah makanya saya mencap semua buku-buku itu hanya “pencitraan”. Mereka hanya ada bukunya supaya masyarakat “mengenal”. Dan kalau nanti mencalonkan diri, “elektabilitas” sudah ada.

Jika saya berhasil menjadi pejabat, berhasil bikin jalur kereta baru, dan berhasil terkenal sok galak sedikit, lalu saya dibuatkan buku yang menceritakan dari kecil betapa tegasnya saya, kreatifnya saya, bataknya saya, tidak hanya satu buku tetapi berjudul-judul, saya akan tertawa lebar terhadap penulisnya. Saya akan berkata:

Loe gila ya? Kagak ada tema buku yang lebih penting apa? Mending loe bikin novel aja, lebih bermanfaat buat dunia literatur Indonesia. Tokohnya gua nggak apa lah.

Jika orang itu sudah meninggal (dan memang cukup ada presence-nya, entah itu pejabat, ilmuwan, atau apalah), saya sih tidak masalah. Oke deh, nggak perlu dikenal siapa-siapa juga, kalau dia sudah meninggal dan ada yang mau mengabadikan kehidupan beliau dan membaginya ke dunia, saya masih bisa terima.

Orang yang masih hidup menurut saya tidak usah deh buat-buat biografi segala. Kecuali kalau memang elo itu tokoh super penting atau fenomenal. Yang termasuk golongan terakhir ini, menurut saya, adalah Prof. Habibie. Tanya ke semua orang Indonesia, siapa yang tidak kenal beliau dan tidak bangga dengan orang seperti beliau. SBY juga boleh, Mega, Obama karena mereka itu presiden (Habibie juga ding ya). Bisa lah membahas bagaimana kepresidenan beliau dan dikaitkan dengan seluruh kehidupannya sebelum menjabat.

Lah ini, siapa, pengusaha? Pengusaha juga bisa saya maklumi sih selama tidak overkill dan sudut pandangnya ingin memberikan motivasi ke pembacanya. Pejabat juga tidak apa-apa selama bukunya ya mbok jangan-semangat-sekali-biografi-kok-banyak-banyak dan gaya penulisannya bukan untuk membesarkan si tokoh yang diceritakan. Saya masih mau baca kalau yang diceritakan itu seputar yang dia tangani bukan seputar orang yang menangani. Setidaknya jangan pakai nama tokoh tersebut sebagai judul utama deh. Cukup subjudl supaya orang tahu siapa yang diceritakan.

Dan jangan banyak-banyak juga.

Yang terakhir ini agak susah kayaknya. Membuat cerita fiksi lebih sulit dibanding menyadur cerita nyata dan ditambah opini. Jadi ya, para penulis yang kehabisan ide itu bisa saja menunjuk satu tokoh yang sedang/akan naik daun untuk merangkum cerita-cerita mereka yang ada di media massa ditambahi sedikit bumbu biografi. Bummm… Profit.

Di era informasi ini, memang media massa (termasuk buku) menjadi langkah strategis untuk memenangkan massa dan meningkatkan citra publik. Memang, masyarakat Indonesia belum memiliki jiwa membaca yang baik. Jadi ya, buku-buku tersebut sangat kecil terbaca orang. Hanya saja, masyarakat kita ini masih lugu.

disgusted Orang masuk tivi, entah itu artis pezina atau mantan pejabat tak beradab, sekali mereka “turun” ke publik pasti disambut dengan meriah dan elu. Orang apapun, apalagi kalau targetnya pingin jadi pejabat minggu depan, bulan depan, tahun depan, kalau namanya tertera di sebuah buku yang dijual di toko buku mahsyur, masyarakat akan melihatnya sebagai “wuih keren nih orang, udah ada bukunya!”.

Kalau saya, jijik.

Tambahan:

Mungkin di antara kalian pembaca ada yang nge-fans salah satu dari mereka atau bahkan jadi tim pembuat buku tokoh-tokoh selanjutnya yang akan dibukukan. Kemudian kalian berkata “Ya terserah mereka dong, mau buat buku apa nggak. Dibuatin buku apa nggak. Ini kan era demokrasi. Kok elo yang sewot. Kalau elo bisa, ya buat lah buku tandingan.”

Kalau memang begitu, ya saya jawabnya “Ya terserah saya dong, mau nulis kayak gini apa nggak. Gimana pendapat saya kan terserah saya. Blog-blog saya kok. Kok elo yang sewot. Ini era demokrasi bung… Kalo elo mau ya buat blog sendiri sana, tulis betapa bahagianya elo dengan tokoh itu.”

Demokrasi…

6 Comments

  1. It’s a shame you don’t have a donate button! I’d without a
    doubt donate to this superb blog! I guess for now i’ll settle for bookmarking and adding
    your RSS feed to my Google account. I look forward to brand
    new updates and will talk about this site with my Facebook group.

    Talk soon!

  2. Ping-balik: Balada Lagu-lagu di Pesta Pernikahan | Blog Kemaren Siang

  3. Mungkin mereka mengamalkan peribahasa ini, Badr: Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan buku biografi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s