Kampus Ganesha, Sosial Politik
Comments 2

SBY Datang (Lagi?)

Selasa, 26 Mei 2009 pagi, Susilo Bambang Yudhoyono a.k.a. SBY yang pada saat yang sama menjabat sebagai kepala Republik Indonesia datang mengunjungi Sasana Budaya Ganesha ITB. Kedatangan beliau adalah yang kedua dalam dua minggu ini. Apa saja efek dari tibanya beliau di Tamansari? Tentu saja saya tidak akan membicarakan kebaikannya mengingat hal itu akan dicap kampanye siluman. Selain itu, saya juga anti (baca: sangat jarang) memuji orang dan kedatangan beliau juga tidak bermanfaat bagi saya.

Jadi mengapa beliau datang? Kedatangannya yang terakhir ini adalah menghadiri acara puncak dar rangkaian acara Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2009. Peringatan ini diadakan di Sabuga ITB karena (mungkin) kebetulan acuan motto itebe bersesuaian dengan motto acara itu,  yaitu Sains Teknologi dan Seni. Acara puncak adalah yaa standar, pidato beliau dan kroni nya, penampilan beberapa adat Indonesia dan persembahan-persembahan sekolah lokal. Di samping itu terdapat pameran dari beberapa perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya.

Jika yang terakhir ini beliau datang sebagai Kepala Republik, kedatangan sebelumnya adalah sebagai Bakal Calon Kepala. Ironi? Mungkin ya mungkin tidak. Acara di Sabuga yang beliau hadiri sebelumnya adalah tunangan pasangan SBY ber-Boedi sebagai persatuan dari gerombolan-gerombolan partai dalam menghadapi Pilpres 2009 kelak. Acara yang satu ini tidak kalah rame, dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2009 sekitar pukul 19.00, dihadiri oleh mafia-mafia partai terkemuka dan komplotannya.

Sabuga adalah daerah teritori Kampus Ganesha juga. Jika ada sesuatu di Sabuga, Ganesha tentu terkena dampaknya. Tidak hanya itu, seluruh wilayah yang dilalui “Sang Dewa” ini kelak juga akan terimbas. Sudah menjadi “adat” dan “rahasia umum” bahwa Kepala Negara datang akan menyebabkan ketidakteraturan sementara. Hal ini juga terjadi di sini.

Rundown kedatangan Kepala Republik Indonesia.

  1. Periksa tempat T dan seluruh jalan J yang memiliki akses ke sana.
  2. Tempatkan seluruh personil militer yang lokal punya di sana untuk memastikan tempat aman jalan ‘lancar’.
  3. Eliminasi semua penghalang yang ada, buat kemacetan di sisi lain kota jika perlu.
  4. Pastikan semua selesai sebelum Hari H dan Pukul P tiba.

Efek dari sistem umum ini bisa ditebak. Repotnya penduduk lokal menjalani kehidupan. Ya, hanya untuk melewatkan satu manusia saja seluruh sistem perkotaan dapat lumpuh. Jalan-jalan utama yang dilewati Sang Dewa akan disterilisasi serta akses cabangnya tentu ditutup sementara. Tempat T lebih parah lagi, akses jalan kesana akan diblok bila perlu.

Kedatangan beliau yang terakhir ini bertepatan dengan Ujian Olahraga Pejuang TPB ITB yang dilaksanakan pukul 07.00. Himbauan dari rektorat adalah agar mahasiswa mengantisipasi adanya KEMACETAN sehingga tidak terlambat ujian. Benar saja, sekitar pukul 07.00 kepadatan di jalan sudah agak bertambah dari biasanya, meskipun preman berseragam ada dimana-mana. Mereka yang kerap disebut polisi ini sudah berkeliaran sejak 2 hari sebelumnya di sekitar tempat T sehingga menimbulkan kesan ‘tidak biasa’ di kampus sendiri. Pada hari H, perparkiran kampus lumpuh akibat dari ditutupnya lapangan parkir utara kampus. Animo mahasiswa pengguna motor tentu saja tidak bisa berkurang dengan hanya datangnya orang tadi. Hal ini menyebabkan penumpukan yang sangat tidak biasa dan menyusahkan di parkir area timur a.k.a Lap. Parkir SR.

Parkir SR

Hal lain yang cukup menyusahkan adalah ditutupnya gerbang utara ITB sementara. Dan yang lebih menyusahkan lagi, pada tanggal 25 dan 26 Mei 2009 seluruh warung dan kaki lima di sepanjang Simpang Dago dilarang berdiri (mau makan di mana gua???). Tentu saja hal ini akan membuat penghasilan mereka menurun drastic. Padahal Sang Dewa akan melintas hanya di pagi harinya dan tidak di malam hari saat para warung makan – yang sangat membantu mahasiswa – ini beroperasi.

Sepi Kali

Sepi Kali

Terbukti bahwa kedatangan mereka tidaklah menguntungkaan rakyat lokal. Hal ini belum memperhitungkan biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk melewatkan “Dewa”nya. Ini hanyalah contoh kasus kecil. Ini hanyalah sedikit dari aktifitas seseorang yang mestinya kita sebut Presiden atau Pemimpin. Hadirnya yang mestinya dapat memberikan kemudahan lebih bagi rakyatnya, justru menghamburkan uang dan merusak keteraturan lokal yang telah ada. Sama seperti pemilu dan segala kegiatan kampanyenya, hanyalah kegiatan pemborosan dari suatu sistem boros “Demokrasi”. Contoh, deklarasi yang katanya pro rakyat di tempat sampah namun memakan biaya orde ratusan juta.

Lihat LINK SATU, DUA, TIGA

Tentu ada sisi positif dari kedatangan ini. Klasik. Jalan rusak diperbaiki. Ya, hanya jika mereka datang lah jalan diperbaiki, sistem persampahan diatur kembali, tata ruang kota dikaji ulang. Hanya jika bos liat lah saya akan membuat pekerjaan tampak sempurna. Untuk kemudahan bos lah saya bekerja. Sungguh naïf, menyedihkan. Inilah borok pemerintahan kita yang tidak dapat disembuhkan lagi. Borok ABS.

Oh ya, kedatangan beliau juga setidaknya menguntungkan peserta acara. Peserta yang mewakili mahasiswa diketahui menerima “pesangon” dan beberapa souvenir menarik. Souvenir ini adalah beberapa Rundown Acara dan Buku Sambutan yang didesain sangat apik dan mulus. Juga ditemukan satu buah Buku (like Novel) yang menceriterakan sang tokoh utama (u know what I mean). Buku berjudul “Pemerintahan ala SBY” ini penuh berisi gambar dan situasi “bagus” saat beliau memerintah republik ini 5 tahun silam. Tentu saja semua orang menerimanya. Saya melihatnya ini sarat dengan peribahasa sambil menyelam minum air, sambil pidato sambil kampanye. Yah, anda yang di Lampung tentu tahu saat Sjahroeddin hampir lengser, beliau mencetak banyak selebaran tentang janjinya ke pegawai, pelajar berprestasi, dan membuat acara yang terkesan sosial. Anda bisa menilai sendiri apa maksudnya.

SBY - Saya Harus BisaDSC00308

Inilah sekelumit gambaran dari kisah panjang republic ini. Dia belum dapat menerapkan prinsip “Pemimpin adalah penanggung jawab dari segala kesengsaraan rakyatnya”.  Ingat saat Umar ngotot melintasi padang pasir sambil memanggul sekarung gandum dengan tertatih-tatih untuk seorang rakyatnya yang kekurangan makanan? That’s the Real Leader.

Kedatangan SBY Pertama. Klik Disini.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s