Kampus Ganesha, Sosial Politik
Comments 4

SBY Datang, Kampus Ancang-ancang

Yo, kampus ini gempar. Setelah vakum berapa lama, tidak keliatan suaranya, jarang melakukan aksi kini ia berdiri, menentang sesuatu yang dianggapnya sudah keterlaluan. Siapakah pemicu dari semua ini, ya tidak lain dan tidak bukan adalah seorang yang tidak ada seorang pun di negeri ini yang tidak kenal, Pak Presiden Susilo Bambang Yudohoyono.

Beliau datang ke Sabuga atau Sasana Budaya Ganesha, suatu aula besar milik ITB yang terletak di utara kampus utama dan satu kompleks dengan Sorga atau Sasana Olahraga Ganesa. Sabuga dapat diakses melalui terowongan bawah tanah di kampus. Di atas terowongan ini adalah Jalan Tamansari yang memisahkan kampus ganesha dengan kompleks Sorga Sabuga. Sabuga hanya memiliki satu pintu keluar masuk yang sedikit curam ke bawah sekitar 100 meter ke barat dari gerbang utara kampus.

Sore itu, Jalan Tamansari ditutup. Gerbang utara ITB terkunci. Sistem perekonomian daerah Dago padam. Hanya untuk melewatkan “Sang Dewa” dan beberapa antek partai terkenal, sebut saja Demokrat. Meskipun begitu, jalan ini sangat padat dipenuhi oleh mobil-mobil dengan tempelan triagram merah di body nya. Karena macet, orang-orang partai itu pun jalan kaki dari jalan raya ke Sabuga. “Biar merakyat…,” teriak seorang aksiwan dari atas pagar gerbang utara utama kampus ganesha.

Gerbang itu, dasar dan puncaknya sudah dipenuhi oleh mahasiswa. Dengan spanduk bertuliskan “KAMPUS NETRAL HARGA MATI” dan lain-lain yang saya lupa, mereka memenuhi trotoar di Jalan Tamansari itu. Tepat satu meter di depan kami (Gile, ane juga ikut demo, akhirnya. Asik juga lho.) pasukan berseragam menghalangi akses kami keluar trotoar. Di sebelah barat sedikit, pasukan yang lebih seram bediri agak bergerombol mengenakan seragam hitam layaknya tentara gosong yang sedang gerilya. Mahasiswa dengan semangat meneriakkan “HARGA MATI” setelah komandan tertinggi aksi berteriak “KAMPUS NETRAL”. Komandan dan asistennya juga meneriakkan “AWAS PROVOKASI” saat hooligan dari massa HMI ditemukan hadir diantara kami. Pasukan ditarik mundur ke kampus saat ini terjadi.

Mereka sedang menunggu Sang Dewa datang dan memunculkan batang hidungnya di depan mereka.

Yah, Sang Dewa saat itu bukan datang sebagai seorang kepala negara, melainkan seorang yang mengemis untuk menjadi kepala negara. Orang-orang yang datang pada acara itu adalah orang-orang yang berhapan emisannya terjadi. Juga banyak simpatisan di acara tersebut yang mengemis untuk menjadikan partainya cukup berharga saat Sang Dewa naik kembali ke tahtanya. Yah, mental pengemis sangat kental saat pemilu berlangsung.

Entah apa alasan mereka memilih kampus Institut Teknologi Bandung sebagai tempat lompatan trajektor mereka. Kampus ini bukan kampus Demokrat bung! Apa gedung yang menarik hanya disini, di Bandung, di ITB?

Pejabat tinggi partai yang datang berasal dari banyak provinsi di Indonesia. Bahkan ada Gubernur suatu Provinsi datang tiba-tiba di acara ini hanya untuk bilang pak saya dukung Anda berdua. (Tontonlah berita TV yang meliput langsung acara ini saat itu untuk mengetahui info ini). Yah, kampus ini memang terkesan berpihak kepada “kubu biru”. Mengingat gelar Dr.HC jatuh ke pemimpin negara ini saat itu ketika Dies Emas ITB Berlangsung. Juga isyarat-isyarat lain yang menciptakan mitos bahwa Kampus Ganesha kampusnya Demokrat.
Saya kutipkan sebuah tulisan dari suatu komunitas kecil Blogger ITB, penaganesha.blogspot.com.

Sabtu, 2009 Mei 16

Kampus Kita Masih Hidup Kawan!

Hari ke-15 bulan Mei tahun 2009, hari itu hari jum’at. Dan hari itu SBY-Budi anduk, eh salah Boediono datang ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB untuk mendeklarasikann capres-cawapres. Hari itu saya UTS 2 kimia, dan hari itu kampus ITB mengatakan kesemua orang, bahwa kampus ini masih hidup!

Berita tentang SBY akan mendeklarasikan ke-capresannya sudah diketahui dari minggu kemarin. Tapi waktu itu sempat diundur karena beberapa hal, dan dipastikan SBY dan pasangannya akan mendeklarasikan pencapresan mereka di Gedung Sabuga. Sebelumnya ITB selalu diklaim mendukung SBY. Belum lagi pak rektor yang lagi senang-senang main politik praktis, dr.Hc untuk SBY, obral penghargaan saat dies emas ITB, tambah lagi dengan pernyataan salah satu alumni ITB di detik.com yang mengatakan mahasiswa dan alumni ITB dukung SBY. Tapi dari semua itu, kebanyakan mahasiswa ITB hanya diam. Bahkan saat ada salah seorang teman kami yang meninggal, ITB pun terus dicerca oleh pihak rektorat. Mahasiswa ITB? Hmmm… beritanya tidak terdengar ke media (saya tidak tahu apa saya yang kurang tahu)

Sabuga. Letaknya tepat di utara ITB, hanya dengan menyebrang jalan raya, kita akan sampai di pintu masuk sabuga dari gerbang utara ITB. Malah, sejak jaman pak Wiranto Arismunandar, rektor ITB dulu, sudah dibuat teknologi jembatan bawah tanah untuk lebih mudah sampai Sabuga.

ITB terhina? Nampaknya betul. Sudah gerah kampus ini dengan klaim-klaim tidak mengenakkan. Saat saya sedang ujian, sekitar pukul 16.00 WIB, dari ruang ujian saya (labtek FTI/ Benny subianto) terdengar orasi-orasi dan teriakan-teriakan para pendemo. Sekitar pukul 18.00 WIB, usai sholat maghrib dan canda tawa dengan teman-teman SAPPK, saya coba lihat ke gerbang utara, saya bertanya dalam hati, masih ada ngk ya demo? Rame ngk ya?

Terkejut mata saya saat melihat kerumunan anak ITB yang sedang berdiri di gerbang belakang, ramai-ramai dengan spanduk, menuntut netralitas kampus. Sesekali komandan pasukan berteriak, “KAMPUS NETRAL”, dan semua orang menjawab ,”HARGA MATI!”

Oh god! Inilah suara anak ITB. Suara kampus ITB. Suara yang tidak pernah saya dengar selama 9 bulan saya kuliah di kampus ini (pertama kali saya ikut aksi baksil dengan mahasiswa ITB pula). Kampus ini masih hidup kawan! Semangat kampus ini masih ada! Salah kalau orang bilang ITB belajar terus. Salah! Karena semangat kampus ini masih ada! Kampus kita masih hidup kawan!

Kutipan ini (lumayan) benar. Kampus ini mulai bangkit. Tidak, kampus ini harus bangkit. Kampus ini harus bisa menjadi kampus yang mahasiswanya dulu membentrokkan diri dengan angkatan bersenjata paling elit di Indonesia. Kampus yang dulu diserang militer. Kampus yang dulu mahasiswanya berani mengambil resiko dipecat semua angkatan. Kampus yang berteriak kepada junta militer paling disegani di Dunia. Kampus tercabik-cabik sehingga kehilangan taringnya berpuluh tahun harus mulai membuka matanya.

Kampus ini harus dapat bangkit. Kampus ini harus dapat menghapus mental-mental pengemis yang mereka dan rakyat mereka miliki. Kampus ini harus dapat bangkit meski dalam bentuk lain. Kampus ini harus mengubah Indonesia menjadi tempat yang lebih baik. Kampus ini dan seluruh kampus di Indonesia harus dapat sekali lagi bersatu menciptakan Indonesia menjadi tempat yang lebih baik.

Pada akhirnya Sang Dewa memilih jalan lain. Dia tidak lewat gerbang yang diduduki oleh mahasiswa ITB. Dia lebih memilih lewat Barat, jalur yang tidak sedang diduduki sang guardian of value. Dia memilih untuk diam, dan diamnya dia berarti diamnya negeri dan juga media.

4 Comments

  1. Ping-balik: Bedebah Berprotokoler | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: SBY Datang (Lagi?) « Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: SBY Datang (Lagi?) « Blog Kemaren Siang

  4. nama sebenarnya says

    silahkan baca kitab penjelasan Syarhus sunnah karya syaikh ahmad bin yahya an najmi, terbitan maktabah al ghuroba, insyaAllah bermanfaat, .. karena disitu dijelaskan tentang pemimpin kaum muslimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s