Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang
Realita lapangan mengenai perbedaan pendapat ttg berbagai topik halal haram makanan di Jepang.
Realita lapangan mengenai perbedaan pendapat ttg berbagai topik halal haram makanan di Jepang.
I want to discuss how varied the opinion of individual muslim communities regarding halal and haram status of foods in Japan. However, it is not the goal of this article to give a guidance or even fatwa such as “this kind of foods are halal and that kind of foods are haram”. No. I wish to focus on real facts, grass-root level facts, that this level of variation in opinion and consideration, the whole spectrum exists. Bahasa Indonesia tersedia di artikel sebelah. I wish to give insight to any brother and sister outside Japan who wants to visit or move here. And possible invite discussion from brother and sister who live in muslim minority nations, whether the same phenomenon also exists over there or not, and how to face such differing in opinion. The readers should be able to judge one opinion and the others by themselves. And then search for logics, details, or dalils to support the opinion also by themselves. This article will not provide any scholarly argumentation, verses, fatwa, or rule on any …
Tentang langgar sekulaku, kisah bagaimana kita bisa sampai disini, dan bagaimana kita harusnya di depan.
Suatu hari, saya di kantor ngobrol panjang dengan teman semeja. Sangat jarang lho di Jepang ngobrol pas lagi suasana kerja. Waktu itu temanya tentang… Jeng jeng jeng… Anime jaman dulu, dragon ball, sailor moon, card captor, doraemon, dll. Juga hobi koleksi stiker Bikkuriman salah satu senpai. Dan setelah ngobrol ngalur ngidul, nyerempet juga ke Trump dan politik jepang. Saya cerita ke mereka. Kalau di Jepang, ketemu orang atau temen di jalan ngomongnya cuaca kan yak? Ya nggak juga lah, jawab temen saya di sebelah. Ternyata bayangan saya berbeda dg kenyataan. Terus saya melanjutkan, ngomongin politik nggak? Kalau orang Indonesia, ketemu temen atau orang nggak dikenal di jalan, politik terkini biasa jadi obrolan. Setidaknya half of the time lah. Di Jepang? Nggak ada topik politik yang bisa diomongin, katanya. Kehidupan politik dan kehidupan mereka seperti kankenai, nggak ada kaitannya. Setidaknya menurut mereka gitu. Mungkin mereka sudah sibuk dan pusing dengan urusan sekolah atau kantor kali ya. Menurut teman saya itu, orang Jepang tidak memiliki ekspektasi apa-apa ke para pejabat dan pemerintah. Apa mau mereka terserah lah, gitu mungkin ya. …
Ada perbedaan arti Hmm dalam bahasa Indonesia dan Jepang. Atau setidaknya, interpretasi dari bunyinya. Juga ada perbedaan antara Hmm, Hmf, Eetoo, dan Fumufumu.
Cuma mau pamer foto meja kerja saya di lab waktu kuliah master di TUT. Setahun terakhir sebelum lulus, kira-kira beginilah pemandangan tempat nongkrong saya. Dalam satu waktu, harus bisa memantau tujuh layar sekaligus. Ketujuh layar tersebut adalah: Laptop pribadi, pekerjaan utama disimpan disini, ngelatex juga disini. PC Lab, sebagai server yang dipake buat riset tesis. Laptop i7 Lab, saya suruh kerja rodi learning sama testing macam-macam. PC Lab 2, nganggur pas Mas Igi lulus, daripada nggak dipake kan, mending buat bantu si laptop i7. Monitornya kadang buat extend laptop pribadi. Tablet, buat ngoding aplikasi android dan mengambil gambar muka sendiri Hape, nyetel Man with Mission atau One OK Rock dari yutub, atau Crash Course atau Kurzgesagt atau PBS Space Time, dkk. Epson, layar off-screen (foto di atas ya layarnya), buat ngambil gambar muka orang. Note: Foto diambil dengan Epson Moverio BT-200 (Smart-glasses), yang mengambil foto juga tampak di tablet. Foto agak burek karena si printer kacamata cuma punya kamera dengan resolusi VGA. Oh ya, pada konstelasi meja kerja di atas ada empat PC yang mesti dioperasikan antar sesama. Penasaran biar nggak repot kebanyakan mouse/keyboard? …
Satu hal yang saya temukan unik di Jepang adalah penggunaan tronton sebagai baligo berjalan. Seperti di foto di atas, si tronton ini dicat penuh dengan iklan. Kemudian si tronton kerjaannya hanya muter-muter wilayah pusat kota dengan lambat. Berjalan dengan sangat lambat. Kalau bisa kena lampu merah di setiap persimpangan, dia akan melakukannya. Pertama kali saya melihat truk semacam ini, di Tokyo, iklan yang ditayangkan di truk adalah iklan sebuah grup band lokal atau grup idol. Foto membernya terpampang raksasa di bak putih tronton. Yang lebih unik bukanlah gambanya. Melainkan si truk juga menyetel lagu keras-keras. Lagu si band tersebut. Namanya juga iklan bukan? Jadi ya, yg diiklankan apa lagi kalau bukan lagu si grup band. Nggak mesti grup band, produk lain juga bisa diiklankan di tronton ini rupanya. Dan tentu saja, pakai suara-suara juga dong. Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini di Indonesia. Mungkin saya kurang gaul aja kali. Setidaknya di Bandung saya belum pernah lihat. Ada nggak ya di Indonesia? Jika nggak ada, wah mungkin ini peluang bisnis tuh! Kalau di Bandung, diputer-puterin …
Entah perasaan saya aja atau gimana ya, saya merasa kalau sikat gigi di Jepang itu kok kawai-kawai gitu… Bukan gambar atau disainnya lho ya. Ukurannya. Kecil-kecil gitu. Rasanya beda jauh dengan memakai sikat dari Indonesia. Agak nggak nyaman jadinya kalau dipakai. Awal-awal di Jepang, memakai sikat gigi imut ini sering kali merah-merah manis keluar dari gusi saya. Ada juga sih ukuran yang lebih gede dari ukuran mainstream. Namun, jadi bukan memanjang, malah melebar jauh. Gemuk gitu…. Di gambar atas bisa diamati perbedaan antara sikat gigi di Jepang dan Indonesia. Tiga sikat gigi di kiri dibeli di Jepang. Sikat gigi paling kanan dibeli di Indonesia. Yang kedua dari kanan dikasih sama Singapore Air, jadi mungkin standar di Singapore kali lah ya. Sikat gigi Singapore kurang lebih berukuran sama dengan Indonesia. Saya sengaja beli sikat dengan merek yang sama. Systema. Di Indonesia ngimpor juga mereka. Tampak jelas kalau sikat gigi di Jepang cenderung lebih kecil. Ukuran yang paling banyak ditemukan bisa sampai separuh dari ukuran sikat gigi di Indonesia. Hm Hm… Mulut orang Jepang kecil-kecil atau biar hemat pemakaian …
Technically, starting yesterday. January 20th, 2017. The start of reigning era of the exalted beloved great emperor, Donald Trump. The era of despair. Just like the stage of a screenplay, the three act, we start the adventure act with HOPE. Eight years ago. When the protagonist get the initiative and the reader, the world, feels hope. But, this act usually ends with a low note. The villain gets the upper hand. The reader fears and the hero despairs. Just like that, now we are in the stage of DESPAIR. However, if this follows the three act structure, the hero will stand up again. He will get his CONVICTION. And in the final stage, justice will prevail. Kidding aside. Saya mengikuti berita politik di US dua tahun belakang, bahkan lebih dari berita politik dari negeri saya sendiri. Yah, meskipun saya melihatnya lebih banyak dari kacamata late show comedy, seperti The Late Show with Stephen Colbert dan The Daily Show with Trevor Noah. Atau biasa dikena dengan perspektif libtards oleh orang-orang Amrik. Perspektif orang liberal retards. Yup saya orang liberal, …
Awal tahun kemaren saya iseng lewat Chubu Centrair International Airport, kebetulan aja dari jalan-jalan ke Indonesia/Singapur, nggak ada salahnya mampir ini bandara. Baru keluar dari terminal kedatangan, seseorang berjas rapi mendatangi saya dan menyapa dengan sopan. Mas-mas, orang mana mas? Anu, saya ini polisi nih… Boleh ngobrol sebentar nggak… Kira-kira begitulah kalau di Indonesiakan ya… Polisi ternyata. Tapi berpakaian p̶r̶e̶m̶a̶n̶ jas. Beliau memperkenalkan diri, kemudian menanyakan asal saya dari mana, ada urusan apa di Jepang. Sambil obrolan mengalir minta saya menujukkan kartu identitas, kalau boleh, katanya. Nama perusahaan saya kerja. Pergi ke masjid atau nggak. Dan lain-lain. Eh, kerja toh? Dulu lulus dari Toyohashi… Hm hm. Tinggal di Nakaku? Wah tahu itu dong, Mabes Polisi Nagoya yg di Nakaku. Pasti sering ke supermarket Yamanaka yak?? Polisinya ramah dan asyik. Saya tidak merasa risih atau terancam. Cuma capai aja setelah perjalanan lebih dari 36 jam. Yang saya rasakan obrolannya yaa kayak kita, orang Indonesia, kalau ketemu dan menyapa orang tak dikenal di jalan. Bedanya, orang tak dikenal ini kepo banget dan sambil mencatat apa yang diobrolkan. Di …