In Japan
Comments 37

Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP Kemenkeu RI

Saya akan menceritakan tentang Beasiswa Pendidikan Indonesia atau lebih dikenal dengan Beasiswa LPDP. Sebenarnya situs resminya ada, yaitu beasiswalpdp.org dan lpdp.depkeu.go.id. Akan tetapi, informasi di sana kayaknya kurang lengkap. Saya akan memberikan informasi yang saya tahu yang mungkin tidak ada disana. Tujuan saya menulis artikel ini adalah tentu supaya teman-teman banyak yang tahu ttg beasiswa LPDP ini, dan mendaftar. Promosi.

Nama resmi beasiswa magister dan doktor yang diselenggarakan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ini adalah Beasiswa Pendidikan Indonesia, sesuai petunjuk dari menteri. Bukan beasiswa LPDP. Tapi keduanya memang agak kurang catchy ya namanya, dibanding Dikti, Bius, Bidik Misi, Fullbright, Monbusho/MEXT, Erasmusmundus dan nama-nama unik lainnya. Mungkin nanti diganti dengan yg lebih menarik, misal beasiswa Cakrawala atau Angkaramurka gitu.

Beasiswa ini diambil dari sebagian dana abadi pendidikan yang disisihkan dari 20% anggaran pemerintah. Sebagaimana namanya, dana abadi pendidikan disimpan untuk masa depan. Terus, setelah sekian tahun (saya lupa dari tahun berapa) disimpan kok malah makin banyak. Tidak termanfaatkan. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah lembaga bernama LPDP untuk mengelola dana pendidikan ini. Salah satu programnya adalah BPI.

lpdp

Update 2015: Sistus beassiwalpdp.org sudah tidak aktif, diganti lpdp.depkeu.

Angkatan dan Alur Seleksi

BPI dibuka lembut pada bulan April 2013. Sampai sekarang (September) sudah ada 5 angkatan penerima, katanya sih 1000 orang (tepatnya saya lupa, buku catatan saya sudah dikirim pulang nih). Lalu timbul pertanyaan. “Angkatan” disini maksudnya apa?

Alur seleksi BPI adalah seleksi berkas via web -> wawancara -> pengayaan. Setelah lolos tiga seleksi tersebut, baru status kita diubah menjadi grantee. Nah, angkatan adalah jumlah pengayaan alias program kepemimpinan yang diadakan.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada jadwal khusus untuk seleksi BPI. Ini mungkin sisi jeleknya atau bagusnya. BPI mengklaim menerima pendaftaran beasiswa sepanjang tahun, ditandai dengan pemasukan berkas via web. Berkas ini kemudian akan dicek kelengkapan dan diseleksi. Jika lolos akan diundang untuk wawancara.

Nah, wawancaranya ini yang repot.

Tidak dikemukakan dengan jelas titik-titik kapan wawancaranya. Bisa tiba-tiba dapat email aja, harus wawancara tanggal sekian. Di web di atas pun tidak ada ancar-ancar, kapan saja diadakan wawancara. Wawancara diadakan di banyak kota di Indonesia, yang saya tahu Jakarta, Jogja, Makasar. Nggak tahu apakah sudah nambah atau belum kotanya. Sekali lagi, informasi seperti ini tidak dijelaskan di web.

Pada saat wawancara, kita dihadapkan oleh 3 orang. Satu orang psikolog dan dua sisanya doktor/profesor. Saat saya diwawancara, saya ditanyai “apa kelebihan dan kekuranganmu” oleh psikolog. Pertanyaan normatif yang sangat saya benci. Jadinya saya sulit menjawabnya, tidak lancar, cuma bisa kekurangannya saja. Namun, pada saat berwawancara dengan bapak yang dua lagi, obrolan kami mengalir. Jadi seperti diskusi bukan wawancara. Sempat membicarakan mana bagusnya pragmatis vs idealis pula dengan kasus hipotesis saya ditawari kerjaan dari Jepang saat lulus S3 kelak. Waktu itu saya jawab dengan jujur “pragmatis” dulu (cari duit-kerjaan-membangun link drpd kembali di Indonesia nggak ngapa-ngapain), sehingga ada modal untuk melaksanakan idealisme kelak. Mungkin kapan-kapan saya buat artikel sendiri ttg wawancara saya ini.

Setelah lolos seleksi wawancara, kita akan menunggu lagi sampai waktu yang tidak ditentukan (kemungkinan satu sampai dua bulan) sampai diberitahu jadwal pengayaan terdekat. Soal persyaratan ikut pengayaan terjadi perbedaan beberapa kali. Untuk batch 3 dan 4, peserta harus sudah mensubmit LoA (Letter of Acceptance) supaya boleh ikut. Nah, untuk batch selanjutnya baik peserta yang sudah punya LoA maupun belum juga disuruh ikut.

Setelah lolos pengayaan barulah kita dianggap sebagai grantee. Jika sudah mengirim LoA, langsung tanda tangan kontrak. Jika belum, ditunggu setahun. Kalau setahun nggak dapat LoA juga, harus ikut prosedur pendaftaran beasiswa dari awal. Saya termasuk yang kasus kedua.

Oh ya, pengayaan untuk tahun ini dengar-dengar sudah terjadwal semua untuk peserta yg sudah lolos wawancara. Kalau tidak salah, batch 6 itu Oktober dan batch 7 setelahnya. Nah, itu artinya batch selanjutnya akan dilaksanakan tahun depan. Jadi silakan Anda yang mau berangkat awal tahun depan mempertimbangkan sempat tidaknya. [NB. Lagi-lagi, informasi ini tidak tersedia di halaman resmi manapun]

Letter of Acceptance, Top 20 Universitas, dan Pindah Tujuan

Perlu dicatat bahwa LPDP adalah sponsor yang mendanai kuliah kita. Kuliahnya dimana? Nah, itu terserah kita. Mau dalam atau luar negeri. Selama ada di daftar LPDP, boleh dipilih. Kemudian, kita harus mencari Letter of Acceptance alias LoA, sebuah surat yang menegaskan kalau kita diterima di universitas tujuan sebagai mahasiswa magister/doktor. LoA boleh dicari sebelum atau sesudah mendaftar LPDP. Setelah lulus juga boleh, diberi kesempatan sampai dengan 1 tahun setelah tanggal dinyatakan lulus pengayaan. Nah, yg ditebalkan tadi kurang jelas tuh di webnya.

Kemudian, LPDP juga mendorong mahasiswa Indonesia untuk bukan sekedar belajar di luar negeri tetapi juga masuk ke kampus terbaik dunia. Oleh karena itu, LPDP akan memberi insentif $5000 untuk penerima beasiswa yang mendapatkan LoA dari kampus 20 terbaik dunia. Kampus mana aja? Menurut QSWorld University Ranking kalau tidak salah, tetapi ada batasan-batasan jurusannya. Jadi kalaupun masuk Harvard tetapi jurusan sastra arab tidak dapat bonus juga. Batasan jurusannya bagaimana, itu yang belum dipaparkan oleh pihak LPDP.

Nah, anehnya, kalau LPDP mendorong mahasiswa untuk berlomba-lomba masuk ke universitas top twenty, informasi ini tidak dipajang dimana-mana. Setelah pengayaan baru diberi tahu. Bukannya harusnya ini dipajang besar-besar di halaman web Beasiswa Angkaramurka eh Beasiswa Pendidikan Indonesia ini?

Jika kita sudah dapat LoA dari univ tertentu, kita juga boleh kok pindah ke univ lain (tapi ya cari LoA lagi dari sana). Bisa dengan syarat tertentu. Salah satunya adalah tidak down-grade, katanya. Yang tadinya daftar magister dalam negeri pindah ke luar negeri juga boleh. Asal tadi itu, tidak down-grade. Namun, down-grade juga kayaknya boleh sih jika mendesak. Ketua angkatan saya pindah dari The University of Tokyo ke Tokyo Insitute of Technology. Masalahnya adalah, di Todai mahasiswa harus ikut Research Student dulu 6 bulan. Sedangkan LPDP hanya membiayai selama 24 bulan kuliah, RS tidak dibiayai. Terpaksa dia pindah deh.

Kalau kasusnya Sandwich atau double degree gimana? Boleh juga. Cuma prosedurnya detail dan efek ke pembiayaan yg diterima gimana saya juga tidak tahu. LPDP juga masih agak ragu menjawabnya soalnya ada tiga kasus: Dan ada tiga kasus: dalam-dalam, dalam-luar, atau luar-luar. Sebaiknya dari awal sudah  bilang kalau mau double degree, biar jelas informasinya.

LPDP: Beasiswa Penuh dan Teknis Pemberian Beasiswa

“Beasiswa LPDP adalah full scholarship“, katanya. Saya sendiri tidak yakin dengan yang dimaksud full scholarship itu yang mana. Wong, kata teman-teman, kalau beasiswa sudah membiayai kuliah + hidup itu sudah dianggap full. Kalau begitu anggapannya, beasiswa LPDP adalah very-full scholarship. Yang dikover adalah biaya kuliah (dan pendaftaran), biaya hidup, biaya buku, biaya jurnal, biaya pindah (settlement), biaya trasnportasi (dan visa), biaya kesehatan, dan biaya jurnal/tesis serta tunjangan keluarga. Waw! Cukup menggiurkan sebenarnya, kan?

Sayangnya saat diskusi ttg hal ini, banyak peserta yang masih menanyakan komponen biaya lain yg aneh-aneh seperti MCU untuk visa lah, kirim dokumen ke luar negerilah, apa lah. Agak sedih juga saya, atau malu? Manusia (atau orang Indonesia, biasalah…) memang tidak pernah puas. Saya yang cuma dapat biaya kuliah+hidup saja sudah sangat bersyukur.

Teknis pemberian beasiswa baru dipaparkan dengan jelas saat pengayaan berlangsung. Tidak ada di web. Saya tidak mungkin menjelaskan semua disini, tapi secara umum teknisnya adalah sebagai berikut.

LPDP akan membuatkan kita rekening, sementara ini katanya BRI. Nah loh, kalau ke luar negeri gimana? Mata uangnya? Katanya, sementara ini karena satu dan lain hal, uang ditransfer ke rekening dengan rupiah (karena BRI kan) diekivalenkan nilainya dengan kurs BI (biar paling mahal jadi siswa tidak rugi). Tidak langsung ke mata uang negara tempat kita berada.

Nah, terus ngambil uangnya disana gimana? Don’t ask me please. Di sebuah grup whatsapp Jepang, diskusi ini masih hangat. Salah satu cara adalah dengan meminta sodara di Indonesai kirim via Remittance, tapi kena cas dong pastinya. Minimal Rp400.000,- lah. Atau mengambil uang langsung dari ATM berlogo MasterCard/Visa disana. Kena casnya berapa, saya kurang tahu juga. Repot juga ya?

Nah itu untuk biaya hidup. Kalau biaya-biaya lain beberapa ada yang dibayarkan ke rekening juga. Bisa dengan sistem reimburse atau invoice. Yang pertama ya kita bayar duluan terus diganti oleh LPDP dengan menunjukkan kuitansi. Yang kedua, kita menunjukkan lembar tagihan lalu langsung dibayar ke yang bersangkutan, universitas untuk biaya kesehatan misalnya. Untuk transportasi, LPDP menunjuk travel agent tertentu untuk memesan pesawat. Yang dibayarkan hanyalah dari kota kita sampai ke bandara terdekat di negara tujuan, jadi kalau harus naik kereta lagi tidak dibiayai. Kalau mepet, bisa juga sistem reimburse.

Karena LPDP menerima pendaftaran untuk (hampir) seluruh tujuan universitas di dunia, teknis ini jadi agak rumit. Pertama, keberangkatan orang beda-beda dan kadang tidak match atau mepet dengan jadwal pengayaan. Kedua, mata uangnya beda-beda. Karena lembaga ini masih baru (belum satu semester) menangani beasiswa, mereka masih belajar. Mohon bersabar dan harap maklum saja.

Pemantauan nantinya akan melalui web, katanya. Tapi sistemnya masih dibangun. Jadi kalau mau submit invoice kuliah, dll via antarmuka yang disediakan. Oh ya, setiap komponen biaya ada prosedur masing-masing dan batas waktu pemberian invoice. Misalnya, biaya kuliah akan dibayarkan seminggu (hari kerja) setelah dikirim invoice. Jadi harus lihat-lihat juga deadline bayar uang kuliah kita, harus laporan minimal 2 minggu (hari normal) sebelumnya tuh.

Saya dan Pengayaan Batch V

Pengayaan batch lima atau Angkatan V diadakan pada tanggal 3 September sampai 14 September. Lokasinya sebagian besar di Wisma Gumati, Bogor. Juga berkunjung ke Lanud Halim Perdanakusuma bersama TNI AU selama dua hari. Dan juga ke bumi perkemahan [yg saya lupa namanya] di Gunung Salak.

Sebentar, kenapa ada kata saya di seksi ini? Untuk menjawabnya, saya harus memberi artikel komplemen Mezase! JAPAN. Silakan membacanya…

Intinya adalah, sebelum undangan pengayaan saya terima (undangan saya terima empat hari sebelum hari pertama pengayaan -.-), saya mendapat kabar gembira lain dari beasiswa lain yang saya ikuti yang saya sudah gagal. Saya gagal masuk menjadi 10 orang penerima beasiswa Aichi Prefecture tersebut. Nah, jadilah saya ikut LPDP. Namun, tiba-tiba seminggu setelah lebaran datanglah email yg menginfokan bahwa ada satu orang penerima beasiswa yang mengundurkan diri. Saya ditawari deh… Ding dung… Galau.

Singkat cerita, lengkapnya baca di  Mezase! JAPAN, saya pun menerima tawaran tersebut. Jadinya, saya tidak lagi harus mengikuti prosesi LPDP selanjutnya, karena saya sudah dapat beasiswa lain.

Lalu kenapa saya ikut Program Kepemimpinan Batch V LPDP juga? Mohon maaf untuk teman seangkatan PK LPDP V, terutama dari kelompok saya Dusun Gembira karena saya tidak menceritakan informasi ini. Hanya kepada Mas Agus Muhtar saja saya bercerita. Gomennasai…

Alasannya, tidak lain karena saya ingin bertualang. Mendapatkan kenalan baru, komunitas baru. Melihat-lihat sampai akhir bagaimana sih sebenarnya LPDP itu, supaya saya nanti bisa bercerita ke orang lain dan melaporkannya di blog ini. Saya juga ingin menerima perbekalan yang sama seperti peserta LPDP lain. Belajar jadi pemimpin lah. Soalnya beasiswa yang memberikan Program Kepemimpinan yang saya tahu ya cuma LPDP ini. (Sebenarnya saya pengen naik kapal perang dan keliling-liling, tapi ternyata mainnya ke TNI AU bukan AL.)

Alasan lainnya juga sebagai Plan B untuk tahun depan. LPDP LoA ditunggu setahun kan? Karena beasiswa Aichi Prefecture ini memiliki save point setelah 6 bulan menadi Research Student, yakni di bulan Maret, harus ikut ujian masuk S2. Kalau lulus, diperpanjang beasiswanya untuk 2 tahun sebagai Master Student. Jika gagal, pulang. Nah, LPDP bisa menjadi Plan B saya supaya tidak terlalu jauh menunggu lagi. Dan waktu yg tersedia untuk menuntaskan proses hanya Batch V ini saja, beruntung sekali saya.

Saya mengikuti Program Kepemimpinan Batch V LPDP bukan tanpa risiko. Waktu dua minggu itu adalah waktu yang sangat berharga untuk berkoordinasi dengan pihak jepang mengenai keberangkatan saya dan nasib saya disana. Kalau saya melewatkan satu email dan ternyata disuruh mengirim suatu dokumen bertanda-tangan via pos kesana, kan bahaya. Kejadian tuh sekali. Deg-degan juga…

Oh ya, saya tidak (dan tidak akan) mengaktifkan dua beasiswa pada satu waktu loh ya. Jadi saya pikir, tidak ada peraturan dari kedua belah pihak yang saya langgar. Insyaallah.

Oke, sekarang cerita ttg Pengayaan Batch V-nya.

Sekilas Tentang Angkatan V

Cerita lengkap Potongan mozaik tentang Angkatan V ini dapat dibaca di blog lpdpv.wordpress.com. Ini adalah blog kami mengumpulkan tugas resume dan kultwit saat pengayaan berlangsung. Isinya ya tentu, resume dan kultwit ttg materi hari itu.

Angkatan V disimulasikan sebagai sebuah desa yg ingin menuju desa idaman. Memiliki perangkat desa berupa pasangan pemimpin Paku – Pak Kuwu dan Buku – Bu Kuwu. Juga sekretarisnya Ulis. Desa terdiri dari dusun-dusun, manifestasi dari kelompok di angkatan. Desa juga memiliki prasasti yang mencatat kejadian-kejadian yg terjadi pada desa, nah blog tadi tuh.

Desa kami bernama Desa Bhinneka. Saya masuk ke dalam Dusun 3 – Dusun Gembira (Gerakan Membangun Indonesia Raya). Anggotanya 10 orang dan difasilitatori oleh Mbak Maya. Berikut wajah warga dusun 3:

Dusun 3 - Gembira

Dusun 3 – Gembira

Kami sampai tanggal 3, acara mulai tanggal 4 di Wisma Gumati. Hari pertama (4 Sept) kami bertemu dengan WamenPAN. Hari kedua kami langsung pindah tempat ke Wisma AURI. Walaupun judulnya “wisma”, kami sebenarnya tinggal di tenda tentara, di Marshalling Area Lanud Halim PK. Tempat para tentara misi internasional biasanya dikarantina sebelum berangkat. Di sini kami berinteraksi dengan tentara TNI AU dan mendapat pencerahan mengenai kegiatan TNI AU. Sempat juga kami berkeliling melihat hangar dan pesawat TNI AU di dalam Lanud Halim, tempat yg tidak setiap orang boleh datangi. Bahkan 6 orang terpilih di angkatan kami mencicip helikopter super puma yg tugasnya mendukung kegiatan RI1. Keren ya? Jadi iri.

Dua hari di Lanud Halim PK, kami langsung pindah ke Gunung Salak naik tronton. Di sana kami kemah selama dua hari juga. Di hari kedua, Minggu (8 Sept) kami naik ke Kawah Ratu Gunung Salak. Lumayan pemandangannya… Lumayan berasap.

Rombongan Desa Bhinneka di Gunung Salak

Rombongan Desa Bhinneka di Gunung Salak

Nah, seminggu sisanya Senin (9 Sept) sampai (13 Sept) kami kembali sesi dalam ruangan di Wisma Gumati. Bertemu pembicara-pembicara keren kayak Shofwan Al Banna, Ahmad Fuadi. Juga mengikuti Social Creative Competition berupa lomba kegiatan sosial dengan waktu dan persiapan yang terbatas. Hari Kamis kami juga Company Visit ke World Bank, mendengarkan bahasan membosankan ttg keuangan makro. Kemudian sorenya nonton Merah Putih dan Talkshow dengan Tora Sudiro Lukman Sardi. Jumat kami belajar main angklung setengah hari.

Sabtunya kami penutupan di Gedung Kemenkeu sambil perform hasil latihan angklung kemaren. Kemudian pengumuman kelulusan, semua lulus dong. Waw! Hampir semua tidak lulus karena uniknya angkatan ini yg berani membantah panitia (lain kali saya ceritakan), tapi akhirnya semua yg hadir Alhamdulillah dinyatakan lulus.

Hmm.. Sepertinya itu sekilas kegiatan Program Kepemimpinan V kemaren. Mau diperpanjang ceritanya takutnya terlalu (sangat super panjang, kan 12 hari!). Keluar konteks juga dari artikel ini. Lain kali aja deh ya kalau saya lagi pengen cerita.

Saran dan Kritik

Saran saya untuk LPDP cuma satu sih, masalah informasi. Ketidakjelasan adalah sumber petaka.

Harusnya ketika punya media publikasi, segala informasi yang berkaitan bisa dipaparkan dengan setransparan mungkin. Jadi calon penerima dan penerima bisa lega dan tidak harus menelpon/mengirim email yang tidak pernah LPDP balas itu (karena saking banyaknya, sebenarnya ini kritik juga, harusnya LPDP bisa mempekerjakan 20 orang yang tugasnya sbg customer service).

Kemudian masalah penyampaian informasi dengan peserta baik saat wawancara, pengayaan, maupun setelah jadi penerima. LPDP masih menggunakan email gmail, seperti lpdp.dpk2@gmail atau lpdp.programkepemimpinan@gmail.com. Masa sih, lembaga sebesar LPDP yang menangani uang milyaran per tahun untuk beasiswa tidak bisa menyewa orang IT yang bisa membuatkan email dengan domain lpdp.depkeu.go.id, atau sekalian membuat web di domain lpdp.go.id begitu. Gampang kok.

Memang masalahnya dengan email gratis apa? Selain masalah harga diri, faktor keamanan jadi sangat terganggu. Misal saya membuat akun lpdp.angkatan.baru@gmail.com dan mengirim email ke orang yang mendaftar LPDP terus saya minta macam-macam, berkas apa atau ketemu dimana, kan bahaya…

Buat web, sistem pendaftaran, dan sistem pemantauan yg bagus juga seharusnya bisa disatukan dengan sarana email tadi. Saran saya, kalau mau gampang: buka aja pendaftaran sistem IT ke fresh graduate ITB gitu, atau datangi saja Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, pasti dicarikan orang yang kompeten.

Akhir Kata

Pada akhirnya, saya mengajak teman-teman untuk mencoba Indonesia Scholarship Fund ini.  Selama ini, alur yang saya lewati sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Baik pas daftar di web (masa kolom IP harus integer, nggak boleh float, dbuletin ke atas getoh? IP guweh papat dong,,,), pada saat wawancara (yg mengobrol idealis-realistis santai-setius-kocak), dan terlebih lagi saat pengayaan (bersama teman-teman). Asyik lah.

Jarang-jarang ada sistem beasiswa yang cakupan universitasnya luas, komponen beasiswanya banyak, dan fleksibel seperti beasiswa LPDP ini. Dan dibiayai oleh pemerintah sendiri loh. Disertai pula Program Kepemimpinan. Juga bonus idealisme+nasionalisme untuk pembangunan bangsa. Kombo.

Cari universitas atau negara yang biasanya langka beasiswa. Misal Inggris. Kalau perlu targetkan yang 20 besar dunia tadi, biar dapat bonus lagi. Cair kan… ^^

Soal teknis dan informasi yang belum lancar harap dimaklumi saja. 1) Sudah biasa, pemerintah.  2) Memang lembaga ini masih belajar untuk manajemen beasiswa dan butuh dukungan banyak pihak. 3) Target penerimanya ribuan per tahun, pasti ribet tuh. Jadi siap-siap saja di bagian situnya. 4) Saat ditanya “kenapa bagian ini kurang/sulit”, pasti dijawabnya “kalian itu pemimpin, harusnya mikirin solusi bukan menuntut saja.” Hmff… Orang Indonesia, biasa… Semua menuntut dilayani, bukan melayani. Bahkan dengan melempar balik kata-kata bahwa kita itu harus melayani, bukan menuntut dilayani. Hmff…

Habis. Semoga Bermanfaat.

37 Comments

    • linda says

      Ak mau nanya ne., jika kt blum dpt LoA nya, smentara kt ud lulus beasiswa,, brapa % kmungkinan ga lulus di kampus? Menurut pnglaman mas bnyak ga tmen mas yg ga lulus di kmpus?

      • Berapa %? Nggak tahu ya, kayaknya ga ada penelitian ke arah sana deh. Yg jelas beasiswa dan univ ini terpisah jadi hampir tidak saling memengaruhi. Tapi setidaknya univ tahu kalau calon siswa ini ga bakal kesulitan soal dana, apalagi untuk univ di luar negeri yg kebanyakan tidak menerima mahasiswa asing dg private fund, ini cukup membantu.

  1. senja nindie says

    Asalamulaikm. kak boleh minta contoh essi atau contoh berkas apa saja yg dulu pernah kk persiapkan sehingga bisa lolos. apakah TOEFL itu wajib ya ka. mohon share bisa via email saya senjadikalahujan@gmail.com . terimaksih seblmnya

  2. edwin says

    salam kenal bro, artikel yang sangat baik…..
    sy tidak mengerti dengan teman2 yang berikan pertanyaan2 diatas untuk mas, sebenarnya mereka mengerti tentang isi dari artikel ini atau tidak “???”, soalnya yang saya tanggap kalau tidak salah, selain mas ini kecewa dengan lpdp, tetapi mas mau ikut masuk lebih jauh kedalam sehingga tau apa yang terjadi, dan akhirnya ada pada tulisan mas diatas, yang baiknya mas tidak cemoh itu lpdp tetapi mas carikan solusi lewat saran dan kritik untuk lpdp, menurut saya mas ini cukup baik….
    kalau menurut saya, (1) teman2 yang mau daftar lpdp sebaiknya pikir2 dulu, karena waktu untuk kulia s2 hanya 2 tahun, sementara hampir satu tahun lebih beasiswa lpdp belum juga cair. (2) ganti dengan beasiswa lain saja ‘lpdp? rumit urusannya’ lalu belum tentu dapat. (3) perlu KPK periksa, ada apa dengan lpdp selama ini.

  3. Halo mas salam kenal, saya kandidat calon penerima beasiswa yang baru lolos tahap wawancara. saya ingin pindah universitas tujuan. dapatkah menshare surat perpindahan universitas yang diajukan ke lpdp?

    • Halo salam kenal juga. Mohon maaf, saya tidak pernah mengajukan perpindahan univ, jadi tidak punya suratnya.
      Setahu saya cuma pernyataan aja, kita mau pindah dari mana kemana, udah disetujui profesor belum, dan apa alasannya.
      Atau saran saya datangi aja langsung gedung lpdpnya di lapangan banteng.

  4. habib yan hasz says

    terimakasih atas info nya. saya mau daftar nih di S3 disitu tertera IPK 3.25 kalau IPK 3.22 bisa lolos tidak ? makasaih jawabannya?

    • Saya tidak tahu karena saya bukan panitia LPDP. Sebaiknya tanyakan langsung ke panitia.

      Tapi menurut saya, ikuti aja syarat apa yg tertera disana dan kalau ragu ya tanyakan, kalau nekat ya daftar saja.

  5. meliana says

    shallom.. mau tanya, biasanya kalo misalkan sdh selesai seleksi administrasi, di profil lpdp kita statusnya ada keterangannya atau ngga sih?
    soalnya aku daftar tgl 1 januari kmrn, dan skrg udah ada pengumuman yg lolos seleksi administrasi periode 27 november 2013 – 3 januari 2014, aku lihat namaku ngga ada. nah, apa berarti aku ngga lolos? atau mungkin blm diperiksa?
    soalnya aku cek tiap hari profilku ngga ada yg berubah.
    thank you

    • Hm, di profil lpdp yg daftar web setahu saya tidak ada status apa-apa. Sudah jadi penerima beasiswa pun kayaknya nggak berubah disana…

      Saya gak tahu pastinya, bukan panitia sih.
      Bisa jadi nggak lolos mas melihat periodenya 27/11 – 03/01, tapi bisa juga belum diperiksa karena tanggalnya mepet kan.
      Mending tanya aja langsung (sebaiknya telpon, jangan email, atau datangi) atau resubmit aplikasinya…

  6. Ass. Selamat sore kak, aku icha mahasiswa ITB juga lagi tahun akhir dan juga sdg nyusun skripsi. Kak, boleh minta alamat email kakak gak, ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan yg tidak ada di blog lpdp dan blog kakak. Terima kasih banyak kak, atas sharingnya yg superr.. Wass.

    • Waalaikumsalam. Terima kasih sudah membaca blog saya. Alamat email saya ada di halaman about blog ini kok, silakan kunjungi dan kirim email ke saya.

      Hanya saja saya belum menjadi penerima yg mengaktivasi beasiswa ini loh, jadi mungkin pertanyaan ke saya kurang representatif, tapi saya akan coba bantu kalau saya tahu.

  7. Dedi says

    Very inspiring Mas Albadar, terima kasih banyak. Belum banyak yang menulis pengalaman seperti yang Anda lakukan. Membaca tulisan ini semakin membuat saya tambah bersemangat untuk meraih beasiswa PhD saya. Pertanyaan saya, apa suka macet turunnya beasiswa tuk di LN? Pengalaman kawan2 saya dulu beasiswa dari Dikti sampai harus ngutang dulu ke sana kemari karena sering telat.
    dan kalau boleh tahu berapa sih nominal beasiswanya, Settlement allowance, Monthly stipend, book allowance etc.?
    Makasih atas jawabannya

  8. krishna murti says

    Great2 thanks buat blogger satu ini!! Sangat berguna informasinya buat yg dibuat bingung sama lpdp yg pengurusnya susah dihubungi baik email ato telp..

  9. friesgina says

    senang sekali bisa baca blog anda.. saya jg salah satu calon penerima beasiswa lpdp yg sedang butuh info tntang pengayaan dan setelah baca tulisan anda saya jadi ada gambaran tentang program kepemimpinan. oiya mas, saya butuh informasi jg.. besaf nya beasiswa lpdp untuk universitas dalam negeri berapa rupiah per bulannya ya? siapa tau ada info dari teman2 senagkatan PK dulu yg sudah jalan beasiswanya. yerima kasih

  10. indra says

    mau nanya nih mas… komponen biayanya berapa ya mas untuk doktoral dalam negeri dan luar negeri

  11. Shichika says

    Salam Kenal, Albadr!
    Saya banyak baca blog soal LPDP dan sofar blog ini menampilkan tulisan yang informatif dan komperhensif karena mencakup semua aspek beasiswa sampai kendala awardee di Jepang. Tapi sayangnya Albadr tidak mengambil beasiswa LPDP ya, padahal kan membanggakan sekali lo kuliah dibiayai negara sendiri bukan dari pajak orang Jepang. hehehe…. Anyway, saya ngerti kok kenapa opsinya jatuh ke Aichi,

    Sebenarnya yang saya sayangkan adalah saya gak bisa nanya-nanya lebih lanjut soal diskusi di whatsapp jepang tentang penerimaan beasiswa LPDP. Saya saat ini membutuhkan informasi ini untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik. Apabila Albadr memiliki info kontak penerima LPDP di jepang, boleh gak di share? Terimakasih sebelumnya atas bantuannya.

    • Salam kenal juga Sichika. Terima kasih sudah mau baca tulisan saya… Hehe… Sebenarnya ini sudah banyak yg disingkat juga karena kepanjangan, haha…
      Ini ada blog temen saya dari ITB yg di Jepang (TITECH) dan mengabil beasiswa LPDP. Anindita namanya, ini blognya http://superanindita.wordpress.com/.
      Coba dihubungi aja via blognya, saya blm izin kasih email/hp/fb soalnya, maaf ya ^^…

  12. berwin 78 says

    Thanks infonya, sy baru di kasih info sehari ketika akan wawancara, sy dr solo dan memilih t4 wawancara di jakarta, saat menulis sy sdng di bandara sokarno hatta mau balik lagi ke solo. Makasih infonya, kiraiin wawancara adl terakhir ternyata masih ada pengayaan lagi, apakah universitas dlm negeri juga sama yach prosedurnya.

  13. Artikel yang sangat membantu. terima kasih sudah berbagi. Saya jadi tertarik untuk mendaftar, tetapi dari informasi yang saya baca, tidak ada jurusan kependidikan. Apakah bisa saya mendaftar untuk jurusan itu? Terima kasih

  14. Informatif ya isinya.. Makasih bgt udah dijelasin, penjelasan di web resminya emang masih kurang bgt.
    Kalau boleh tahu daftar 200 universitas yg dicover apa aja ya? Saya kemarin sudah daftar untuk salah satu univ, kemudian saya berpikir untuk berubah ke univ lain. Tapi seingat saya waktu itu univ saya tidak ada saat mengisi kolom pendaftaran.
    Saya sudah cari2 mengenai list universitas yang di cover lpdp bahkan sudah mengirim email kpd email resminya, tapi tidak mendapat jawaban apa2. Mohon bantuannya, terimakasih 🙂

    -qoni

  15. assalamu ‘alaikum, salam kenaaal… 😀
    seru ya kalo beasiswa full ada pengayaannya, hohoho. saya lagi nunggu panggilan wawancara untuk beasiswa tesis dalam negri, soalnya penelitian saya di Indonesia. baca review proses2 wawancara lpdp bikin deg-degan.. hoo..
    punya cerita g soal yang wawancara beasiswa tesis/disertasi gitu??

    cheers

    atviana

  16. Ping-balik: Mezase! JAPAN | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.