In Japan
Comments 36

Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP Kemenkeu RI

IMAG5094

Saya akan menceritakan tentang Beasiswa Pendidikan Indonesia atau lebih dikenal dengan Beasiswa LPDP. Sebenarnya situs resminya ada, yaitu beasiswalpdp.org dan lpdp.depkeu.go.id. Akan tetapi, informasi di sana kayaknya kurang lengkap. Saya akan memberikan informasi yang saya tahu yang mungkin tidak ada disana. Tujuan saya menulis artikel ini adalah tentu supaya teman-teman banyak yang tahu ttg beasiswa LPDP ini, dan mendaftar. Promosi.

Nama resmi beasiswa magister dan doktor yang diselenggarakan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ini adalah Beasiswa Pendidikan Indonesia, sesuai petunjuk dari menteri. Bukan beasiswa LPDP. Tapi keduanya memang agak kurang catchy ya namanya, dibanding Dikti, Bius, Bidik Misi, Fullbright, Monbusho/MEXT, Erasmusmundus dan nama-nama unik lainnya. Mungkin nanti diganti dengan yg lebih menarik, misal beasiswa Cakrawala atau Angkaramurka gitu.

Beasiswa ini diambil dari sebagian dana abadi pendidikan yang disisihkan dari 20% anggaran pemerintah. Sebagaimana namanya, dana abadi pendidikan disimpan untuk masa depan. Terus, setelah sekian tahun (saya lupa dari tahun berapa) disimpan kok malah makin banyak. Tidak termanfaatkan. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah lembaga bernama LPDP untuk mengelola dana pendidikan ini. Salah satu programnya adalah BPI.

lpdp

Update 2015: Sistus beassiwalpdp.org sudah tidak aktif, diganti lpdp.depkeu.

Angkatan dan Alur Seleksi

BPI dibuka lembut pada bulan April 2013. Sampai sekarang (September) sudah ada 5 angkatan penerima, katanya sih 1000 orang (tepatnya saya lupa, buku catatan saya sudah dikirim pulang nih). Lalu timbul pertanyaan. “Angkatan” disini maksudnya apa?

Alur seleksi BPI adalah seleksi berkas via web -> wawancara -> pengayaan. Setelah lolos tiga seleksi tersebut, baru status kita diubah menjadi grantee. Nah, angkatan adalah jumlah pengayaan alias program kepemimpinan yang diadakan.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada jadwal khusus untuk seleksi BPI. Ini mungkin sisi jeleknya atau bagusnya. BPI mengklaim menerima pendaftaran beasiswa sepanjang tahun, ditandai dengan pemasukan berkas via web. Berkas ini kemudian akan dicek kelengkapan dan diseleksi. Jika lolos akan diundang untuk wawancara.

Nah, wawancaranya ini yang repot.

Tidak dikemukakan dengan jelas titik-titik kapan wawancaranya. Bisa tiba-tiba dapat email aja, harus wawancara tanggal sekian. Di web di atas pun tidak ada ancar-ancar, kapan saja diadakan wawancara. Wawancara diadakan di banyak kota di Indonesia, yang saya tahu Jakarta, Jogja, Makasar. Nggak tahu apakah sudah nambah atau belum kotanya. Sekali lagi, informasi seperti ini tidak dijelaskan di web.

Pada saat wawancara, kita dihadapkan oleh 3 orang. Satu orang psikolog dan dua sisanya doktor/profesor. Saat saya diwawancara, saya ditanyai “apa kelebihan dan kekuranganmu” oleh psikolog. Pertanyaan normatif yang sangat saya benci. Jadinya saya sulit menjawabnya, tidak lancar, cuma bisa kekurangannya saja. Namun, pada saat berwawancara dengan bapak yang dua lagi, obrolan kami mengalir. Jadi seperti diskusi bukan wawancara. Sempat membicarakan mana bagusnya pragmatis vs idealis pula dengan kasus hipotesis saya ditawari kerjaan dari Jepang saat lulus S3 kelak. Waktu itu saya jawab dengan jujur “pragmatis” dulu (cari duit-kerjaan-membangun link drpd kembali di Indonesia nggak ngapa-ngapain), sehingga ada modal untuk melaksanakan idealisme kelak. Mungkin kapan-kapan saya buat artikel sendiri ttg wawancara saya ini.

Setelah lolos seleksi wawancara, kita akan menunggu lagi sampai waktu yang tidak ditentukan (kemungkinan satu sampai dua bulan) sampai diberitahu jadwal pengayaan terdekat. Soal persyaratan ikut pengayaan terjadi perbedaan beberapa kali. Untuk batch 3 dan 4, peserta harus sudah mensubmit LoA (Letter of Acceptance) supaya boleh ikut. Nah, untuk batch selanjutnya baik peserta yang sudah punya LoA maupun belum juga disuruh ikut.

Setelah lolos pengayaan barulah kita dianggap sebagai grantee. Jika sudah mengirim LoA, langsung tanda tangan kontrak. Jika belum, ditunggu setahun. Kalau setahun nggak dapat LoA juga, harus ikut prosedur pendaftaran beasiswa dari awal. Saya termasuk yang kasus kedua.

Oh ya, pengayaan untuk tahun ini dengar-dengar sudah terjadwal semua untuk peserta yg sudah lolos wawancara. Kalau tidak salah, batch 6 itu Oktober dan batch 7 setelahnya. Nah, itu artinya batch selanjutnya akan dilaksanakan tahun depan. Jadi silakan Anda yang mau berangkat awal tahun depan mempertimbangkan sempat tidaknya. [NB. Lagi-lagi, informasi ini tidak tersedia di halaman resmi manapun]

Letter of Acceptance, Top 20 Universitas, dan Pindah Tujuan

Perlu dicatat bahwa LPDP adalah sponsor yang mendanai kuliah kita. Kuliahnya dimana? Nah, itu terserah kita. Mau dalam atau luar negeri. Selama ada di daftar LPDP, boleh dipilih. Kemudian, kita harus mencari Letter of Acceptance alias LoA, sebuah surat yang menegaskan kalau kita diterima di universitas tujuan sebagai mahasiswa magister/doktor. LoA boleh dicari sebelum atau sesudah mendaftar LPDP. Setelah lulus juga boleh, diberi kesempatan sampai dengan 1 tahun setelah tanggal dinyatakan lulus pengayaan. Nah, yg ditebalkan tadi kurang jelas tuh di webnya.

Kemudian, LPDP juga mendorong mahasiswa Indonesia untuk bukan sekedar belajar di luar negeri tetapi juga masuk ke kampus terbaik dunia. Oleh karena itu, LPDP akan memberi insentif $5000 untuk penerima beasiswa yang mendapatkan LoA dari kampus 20 terbaik dunia. Kampus mana aja? Menurut QSWorld University Ranking kalau tidak salah, tetapi ada batasan-batasan jurusannya. Jadi kalaupun masuk Harvard tetapi jurusan sastra arab tidak dapat bonus juga. Batasan jurusannya bagaimana, itu yang belum dipaparkan oleh pihak LPDP.

Nah, anehnya, kalau LPDP mendorong mahasiswa untuk berlomba-lomba masuk ke universitas top twenty, informasi ini tidak dipajang dimana-mana. Setelah pengayaan baru diberi tahu. Bukannya harusnya ini dipajang besar-besar di halaman web Beasiswa Angkaramurka eh Beasiswa Pendidikan Indonesia ini?

Jika kita sudah dapat LoA dari univ tertentu, kita juga boleh kok pindah ke univ lain (tapi ya cari LoA lagi dari sana). Bisa dengan syarat tertentu. Salah satunya adalah tidak down-grade, katanya. Yang tadinya daftar magister dalam negeri pindah ke luar negeri juga boleh. Asal tadi itu, tidak down-grade. Namun, down-grade juga kayaknya boleh sih jika mendesak. Ketua angkatan saya pindah dari The University of Tokyo ke Tokyo Insitute of Technology. Masalahnya adalah, di Todai mahasiswa harus ikut Research Student dulu 6 bulan. Sedangkan LPDP hanya membiayai selama 24 bulan kuliah, RS tidak dibiayai. Terpaksa dia pindah deh.

Kalau kasusnya Sandwich atau double degree gimana? Boleh juga. Cuma prosedurnya detail dan efek ke pembiayaan yg diterima gimana saya juga tidak tahu. LPDP juga masih agak ragu menjawabnya soalnya ada tiga kasus: Dan ada tiga kasus: dalam-dalam, dalam-luar, atau luar-luar. Sebaiknya dari awal sudah  bilang kalau mau double degree, biar jelas informasinya.

LPDP: Beasiswa Penuh dan Teknis Pemberian Beasiswa

“Beasiswa LPDP adalah full scholarship“, katanya. Saya sendiri tidak yakin dengan yang dimaksud full scholarship itu yang mana. Wong, kata teman-teman, kalau beasiswa sudah membiayai kuliah + hidup itu sudah dianggap full. Kalau begitu anggapannya, beasiswa LPDP adalah very-full scholarship. Yang dikover adalah biaya kuliah (dan pendaftaran), biaya hidup, biaya buku, biaya jurnal, biaya pindah (settlement), biaya trasnportasi (dan visa), biaya kesehatan, dan biaya jurnal/tesis serta tunjangan keluarga. Waw! Cukup menggiurkan sebenarnya, kan?

Sayangnya saat diskusi ttg hal ini, banyak peserta yang masih menanyakan komponen biaya lain yg aneh-aneh seperti MCU untuk visa lah, kirim dokumen ke luar negerilah, apa lah. Agak sedih juga saya, atau malu? Manusia (atau orang Indonesia, biasalah…) memang tidak pernah puas. Saya yang cuma dapat biaya kuliah+hidup saja sudah sangat bersyukur.

Teknis pemberian beasiswa baru dipaparkan dengan jelas saat pengayaan berlangsung. Tidak ada di web. Saya tidak mungkin menjelaskan semua disini, tapi secara umum teknisnya adalah sebagai berikut.

LPDP akan membuatkan kita rekening, sementara ini katanya BRI. Nah loh, kalau ke luar negeri gimana? Mata uangnya? Katanya, sementara ini karena satu dan lain hal, uang ditransfer ke rekening dengan rupiah (karena BRI kan) diekivalenkan nilainya dengan kurs BI (biar paling mahal jadi siswa tidak rugi). Tidak langsung ke mata uang negara tempat kita berada.

Nah, terus ngambil uangnya disana gimana? Don’t ask me please. Di sebuah grup whatsapp Jepang, diskusi ini masih hangat. Salah satu cara adalah dengan meminta sodara di Indonesai kirim via Remittance, tapi kena cas dong pastinya. Minimal Rp400.000,- lah. Atau mengambil uang langsung dari ATM berlogo MasterCard/Visa disana. Kena casnya berapa, saya kurang tahu juga. Repot juga ya?

Nah itu untuk biaya hidup. Kalau biaya-biaya lain beberapa ada yang dibayarkan ke rekening juga. Bisa dengan sistem reimburse atau invoice. Yang pertama ya kita bayar duluan terus diganti oleh LPDP dengan menunjukkan kuitansi. Yang kedua, kita menunjukkan lembar tagihan lalu langsung dibayar ke yang bersangkutan, universitas untuk biaya kesehatan misalnya. Untuk transportasi, LPDP menunjuk travel agent tertentu untuk memesan pesawat. Yang dibayarkan hanyalah dari kota kita sampai ke bandara terdekat di negara tujuan, jadi kalau harus naik kereta lagi tidak dibiayai. Kalau mepet, bisa juga sistem reimburse.

Karena LPDP menerima pendaftaran untuk (hampir) seluruh tujuan universitas di dunia, teknis ini jadi agak rumit. Pertama, keberangkatan orang beda-beda dan kadang tidak match atau mepet dengan jadwal pengayaan. Kedua, mata uangnya beda-beda. Karena lembaga ini masih baru (belum satu semester) menangani beasiswa, mereka masih belajar. Mohon bersabar dan harap maklum saja.

Pemantauan nantinya akan melalui web, katanya. Tapi sistemnya masih dibangun. Jadi kalau mau submit invoice kuliah, dll via antarmuka yang disediakan. Oh ya, setiap komponen biaya ada prosedur masing-masing dan batas waktu pemberian invoice. Misalnya, biaya kuliah akan dibayarkan seminggu (hari kerja) setelah dikirim invoice. Jadi harus lihat-lihat juga deadline bayar uang kuliah kita, harus laporan minimal 2 minggu (hari normal) sebelumnya tuh.

Saya dan Pengayaan Batch V

Pengayaan batch lima atau Angkatan V diadakan pada tanggal 3 September sampai 14 September. Lokasinya sebagian besar di Wisma Gumati, Bogor. Juga berkunjung ke Lanud Halim Perdanakusuma bersama TNI AU selama dua hari. Dan juga ke bumi perkemahan [yg saya lupa namanya] di Gunung Salak.

Sebentar, kenapa ada kata saya di seksi ini? Untuk menjawabnya, saya harus memberi artikel komplemen Mezase! JAPAN. Silakan membacanya…

Intinya adalah, sebelum undangan pengayaan saya terima (undangan saya terima empat hari sebelum hari pertama pengayaan -.-), saya mendapat kabar gembira lain dari beasiswa lain yang saya ikuti yang saya sudah gagal. Saya gagal masuk menjadi 10 orang penerima beasiswa Aichi Prefecture tersebut. Nah, jadilah saya ikut LPDP. Namun, tiba-tiba seminggu setelah lebaran datanglah email yg menginfokan bahwa ada satu orang penerima beasiswa yang mengundurkan diri. Saya ditawari deh… Ding dung… Galau.

Singkat cerita, lengkapnya baca di  Mezase! JAPAN, saya pun menerima tawaran tersebut. Jadinya, saya tidak lagi harus mengikuti prosesi LPDP selanjutnya, karena saya sudah dapat beasiswa lain.

Lalu kenapa saya ikut Program Kepemimpinan Batch V LPDP juga? Mohon maaf untuk teman seangkatan PK LPDP V, terutama dari kelompok saya Dusun Gembira karena saya tidak menceritakan informasi ini. Hanya kepada Mas Agus Muhtar saja saya bercerita. Gomennasai…

Alasannya, tidak lain karena saya ingin bertualang. Mendapatkan kenalan baru, komunitas baru. Melihat-lihat sampai akhir bagaimana sih sebenarnya LPDP itu, supaya saya nanti bisa bercerita ke orang lain dan melaporkannya di blog ini. Saya juga ingin menerima perbekalan yang sama seperti peserta LPDP lain. Belajar jadi pemimpin lah. Soalnya beasiswa yang memberikan Program Kepemimpinan yang saya tahu ya cuma LPDP ini. (Sebenarnya saya pengen naik kapal perang dan keliling-liling, tapi ternyata mainnya ke TNI AU bukan AL.)

Alasan lainnya juga sebagai Plan B untuk tahun depan. LPDP LoA ditunggu setahun kan? Karena beasiswa Aichi Prefecture ini memiliki save point setelah 6 bulan menadi Research Student, yakni di bulan Maret, harus ikut ujian masuk S2. Kalau lulus, diperpanjang beasiswanya untuk 2 tahun sebagai Master Student. Jika gagal, pulang. Nah, LPDP bisa menjadi Plan B saya supaya tidak terlalu jauh menunggu lagi. Dan waktu yg tersedia untuk menuntaskan proses hanya Batch V ini saja, beruntung sekali saya.

Saya mengikuti Program Kepemimpinan Batch V LPDP bukan tanpa risiko. Waktu dua minggu itu adalah waktu yang sangat berharga untuk berkoordinasi dengan pihak jepang mengenai keberangkatan saya dan nasib saya disana. Kalau saya melewatkan satu email dan ternyata disuruh mengirim suatu dokumen bertanda-tangan via pos kesana, kan bahaya. Kejadian tuh sekali. Deg-degan juga…

Oh ya, saya tidak (dan tidak akan) mengaktifkan dua beasiswa pada satu waktu loh ya. Jadi saya pikir, tidak ada peraturan dari kedua belah pihak yang saya langgar. Insyaallah.

Oke, sekarang cerita ttg Pengayaan Batch V-nya.

Sekilas Tentang Angkatan V

Cerita lengkap Potongan mozaik tentang Angkatan V ini dapat dibaca di blog lpdpv.wordpress.com. Ini adalah blog kami mengumpulkan tugas resume dan kultwit saat pengayaan berlangsung. Isinya ya tentu, resume dan kultwit ttg materi hari itu.

Angkatan V disimulasikan sebagai sebuah desa yg ingin menuju desa idaman. Memiliki perangkat desa berupa pasangan pemimpin Paku – Pak Kuwu dan Buku – Bu Kuwu. Juga sekretarisnya Ulis. Desa terdiri dari dusun-dusun, manifestasi dari kelompok di angkatan. Desa juga memiliki prasasti yang mencatat kejadian-kejadian yg terjadi pada desa, nah blog tadi tuh.

Desa kami bernama Desa Bhinneka. Saya masuk ke dalam Dusun 3 – Dusun Gembira (Gerakan Membangun Indonesia Raya). Anggotanya 10 orang dan difasilitatori oleh Mbak Maya. Berikut wajah warga dusun 3:

Dusun 3 - Gembira

Dusun 3 – Gembira

Kami sampai tanggal 3, acara mulai tanggal 4 di Wisma Gumati. Hari pertama (4 Sept) kami bertemu dengan WamenPAN. Hari kedua kami langsung pindah tempat ke Wisma AURI. Walaupun judulnya “wisma”, kami sebenarnya tinggal di tenda tentara, di Marshalling Area Lanud Halim PK. Tempat para tentara misi internasional biasanya dikarantina sebelum berangkat. Di sini kami berinteraksi dengan tentara TNI AU dan mendapat pencerahan mengenai kegiatan TNI AU. Sempat juga kami berkeliling melihat hangar dan pesawat TNI AU di dalam Lanud Halim, tempat yg tidak setiap orang boleh datangi. Bahkan 6 orang terpilih di angkatan kami mencicip helikopter super puma yg tugasnya mendukung kegiatan RI1. Keren ya? Jadi iri.

Dua hari di Lanud Halim PK, kami langsung pindah ke Gunung Salak naik tronton. Di sana kami kemah selama dua hari juga. Di hari kedua, Minggu (8 Sept) kami naik ke Kawah Ratu Gunung Salak. Lumayan pemandangannya… Lumayan berasap.

Rombongan Desa Bhinneka di Gunung Salak

Rombongan Desa Bhinneka di Gunung Salak

Nah, seminggu sisanya Senin (9 Sept) sampai (13 Sept) kami kembali sesi dalam ruangan di Wisma Gumati. Bertemu pembicara-pembicara keren kayak Shofwan Al Banna, Ahmad Fuadi. Juga mengikuti Social Creative Competition berupa lomba kegiatan sosial dengan waktu dan persiapan yang terbatas. Hari Kamis kami juga Company Visit ke World Bank, mendengarkan bahasan membosankan ttg keuangan makro. Kemudian sorenya nonton Merah Putih dan Talkshow dengan Tora Sudiro Lukman Sardi. Jumat kami belajar main angklung setengah hari.

Sabtunya kami penutupan di Gedung Kemenkeu sambil perform hasil latihan angklung kemaren. Kemudian pengumuman kelulusan, semua lulus dong. Waw! Hampir semua tidak lulus karena uniknya angkatan ini yg berani membantah panitia (lain kali saya ceritakan), tapi akhirnya semua yg hadir Alhamdulillah dinyatakan lulus.

Hmm.. Sepertinya itu sekilas kegiatan Program Kepemimpinan V kemaren. Mau diperpanjang ceritanya takutnya terlalu (sangat super panjang, kan 12 hari!). Keluar konteks juga dari artikel ini. Lain kali aja deh ya kalau saya lagi pengen cerita.

Saran dan Kritik

Saran saya untuk LPDP cuma satu sih, masalah informasi. Ketidakjelasan adalah sumber petaka.

Harusnya ketika punya media publikasi, segala informasi yang berkaitan bisa dipaparkan dengan setransparan mungkin. Jadi calon penerima dan penerima bisa lega dan tidak harus menelpon/mengirim email yang tidak pernah LPDP balas itu (karena saking banyaknya, sebenarnya ini kritik juga, harusnya LPDP bisa mempekerjakan 20 orang yang tugasnya sbg customer service).

Kemudian masalah penyampaian informasi dengan peserta baik saat wawancara, pengayaan, maupun setelah jadi penerima. LPDP masih menggunakan email gmail, seperti lpdp.dpk2@gmail atau lpdp.programkepemimpinan@gmail.com. Masa sih, lembaga sebesar LPDP yang menangani uang milyaran per tahun untuk beasiswa tidak bisa menyewa orang IT yang bisa membuatkan email dengan domain lpdp.depkeu.go.id, atau sekalian membuat web di domain lpdp.go.id begitu. Gampang kok.

Memang masalahnya dengan email gratis apa? Selain masalah harga diri, faktor keamanan jadi sangat terganggu. Misal saya membuat akun lpdp.angkatan.baru@gmail.com dan mengirim email ke orang yang mendaftar LPDP terus saya minta macam-macam, berkas apa atau ketemu dimana, kan bahaya…

Buat web, sistem pendaftaran, dan sistem pemantauan yg bagus juga seharusnya bisa disatukan dengan sarana email tadi. Saran saya, kalau mau gampang: buka aja pendaftaran sistem IT ke fresh graduate ITB gitu, atau datangi saja Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, pasti dicarikan orang yang kompeten.

Akhir Kata

Pada akhirnya, saya mengajak teman-teman untuk mencoba Indonesia Scholarship Fund ini.  Selama ini, alur yang saya lewati sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Baik pas daftar di web (masa kolom IP harus integer, nggak boleh float, dbuletin ke atas getoh? IP guweh papat dong,,,), pada saat wawancara (yg mengobrol idealis-realistis santai-setius-kocak), dan terlebih lagi saat pengayaan (bersama teman-teman). Asyik lah.

Jarang-jarang ada sistem beasiswa yang cakupan universitasnya luas, komponen beasiswanya banyak, dan fleksibel seperti beasiswa LPDP ini. Dan dibiayai oleh pemerintah sendiri loh. Disertai pula Program Kepemimpinan. Juga bonus idealisme+nasionalisme untuk pembangunan bangsa. Kombo.

Cari universitas atau negara yang biasanya langka beasiswa. Misal Inggris. Kalau perlu targetkan yang 20 besar dunia tadi, biar dapat bonus lagi. Cair kan… ^^

Soal teknis dan informasi yang belum lancar harap dimaklumi saja. 1) Sudah biasa, pemerintah.  2) Memang lembaga ini masih belajar untuk manajemen beasiswa dan butuh dukungan banyak pihak. 3) Target penerimanya ribuan per tahun, pasti ribet tuh. Jadi siap-siap saja di bagian situnya. 4) Saat ditanya “kenapa bagian ini kurang/sulit”, pasti dijawabnya “kalian itu pemimpin, harusnya mikirin solusi bukan menuntut saja.” Hmff… Orang Indonesia, biasa… Semua menuntut dilayani, bukan melayani. Bahkan dengan melempar balik kata-kata bahwa kita itu harus melayani, bukan menuntut dilayani. Hmff…

Habis. Semoga Bermanfaat.

36 Comments

  1. opinshare says

    Pertamax pak/bu.
    Kalau bisa dibookmark 5 kali, sudah saya lakukan.
    Cuma 1 pertanyaan saya, kalau bisa masuk top20 university, singkat kata kita tidak akan punya masalah keuangan waktu belajar di luar negeri kan? Gak kayak beasiswi RI yang satunya kan?
    Sehingga mahasiswa akan belajar sekuat jiwa raga karena tidak akan pusing mengenai masalah lainnya.
    ***saya mengharapkan respon anda mengenai pertanyaan saya
    Salam dari Undip Smg, yg berjuang menuju Ph.D di Cal UCB, insyallah semoga Tuhan ngasi petunjuk.
    Bookmarked

  2. Ping-balik: Takut Ketemu Agan Lagi | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Kocaknya Masyarakat Modern dan Instansi Pemerintah dalam Memilih Jalur Komunikasi | Blog Kemaren Siang

  4. nia says

    thanks infonya mas. btw saya memiliki kasus yg mirip dg yg anda alami. pertanyaan saya, apakah ada sanksi bagi kandidat jika mengundurkan.diri setelah program pengayaan?
    sangat menunggu informasi dr anda. trimakasih..

    • Tergantung mbak apakah sudah ttd berkas menerima beasiswa. Kalau sudah saya tidak tahu bagaimana prosedur mengundurkan dirinya, tapi mungkin ada.

      Kalau belum berarti mirip saya, ditinggal saja. Karena sama saja sudah boleh dapat beasiswa tapi belum dapet kampus kan. Ditunggu setahun kalau blm dapat juga berarti hangus dan harus daftar dari ulang lagi kalau tak salah.

      Sebenarnya ada teman pengayaan pun belum tapi mau mengundurkan diri juga. Lapor ke panitia, eh diminta kirim surat resmi ke direktur lpdp beserta alasan pengunduran diri. Tahvava. Repot kan, wong udah di Jepang juga dan ga penting. Jadi dicuekin aja dan ga ada masalah… Toh blm ttd kontrak jg.

  5. shaflina says

    Thanks ya, info ny sangat bermanfaat tadinya saya bingung..
    Kalau sertifikat toefl tu kirim ny kpn ya pak…?

  6. Salam knal., ak mau nanya ne. Jka
    Yg blum mdptkan LoA, sdang kn beasiswa ud lulus. Brapa kmungkinan kt lulus di kmpus tjuan.. Dan jika kt ud lulus PK ap kt pasti lulus di kmpus tjuan? Trima ksih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s