Kampus Ganesha
Comments 6

Syarah “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?”

Di artikel ini saya akan mencoba mensyarah atau mengulas atau memberikan takwil seputar artikel yang saya tulis kemaren yakni OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?. Sebenarnya apa yang ditulis pada artikel itu, dan apa maksud penulis dilihat dari teks yang ditulisnya… Juga memberikan takwil atas respon dari beberapa orang atas artikel tersebut.

Perjalanan Sebuah Judul

Artikel yang saya tulis kemaren mengalami tiga kali pergantian judul.

Judul asli adalah “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?”.

Setelah mendapat info yang dicari, itu shalat apa nggak, judul saya ubah. Saya agak nggak rela sih, jadi spoiler soalnya. Tapi ada yang mendesak judulnya diapain gitu. Ya udah boleh dah, demi kejelasan kan? Judul tersebut diganti dengan “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak? (Jawaban: Shalat tapi 18.40)”. Singkat padat saya tambahi kalau tadi malam mereka shalat pukul 18.40, syukurlah.

Kemudian, karena indentasinya kurang bagus, judul tersebut saya ubah lagi dengan memisah jauh antara judul asli dan jawaban atas info yang dicari artikel dengan (…….::). Hasil ahirnya adalah “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak? …….:: (Jawaban:) Alhamdulillah ternyata shalat jamaah walaupun 18.40“.

Terakhir, saya baru sadar bahwa saya tidak harus menulis jawaban pada judul shg merusak. Maksudnya tidak harus menulis pada kolom title di blog post WordPress. Duh, duh. Akhirnya, bagian jawaban saya pisahkan dari judul dan ditaruh tepat di bawah judul dengan heading yang sama. Judul kembali seperti awal. Skema ini yang dipakai hingga sekarang.

Tujuan Dari Tulisan

Pada tengah artikel tertulis jelas mengapa tulisan tersebut muncul dan mengapa judulnya begitu.

Wah, wah… Saya yang rakyat biasa ini penasaran dong, acara selanjutnya apa dan bagaimana teknis shalat untuk kerumunan 4000an orang di lapangan tersebut.

Sebelumnya sebagai pembukaan, terdapat 6 paragraf yang jelas ditulis penulis untuk menceritakan asal kedatangan penulis ke sana dan situasi sekitar sekitar. Paragraf ke tujuh, penulis memberikan transisi ke inti dari permasalahan. Di awal, paragraf selanjutnya penulis mengungkapkan keingintahuannya. Di akhir tulisan juga terpampang jelas pertanyaan penekan yang memancing pembaca untuk berkomentar, sehingga kepenasaran penulis bisa terjawab.

Kenapa Pertanyaan pada Judul Bisa Begitu

Tentu saja sebuah asap memiliki api. Jadi kok bisa penulis bertanya begitu?

Ada dua alasan.

Pertama, karena penulis tidak melihat ada persiapan shalat di lapangan tersebut. Tumben yak, ada orang lewat (penulis) yang memperhatikan hal ini. Tidak lain karena penulis pernah melakukan persiapan shalat yang sama. Pasti ada batas shaf, ada botol wudhu, ada toa, ada panitia shalat. Nah, waktu itu tak ada. Pertanyaan muncul: jadi teknis shalatnya gimana?

Kedua, karena penulis tidak sempat memantengi acara hingga selesai. Mau shalat magrib dan mau makan bareng di bebek garang. Jadi penulis pergi. Dan karena penulis alumni dan panitia yang sekarang entah berapa angkatan di bawahnya, we have no means to know what happen next…

Pertanyaan utama berubah menjadi shalat magrib nggak ya? karena itulah skenario terburuk kita dan hanya itulah yang akhirnya dipedulikan penulis. Yap, akhirnya hanya itu. Kalau tahu ternyata shalat jamaah, oh ya sudah, aman berarti. Alhamdulillah… Teknisnya? Tinggal dijelaskan belakangan.

Dengan basis tersebut, penulis menulis dengan berharap mengetahui jawaban apakah maba sempat shalat magrib atau tidak dan juga berharap bukan skenario terburuk yang terjadi (harapan ini tertulis tersirat pada catatan kaki poin 2).

Kemungkinan-kemungkinan Skenario

Selanjutnya, penulis mereka beberapa kemungkinan skenario yang ada dalam pelaksanaan shalat magrib. Memang agak kurang terstruktur di artikel aslinya, salah saya waktu itu mengambil mode narasi dibanding deskripsi. Harusnya pake poin per poin aja biar kalau yg membaca kurang intelek, tetap tahu maksudnya.

Penulis menulis:

Untuk yell-yell dari sekitar 10 himpunan yang tersisa, minimal 20 menit terbuang lah. Durasi waktu magrib biasanya maksimal hanya satu jam saja. Waktu yang tersisa hanya 40 menit. Dan saya tahu bahwa mobilisasi 3000 orang dalam waktu setengah jam adalah angan-angan. Kembalilah ke pertanyaan pada judul? Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?

Pada kutipan di atas, penulis mengemukakan skenario pertama. Penulis menghitung-hitung apa yang terjadi setelah penulis pergi dengan info yang diperoleh. Sisa himpunan yang akan yell-yell. Acara yang dilanjutkan begitu saja tanpa notifikasi kapan shalat magrib dilaksanakan dari panitia (baca: danlap) ke peserta. Durasi waktu magrib. Durasi mobilisasi.

Asumsi penulis pada skenario pertama ini adalah ada suatu tempat shalat di luar sana yang akan menjadi tujuan panitia mengarahkan massa untuk shalat. Asumsi ini bisa ditarik dari cara penulis menghitung waktu mobilisasi, kalau tidak ngapain penulis capek-capek menghitung waktu. Hal ini memberi hint bahwa penulis sadar, kalau tidak shalat disini tempat lain juga bisa. Masjid atau lapangan lain yang telah disiapkan. Berarti penulis paham dunia pengondisian shalat pada OSKM ITB. Kondisi lapangan umumnya bagaimana.

Namun hasil hitungan: mustahil. Kalau tidak sempat shalat di luar dan juga tidak ada tanda-tanda shalat di dalam, pertanyaan berubah menjadi shalat magrib diadakan atau tidak, bukan?

Kemudian penulis mengemukakan skenario lain yang mungkin. Oh bisa dilaksanakan masing-masing peserta terserah dimana.

Atau dibiarkan bubar secara sporadis dan dibebaskan shalat dimana pun, sesempatnya. Kalau memang begitu, dan bubarnya sempat sebelum shalat isya, lumayan juga.

Jelas penulis puas dengan skenario tersebut. Lumayan juga, katanya. Soalnya yang dipedulikan penulis hanya shalat mungkin dilaksanakan oleh peserta pada waktunya, bukan pukul berapa dan bagaimana caranya. Darurat-darurat. Jadi salah dan bodoh kalau ada panitia shalat yang tersinggung dengan angka 18.40 yang diperoleh penulis. Dianggapnya penulis kecewa padahal mereka sudah berusaha keras. Hah, sama sekali tidak, mana pernyataan kecewa tersebut?

Hanya penulis menekankan di akhir paragraf, skenario itu tetap sulit dilaksanakan walaupun hanya menaksir jumlah muslim 2/3 dari peserta.

Selanjutnya penulis mengemukakan kemungkinan terburuk, yang bisa saja diambil panitia OSKM jika panitia pengondisian shalat tidak ada. Misal ternyata ada petinggi yang menganggap shalat magrib bisa dijama’. Skenario ini didukung dengan pengamatan penulis sepulang dari bebek garang, peserta baru pulang tak lama setelah isya.

Skenario jama’ ini bukan menghina panitia OSKM, bukan. Ada loh orang yang berpendapat bahwa menjama’ shalat boleh karena kegiatan sibuk, berbahaya, atau penting. Serius ada, saya tahu. Kali aja salah satunya ada di OSKM kan. Nah, supaya lengkap saya cantumkan deh sekelumit ilmu dari buku yang kebetulan penulis punya Fikih Shalat 4 Mahzab. Sambil bertanya-tanya tentunya, udzur syari yang diambil yang mana. Pendapat mana yang diambil.

Beberapa skenario lain tidak ditulis di skenario tubuh walau mungkin dilaksanakan. Tidak ditulis karena agak lucu dan probabilitasnya rendah. Misal peserta disuruh tayamum.  Atau shalat sendiri-sendiri di lapangan. Atau antri wudhu di mushola kolam renang saraga. Saya cuma diskusi di kotak komentar WordPress dengan teman.

Kalimat selanjutnya adalah kalimat terakhir. Penekanan terhadap topik keseluruhan tulisan tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi…

Pemutakhiran-pemutakhiran

Beberapa pemutakhiran kemudian ditambahkan penulis atas umpan balik pembaca. Misal salah ketik. Juga tentu tentang info jawaban atas pertanyaan tadi. Secara umum ada dua info yang diperoleh penulis. Pertama dari  Dayu Wiyati tentang kepastian shalat dan kedua dari Bahary Setiawan tentang situasi lapangan. Penulis sangat menghargai info mereka.

Reaksi Jagat Pembaca: Mensyarah Reaksi Orang-orang Yang Tidak Mau Jujur Itu

Sebenarnya reaksi pembaca kurang lebih sudah terbahas pada segmen Catatan dari Penulis pada akhir artikel aslinya. Intinya banyak yang “protes” terhadap tulisan itu. Bagian mananya? Mereka tidak bilang. Pokoknya protes saja.

Yang koar-koar protes itu pun tidak memberikan info terhadap yang dicari-cari oleh sang artikel. Jadi, ya entahlah apa gunanya mereka protes itu. Kemudian keluar istilah rumit seperti membuat isu, tabayun, pembunuhan karakter, dan mengutuk kegelapan vs cahaya lilin.

Disini saya mencoba menguak isi hati memperjelas apa yang mereka maksud dengan tanda-tanda yang diberikan.

Tentang Judul Artikel

Dari komentar pada artikel tersebut, saya sadar bahwa judul adalah poin utama dari protes.  Setelah cek twitter juga (saya jarang buka twitter, nggak ada guna) judul artikel saya itu jadi objek kelebihan beban (keberatan) dan objek banten (serang).

Entah perlu berapa lama mereka itu untuk jujur mengungkapkan isi hati mereka, mana sih yang mereka nggak sreg. Judul? Oke, terus bagian mananya…

Akibat pendidikan yang tidak mengedepankan kebebasan mengemukakan pendapat sih. Jujur aja susah.

Protes Terhadap Judul: Pertanyaan Kurang Jelas

to the point?

Hanya mau menanggapi kalimat pertamanya saja. Sepertinya pertanyaan saya sudah seterang matahari di siang bolong. Lebih dibikin to the point -nya seperti apa ya? Kan saya cuma mau tahu, kemaren shalat magrib nggak? Bisa ditafsir lain kah pertanyaan itu? Ada yang salah dengan pertanyaan / judul itu?

Protes Terhadap Judul: Kesan Negatif Judul Pertama

Hanya orang bodoh yang menganggap bahwa judul pertama itu adalah negatif sehingga perlu dirombak total. Judul tersebut (sekarang judul artikelnya juga itu) adalah:

OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?

Mungkin seperti ini alur berpikir mereka yang protes itu: Takutnya pembaca langsung menyangka panitia tidak memberi slot waktu shalat. Jadi panitia tercoreng. Terbunuh karakternya, bla-bla-bla.

Nah, mari saya jelaskan kenapa pendapat itu bodoh. Kalau saya bertanya begini:

Adik. Jadi tadi malam kamu makan nggak?

Apakah saya sedang menuduh adik saya kalau sebelumnya tidak makan? Mari buat contoh yang lebih mendekati, agar analogi saya tidak jatuh kepada False Analogy. Saya bertanya kepada teman saya Yoschaem atas pernikahannya kemarin.

Yos, kemaren sibuk banget kan pas resepsi, tamunya banyak.

Jadi kemaren itu sempet shalat magrib nggak?

Apakah saya sedang menuduh oskam tidak magriban kemaren? Nah itu… Tidak kan. Namanya pertanyaan netral, sifatnya netral. Tidak positif atau negatif. Kecuali kalau kata-kata dalam pertanyaan dibalik sehingga cenderung ke satu sisi…

OSKM 2013: Jadi tadi malam mahasiswa baru itu nggak shalat magrib?

Jadi lo kemaren pas nikah nggak shalat magrib yos?

Nah, pertanyaan di atas baru menyudutkan karena langsung mengambil sisi asumsi nggak shalat nya. Yang dipertanyakan bukan shalatnya iya atau tidak, tetapi benarkah tidak shalat.

Mahasiswa harusnya pandai dikit berbahasa lah. Ambil TTKI Lanjut sana kalau perlu. Jadi tidak ada yang perlu diubah kan dari judul original tersebut? Tidak ada panitia (OSKM atau Pengondisian Shalat) yang disudutkan kan…

Protes Terhadap Judul: Kepaduan Judul dan Isi Artikel

Di salah satu jejaring sosial, ada yang mempertanyakan. Itu judulnya tidak sesuai isi, katanya.

Judul Mengacu Beberapa Kalimat

Saya sebenarnya tidak yakin judul versi berapa yang dimaksud oleh akun di atas. Tapi saya akan mencoba membahasnya…

Judul versi satu:

Tujuan utama artikel adalah jelas, meminta jawaban atas sebuah pertanyaan. Yang ditanyakan juga jelas, terpampang di judul. Seluruh artikel juga berputar pada judul tersebut. Memang 6 paragraf pertama seperti off, tetapi tanpa itu saya kurang bisa menjelaskan duduk perkaranya. Ada acara apa, dimana, gimana. Dan tanpa pembawaan pada 6 paragraf itu, sisa artikel jadi cuma tebak-tebakan saja. Tidak menarik.

Mari lupakan 6 paragraf pembuka tersebut.

Sisa paragraf jelas merupakan perluasan dari topik/ judul. Skenario yang terjadi. Kemungkinan tiap skenario. Pertanggungjawaban kalau skenario terburuk (jawaban sisi kiri dari pertanyaan). Dan ditutup dengan pertanyaan umpan balik. Jadi jelas walaupun isi yang mengacu judul cuma dua kalimat, judul dan isi artikel padu. Mungkin bukan judul versi satu ini maksud si tweeps.

Judul versi kedua:

Setelah dapat info, saya bubuhi keterangan singkat pada judul “(Jawaban: Shalat tapi 18.40)”. Jawaban singkat ini hanya diacu pada bagian update yang pertama yang isinya mula-mula kurang lebih berisi kabar gembira karena ternyata shalat dilaksanakan di waktu yang aman dan rasa syukur saya serta alasan kenapa saya tidak lihat persiapannya, sedikit telat soalnya.

Update siang [09.15]: Ternyata ada pengondisian shalat di lapangan, dibantu oleh GAMAIS. Tapi memang agak telat sih shalatnya pukul 18.40 (isya pukul 19.03). Makanya saya juga nggak liat (persiapannya disumputin dimana ya). Fix aman berarti. Alhamdulillah…

Karena ini jawaban yang saya cari, saya tambahkan ke bawah artikel untuk mengabari siapapun yang membaca setelahnya. Judul juga saya ubah setelah seseorang bilang “judulnya rada diubah lah”. Oke, “terpaksa” saya kasih spoiler jawaban dari pertanyaan judul, di judul. Wah? Tapi karena jawaban itu komponen pelengkap, bukan utama, jawaban saya taruh dalam (tanda kurung) dan cukup singkat saja “Shalat tapi 18.40” yang penting jelas. Wong itu saja saya sudah bersyukur, pada masih sempat shalat. Saya kan membicarakan skenario terburuk di artikel.

Mungkin nih ya, mungkin. Tweeps di atas memprotes judul dua ini. Soalnya yang di dalam kurung cuma di bahas dikit di bagian update. Jadi kesannya, judul tersebut menyalahkan panitia karena telat shalatnya. Dan hal ini tidak dibahas lagi di artikel. Mungkin… Iya nggak tweeps? Kata kuncinya adalah kata tapi di penambahan judul. Itu murni kesalahan saya, memilih kata hubung yang berkesan negatif. Maaf. Buru-buru sih didesak sama yang dari FB.

Sayangnya sih tweeps malu untuk bilang. Padahal tinggal bilang dengan clear, “Bang kami panitia sudah berusaha, 18.40 itu udah mentok. Jangan dihujat lagi dengan judul begitu lah bang. Masih syukur shalat itu walau telat”. Nah, kan saya jadi mikir kalau tanggapannya gitu. Diksi yang saya pakai ternyata  salah.

Kemudian, si tweeps terlalu terbawa emosi untuk melihat tanda-tanda. Pertama, judul utama artikel diluar tanda kurung, pertanyaannya hanya apakah maba shalat atau nggak. Kedua, alur cerita pada artikel runut dari atas kebawah. Ketiga, bagian yang mengacu penambahan judul dalam tanda kurung adalah bagian update dan ditambahi kata-kata Alhamdulillah. Sampai disana, tinggal apakah orang yang melihat tanda-tanda itu orang yang berpikir atau tidak.

Malah balik menyerang penulis dengan kata-kata, “penulisnya muslim?”, “pernah belajar tabayun nggak sih”, “gue tersinggung nih, pembunuhan karakter namanya”, “loe tahu kondisi lapangan nggak!!!”

Judul frontal, kondisi lapangan

Tentu saja saya nggak tahu kondisi lapangan saat itu. Saya bukan panitia! Makanya saya bertanya… Makanya situ jelasin dong, apa yang sebenarnya terjadi. Balik ke pertanyaan saya kan?? Tapi camkan! Saya ini juga pernah jadi panitia, tahu saya kayak apa di lapangan saat OSKM…

Atau tinggal bilang langsung to the point “Bang, itu maksud judulnya apa… Yang bagian ‘tapi 18.40’ itu? Abang kecewa shalatnya telat? Itu sudah sesuai sama kondisi lapangan bang…”

Nah, itu namanya tabayun kan dan jelas hal yang ditabayunkan apa: kekecewaan yang tertulis dalam judul. Ternyata tidak dilakukan, kan saya jadi bertanya-tanya sebenarnya yang tidak melakukan tabayun siapa…

Judul versi ketiga:

Setelah menyadari dua hal, saya mengubah penambahan judul dan mengubah sedikit paragraf update dari Dayu. Dua hal yang saya sadari: Satu, indentasi judul kedua jelek, karena kata “(Jawaban:” naik dan sisanya turun. Dua, kata tapi disana kurang enak.

Kepaduan antara pertanyaan dan tubuh artikel sudah tidak kita bahas lagi kan. Sekarang antara jawaban dan bagian pemutakhiran. Judul ketiga sudah saya perlunak dan perpanjang (oh noo… merusak kerapihan judul saja) dengan saya tambahi Alhamdulillah dan ganti kata hubung menjadi walaupun.  Paragraf update juga cuma menambahi “sebagai info” sebelum kata “isya pukul 19.03”. Jadi kepaduan artikel tidak berubah seharusnya.

Atau mungkin judul yang ini yang dipermasalahkan si tweeps? Bisa jadi juga sih. Kata walaupun juga bisa dianggap kekecewaan dan train of logic-nya sama dengan sebelum ini. Namun, kata alhamdulillah (yang sebelumnya juga ada di paragraf update) harusnya bisa agak meredam kesan negatif kata hubung itu.

Saya sebenernya pengen mengungkit-ungkit cerita saya waktu jadi panitia pengondisian shalat juga, untuk memperlihatkan bahwa saya juga pernah capek kayak protester. Untuk memperlihatkan bahwa protester salah kalau kami tidak tahu apa-apa, kalau kami kecewa. Tapi saya tidak mau terjerumus kepada lingkaran yang biasa terjadi antara senior dan junior: jaman gue lebih susah dari jaman elo. Tidak.

Tersinggung (dan Kecewa) dengan Yang Tersinggung

Terakhir saya ingin mengungkapkan bahwa saya kecewa dengan orang-orang yang tersinggung. Plus saya juga tersinggung dengan sikap mereka tersebut.

Kabarnya beberapa dari yang tersinggung justru bagian dari panitia pengondisian shalat. Saya bingung kenapa mereka bisa tersinggung. Tidak ada pula yang menjelaskan. Diminta juga masih diam. Mari kita tabayuni dengan artikel ini.

Sepertinya, ada tiga kemungkinan kenapa mereka tersinggung:

  • Fikri menjelaskan mungkin tersinggung karena dipertanyakan pekerjaannya. Sudah capek-capek tapi masih ditanya-tanyain. Harusnya nggak usahlah nanya-nanya. Kalau nggak tau kondisi lapangan, nggak usahlah bertanya. Tau apa loe nanya-nanya?kondisi lapangan
  • Mungkin juga mereka merasa pekerjaan tidak diangap. Sebenarnya ada shalat jamaah, tapi dianggap nggak ada dengan judul artikel yang isinya pertanyaan seperti itu. Pekerjaan mereka harus dianggap! Ngapain capek-capek ngadain pengondisian shalat kalau semua orang tahunya nggak ada pengondisian shalat!
  • Mungkin mereka merasa yang bertanya kurang puas dengan kinerja mereka. “Gile lo ndro, masak shalat magrib telat beeut 18.40, aktivis dakwah atau bukan elo, kok ngajarin nggak bener.” “Eh, apaan, elo nggak tahu kondisi lapangan kan? Gak usah tanya-tanya lah!” Gitu mungkin dialog imajiner yg mereka bayangkan saat tweet di atas ditulis.

Saya kecewa dengan kemungkinan manapun dari tiga di atas.

Yang pertama berarti mereka menutup diri. Biarlah saya bekerja tapi jangan ditanya-tanyain. Kalau mau tabayun aja (loh) atau lihat sendiri atau bantuin. Loe diluar sistem udahlah di luar aja sana. Nah, kalau gitu kan ekslusif sekali berarti mereka. Saya kecewa karena mereka terkesan tidak mau dikritik, tetapi tidak bisa diapresiasi karena tidak berbagi info apa yang terjadi sebelumnya. Orang bertanya langsung dianggap menjelekkan pekerjaan mereka. Bah!

Yang kedua berarti mereka pamrih. Ditanyakan yang netral saja mereka langsung marah. Bukan menjawab dengan baik malah balik teriak. Jadi seperti “Gak usah nuduh sembarangan lah! Tabayun dulu woy! Orang ada shalatnya kok woy! Kerjaan gua ini woy.” Padahal tinggal beberkan apa adanya sesuai yang ditanyakan, beres…

Yang ketiga berarti mereka tidak evaluatif. Dikritik malah balas menyolot. “Loe kan nggak tahu kondisinya. Nggak usah nanya-nanya lah…” Logical fallacy… Justru kalau saya nggak tau, ente kasih tahu saya. Kondisinya bagaimana sih kok bisa begitu. Jelaskan. Evaluasi dong, tenangkan orang yang kecewa dengan kinerja kalian. Dan beri bukti nyata di hari esok. Kan lebih asyik, lebih mahasiswa. Saya tidak perlu kecewa jadi.

Belum lagi kemungkinan yang ketiga ini tidak benar, hanya perasaan mereka. Salah paham. Interpretasi imajiner. Tidak ada pernyataan kekecewaan manapun di artikel saya. Tidak ada yang bilang panitia gagal. Tidak ada. Menuduh penulisnya saja itu. Kalau ada tolong tunjukkan. Kalau Anda mau, saya akan kasih seluruh revisi dari artikel tersebut, cari mana yang tersurat/tersirat menyebutkan saya kecewa, panitia gagal dengan angka 18.40, dll. Kan saya jadi tersinggung dengan tuduhan itu.

Sampai-sampai saya dan teman saya, Abdurrisyad Fikri, yang sama-sama mantan panitia pengondisian shalat bertahun-tahun, diskusi. Geleng-geleng kepala. Anak-anak jaman sekarang mentalnya gini ya. Disenggol dikit, ngamuk.

Apa bedanya sama preman.

Kecewa kami.

Catatan: Kami tidak kecewa dengan kinerja panitia pengondisian shalatnya. Tidak. Justru kami puas dan bangga. Bisa menego panita pusat untuk shalat di tempat. Keren loh, susah itu. Dan berani ambil risiko, walau pindah tempat mendadak. Pasti capek persiapannya. Salut… Pukul 18.40 selesai shalat magrib itu sudah bagus sekali untuk ukuran acara baru masuk separoh jalan waktu adzan tiba. Makanya jelaskan dong runut kejadiannya.

Kami kecewanya dengan mental kalian ketika ada yang bertanya tentang runut kejadian, malah kalian merasa tidak dihargai. Harus sedemikian dihargai kah pekerjaan kalian hingga orang sulit bertanya.


Tadinya saya mau balas dendam total dengan membuat 4 artikel, membahas satu-satu tentang istilah “isu”, “tabayun”, “pembunuhan karakter”, dan “pengutuk kegelapan” di artikel berbeda, di bawah rubrik OKMS 2013 Spesial. OKMS = blOg KeMaren Spesial, plesetan. ^^ Tapi karena capek, cukup segini dulu lah. Yang itu lain kali aja, minggu depan gitu.

6 Comments

  1. well setidaknya kita bisa ambil hikmahnya. karena ga semua orang bisa husnudzan, apa-apa yang kita tulis harus sangat jelas netralitas tendensinya. atau mungkin karena ga semua orang “bersedia” membaca artikel secara keseluruhan, mungkin ada baiknya dikasih tulisan “baca dulu sampai selesai, baru berkomentar”. hahaha, gimana kabarmu bed?😀

  2. Ping-balik: OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak? | Blog Kemaren Siang

  3. rifky says

    setelah saya baca, inti dari artikel itu kan cuma penasaran saja: sholat magrib atau nggak. tapi respon dari luar ternyata luar biasa ya. sampai ada yang bilang ‘pembunuhan karakter’. hahaha

  4. buset dah, ampe pembahasan logika dalam kalimat juga.
    Kita maklumin panitia OSKM dan pengondisian shalat juga pasti capek, dan banyak konfrontasi.
    Jadi panas dikit, cepat lagi panasnya.
    Mungkin juga kita tidak terbiasa dengan perbedaan, dan proses ‘tabayyun’nya.
    Semoga sudah jelas dan hati tidak berbekas dengan prasangka saja ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s