Sosial Politik
Tinggalkan sebuah Komentar

Komentar Aneh Tentang Ujian Nasional

Bulan ini pembicaraan mengenai Ujian Nasional makin ramai. Lagi masanya UN sih. Tidak seperti tahun lalu yang beritanya hanya seputar penolakan UN dan doa bersama, tahun ini ada banyak cerita pengakuan ttg. kecurangan pada saat berlangsungnya ujian. Entah itu dari guru yang ceritanya menyebar ke milis, dari peserta termasuk cerita yang saya pos tahun lalu, atau dari pengawas ujian yang jujur dan berani.

Nah, cerita yang terakhir di atas adalah yang terbaru dan kayaknya cukup heboh. Komentar balasan di bawahnya lucu-lucu. Disini saya ingin mengutip komentar tersebut dan menunjukkan kenapa itu lucu.

Belum tentu loh murid2 yang menurut anda rusak itu “rusak”. BIsa aja nantinya mereka lebih sukses daripada org yg jujur pas UN. UN itu cuma 1 lompatan kehidupan kok. Yang jamin masa depan org itu cuma dirinya sendiri dan Tuhan-Nya. Mungkin aja sebelumnya mereka jujur tapi saat UN saja mereka “terpaksa” curang karena takut tidak lulus, tetapi selanjutnya jadi orang yang lurus kembali dan jadi orang sukses. :)

Point nya adalah jangan menjudge buku dari 1 titik noda hitam saja. tapi lihat keseluruhan buku itu. akhir kata adalah, UN bukan metode yg tepat untuk menilai kemampuan akademis siswa, lebih tepatnya adalah proses pembelajaran dia dari kelas 1-3 SMA tersebut. :)

Komentar di atas ditulis untuk menanggapi pendapat bahwa orang yang mencontek pada ujian nasional itu “merusak” dirinya sendiri. Tentu saja, saya setuju dengan isi komentar di atas. UN itu cuma satu lompatan dari garis panjang kehidupan. Dan tidak serta merta mencontek di satu ujian itu akan mendegradasi moral atau bahkan menjerumuskan ke amsa depan yang suram. Kemudian, bisa saja orang jahat balik lagi jadi baik di masa depan.

Yah, saya setuju dengan kontennya. Akan tetapi, semangat yang diberikan sama sekali laughable (ini Indonesianya apa ya). Kalau semangatnya begitu, mari kita biarkan para pencopet, pemerkosa, dan koruptor itu. Toh, mereka bisa saja kembali berbuat kebaikan kan di masa depan. Toh belum tentu mereka yang kita anggap rusak itu “rusak”. Yang jamin masa depan org itu cuma dirinya sendiri dan Tuhan-Nya.

Menurut saya, tidak sepantasnya kita membiarkan pelanggaran kode etik seperti itu. Tidak ada logikanya. Harusnya sedih lah, dengan keadaan ini. Bukan memberikan pesan-pesan bahwa si penjahat belum tentu jahat.

Selain itu, mari kita lihat lagi. UN itu cuma satu lompatan kehidupan. So, what’s the big deal…? Ya udah, kenapa sih harus sebegitu ngototnya lulus dari UN itu saat itu juga.

Guru matematika SMA pernah bilang, ”Jangankan Anda, saya pun pasti tidak lulus jika ikut UN tersebut, karena saya hanya mengerti matematika”.

Yg harus di slahkan sebenarnya adlah menteri Pendidikan. Pecat aja beliau, klo emng beliau jenius sruh jawab sendiri tu sluruh pelajaran yg mau di UN kan. klo emng beliau bsa smua, sya rasa kita pantas membuat UN, tp klo beliau sja tdk bsa dan hanya bsa membuat masalah atau korupsi lbh baik beliau dsruh mundur atau pecat secara tdk hormat sja. Gara-gara beliau yg menyesatkan Pendidikan di indonesia ini.

Entah logical fallacy macam apa yang dipakai para komenter di atas. Kalau begitu ceritanya, hampir semua orang dewasa bakal tidak lulus UN lah. Mereka komenter ini sepertinya tidak paham tugas guru dan tugas menteri pendidikan. Guru dan menteri pendidikan itu memang tidak diwajibkan lulus UN dan tidak dituntut untuk itu. Hey, mereka sudah pernah melakukannya dahulu sekali. Udah duluan boi!

Guru tugasnya adalah mengajar. Supaya efektif, guru harus fokus mengajar satu hal saja, hal yang memang dialah ahlinya. Tidak mungkin guru disuruh belajar semua dan mengajar semua subjek. Guru SD itu namanya. Menteri pendidikan, di lain pihak bertugas untuk menentukan kebijakan secara nasional. Nasional men! Gede. Banyak yang harus dipikirkan. Memang kebijakan yang ada kayaknya banyak kekurangan disana-sini, tidak bisa diterapkan disana-sini, tetapi mereka juga manusia. Bisa salah, dan suka trial and error. Kayaknya, siapapun  menterinya Anda bakal membuat pernyataan seperti itu. Lalu, apa kita hapuskan saja kementrian pendidikan? Biar ramai.

Sementara itu, siswa memang diberikan asupan mata uji yang diberikan. Tidak tanggung-tanggung, tiga tahun lamanya mereka diajari mata pelajaran itu. Apakah tidak wajar, kalau penentu kebijakan ingin melihat, benarkah tiga tahun persiapan itu dapat memberikan siswa cukup bekal untuk menghadapi perang yang hanya sehari? Tidak wajarkah?

Lagipula kalau saya Roy Suryo terus saya ingin mengadakan pertandingan bola, apakah saya harus bisa main bola?

sekarang gw tanya apa lu tega ngeliat anak yang pas pengumuman UN nangis kejer2, shock, stress cuma gara g lulus UN ? apa lu mau ngancurin masa depan seseorang ? apa lu siap hal tersebut terjadi ke anak lu ? apa lu mau ada cap kalo anak lu (maaf) goblok cuman gara2 gak lulus UN ? IMO gapapa lah anak tersebut bisa lulus UN asal ia bisa mempertanggungjawabkan hasilnya itu baik di dunia kuliah ataupun di dunia kerjanya nanti.

Jika anak Anda stress dan masa depannya hancur cuma karena nggak lulus UN, sepertinya yang salah mendidik adalah Anda. Kalau nggak lulus UN ya ditenangkan lah, dicarikan solusi, atau dipeluk dan suruh belajar lebih giat.

Mempertanggungjawabkan hasilnya baik di dunia kuliah ataupun di dunia kerjanya nanti? Bisa memberi contoh konkret nggak bagaimana bentuk pertanggungjawabannya?

Nah, yang di bawah ini lebih aneh lagi…

Jangan terlalu Idealis lah, saya jujur kalo UN dulu pun saya tidak sepenuhnya “jujur” bukan berarti saya memiliki lembar kunci jawaban tapi saya lebih memilih bertanya kepada teman yang dibelakang saya jawaban dari soal yang saya sama sekali tidak bisa, Hanya beberapa nomor saja loh gak seluruhnya. sebuah hal yang wajar gak sih kalo ketika kita tidak bisa itu bertanya kepada yang lebih bisa? sama ketika Kita dapat Ujian Dari Tuhan, ketika kita sudah tidak sanggup lagi menghadapinya, maka kita secara “manusiawi” akan meminta tolong atau bantuan orang lain dan yang lebih sesat lagi kita minta tolong dan bantuan kepada Setan, hehe…

Sampai menganalogikan dengan ujian dari tuhan pula.. Haha… Coba kita ubah konteksnya dari Ujian Nasional menjadi kasus lain, tes TOEFL (dengan teks yang sama) atau korupsi misalnya.

Saya tidak sepenuhnya jujur bukan berarti saya mencuri uang negara. Tapi saya lebih memilih untuk menganggarkan kegiatan yang hanya diperlukan oleh saya. Cuma sekali-sekali doang kok. Sebuah hal yang wajar nggak sih kalau kita ditugasi ke luar kota, kita mau belanja macam-macam. Wajar dong uang perjalanan saya biayanya nggak kira-kira. Kebutuhan saya kan juga naik. Sama ketika kita tidak punya uang, kita secara manusiawi akan meminta kepada orang tua atau ngutang ke rentenir…

Ngapain sih saya ini…

Semua itu ada kode etiknya bung. Bukan (hanya) masalah idealis. Sangatlah tidak wajar kalau Anda tidak bisa di sebuah ujian, terus bertanya saat ujian itu sedang berlangsung. Sama tidak wajarnya kalau Anda tidak tahu ini shalat udah berapa rakaat terus tanya ke teman yang lagi shalat.

IBU HEBAT SEKALI, IBU KEREN SEKALI, IBU SATU2NYA GURU JUJUR DI INDONESIA, NGGAK ADA DUANYA…!!!’
WOOOOYYY, GURU JUJUR NGGAK CUMA ELU DOANG!!! SOK2AN BANGET!!!!

Standing Applause… Nevermind. Foolish people will make them foolish with everything they said…

Sebenarnya saya ingin memakai kata tolol dibanding aneh atau lucu pada judul/tulisan di atas. Akan tetapi, karena terlalu hardcore saya turunkan tensi saja deh.

This is Indonesia. Welcome to Indonesia…

Tidak heran jika ada murid yang jujur kemudian malah dijauhi teman dan diusir tetangga. <.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s