North Sumatera
Comments 4

Tanjung Balai Kota Becak Motor aka Betor

Keluarga saya sekarang tinggal di kota pesisir pantai Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Kota ini dulunya merupakan bagian kabupaten Asahan dan sekarang menjadi kota tersendiri. Nama Asahan di belakang kota itu sering disematkan supaya membedakan antara Tanjung Balai Karimun di Riau. Sebagaimana kota pesisir pantai, kota ini merupakan kota pelabuhan dan banyak warganya yang bekerja sebagai nelayan, termasuk kakek saya. Sebagai kota pelabuhan, kota ini sangat penting pada zaman Belanda. Kota ini sudah ada sejak tahun 1700 loh, walaupun jadi kota Tanjung Balai tahun 1987 dan bahkan katanya pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara, walaupun sekarang tidak tampak terlalu ramai disana.

Jarak dari Medan ke Tanjung Balai sekitar 4 jam melalui bus atau kereta api. Dari Tanjung Balai kita juga bisa menyeberang ke Malaysia dengan jarak sekitar 4 jam juga. Suasana kota tenang dan asri, pernah mendapat adipura juga. Agak panas dan berpasir sih mungkin karena dekat laut. Debu yang beterbangan di tengah jalan kebanyakan debu laut atau pasir putih. Terkadang beberapa bagian kota bisa tergenang banjir pasang saat pasang purnama. Oh ya, setiap ulang tahun pemda kota mengadakan pesta kerang loh di Tanjung Balai.

Suasana Kota Tanjung Balai

Suasana Kota Tanjung Balai

Sarana transportasi utama di Tanjung Balai bisa dibilang cukup unik: ojek. Tidak sembarang ojek, ojek disini bergabung dengan becak menjadi becak motor disingkat betor. Tidak seperti becak motor yang mungkin sering Anda lihat, betor merupakan sambungan motor dan becak secara samping menyamping. Motor yang digunakan beragam mulai dari motor bebek, motor laki, sampai motor gede, sayangnya yang terakhir ini saya tidak sempat memotretnya.

Betor sangat digemari sampai-sampai mengalahkan ketenaran angkot. Memang ada angkot dan terminal di kota ini. Akan tetapi terminal disini sangat sepi. Di terminal biasanya hanya tampak satu dua angkot saja. Sebaliknya di pasar-pasar, jalan, dan tempat keramaian lainnya tampak rentetan betor parkir bersiap mengantar penumpang ke titik manapun di Tanjung Balai.

Meskipun namanya sekarang lazim disebut betor, masih ada betor yang memakai sepeda. Mungkin pembecak-pembecak ini tergolong kurang mampu membeli motor untuk mencari nafkah membecaknya.

Betor tanpa motor

Betor tanpa motor

Tidak hanya untuk sarana transportasi, sistem betor dipakai hampir di semua wahana. Gerobak untuk jualan, gerobak sampah, angkutan barang berat, dan sebagainya.

Tidak lupa pula dengan semangat kesetaraan gender emansipasi, wanita juga disarankan untuk ada yang menarik betor.

Ibu-ibu Penarik Betor

Ibu-ibu Penarik Betor

Demikian sedikit laporan tentang betor dari Tanjung Balai. Sebenarnya betor tidak hanya di Tanjung Balai. Hampir seluruh wilayah Sumatera Utara dan Sumatera bagian Utara terdapat betor. Di Medan misalnya, betor bisa jadi sarana alternatif untuk perjalanan jauh bebas macet (karena mamangnya tahu jalan tembus sana-sini). Akan tetapi, siap-siap saja mendapati hembusan angin yang kencang dan jantung degab-degub apalagi jika penariknya menggila, seperti yang pernah saya alami (Medan ujung ke ujung kurang dari satu jam, biasanya dua-tiga jam).

4 Comments

  1. I thoroughly enjoyed seeing the video of your city. It is great fun seeing different parts of the world while sitting in my comfy chair. Thanks, Margie

    • I am glad you like it Margie. Every city have it’s own unique interesting thing I think. I am looking forward to see your city too.
      By the way, do you understand Indonesian? Senang bertemu dengan Anda “Nice to meet you”, Margie.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s