Informatika
Comments 4

Susahnya Manajemen Foto

Foto di kamera digital atau foto dikumpulkan jadi satu di dalam folder Digital Camera Images (alias DCIM) dan diurutkan simply dengan nomor monoton ke atas. Tidak berapa lama setelah mengambil foto, kita harus memindahkan foto-foto tersebut ke komputer kemudian mengatur ulang kategorisasinya. Hal ini karena dua alasan. Pertama, karena keterbasan media simpan di kamera, kalau tidak terbatas mungkin nggak bakal ada yang mindahin foto ke disk. Kedua, untuk memudahkan akses ke foto tertentu di masa depan.

Saya -seperti biasa- bisa berkomplen ria, kenapa sih nggak bisa diatur otomatis sama si kamera! Namun, mari kita kesampingkan komplen tersebut di artikel ini. Lagipula, kalau ada pengaturan otomatis nanti muncul komplen yang lain lagi: sotoy kameranya!

Foto yang dikopi -kalau saya- dimasukkan ke folder yang dipisah menurut lokasi dan event. Di bawah folder Foto utama saya berisi folder-folder event general selevel linimasa bukan event spesifik. Beberapa contoh folder tersebut adalah “Jalan-jalan”, “Bandung”, “Itebe”, “Jepang”, dan “Tanjung Balai”.

Beberapa folder dipisah lagi sesuai tahun, seperti “Tanjung Balai 2011”, “Tanjung Balai 2012”, dan seterusnya. Folder tahunan ini terletak langsung di bawah folder Foto, karena saya lebih suka Flat Hierarchy dalam manajemen berkas.

Di bawah setiap folder event general tersebut barulah event spesifik. Misalnya foto saat saya jalan-jalan ke Tangkuban Perahu ada di dalam folder Jalan-jalan. Di akhir nama folder, biasanya saya bubuhi tanggal kejadian event.

Namun, sistem ini ada kelemahannya. Misalnya tadi, ada folder Jepang. Karena ini bagian dari salah satu life event saya, sekarang.  Dan juga event ini terbentang dalam masa yang cukup lama, bertahun-tahun, dan sepertinya sampai waktu yang belum di tentukan…

Ya gampang. Lakukan kayak si folder Tanjung Balai tadi aja, kasih label per tahun. Jepang 2014, Jepang 2015, gitu kenapa? Well, kembali ke tujuan kategorisasi foto tadi: supaya foto mudah diakses kembali. Sayangnya (atau syukurnya?), ada banyak sekali kejadian di dalam life event ini. Masa kita harus mengingat tahun kejadian event dulu baru bisa akses fotonya. Mengingat waktu kan lebih sulit dari mengingat kejadian.

Akhirnya, folder Jepang tadi saya pilah lagi dengan event general yang lebih spesifik. Sub-general. Misalnya PPI Toyohashi. Karena event PPI Toyohashi berulang setiap tahun, cukup logis untuk memberikan label tahun ke setiap foldernya.

Namun tetap aja ada yang tidak bisa dibuat event sub-general. Akibatnya, masih tetap ada file-file yang bercogok di folder “Japan” juga. Tetap tidak hilang folder Japan-nya. Hmf.

Folder lain, misalnya jalan-jalan di jepang. Terpisah dari folder Jalan-jalan sebelumnya (yang sebelumnya dibuat non-Jepang), soalnya lebih sering trip di Jepang akhir-akhir ini.

Saya paling bangga dengan folder di dalam Japan Trip ini, soalnya di dalamnya tertata rapi dengan logis. Penamaan ketat, Tahun – Musim – Tempat. Isi foldernya banyak dan strukturnya flat.

Kelemahannya, event jalan-jalan yang trivial nggak bisa masuk disini. Misal jalan-jalan ke restoran es krim atau ke taman naik sepeda atau keliling lari. Nggak keren kalau masuk folder elit di atas… Haduh-haduh…

Saya juga punya rencana buat memisahkan foto Jepang ini dari foto yang lain. Membuat hirarki folder yang lebih tinggi lagi, setara dengan folder “Foto” di atas. Soalnya sebagian besar foto ada di dia, agak lucu juga kalau semua folder ada prefix Japan-nya.

Namun, rencana tersebut terlalu radikal. Masa ada dua folder “Foto”. Lalu gimana kalau fotonya diambil di Jepang tetapi tidak bisa masuk ke super folder “Foto Jepang” tadi? Masalah pelik…

Repotnya juga, tidak semua foto punya event! Bisa jadi ada sedikit foto yang diambil random pas lagi pergi yang bukan jalan-jalan. Fotonya nggak banyak lho, kadang satu dua malah, jadi kalau mau dibuat folder event sendiri ya lucu. Nggak ada event-nya juga!!

Untuk foto seperti ini saya punya folder yang bagus. Unsorted. Semua misc foto masuk disini… Di dalamnya di kategori bebas, misalnya folder “Kereta” atau “Kucing” atau “Masak”.

Lucunya, di dalam folder Unsorted ini masih ada folder bernama Misc lagi. Foto yang sama sekali nggak bisa dikumpulin ke folder yang lain manapun lagi. Jadi semacam pencilan dari pencilan gitu… ^^

Dan jangan kaget kalau folder Misc ini ada dimana-mana. Di folder Bandung misalnya, ada Misc juga. Di folder Jepang juga ada. Saya juga bingung sendiri, enaknya gimana… Ada ide?

Kalau kalian gimana paradigma manajemen fotonya?

Iklan

4 Comments

  1. Ping-balik: Susahnya Manajemen Awan | Blog Kemaren Siang

  2. Masukin “Photos” dari Apple. Nanti kan aplikasinya mengkategorikan foto otomatis sesuai dengan tempat, waktu, atau orang yang ada di foto. Setelah fotonya dikategorikan, langsung lah, dipilih tipe organisasinya sebagai label yang permanen. Selesai deh. hahaha.. apple.. apple..

    • Sotoy berarti apple-nya tuh. Kalau mau bikin album manual gimana? Kalau eventnya terjadi di rentang berapa hari+lokasi berbeda-beda gimana?

      Kalau yg berdasarkan orang itu saya setuju.

      • Event-nya biasanya dikategorikan berdasarkan waktu dan tempat. Gampangnya sih, selama foto maneh berada di relatif satu tempat dan waktu yang berdekatan, akan dijadikan satu grup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s