Informatika
Comment 1

Bangga dengan Singapura, Malu dengan Indonesia

Sebelum melangkah lebih lanjut ke isi artikel, saya bocorkan dulu kepada Anda bahwa Anda telah ditipu. Judul artikel ini memang dibuat menyesatkan dengan kata lain misleading. Kenapa? Silakan lanjutkan membaca.

Senin siang 08 Oktober 2012, saya kebetulan berangkat ke kampus karena bosan di rumah. Tidak ada niat khusus sih tetapi ternyata ada kuliah umum di Ruang Multimedia Labtek V waktu itu. Kuliahnya sekilas tentang pengembangan riset teknologi di Singapura gitu. Topiknya sih katanya:

an overview of Singapore Interactive & Digital Media landscape and introduction of research and development activities at the Institute for Infocomm Research

Pembicara kuliah umum ini adalah Prof. Susanto Rahardja. Beliau adalah full professor di NUS (National Univ of Singapore).  Nama beliau mirip nama orang Indonesia ya. Beliau pun juga sepertinya fasih berbahasa Indonesia meskipun pada saat memberikan kuliah beliau memakai bahasa Inggris. Akan tetapi, saya tidak tahu pasti latar belakang atau biografi beliau. Belum stalking soalnya.

Secara umum, kuliah beliau sangat menarik. Kuliah umum beliau dibagi menjadi dua bagian.

Institute for Infocomm Research

Pertama, beliau memberikan presentasi tentang I2R (Institute for Infocomm Research). Review ini cenderung kepada kesuksesan riset yang dilakukan oleh I2R. Riset mereka merupakan riset cutting edge berteknologi mutakhir. Lebih dari itu, mereka melakukan riset yang praktikal dan benar-benar dipakai oleh industri. Pokoknya I2R sangat berjasa untuk industri Singapura dan dunia.

Mitra I2R ini sangat banyak sekali. Rasanya lebih dari separuh perusahaan elektronik yang kita pernah dengar. Intinya, jika kita melakukan riset di I2R, kebanyakan riset tersebut pasti praktikal. Bukan riset yang cuma bisa dipajang di perpustakaan saja.

I2R juga turut serta merancang standar-standar multimedia. Salah satunya yg khusus adalah standar untuk video di Cina. Paten I2R juga sangat banyak. Kutipan pak Rahardja yang saya ingat saat beliau menjelaskan hal ini adalah:

If you have one of these patent, you are very rich.

Sayangnya, saya merasa bahwa presentasi mengenai I2R ini hanya sekedar show-off saja. Habisnya, tidak dijelaskan apa kepentingan kita para peserta disana. Bagaimana rencana I2R terhadap pelajar Indonesia. Bagaimana kita bisa turut serta dalam penelitiannya, dan sebagainya. Cuma ditekankan bahwa: if you are here, you will not regret it.

SIGGRAPH ASIA 2012

Sesi terakhir merupakan sesi yang lebih menarik lagi. Kata Pak Rahardja, sesi ini sangat menarik karena berkaitan dengan pembuatan film. Presentasi tersebut mengenai SIGGRAPH ASIA 2012. Pak Rahardja ini memang sekarang menjabat sebagai ketua konferensi SIGGRAPH ASIA 2012 di Singapura.

Secara umum, SIGGRAPH merupakan asosiasi para peneliti bidang grafis komputer. Ia merupakan special interest group dari ACM (Association for Computing Machinery). Ajang konferensi SIGGRAPH merupakan yang paling bergengsi dibidang grafika. Saking bergengsinya, Pak Rahardja menjamin kelulusan S3 jika Anda memunyai satu saja makalah di konferensi ini. Satu saja. SIGGRAPH sangat selektif dalam kualitas makalah. Hanya sekitar 6% dari makalah terdaftar  yang dapat dipublikasikan di SIGGRAPH.

Every university dying to have just one paper on SIGGRAPH.

Oh ya, grafika adalah bidang informatika dan sains komputer yang fokus pada pembentukan objek-objek visual digital baik 2D dan 3D. Karena itu, hubungan grafika, SIGGRAPH, dan industri film sangatlah erat.

Seperti yang dijelaskan pada sesi pertama kuliah umum sebelumnya, Pak Rahardja sebenarnya berada pada bidang analisis gelombang dan pengolahan bahasa alami. Beliau sama sekali asing dengan bidang grafika. Tujuh tahun lalu, beliau duduk pada salah satu konferensi SIGGRAPH dengan hanya berbekal ketertarikan. Setelah melihat kemegahan SIGGRAPH, beliau tercengang dan terkesan. Beliau menjadi sangat tertarik pada bidang ini hingga tahun 2012 ini beliau dapat menjadi ketua konferensi SIGGRAPH ASIA 2012.

Ngomong-ngomong masalah industri film, tentu yang terlintas adalah Hollywood. Iya kan? Akan tetapi, Pak Rahardja mengemukakan bahwa pusat gravitasi dunia film dan grafika mulai bergeser ke timur. Industri secara umum pun mulai dikuasai oleh Asia. Dengan demikian, SIGGRAPH pun membuka “cabang” di ASIA. Konferensi SIGGRAPH ASIA 2012 diadakan di Singapura pada 28 November hingga 1 Desember. Pendaftaran dapat dilakukan melalui laman berikut.

Konferensi SIGGRAPH tidak hanya berbicara masalah teknis-teknisan saja. Disana juga ada pertandingan film animasi pendek berteknologi mutakhir. Alur cerita, tingkat kenyataan animasi, detail teknologi semua dipertandingkan disini. Salah satu yang ditayangkan dalam kuliah umum adalah film pendek berjudul Flamingo Pride. Super Keren!

Beberapa kali Pak Rahardja menekankan betapa exciting-nya konferensi SIGGRAPH ini, baik untuk peserta maupun pelaksana. Tingkat semangat untuk menemukan dan saling mempresentasikan teknologi grafis terbaru tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Penulis dapat merasakan betapa menggebunya Pak Rahardja terhadap SIGGRAPH ASIA ini. Meskipun kuliah umum ini bertopik I2R, Pak Rahardja lebih bersemangat menjelaskan (dan mempromosikan) SIGGRAPH ASIA yang diadakan akhir November tahun ini.

Saat presentasi ditutup, kesan yang menakjubkan membekas di kepala peserta kuliah umum.

Tibalah Saat Tanya Jawab

Bukan nyombong, Pak Rahardja sendiri yang bilang.

Anak ITB biasanya pertanyaannya bagus-bagus.

Saya sendiri sih tidak bertanya apa-apa. Cuma bisa terkagum-kagum saja dengan presentasi itu, sambil mengawang-awang khayalan tentang SIGGRAPH ASIA 2012. Saya juga percaya, teman-teman apalagi anak Informatika ITB (kebanyakan peserta 2009, anak I 2009 pada jago-jago dan kritis-kritis) pasti pertanyaannya berkualitas dan cukup untuk menyulitkan orang sekelas Susanto Rahardja untuk menjawab.

Pertanyaan mengenai I2R yang saya sayangkan tidak dijelaskan pun akhirnya ditanyakan oleh salah satu peserta.

Bagaimana pendanaan di Institute of Infocomm Research?

Oh, 80% dana berasal dari pemerintah. Sisanya yang 20% dari industri. Keuntungan berapa persen (penulis lupa) juga akan diberikan untuk periset.

Bagaimana kita bisa turut serta riset di I2R? Riset yang bisa dilakukan disana apa saja?

Kita banyak program riset. Intinya semua riset yang bisa memajukan Singapura. Pemerintah Singapura akan mendukung penuh riset-riset yang bisa membuat Singapura lebih kaya, lebih berteknologi, dan lebih berekonomi.

Memang beberapa pertanyaan awal cukup menarik, brilian, dan terlalu teknis untuk ditanyakan untuk Pak Rahardja yang berkapasitas sebagai ketua konferensi. Kesan mencengangkan tadi masih ada untuk dua belah pihak. Namun, pada akhir waktu, semua berubah  ketika ada suatu pertanyaan yang menurut saya kok … terlalu. Sampai-sampai Pak Rahardja berkomentar:

ITB student always gives great question. And great question means I can not fully answer it. But, this…

Pertanyaan itu adalah

Bagaimana cara mendapatkan paper SIGGRAPH?

Apakah papernya harus bayar? Harus daftar dulu ya?

Kalau mau gratis gimana?

atau yang menyerempet dengannya. Satu orang yang bertanya sih bisa dimaklumi. Akan tetapi, entah mental mahasiswanya sangat membumi atau mental Indonesianya yang sangat menujam, satu pertanyaan seperti itu disambut oleh pertanyaan lain yang mirip oleh orang lain. Oh, god why…

Jika Anda masih bingung kenapa pertanyaan tadi buruk, berikut jawabannya.

  • Bagaimana cara mendapatkan makalah SIGGRAPH? Buka browser, ketika SIGGRAPH di omnibox browser. Cari situs SIGGRAPH. Cari link yang kira-kira masuk ke daftar paper SIGGRAPH. Atau googling aja langsung judulnya sampai dapet pdfnya.
  • Apakah harus daftar? Ya, kalau nemu laman papernya pastinya ada halaman sign-up dulu.
  • Apakah harus bayar? Bisa iya bisa tidak. Kalau lewat website jurnal contohnya SIGGRAPH kemungkinan bayar. Kalau niat bisa googling lebih lanjut sampai dapet yang gratis.
  • Kalau mau gratis? Ya googling sampe dapet, atau minta sama prodi untuk download, atau kontak langsung penulisnya.

Di zaman canggih gini, pertanyaan seperti itu mudah dijawab. Google. Yahoo. Bing. Lagipula pertanyaan itu out-of-context – di luar konteks. Kemudian, oertanyaan yang gratis-ini-gratis-itu tersebut dilontarkan oleh beberapa orang. Seolah-olah mereka ingin jawaban:

“oh yeah, because I am SIGGRAPH ASIA’s 2012 chairman, you will be given the paper free for all”

Gretongan: gaya Indonesiaku. Pertanyaan-pertanyaan di akhir itu membuat kesan presentasi kuliah umum tadi tidak lagi mencengangkan. Setidaknya mungkin dari sisi pembicara terhadap pesertanya yang begitu third-world-country.

Rangkaian kuliah umum ditutup dengan promosi kembali Pak Rahardja terhadap SIGGRAPH ASIA 2012 dan iming-iming berupa kesan yang mencengangkan, informasi teknologi paling mutakhir, dan koneksi dengan para ahli jika kita bisa ke Singapura akhir November kelak. Mungkin, langkah promosi ini diambil Pak Rahardja untuk membali memberikan kesan “wah” pada kuliahnya yg mulai hambar oleh pertanyaan gretongan tadi.

If you wait for next year, it will be held on Los Angeles. LA is very far right. It’s very expensive you know. But, Singapore is very near and cheap also. The food is the best. I can assure you will eat different dishes everyday if you stay there for one month.

Oh yeah, Singapore now has two Casinos! Great right? I never go to it though, for I am a permanent resident I am forbidden to get in.

Waduh, kok bangga banget bapak ini punya kasino. Yah, bangga bapak  dengan negaranya intinya. Baru tahu juga saya ternyata kasino Singapura hanya boleh dimasuki orang luar. Ya orang-orang Indonesia gitu bisa lah. Begitu protektifnya mereka dengan rakyat sendiri.

Kesan pemerintah Singapura yang sangat memerhatikan para periset demi kemajuan negerinya. Kesan pemerintah kita yang memble dengan ujian masuk PT, ujian akhir sekolah, dan bahkan dengan pendidikan SD (apalagi riset nasional).  Kebanggaan Pak Sutanto Rahardja dengan Singapura. Malunya saya dengan orang Indonesia (maaf pak, sudah jauh-jauh dari Singapur malah diberondongi pertanyaan gratisan). Hal itu semua menutup hari ini dengan cukup kelabu.

Penutup

Pak Rahardja dalam menyampaikan kuliahnya sangat asyik. Mantep kayaknya kalau belajar di kelas beliau. Bahasa Inggrisnya fasih dan jelas. Indonesia juga ngerti. Akan tetapi, Singlishnya agak kerasa lah saat beliau ngomong Indonesia.

Pak Rahardja banyak juga melucu di kuliah umum tadi. Salah satu kutipan yang cukup lucu yang membekas di kepala adalah ketika beliau menyebutkan salah satu riset dari MIT (saya lupa konteksnya apa).

… MIT. Do you know MIT? Well, something looks like Itebe, but US version.

US version… Haha… D:

Oh ya, sudah tahu kan ke-misleading-an judul artikel ini? Jadi bukan saya yang bangga dengan Singapura. Yang bangga dengan Singapura itu bapaknya. Yang malu dengan Indonesia itu saya. Ada dua subjek berbeda disini.😀

1 Komentar

  1. Ping-balik: MMSP 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s