Dunia Maya, Sosial Politik
Comments 3

Jejaring Sosial Nyata (1 dari 3) ~ Relasi Sosial

Ketika mendengar istilah jejaring sosial, kita langsung menghubungkannya dengan layanan web yang menghubungkan kita dengan orang lain. Pada dasarnya, jejaring sosial itu ada jauh sebelum internet ditemukan : ketika manusia bersosialisasi dan membentuk kelompok-kelompok.

Berikut adalah ringkasan dari slide presentasi yang berjudul The Real Life Social Network oleh Paul Adam (padday). Paul Adam adalah salah seorang enginer yang merancang Google+. Slide ini dipresentasikan pada Voices That Matter Web Design Conference, San Francisco bulan Juni 2010.

Ringkasan ini berfokus pada bentuk hubungan sosial manusia secara nyata dan bagaimana harusnya itu dirancang dalam web.

Dalam slide ini, padday juga memperingatkan bahwa kita khususnya bagi pengembang web (layanan web apapun) dan pebisnis mau tidak mau harus bisa merancang bagaimana sistem jejaring sosial yang baik. Bagi kita para pengguna, slide ini juga berguna untuk memberikan pengetahuan tambahan bagaimana berjejaring sosial yang baik.


Jejaring Sosial Nyata

Bagaimana orang terhubung satu sama lain dan apa itu artinya saat mereka daring.

Web mengalami perubahan mendasar

Web sebelumnya dirancang untuk saling menghubungkan dokumen antara satu dengan lainnya. Kemudian kita lihat web dikembangkan untuk memuat media sosial (social media). Kini kita lihat web berfungsi untuk menghubungkan orang satu sama lain. Orang tersebut kemudian membawa konten yang ia punya ketika berkunjung antara satu web dan web lain. Misal, kamu login sebuah situs berita dengan akun Facebook. Disana kamu akan muncul sebagai identitas Facebook dan profil serta jaringan temanmu ikut ke dalamnya.

Saat kita menggunakan mesin pencari, kita sendirian. Kita memperoleh jutaan hasil tetapi kita tidak menemukan orang lain. Tetapi perhatikan kita sering berbagi tautan (link) yang kita temu, kemudian membicarakannya dengan orang tersebut saat bertemu.

Kini, kita melihat interaksi sosial di pencarian. Orang-orang mulai memanfaatkan web untuk mencari informasi dari sesamanya, bukan dari bisnis lagi. Orang mulai mencari pendapat tentang suatu merk dari teman dan orang lain bukan lagi dari informasi “bisnis” yang diberikan. Seperti gambar di atas, entri pertama dan kedua adalah resep dari orang. Kentri keempat memiliki rating. Entri kelima barulah toko yang menjual banana split.

Orang kini lebih sering memanfaatkan web untuk berinteraksi dengan orang. Konsumsi kepada konten situs web mulai berkurang. Hampir setiap situs sekarang punya fitur sosial.

Pahami perilaku bukan teknologi

Kita menggunakan teknologi yang tidak ada beberapa tahun lalu. Ketika orang mendengar perubahan web, orang fokus terhadap teknologi. Perubahan yang cepat berarti merancang teknologi apa yang diperlukan selanjutnya. Akan tetapi, orang tidak peduli dengan teknologi. Mereka peduli dengan interaksi yang ditawarkan oleh teknologi itu.

Teknologi tidak mengubah cara kita berpikir. Jejaring sosial bukan hal baru. Sudah ribuan tahun orang berinteraksi satu sama lain, berkumpul menjadi grup-grup, menggosip, dll. Munculnya web sosial hanya berarti dunia maya itu mulai mengejar dunia nyata kita. Alat komunikasi kita mungkin berubah, tetapi cara kita berkomunikasi tetap sama polanya seperti ribuan tahun tadi.

Ada dua masalah dengan berfokus pada teknologi. Satu, tidak ada tujuan jelas. Orang tidak tahu apa guna teknologi yang dibangun. Banyak laman Facebook yang punya ratusan ribu fans. Terus? Sudah, begitu saja. Tidak ada obrolan, hubungan, interaksi, dll. Dua, fokus motivasi. Saat melihat orang facebookan dan bertanya “ngapain loe“, tidak mungkin dia menjawab “nyejaring sosial gan” atau “facebookan gan“. Kemungkinan dia menjawab “ini ngecek poto nikahan mas yul kemaren“. Kita perlu memahami apa yang menjadi motivasi orang memakai teknologi tersebut.

Pahami sosial itu kompleks

Jejaring sosial hanyalah sarana untuk mencapai akhir, pengalaman berinteraksi yang baik. Akan tetapi, memahami interaksi sosial itu sulit. Sosial itu kompleks, sangat kompleks. Memang sulit memahami keseluruhan motivasi dalam sosial.

Sebagai contoh betapa kompleksnya sosial, mari kita lihat sedikit bagaimana orang mengelompokkan relasi.

Kita tidak hanya memiliki satu grup “teman”. Tidak ada satu grup besar bernama “teman” di dunia nyata. Orang offline punya grup yang terbentuk atas fase kehidupan dan pengalaman yang sama. Ada teman SMA, teman dekat rumah, teman main gitar, keluarga, dll. Menariknya, berdasarkan riset, grup ini terpisah antara satu dengan lain. Terkadang kita memaksa menyatukan orang dari grup berbeda, misal teman SMA jalan-jalan dengan teman kuliah. Hasilnya adalah awkward. Susah ngobrolnya.

Di Facebook kita sering melihat orang update status tentang makanan. Heran bukan, ngapain dia mengepos hal tidak penting dan aneh begitu. Padahal, mungkin status itu tadi bukan untuk kamu. Lain kali saat kamu melihat pos seperti itu, pahami kalau itu mungkin ditujukan untuk orang lain.

Kemudian, kata teman itu juga tidak membantu. Berdasarkan riset padday dari 324 grup, hanya 12% yang mengandung kata teman: “Teman …”. Hanya 3% yang dinamai “Teman”. Sisa 85% tidak memiliki kata ini.  Sejumlah 61% nama grup unik. Dengan demikian, jelas bukan teman penjelasan relasi terhadap mereka.

Jadi rancangan untuk jejaring sosial kita adalah sebagai berikut :

Hindari penggunaan kata teman. Berikan kebebasan orang untuk menamai grup mereka masing-masing.

Usahakan ada konversasi sampingan. Berikan fitur supaya orang bisa mengobrol dengan grup yang lebih kecil.


Relasi

Relasi-relasi dalam dunia nyata sangat berbeda satu sama lain dan rancangan jejaring sosial untuk masing-masing itu sangat berbeda.

Coba lihat daftar kontak di messenger. Semua orang yang terdaftar tercampur semua dalam satu grup. Ada teman, ada keluarga, ada orang yang entah siapa. Kadang-kadang karena takut orang yang nggak akrab tadi menyapa, kita pun mengeset messenger jadi mode offline. Padahal dengan begitu, orang yang dekat pun jadi tidak bisa menghubungi kita.

Selain terdapat banyak grup, keeratan relasi antar orang dalam grup bisa berbeda. Misalnya teman kuliah, ada orang yang dekat: keearatannya kuat, ada yang tidak begitu dekat: keeratannya lemah. Ada juga relasi yang hanya bersifat sementara.

Teman dengan keeratan kuat adalah orang-orang yang paling kita pedulikan. Sahabat, keluarga. Kita bergantung secara emosi kepada mereka. Katanya, berdasarkan riset, orang dengan hubungan erat lebih kecil potensi sakit jantungnya dan lebih sulit terkena flu dan demam.

Berdasarkan penelitian dari 3000 orang Amerika, rata-rata setiap orang punya hubungan yang kuat hanya kepada 4 orang. Kebanyakan hanya di antara dua sampai enam orang. Penelitian lain dari 1178 orang dewasa, rata-rata mereka hanya bertemu atau berbicara dengan 10 orang setiap minggunya. Jumlah teman di Facebook rata-rata mencapai 200an tetapi kebanyakan orang hanya berinteraksi secara reguler kepada 4 – 6 orang. Dalam riset lain, jumlah orang yang terdapat dalam foto di Facebook rata-rata adalah 6,6 orang. Hubungan kuat juga mendominasi pemakaian telepon. Sekitar 80% dari penggunaan telepon hanya ditujukan kepada 4 orang, 80% penggunaan skype hanya ke 2 orang yang sama. Bahkan para gamer lebih senang bermain dengan orang-orang yang mereka sudah kenal.

Orang dengan hubungan kuat sering memengaruhi keputusan kita. Misalnya saja, mereka menjadi faktor terbesar dalam memilih produk. Saat membeli barang misalnya, biasanya kamu berkonsultasi dengan teman dulu kan. Karena hubungan kuat ini berbeda, ia perlu dirancang berbeda dalam jejaring sosial dibanding hubungan yang lain.

Hubungan lemah adalah orang yang kamu tahu tetapi tidak peduli-peduli amat. Yang termasuk adalah teman dari temanmu, orang yang baru kenal, orang yang kurang akrab. Interaksi dengan mereka jarang.

Berdasarkan penelitian, otak kita hanya mampu menangani secara update 150 hubungan lemah. Hasil ini konsisten sepanjang sejarah. Masa neolithikum misalnya, desa akan terpecah menjadi dua setelah lebih dari 150 orang. Tentara Roma dipecah kepada 150 orang supaya mereka kenal satu sama lain. Dalam game online pun ketika interaksi terjadi pada lebih dari 150 orang, kohesi grup menjadi pecah. Mirip juga, Wikipedia melibatkan sekitar 150 administrator dalam setiap pengembangannya. Mungkin kita bisa tahu orang lebih banyak, tetapi tetap mengikuti (tetap update) terhadap kehidupan mereka itu tidak mungkin.

Jejaring sosial online membuat kita berhubungan dengan hubungan lemah lebih mudah. Sekarang kita punya rute yang mudah untuk mengetahui perihal mereka. Kita bisa melihat profil mereka, mengecek informasi yang mereka berikan, dan berkomunikasi langsung saat kita butuhkan. Sangat mudha.

Hubungan kuat dan lemah tidak cukup untuk mendeskripsikan relasi dalam jejaring sosial. Ada lagi hubungan sementara. Misal mbak-mbak di kasir, mbak-mbak di call center, supir angkot, dll. Kini dengan adanya web, hubungan sementara ini kian biasa terjadi. Orang-orang yang berkomentar di blog, tim yang membalas email keluhanmu, orang yang memberi resensi anime yang kamu suka, atau pembeli di kaskus.

Sebagai perancang hal terpenting dalam merancang hubungan antar relasi temporal/ sementara adalah kepercayaan (trust). Bagaimana kita merancang supaya orang tahu seberapa besar orang lain (yang belum mereka kenal itu) dapat dipercaya. Dalam review produk di web misalnya, bagaimana kita bisa tahu bahwa yang komentar disana itu pereview yang asli, benar-benar pembeli, atau hanya sekedar lewat.

Kita harus memahami hubungan mana, keeratan yang mana yang kita rancang fitur jejaring sosialnya. Sesuatu yang dirancang untuk teman dekat tentu berbeda dengan yang dirancang untuk teman saja dan sangat berbeda dengan yang dirancang untuk orang asing. Merancang suatu sistem yang dapat menangani semuanya hanya menghasilkan solusi kompromi bagi semua hubungan.


bersambung…

Artikel Terkait

3 Comments

  1. Ping-balik: 21 situs sosial media | blog no name

  2. Ping-balik: 15 Jejaring Sosial Terpopuler dan Beberapa Situs Lainnya | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Bagaimana Saya Sekarang Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s