Islam
Comments 2

Akar Konflik : Mengapa Islam Banyak Tertimpa Masalah?

Konflik yang Dihadapi Islam

Seperti yang kita lihat sekarang ini, Islam banyak sekali menghadapi masalah. Dia seperti diserang dari semua arah. Dari dalam ada banyak mahzab-mahzab yang orangnya, bukan mahzabnya, sering kali bertengkar satu sama lain. Partai-partai saling tidak mengakui satu sama lain. Orang islamnya sendiri pun banyak yang tidak berislam dengan benar. Rakyat banyak yang klenik. Dakwah ditolak. Bid’ah merajalela. Dari pinggiran, eh ada yang ngaku-ngaku jadi nabi. Penerus Muhammad lah. Jibril lah. Al Masih lah. Yah, saya sebut pinggiran karena mereka berlabel islam, berbentuk seperti islam, mengaku islam, tetapi pada dasarnya bukan orang islam. Mereka membuat agama baru. Dari luar islam, serangan banyak dilakukan. Ada Islam Liberal, berlabel islam, berbentuk bukan islam, dan dasarnya bukan menganut sistem islam. Ada lagi kelompok yang lebih jelas permusuhannya seperti yahudi dan anteknya. Banyak sekali musuh islam.

Islam kini merupakan sorotan dunia. Di luar sana, islam dicap teroris. Di beberapa negara yang mengaku demokrasi malah mendiskriminasi penganut agama ini. Namanya agak kearaban dikit, dicurigai. Beberapa kasus malah berusaha memusnahkan islam dari daerahnya. Penganiayaan, pembantaian. Konflik di timur tengah apalagi. Abadi. Gak ada habis-habisnya. Atas nama siapa? Ya atas nama islam.

Kasus-kasus yang sedikit beraroma islam juga dibumbui dengan bumbu yang memojokkan posisi islam. Sebagaimana artis yang lebih disukai berita jeleknya dibanding berita bagusnya, islam pun begitu. Jika ada kejadian bernuansa konflik yang dimotori islam, dunia akan bergerak. Pemimpin dunia mengkritik dan mengutuk. Berita pun dibuat seolah-olah kejadian itu merupakan kedzaliman yang dibuat oleh islam walaupun fakta yang terjadi berkebalikan. Kejadian yang paling nyata adalah kasus protes warga bogor terhadap pembangunan gerja ilegal beberapa waktu lalu. Jika ada kebaikan yang dilakukan islam, tidak akan ada yang tertarik meliput. Apalagi bila islam yang tertindas, dunia akan bungkam. Contoh jelasnya adalah kasus Marwa Al Sharbini, di Jerman 2009 silam, yang dibunuh di dalam ruang sidang saat dia menuntut orang yang menghina jilbabnya. Suaminya pun ditembak polisi saat menyelamatkan istrinya itu. Akan tetapi, mana ada pemimpin dunia yang angkat bicara.

Beberapa saat yang lalu juga dunia islam Indonesia digemparkan dengan kedatangan mahluk asing pembawa perubahan (katanya) : Irshad Manji. Lagi-lagi, islam gerah. Protes banyak keluar di sana sini. Diskusi pun dipaksa dibubarkan.

Banyaknya konflik ini membuat pertanyaan : kok bisa. Sehingga beberapa orang mulai berspekulasi : islamnya nih yang bermasalah


Tokoh Utama

Tidak. Tidak. Coba perhatikan cerita, cerita apa saja. Film, komik, wayang, novel, misteri, atau kisah rakyat. Coba perhatikan. Siapa yang sering sekali mendapat masalah dalam cerita tersebut. Apakah penjahat? Apakah figuran? Tidak. Tokoh utama adalah yang paling sering sekali dihujani masalah. Mana ada tokoh utama yang adem ayem. Satu demi satu konflik muncul, mengganggu kehidupan si tokoh. Mati penjahat satu, muncul penjahat lain yang lebih hebat. Sudah diselesaikan terkadang masih juga meresehi si tokoh lagi. Sampai tamat cerita, barulah si tokoh utama ini bisa istirahat dengan tenang.

Sederhana. Hanya tokoh utama lah yang berhadapan dengan masalah pelik.

Islam mendapat masalah tidak lain karena ia adalah tokoh utama di muka bumi ini. Islam muncul ketika bumi, ketika manusia memulai ceritanya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al Isra’/17:70)

…“Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura/42:13)

Kemudian hanya ketika bumi tamat lah, Islam bisa istirahat dengan tenang.

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah (kiamat) sementara keadaan mereka tetap seperti itu .”  (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Allah mengirimkan angin yang lebih lembut dari sutera dari arah Yaman. Angin itu mencabut nyawa setiap orang yang dihatinya terdapat iman walau sebesar atom.” (HR. Muslim)

Itulah cerita sang tokoh utama. Sebelum tamat cerita, harus banyak menempuh ujian. Karena islam adalah tokoh utama pulalah yang membuat ia menjadi sorotan, menjadi fokus dunia. Wajarlah jika islam diliputi oleh banyak masalah dalam hidupnya.


Akar Konflik menurut Teori Sosial

Dalam memahami konflik, orang sosial memiliki beberapa teori.

Teori Negosiasi Prinsip

Pertama, teori negosiasi prinsip. Teori ini menganggap bahwa ada perbedaan pandangan antara orang-orang yang mengalami konflik. Menurut teori ini, konflik bisa dihindari bila ada kesepakatan dan perundingan terhadap prinsip masing-masing pihak yang bertikai.

Islam memiliki perangkat prinsip yang lengkap, tidak hanya dalam keagamaan tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, agak kurang tepat menganggap islam itu hanya sebagai agama. Ia adalah din, sistem kehidupan. Sistem kehidupan itu ada banyak. Ada agama, ada keluarga, ada pemerintahan, ada ekonomi, ada kemasyarakatan. Seluruh perangkat sistem kehidupan tadi ada prinsipnya dalam islam.

Namun, banyak sekali yang berpandangan berbeda dengan keutuhan islam ini. Di dalam islam sendiri, banyak yang tidak mau berpandangan yang sesuai dengan sunnah rasul. Terlebih lagi di luar islam. Mereka tidak rela jika prinsip-prinsip islam diterapkan. Mereka tidak ingin ada pencampuran antara agama dan pemerintahan. Mereka tidak ingin hidup dan hukum diatur syariah. Lebih sederhana lagi, mereka tidak ingin ada atribut agama di tempat umum. Sebaliknya, kita juga tidak ingin jika prinsip thagut diterapkan. Bagai air dan minyak, keduanya tidak akan bersatu sehingga timbullah gesekan.

Orang islam untungnya masih banyak yang memandang islam sebagai agama yang memberi tuntunan kehidupan. Meskipun orang islam itu tidak menunaikan tuntunan islam dengan baik – tidak shalat misalnya, mereka masih menjunjung tinggi agama. Orang islam memegang teguh pandangan atau prinsip ini. Sebaliknya, orang barat memandang remeh terhadap agama. Dengan dalih kebebasan pendapat, mereka dapat menghina agama dan perlengkapannya seenak perut mereka.  Lihat saja banyak sekali lelucon tentang yesus, gereja, dan lain-lain yang beredar. Kemudian, mereka juga memperolok islam dengan harapan bahwa umat islam bisa mengelus dada saat rasulullah dihina dengan kartun.

Santailah, namanya juga becanda gan.

Sejak zaman rasulullah, mereka – orang kafir – berkata begitu. Kami hanya berolok-olok. Tidak, prinsip kami berbeda dengan kalian barat. Kami menghargai agama kami di atas kebebasan pendapat kalian. Kami paham bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijadikan bahan bercanda. Kami sadar bahwa kebebasan pendapat tidak berarti kita bebas berkata apapun seenak perut kita tanpa menerima konsekuensi. Kami tahu batas dan kalian melampaui batas. Terserah kalau kalian ingin mempermainkan agama kalian sendiri, tetapi jangan agama kami.

Tentu saja prinsip islam tidak bisa dinegosiasi atau ditawar-tawar. Dengan demikian, atas dasar perbedaan prinsip ini saja konflik bisa terjadi.

Teori Kebutuhan Manudia dan Teori Identitas

Kemudian, teori kebutuhan manusia berasumsi bahwa konflik disebabkan terhalangnya atau tidak terpenuhinya kebutuhan manusia. Abraham Maslow mengemukakan hierarki lima kebutuhan manusia yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta, sayang, dan kepemilikan, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualiasi diri. Teori ini berkaitan dengan teori identitas yang menganggap bahwa konflik muncul karena identitas yang terancam. Identitas pada dasarnya adalah kebutuhan manusia juga.

Islam itu menyeluruh. Untuk menjamin keseluruhan tersebut, banyak sekali syarat yang dibutuhkan oleh islam. Kelima kebutuhan yang disebut Maslow tadi tentu saja juga dibutuhkan oleh islam dan muslim. Islam butuh sarana secara fisik untuk memastikan tersampaikannya ilmu. Itulah mengapa di negara yang dipimpin oleh rezim militer justru umat islamnya malah menguat. Mereka berusaha mendapatkan kebutuhan dasarnya dulu, kebutuhan fisiologis dalam primadia Maslow tadi. Jika sudah terlalu menekan, rezim itu terpaksa ditumbangkan karena islam butuh keamanan untuk menjamin kegiatan agama dapat terlaksana.

Islam butuh cinta dan kasih sayang. Itulah mengapa dakwah terus ada. Perlu ada semangat kepemilikan atau ghirah dalam islam. Itulah mengapa ajaran islam terus disyiarkan. Jika harga diri islam diancam, muslim akan bergerak. Mungkin kebutuhan harga diri inilah yang paling dipegang oleh muslim di daerah-daerah, meskipun dia sebut saja tidak shalat (kecuali dianya terjangkit liberalisme). Terlebih lagi banyak hukum islam yang tidak dapat diberlakukan jika tidak ada aktualiasi dalam bentuk lembaga kenegaraan.

Tentu saja jika keberadaan kaum muslimin terancam, mereka akan melawan balik. Hal ini yang terjadi di Pattani, Boznia, dll. bukan cuma islam saja, adalah wajar saat kelompok ditindas dia akan bangkit. Akan tetapi, identitas muslim bukan hanya nyawanya saja tetapi juga keleluasaan untuk menjalankan syariat islamnya. Mungkin tidak seperti ideologi atau agama lain yang bisa *dipaksakan* hidup tanpa pelaksaaan ajaran mereka. Terhalangnya kebutuhan menjalankan syariat dan kebutuhan identitas ini adalah rata-rata penyebab konflik di seluruh dunia. Sekarang masalahnya, mengapa banyak pihak yang menghalang-halangi islam untuk merealisasikan identitasnya?

Perbedaan prinsip ditambah terancamnya identitas pula yang menyebabkan islam reaktif terhadap antek-antek seperti Irshad Manji. Prinsip islam sama sekali berbeda dengan prinsip sekularisme, liberalisme, pluralisme ala barat. Keberadaan prinsip mereka tentu saja sangat mengancam identitas islam. Sudah terlalu banyak pihak yang ingin merusak identitas islam, bukan? Mereka juga sudah sukses menggerogoti orang-orang islam. Tentu saja orang islam akan bereaksi keras  jika mereka terang-terangan datang dan menyebarkan prinsip yang berbeda tersebut. Tidak perlu dijelaskan lah kenapa feminisme dan lesbianisme bertentangan dengan identitas keislaman.

Teori Kesalahpahaman Budaya

Terakhir, teori kesalahpahaman budaya. Teori ini menganggap akar konflik adalah adanya ketidakcocokan komunikasi antar budaya yang berbeda. Teori ini berkaitan dengan teori hubungan masyarakat yang menekankan bahwa polarisasi dan ketidapercayaan atau permusuhan antar kelompok masyarakat lah penyebab konflik.

Barat menyimpan sejarah panjang yang cukup kelam. Satu, mereka tertekan oleh rezim agama (baca: gereja). Dua, mereka kerap sekali bermusuhan dengan islam, lebih kentara pada saat perang salib.

Barat adalah pihak sering disebut-sebut dalam artikel ini karena merekalah yang pada masa kini paling kentara melawan islam. Mereka memang salah paham dalam melihat islam, ditambah trauma masa lalu mereka tersebut mereka menjadi tidak percaya dengan islam. Mereka menganggap agama, apalagi islam yang menyeluruh, sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Sebagai musuh. Trauma ini membuat polariasi antara barat-islam yang sering kita lihat sekarang. Terlebih lagi salah paham ini malah dipolitisir oleh mereka untuk mengesankan bahwa islam adalah agama yang keras, kejam, dan sebagainya.

Kesalahpahaman budaya ini juga yang menyebabkan orang barat berekspektasi bahwa umat islam akan meniru mereka. Dikiranya orang islam sama seperti mereka yang berlapang dada saat agama dicerca. Kesalahpahaman ini diperparah dengan cara mereka mengenal islam. Mereka mempelajari islam dengan cara mereka sendiri. Bukannya bertanya dengan si orang islamnya, mereka malah membuat asumsi-asumsi sendiri tentang islam. Tambah salah paham lah mereka. Bencananya, kesalahpahaman mereka ini juga tertular kepada sebagian orang islam sendiri. Merebaklah sekularisme, liberalisme, dan pluralisme itu ditubuh islam sendiri.

Dalam tubuh islam sendiri, sering terjadi kesalahpahaman orang islam dengan islam itu sendiri. Hal ini tentu tidak terlebas dari opini dunia tadi. Banyak yang takut dengan penegakan syariat.  Kesalahpahaman ini kebanyakan disebabkan karena kekurangpahaman dari masyarakat islam itu sendiri. Kondisi ini juga sebenarnya terancang sebagai perang pemikiran oleh musuh-musuh islam, untuk menghancurkan dari dalam. Membuat orang islam salah paham dengan islam dan akhirnya menebar konflik di tubuh sendiri.


Penutup

Intinya, ajaran islam itu begitu luas dan lengkap. Islam adalah din yakni sistem kehidupan. Bukan cuma agama yang lingkupnya sempit dan dipandang sebelah mata oleh barat. Bukan cuma hubungan antara manusia dengan tuhan, tetapi juga mencakup segala sendi kehidupan. Saking luasnya cakupan din ini sehingga banyak sekali permukaan yang bersinggungan dengan pihak-pihak lain. Pihak-pihak lain ini tentu saja tidak semuanya sepaham dengan pandangan islam sehingga banyak sekali terdengar konflik di sekitar islam. Memang musuh islam tidak akan ridha melihat kita sampai kita mengikuti agama mereka. Akan tetapi, islam ini tidak akan lenyap sampai akhir zaman.

Kemudian sudah jelas bahwa islam adalah tokoh utama bagi dunia ini. Mengapa masih bertanya-tanya mengapa islam banyak masalah? Bukankah kita orang islam. Mengapa kita masih belum juga berislam dengan benar?

Gampangnya: Elu mau ikut rombongan tokoh utama yang idealis dan jelas menang di akhir atau mau jadi pemeran figuran saja. Ada atau gak ada elu, dakwah pasti akan jalan. Tokoh utama pasti menang. Sekarang terserah elu mau masuk ke pihak yang mana.

Wallahu a’lam…

Mohon dikoreksi bila ada yang salah.

2 Comments

  1. Ping-balik: Bagaimana Saya Sekarang Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Utamakan Ukhuwah : Dan Kisah Dua Masjid di Belakang Rumah | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s