Cerita Jepang
Tinggalkan sebuah Komentar

Lebaran di Nagoya

IMG_2309-001

Ied Mubarak, 皆さん。

Hari ini saya shalat idul fitri untuk pertama kali di Nagoya. Shalat ied disini tidak di masjid. Masjid Nagoya soalnya super sempit sekali. Untuk shalat jumat saja sudah penuh sesak tiga lantai. Maklum, ukuran satu ruangnya mungkin hanya sebesar ruangan apartemen sedang.

Shalat dialihkan ke Port Messe Nagoya. Sebuah hall internasional di dekat stasiun Kinjo Futo. Pelabuhan Nagoya sana. Dengan kata lain: jauuuhh…

Harus naik Aonami-line yang mahal, dari ujung ke ujung. Dari stasiun Nagoya memakan waktu sekitar 30 menit, seharga 350 yen.

Shalat dimulai pukul 10 pagi. Agak beda dari yang lain nih. Mungkin karena jauhnya itu kali ya. Dan spot ini ternyata aggregat untuk wilayah yang cukup luas. Seluruh Kota Nagoya saja sudah sangat luas untuk ditampung di hanya satu hall internasional.

Dan ternyata, memang sangat sesak sekali. Hall yang seluas ini aja tidak cukup. Shafnya harus berhemat. Kalau bisa sujud di sela-sela kaki shaf depannya.

Di dalam hall, penuh sesak.JPG

Malah dengar-dengar, di masjid Shin-Anjo malah shalatnya dua kloter. Saking gak muatnya… Ndak tahu juga sih, harus klarifikasi dulu sama penghuni disana.

Namun, suasanya tadi keren juga. Banyak sekali orang islam. Bukan cuma orang asing, tidak sedikit juga muka-muka perisai penduduk lokal berseliweran memakai baju koko. Seolah bukan di negeri non muslim.

Ketika naik kereta dari stasiun Nagoya, Aonami line, kereta dipenuhi muslim. Duduk kiri kanan depan bisa dijumpai muka-muka jawa. Di stasiun akhir, saat keluar kereta dan turun ekskalator, orang Jepang jadi minoritas. Agak lucu juga ngeliat sign-sign stasiun kanji tapi orang-orang yg lewat pake gamis, batik, jenggotan, jilbaban. Sayang saya tidak sempat memfoto.

Penasaran, orang Jepang yg minoritas tadi kepikiran apa ya pas dia keluar stasiun.

Di lokasi, mungkin ada sekitar 2000-an orang lebih kali.

Sayangnya, mungkin karena saya masih baru di kota ini, jarang ada yang kenal. T.T. Lebaran tapi nggak bisa silaturahim. Orang yg disapa di lokasi hari ini bisa dihitung dengan jari dua tangan.

Pulang shalat saya kembali ke Nagoya station, makan disana nyobain restoran India baru, terus langsung ke kantor. Giri-giri jam 1. Back to work… Haha… Hiks.

Btw, saya penasaran dengan manajemen masjidnya. Sewa hall sebesar itu berapa ya? Darimana dananya? Gimana cara mesennya, publikasi event ke seluruh Nagoya?

Terus pengelola masjid sebelum soal ied cerita/curhat ttg. banyak banget mualaf tiap hari di sini, sayangnya mereka nggak bisa masuk masjid. Kenapa? Karena kalau masuk, ngobrol sama muslim “senior” mereka diwanti-wanti nggak boleh ini nggak boleh itu. Nggak ramah lah. Sedih, para senior itu terlalu strict untuk keluarga barunya sendiri. Tanpa memikirkan perasaannya, situasi keluarga, kondisi iman, dll. Don’t be too hard man! Dan juga, kata Pak Pengeola, masalah lain-lain. Cerita untuk lain kali.

Semoga bisa dimudahkan urusan mereka, kami, dan kita komunitas muslim di Jepang ini untuk masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s