Islam
Tinggalkan sebuah Komentar

Membentengi Diri dan Keluarga dari Ancaman Dajjal (2) ~ Masalah dan Solusi

Oleh Dr. K.H. Asep Zaenal Ausop, M.Ag.
Khutbah Idul Fitri 1433 H – 2012 M. Institut Teknologi Bandung.

Tidak mengada-ada jika kami katakan bahwa kini Dajjal telah menyusup dan memengaruhi seluruh sendi kehidupan kita. Dajjal menyusup dalam hiburan dan pakaian, menyusup kepada remaja dan orangtua, menyusup kepada sistem ekonomi dan politik, bahkan menyusup mula ke dalam simbol-simbol islam.

Kini hampir semua orang menggunakan internet sebagai sumber informasi. Internet sangat bermanfaat. Akan tetapi, disana terdapat pula berbagai macam informasi yang sebetulnya bisa merusak akhlak antara lain situs-situs yang bersifat pornografi.

Kami beristighfar ketika membaca hasil penelitian sebuah tim, bahwa di suatu provinsi, lebih dari 50% remaja usia SMP-nya sudah melakukan hubungan sebadan. Naudzu billahi min dzalik. Sangat mungkin ketika di rumah anak-anak kita seperti anak soleh, pura-pura awam soal itu tetapi di luar rumah ternyata mereka berbuat maksiat. Mengapa mereka melakukan zina? Sangat mungkin karena anak-anak kita tidak tahu besarnya dosa zina, tidak tahu bagaimana akibat perbuatan zina, baik di dunia maupun di akhirat.

Kasus yang sering terjadi pada malam pengantin, perumpuan tidak lagi virgin. Suami yang mendapatkannya, walaupun suami itu sebenarnya tidak begitu baik perilakunya, tetap saja tidak sudi menerima hal tersebut. Suami itu lantas menghadapi dilema besar antara mencerai istrinya atau terus berumah tangga. Diceraikan akan memalukan keluarga. Tidak diceraikan akan melahirkan perasaan jijik yang amat luar biasa.

Berbagai kasus rumah tangga yang tidak harmonis, hampir 50% disebabkan oleh tidak perawannya si istri pada malam pertama. Suami akan memandang sangat rendah kepada istrinya. Siang malam sang istri akan mendapat hinaan. Akibatnya sang istri menderita batin selama hidup. Sang istri hanya diam dan stress. Mengadu kepada ayah tidak mungkin. Curhat kepada teman pun mustahil. Penderitaan ini bisa dialami oleh perempuan tersebut hingga beranak cucuk, bahkan sampai mati. Tidak ada akibat zina yang ringan. Semua akibatnya amat berat dan panjang. Akibat ini, sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan. Pantas jika Allah SWT memperingatkan kita dengan keras:

“Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” [QS. Al Isra (17) : 32]

Dajjal Menebarkan Seni Buka Aurat

Kini di mall-mall, para wanita baik muslimah maupun nonmuslimah sudah banyak yang berani berpakaian minim sehingga orang-orang bermoral yang melihatnya menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Perlu diketahui bahwa dasar falsafah fesyen Dajjal adalah seni membuka aurat, sedangkan dasar falsafah fesyen di dalam Islam adalah seni menutup aurat. Kedua hal ini sangat berbeda secara fundamental.

Banyak muslimah ketika shalat memakai mukena yang menurut seluruh auratnya. Ada sedikit rambut keluar pun segera dirapikan. Kain di ujung tangan ditarik memanjang. Pokoknya tertutup rapat sekali. Akan tetapi, setelah shalat pamer aurat lagi. Hadits mengatakan bahwa di akhir zaman nanti banyak perempuan yang berpakaian tetapi telanjang “as-sailat al-mumilat”. Hadits menyatakan

“Demi Allah, mereka tidak akan mencium baunya surga, padahal harumnya surga tercium dari jarak yang sangat jauh”

Naudzubillahi min dzalik.

Dajjal Menghancurkan Citra Umat Islam

Citra Islam dan umat Islam hancur antara lain karena segelintir tokoh agama yang berperilaku Dajjal. Namun, perbuatan maksiat mereka berimbas kepada runtuhnya wibawa ulama secara keseluruhan. Ulama yang busuk tersebut adalah ulama su’. Jangan panggil lagi mereka sebagai ulama; Coret saja. Hal lain karena memang ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menghancurkan islam. Misalnya, isu pelecehan pembantu rumah tangga di Arab Saudi di-blow-up habis-habisan, sementara pelecehan seksual terhadap TKW di Singapura dan Hongkong tidak diungkap. Padahal pelecehan seks yang dialami TKW kita di kedua negara terakhir ini jauh melebihi TWK di Arab Saudi.

Mereka pun sengaja menjauhkan umat islam dari ulamanya, antara lain dengan sengaja melecehkan fatwa MUI sementara pendapat tokoh hipokrit dipromosikan. Ulama yang berpoligami dicibirkan dan dicemooh. Akan tetapi, tokoh-tokoh publik yang berbuat zina didiamkan.

Kini situasi dan kondisi beragama terasa jauh menurun. Dahulu tahun 1978-1990-an, pengajian remaja di masjid-masjid marak sekali. Namun, kini tidak lagi. Dulu organisasi seperti HMI, PII, GPI, dan organisasi pergerakan pemuda islam lainnya banyak beraktivitas membina sikap keagamaan siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. Kini, tidak bersemangat lagi. Bahkan pengajian di masjid-masjid sekarang tak banyak lagi diikuti anak muda.

Dajjal Mengusung Liberalisasi

Belakangan muncul gerakan keagamaan berbasis rasio. Bahkan mereka mendewakan akal dengan mengesampingkan teks-teks Alquran dan hadits nabi. Mereka mengusung dua isu pokok: kesetaraan gender dan kesetaraan agama. Inti ajarannya adalah bahwa semua agama – agama apapun – adalah benar menurut Allah dan semua pengikutnya tanpa kecuali akan masuk surga.

Perlu disadari bahwa kesetaraan agama adalah awal langkah awal pemurtadan. Orang islam – terutama generasi muda – awalnya dibawa kepada kesimpulan bahwa semua agama itu benar. Jika ini telah diterima, kemudian melangkah ke tahap kedua yakni pendangkalan hukum. Misalnya warisan bisa dibagi rata antara anak pria dan wanita; wanita boleh menjadi imam shalat bagi laki-lahi; minuman keras itu haram jika tidak sampai mabuk; jilbab itu sama sekali tidak wajib; boleh menikahi perempuan nonmuslim; hukum islam itu bisa diubah mengikuti tuntutan zaman, dll. Dengan cara seperti ini, Alquran tinggal bacaannya saja sedangkan pesan-pesannya sudah kabur.

Tahap ketiga adalah pilih-pilih agama. Tentu remaja kita akan memilih agama yang paling ringan. Kalau memilih islam terlalu berat melaksanakannya, karena ada kewajiban shalat lima waktu, puasa satu bulan di bulan Ramadhan, zakat, tahajud, dll. Akhirnya mereka memilih agama yang ibadahnya bisa seminggu sekali.

Perlu diketahui bahwa semua nabi sejak Adam AS sampai nabi Muhammad SAW beragama tauhid: monoteisme. Tuhannya tunggal. Allah saja, tidak ada tuhan lainnya. Adam, Nuh, Ibrahim alias Abraham, Musa atau Moses, Isa atau Yesus, dan Muhammad SAW, semuanya beragama tauhid: hanya menuhankan Allah, Tuhan yang tunggal, satu absolut. Adapun cara ibadah atau ritualnya sedikit berbeda dan bertingkat-tingkan dari yang sederhana sampai yang kompleks. Zaman nabi Adam ibadahnya sedikit, zaman nabi Musa hanya 10 perintah, zaman nabi Muhammad sangat lengkap. Layak dan wajar, sebab Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Akan tetapi, tidak ada perbedaan ibadah atau ritual yang prinsipil di ntara para nabi itu.

Strategi Dajjal dalam Menjerat Manusia

Secara umum, Dajjal memiliki sejumlah stategi untuk menjerat manusia yaitu :

Metode tadlil : suatu teori penyesatan sehingga orang merasa benar padahal salah.

Metode shaddun : memalingkan manusia sehingga lebih suka bermaksiat daripada beribadah.

Metode takhwif : menanamkan perasaan takut menegakkan kebenaran. Ada bapak yang memarahi anaknya setelah pergi kelayapan malam sambil memakai pakaian tidak santun. Kemudian anaknya kabur dari rumah. Berapa hari bapaknya mencari, anaknya pun kembali. Setelah itu, bapaknya tidak lagi menegur anaknya berpacaran karena takut anaknya minggat lagi.  Karyawan tidak melaporkan korupsi atasannya karena takut dipecat.  Pengusaha tidak mau berusaha dengan syariah karena takut miskin.

Metode talbis : mencampuradukkan yang benar dan yang salah.

Adapun gongnya adalah ‘amr munkar nahi ma’ruf yakni menganjurkan maksiat dan melarang berbuat baik, misalnya melarang berjilbab tetapi memuji pembuka aurat.

Dampak Perilaku Dajjal

Akibat perbuatan Dajjal sangat masif. Perhatikanlah hal-hal di bawah ini.

  • Negara tak berani mengontrol apalagi menghukum orang-orang yang berbuat maksiat nonkriminal, seperti berpakaian yang mengumbar aurat.
  • Masyarakat bersikap emosional, gampang tersinggung dan mudah marah, bahkan memilih tawuran dan kerusuhan sebagai jalan keluar.
  • Orang tua dayuts. Yakni membiarkan anak dan istrinya tidak menaati aturan Allah. Misalnya sang ayah cuek ketika melihat anak perempuannya memamerkan aurat.
  • Pemilik rumah kost yang malu menegur penghuni kamar yang berbeda jenis, non-muhrim yang sedang bermesraan, karena takut kehilangan pelanggannya.
  • Orang tua tak bersemangat menasehati anaknya yang berpacaran melanggar norma agama. Bahkan tak mampu bertindak apapun ketika anaknya hamil karena zina. Mereka hanya mengusap dada sambil berkata “Ya memang zamannya sudah begini, mau apa lagi.
  • Guru-guru di sekolah yang mengajar hanya bermain di ranah nalar, rasio, dan aksioma; tidak melibatkan emosi dan spirit. Mereka tidak berani menggiring muridnya untuk dekat kepada Allah karena tugas itu dianggap bukan kewenangannya.
  • Para seniman banyak yang melepaskan diri dari nilai ilahiyah dalam berkarya. Bahkan ada yang jelas-jelas membuat lukisan porno yang diharamkan dengan alasan kebebasan berekspresi.
  • Banyak LSM yang mengusung isu HAM sekuler sehingga terjadi kebebasan bermaksiat, bahkan upaya untuk membubarkan aliran islam sesat dianggap sebagai pelanggaran HAM.
  • Para insan film dan sinetron mempertontonkan kehebatan anak yang membentak orangtuanya.
  • Ada ulama yang lebih banyak menasihati daripada memberi keteladanan sehingga umat kebanjiran mauidzah tetapi kekeringan uswah hasanah, kebanjiran nasihat tetapi miskin figur yang dibanggakan. Bahkan ada ustadz yang sangat bergairah mengejar selera pasar daripada haris bersikap konsisten terhadap hukum Alquran.

Mereka semua adalah korban-koraban perbuatan Dajjal.

Akibat global bagi umat islam tersebut sebagaimana yang telah diprediksi oleh hadits nabi yang menegaskan bahwa umat islam kelak akan diperebutkan sebagaimana domba yang diperebutkan oleh serigala. Mengapa demikian, apakah karena umat islam minoritas? Tidak. Justru sangat banyak jumlahnya. Akan tetapi, keadaannya seperti buih di lautan. Mengapa demikian? Karena kaum muslimin dihinggapi penyakin wahan. Apa itu wahan? Ialah gila dunia dan takut mati.

Bagaimana Solusinya?

1. Back to Mosque

Masjid adalah rumah Allah di bumi. Siapa yang sering bertamu ke rumah Allah, kelak di akhirat dia akan menjadi tamu Allah di surga. Sebaliknya mereka yang tidak suka mendatangi rumah Allah, Allah pun kelak tidak akan menghiraukannya.

Masjid adalah tempat terbaik yang membentuk manusia berkarakter taqwa : “lamasjidun ussisa ‘ala taqwa”. Shalat di rumah itu tidak bisa menumbuhkan taqwa, bapak ibu. Masjid adalah benteng paling utama dan terakhir. Jika seseorang jauh dari masjid, hidupnya dijamin tidak akan lurus.

2. Merapat kepada Allah

Sifat Allah yang paling utama adalah al-Rahman dan al-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah menyuruh menusia supaya berpuasa, “kutiba ‘alaikumush shiyam” karena Allah paling tahu bagaimana merawat lambung, perut, jantung, tekanan darah, emosi, dan ruhani manusia. Shaum amat banyak manfaatnya untuk merawat semua itu. Allah pun menyuruh kita untuk menegakkan shalat “aqimish shalat!”. Shalat adalah salah satu cara merawat jasad dan spiritual manusia. Shalat yang benar dan rutin dapat membuat pikiran dan hati lebih tenang (thuma’ninah). Energi ruh manusia akan naik dan merapat kepada Allah. Emosi dan aktivitas manusia lebih terkontrol. Mata hati dan intuisi jadi lebih tajam. Kokoh dalam menghadapi segala ujian, serta banyak lagi manfaatnya.

Shalat dan shaum adalah untuk kepentingan manusia, bukan untuk Allah. Allah itu tidak butuh apa-apa. Dia adalah Tuhan. Shalat dan shaum sangat bermanfaat bagi manusia ketika di dunia ini. Agama diperlukan hanya untuk di dunia ini, sedangkan di akhirat agama tidak dibutuhkan lagi.

3. Hidup Berjemaah

Setiap orang wajib (bukan sunnat) untuk hidup dalam sebuah jemaah yang jelas pimpinannya. Umar bin Khattab menyatakan “La islama illa bil jamaah.” Tidak dianggap baik berislam tanpa berjemaah. Dengan masuk ke dalam sebuah jemaah, akan ada komando yang jelas, ada kontrol, ada mimbingan rutin, ada pendalaman keimanan, dan ada penjagaan dari infiltrasi isu, fitnah, dan provokasi pihak luar. Seorang muslim yang hidup di luar jemaah akan gampang menjadi mangsa seperti domba yang terpisah dari rombongannya.

KArena itu, daftarkan diri Anda sebagai jemaah. Minimal jemaah di masjid terdekat. Jangan sampai terjadi, sering shalat di berbagai masjid tetapi Anda tidak tercatat sebagai jemaah di masjid manapun. Daftarlah ke masjid dan pastikan punya kartu anggotanya.

Dalam memilih jemaah, pilihlah jemaah yang terbuka bukan jemaah yang eksklusif, terteutup, dan penuh rahasia. Cari jemaah yang jelas sumber rujukannya yakni Alquran dan hadits menurut tafsiran nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau, bukan mengikuti tafsiran tokoh yang merahasiakan ajarannya.

4. Pendidikan Berkarakter

Kepada para dosen, guru-guru SMA, SMP, SD, dan TK, para orangtua, dan para pengelola kursus dan pelatihan, kami mengingatkan bahwa tujuan utama pendidikan kita yang sesungguhnya adalah menjadikan anak didik berprestasi dalam beribadah dan selalu dekat dengan Allah. Dengan prinsip seperti itu, insya Allah mereka akan mencapai kejayaan dunia, baik harta, maupun pangkat dengan baik, halal, dan berdampak surga. Target kedua, baru pencapaian prestasi keilmuan.

Jangan sampai terjadi anak didik lulus dengan nilai cum laude tetapi bermoral busuk. Pendidikan kita harus menjadikan anak didik berkarakter mulia. Caranya, ketika kita mengajarkan sesuatu berus bersifat integralistik transendental. Misalnya, ketika mengajarkan fenomena alam, harus diurut dari bawah ke atas secara integral alias menyatu: hari benda-benda alam, fenomena alam, hukum alam, pinsip alam, sampai menghubungkannya dengan Sang Maha Pencipta. Jangan hanya sampai kepada prinsip-prinsip alam tanpa mengubungkan dengan Allah sebagai penciptanya.

Aidin wal aidat rahimakumullah

Demikianlah khutbah Idul Fitri ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya untuk mengingkatkan iman, ilmu, dan amaliyah kita.

Selesai.


Dr. K.H. Asep Zaenal Ausop, M.Ag, adalah Dosen Agama Islam dan Filsafat Sains ITB; Wakil Ketua Bidang Dakwah YPM Salman ITB; Ketua Bidang Diklat MUI Kota Bandung; Sekretaris I MUI Jawa Barat; Pembina Yayasan Bina Insan Qur’ani (YASBIQ)


Pesan Pemilik Blog

Khutbah Idul Fitri ditulis kembali sesuai buku teks Membentengi Diri dan Keluarga Dari Ancaman Dajjal yang dibagikan saat pelaksanaan shalat idul fitri di Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan tanda baca, pemotongan kalimat dan paragraf, dan ejaan yang disesuaikan dengan keinginan pemilik blog. Akan tetapi, kesalahan ejaan (salah cetak) di artikel ini adalah murni kesalahan penulisan oleh penulis blog. Mohon diingatkan.

Teks yang berwarna hijau adalah teks yang tidak ada dalam buku teks tersebut tetapi disampaikan penceramah (Pak Asep) pada saat khotbah sedang berlangsung. Teks ini juga penulis tambahi untuk memperjelas teks ceramahnya. Oh ya, teks arab dari ayat Al Quran dan hadits juga tidak dicantumkan di artikel ini karena alasan teknis (baca: susah).

Buku Teks Ceramah Id 1433 ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s