Sosial Politik
Comments 3

Pengemis, Pengamen

Mungkin semua orang sudah kenal dengan istilah ini. Berkunjung ke titik manapun di bumi Indonesia ini pastilah Anda akan dapat menemukannya. Cukup dengan duduk makan di simpang, setidaknya lima kloter pengamen akan mencoba menghibur anda tanpa disuruh. Dan tiga kloter pengemis biasanya akan menyodorkan tangannya ke Anda. So troublesome memang, tapi apa daya memang hanya itu yang bisa mereka lakukan. Benarkah begitu?

Kesan pertama yang ditampakkan oleh pengemis atau peminta-minta adalah kumal, kusut, dan patut dikasihani. Dengan menyodorkan tangan kepada manusia lain, pengemis kemudian mengeluarkan suara mirip rintihan dengan wajah tersiksa. Beberapa pengemis yang mobile bahkan mencolek pengunjung warung yang mengabaikan kehadiran mereka. Terkadang menendang meja jika tidak diberi. Para pengemis yang sangat kotor penampilannya ini memang mengundang kasihan dan iba. Apalagi saat berjalan di emperan toko malam-malam, beberapa tunawisma menggelar karung dan penutup dagangan sebagai alas dan selimut tidur mereka di koridor emperan toko. Miris melihatnya dan mengingat diri dapat tidur dengan nyenyak dan empuk dimana saja, baik di kosan, di kampus maupun di tempat teman. So, apalah arti memberikan seribu dua ribu kepada mereka-mereka ini.

Tunggu dulu, itu sisi kasihannya. Jika cuma itu post ini tidak akan dibuat. Suatu waktu di sore Ramadhan tahun lalu, aku melihat beberapa wanita pengemis yang biasa ‘mangkal’ di simpang duduk-duduk di gang dekat kos. Apa yang mereka lakukan? Merokok! Landscape ini membuatku terhenyuk dan berpikir, membuatku ragu untuk ‘menyumbang’ receh kepada kaum mereka lagi. View kedua terjadi beberapa bulan lalu, setelah melihat pengemis ditraktir makan oleh anak-anak SMA di pecel lele Balubur menyadarkan bahwa mereka memang perlu diperhatikan. Tapi, saat pulang melewati sepasang ‘anak jalanan’ duduk kami mencium bau aibon. Entah apa yang digunakan receh sumbangan itu oleh mereka-mereka.

Bukannya menyebar aib, tapi ini fakta. Kondisi ekonomi mereka mungkin rendah, tetapi mungkin tidak serendah itu. Bagi kroni dewasa, mengemis adalah sumber penghasilan yang besar. Hasil penelitian anak SAPPK mengatakan bahwa penghasilan rata-rata perhari pengemis di depan Gramedia Bandung mencapai 200 ribu rupiah. Pengemis ini setelah dibujuk mau diwawancarai dan mengaku bahwa mengemis hal yang sangat mudah sehingga dia takkan mau pindah ke pekerjaan lain. Dia pun punya cabang di beberapa tempat di mall-mall Bandung Pusat. (sumber: Mahasiswi SAPPK 2007)

Dua ratus ribu perhari kawan! Hanya dengan duduk, gaji mereka setara Fresh Graduate sarjana teknik perminyakan.  Belum lagi cerita teman yang melihat pengemis di masjid Salman bertelepon ria dengan hape. Uang biru I Gusti Ngurahrainya pun banyak. Bahkan ada yang bilang di suatu tempat di Jakarta ada pengemis dengan omzet 800ribu perhari. Menakjubkan bukan. Diantara mereka mungkin yang paling sukses adalah Cak To, pengemis yang memiliki 4 rumah dan Honda CRV. Beritanya lihat disini.

Sedih melihat mental rakyat Indonesia ini. Mental pengemis. Mengamen menurutku hanyalah salah satu teknik atau versi lain dari tindakan emis. Menjual suara di jalan? Gundulmu. Lebih besar mengganggunya daripada nikmatnya suara mereka. Ada yang cuma krecek-krecek, lalalala, meskipun satu dua lumayan. Tapi, melihat mudanya, energiknya, dan kedotnya pengemis-pengemis suara ini membuat muak. Yang kecil pun tidak ketinggalan mengemis. Untuk cerita tentang mirisnya melihat pengemis kecil baca ini.

Mental pengemis ini juga diterapkan di jajaran tingkat tinggi sana, oleh pemerintah dan kroninya. Mulai dari mengemis jabatan. Mengemis uang tunjangan. Negara ini juga negara pengemis yang bisanya minta ‘pinjaman’ atau ‘hibah’ kepada negara lain tanpau mau memanfaatkan SDA dan SDM super yang dimilikinya. Ya, kepengemisan ini telah mendarah daging di negeri tercinta ini. Yah sangat menyedihkan adalah negeri ini negeri muslim terebesar di jagat raya. Muslimlah yang tertuduh menjadi kaum pengemis karena sebagian muslim memang bangga melakukan tindakan pengemis.

Satu cerita lagi, persiapan Dies Emas ITB di markas Opera Ganesha saat briefing latihan berlangsung hal ini terjadi. Alumni yang sudah sukses  membuka acara dan memberikan runut perintah dan advice kepada peserta latihan. Tiba-tiba masuklah bapak-bapak tua, menginterupsi forum, membuka salam dengan salam islam sambil meringis, mengernyitkan kening dan mengutarakan maksudnya. Dia ingin meminta tambahan dana untuk suatu pesantren yang kekurangan dana untuk makan.

Forum yang belum selesai tentu tidak dapat dihentikan atau ditunda. Sang bapak dibawa kepinggir untuk menunggu. Dan ketika itu dia menangis tersedu-sedu. Mengharukan bukan? Fakta: hal ini sangat memalukan orang islam. Mengesalkan membawa nama islam untuk meminta-minta ke dalam forum resmi yang belum selesai dengan banyak peserta (motif seperti ini banyak datang ke sekre-sekre unit dan rumah-rumah. Tentu Anda pernah didatangi.). Fakta: bapak dengan wajah yang sama pernah masuk ke kelasku pada awal tahun. Kali itu dengan alasan keluarganya belum makan beberapa hari. Dengan air mata, simpati satu kelas mengucur kepadanya. Fakta: bapak dengan wajah yang sama pernah bertemu dengan temanku di jalan, dan menyodorkan formulir tampak resmi yang tertulis meminta sumbangan untuk suatu panti asuhan.

Apakah tidak bisa mencari kerja yang lebih baik mereka. Menurutku bukan tidak bisa, tetapi tidak ingin. Mereka terlena dengan kemudahan dari mengemis dan meminta-minta ini. Terlena dengan hasil yang didapat tanpa ada effort yang besar. Terlena tanpa sadar tidak ada kemajuan yang didapatnya.  Andai dengan mengemis roket dapat diciptakan, tentu aku akan mengemis.

Ada seorang Bapak di depan Masjid Salman. Dirinya sangatlah tua dan keriput. Gerakannya sangat lemah. Apa yang dia lakukan, Jualan Gorengan. Berlinang melihat dia bertekad menjual gorengan dalam usia senja bahkan sampai waktu larut yang diluar pikiran kita ada orang tua yang mau melakukan itu. Pukul 23 lewat, jam-jam aku sering pulang dari kampus dia masih berdiri di depan gerobak gorengannya, sendirian dalam temaram.

3 Comments

  1. Ping-balik: Advance Beggar Engineering « Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s