All posts tagged: Japan

The Halal-Haram Spectrum of Food in Japan

I want to discuss how varied the opinion of individual muslim communities regarding halal and haram status of foods in Japan. However, it is not the goal of this article to give a guidance or even fatwa such as “this kind of foods are halal and that kind of foods are haram”. No. I wish to focus on real facts, grass-root level facts, that this level of variation in opinion and consideration, the whole spectrum exists. Bahasa Indonesia tersedia di artikel sebelah. I wish to give insight to any brother and sister outside Japan who wants to visit or move here. And possible invite discussion from brother and sister who live in muslim minority nations, whether the same phenomenon also exists over there or not, and how to face such differing in opinion. The readers should be able to judge one opinion and the others by themselves. And then search for logics, details, or dalils to support the opinion also by themselves. This article will not provide any scholarly argumentation, verses, fatwa, or rule on any …

Kyoto: Fushimi Inari Taisha di Tahun Baru 2014

Inari adalah dewa Jepang yang terkenal. Hampir setiap daerah punya kuil untuk dewa ini. Ukanomitama: dewa rubah, dewa kesuburan, dewa kesejahteraan (dan keadilan?).  Di antar semua kuil itu, kuil Inari di Fushimi adalah yang paling terkenal. Head-shrine, bosnya, dan yang paling wajib dikunjungi wisatawan. Terutama karena terdapat seribu gerbang yang terpancang di daerah kuil ini. Gerbang yang dimaksud alias torii adalah lambang jinja, kuil Shinto, berjejer mengikuti jalan setapak menuju ke puncak bukit nan jauh disana. Hari keempat dan terakhir saya 18 Kippuan Musim Dingin lalu ditujukan untuk menjelajahi Kyoto. Salah satunya yang tak boleh dilewatkan adalah situs ini tentunya. Hari ini bertepatan dengan pergantian kalender bagi banyak orang. Ya, 1 Januari 2014. Pagi pukul 10an kami berangkat. Situs ini hanya berjaran 5 menit dari stasiun Kyoto. Sekali ngesot dengan kereta lokal. Waktu kami beranjak, platform ke arah Fushimi Inari puadat sekali. Harus kesana dengan mode dendeng, berdiri berdesakan di dalam kereta. Dan, sampai di stasiun kereta di Fushini tepat di depan pintu utama kuil Inari Taisha wuooo… Semua petugas stasius seperti panik. Menghadapi derasnya arus manusia …

Enam Jam Berjalan Kaki Keliling Nara

Hari ketiga dalam Perjalanan Liburan Musim Dingin: Kansai, tujuan kami adalah kota Nara. Kota ini adalah ibukota Jepang kuno. Nggak kuno-kuno amat sih, sekitar 1300 tahun lalu. Menurut peta, situs-situs yg bisa dilihat di kota ini jaraknya dekat-dekat. Banyak tapi dekat. Katanya kalau tidak menghabiskan waktu minimal dua jam berkeliling disini, nggak puas. Jadi kami mendedikasikan setengah hari untuk menjelajahi ini. Enam jam akhirnya kami berjalan kaki berkeliling (dan itu blm cukup juga ternyata!). Pada rencana sih, maunya seharian penuh dari pagi jam 9. Hanya, paginya kami main-main dulu di Osaka sebentar karena kemaren belum sempat ke Osaka. Pertama-tama, dari tempat menginap di Osaka, kami bergerak ke stasiun JR Nara. Stasiun ini sebenarnya lebih jauh dari lokasi situs dibanding stasiun Kintetsu Nara. Namun, kami kan pergi dengan 18-Kippu, biar murah (gak harus bayar lagi) ya sudah kami lewat jalur JR. Dari stasiun, Nara Park dapat ditempuh dengan 20 menit berjalan kaki. Kami sampai pukul 12 lewat dalam keadaan lapar, jadi mampir dulu ke Saizeriya (dari kemaren nggak kepikiran untuk makan di restoran yg cukup aman dan …

Kobe: Shin-Kobe Ropeway dan Nunobiki Herb Garden

Dari Kobe Harborland melihat-lihat kapal, laut, bianglala, dan kapal, kami mengunjungi kereta gantung kobe alias Shin-Kobe Ropeway. Kobe adalah kota pantai dan kota gunung. Kota sempit yang dibatasi oleh dua kontur bumi tersebut di selatan dan utara. Shin-Kobe Ropeway bisa diakses dengan subway, keluar di stasiun subway Shin Kobe. Atau kalau Anda naik shinkansen, bisa juga berhenti di stasiun JR (Shinkansen only) Shin Kobe. Setelah jalan via mall subway yang sangat panjang dan terintegrasi dengan stasiun kereta bawah tanah, kami langsung mendapati pintu masuk kereta gantung Kobe baru di sebelah mall di depan pintu keluar subway. Sebenarnya nggak sih. Begitu keluar sempat bingung dan konsult ke GoogleMap. Eh, ternyata tepat di dedepan subway ada plang penanda: Shin Kobe Ropeway ke kanan. Begitu belok kanan, tiga meter dari plang pertama tadi, ada plang lagi yang mengarah ke atas tangga, masuk ke mall di sebelah gerbang subway tadi. Bingung kan kami… Tapi begitu naik tangga, ada plang lagi dan ketahuan deh akhirnya mana pintu masuk ke area jalur tambangnya. Naik jalan miring yang cukup panjang berliku-liku (karena …

Kobe: Harborland, Bianglala, dan Museum Kapal

Rencana awal kami ke Kobe adalah berangkat jam 7 (dari tempat menginap di Osaka) dan berkeliling disana hingga siang (jam 12an). Mungkin karena matahari lagi datang bulan suka molor, kami akhirnya berangkat pukul 8 lewat. Maklum, semalam ngubek-ubek situs perhotelan buat menginap nanti malam dan besok malam dan kemudian berkeliling cari makan di pusat keramaian Osaka, Namba, sehingga tidur agak malam (standar sih sebenarnya, jam 11-an). Hotel Taiyou tempat kami menginap ini pun walau ada AC juga tetap dingin. Jadi agak tidak rela meninggalkan tempat tidur. Osaka-Kobe dari stasiun Osaka hanya memakan waktu setengah jam. Hanya saja, dari Hotel ke stasiun Osaka kami harus berdiri di kereta jalur lingkar Osaka selama 20 menitan. Sebenarnya persis di sekitar Hotel Taiyou ada Kebun Binatang Tennōji, tapi tutup. Memang banyak tempat wisata yg tutup di minggu pergantian tahun ini. Kami sampai di stasiun Kobe sekitar pukul 9 pagi. Tujuan pertama kami adalah bay alias pantai. Kebanyakan orang ke Kobe mau liat kapal. Kami juga. Jikalau otomotif buatan Jepang di dunia pasti lewat pelabuhan Toyohashi, hal yang baru di Jepang (dahulu) …

Kyoto: Arashiyama di Musim Dingin

Pada perjalanan 18 Kippu Liburan Musim Dingin lalu, Kyoto, lebih spesifiknya lagi Arashiyama, adalah situs yang pertama kali kami kunjungi. Seperti yang sudah sempat saya tulis bulan lalu, saya pernah ke Arashiyama sekali untuk melihat daun kuning momiji. Kunjungan waktu itu menyenangkan, tetapi kurang memuaskan. Yah, walaupun berangkat dari Toyohashi pukul 7.00, kami sampai disana pukul 14.00. Kemudian, kami hanya memiliki waktu 3 jam untuk berkeliling situs wisata tersebut. Sebenarnya, pada kunjungan kedua saat 18-Kippuan ini, saya dan Sidik juga sampai disana sekitar pukul 14.00. Sebelas dua belas lah. Namun, karena ini kunjungan kedua saya dan kami tidak punya konstrain waktu, komunitas, dan bus, kunjungan kedua ini lebih bisa dinikmati. Sebagai situs wisata yang menjual pemandangan pepohonan (terutama momiji) sebagai daya pikat utama, sesuai dugaan Arashiyama di musim dingin tidak begitu spesial. Pegunungannya hijau atau bahkan gundul, ada sedikit putih-putih nempel sih. Udara dingin tetapi tidak cukup untuk membekukan sungainya. Wisatawan yang hadir juga tidak seramai waktu itu. Yah, setidaknya yang terakhir ini merupakan hal yg bagus buat kami. Jembatan Togetsukuyo – seperti kunjungan pertama …

Kyoto: Momiji di Arashiyama

Prolog Setiap penghujung musim gugur, PPI Toyohashi mengadakan acara momiji-an ke suatu tempat. Bareng-bareng sesama perantauan dari Indonesia, jalan-jalan melihat daun merah, bersama-sama mengakrabkan diri, bersenang-senang di tengah riuhnya jikken. Acara musim gugur kali ini sedikit spesial, karena pilihan lokasi jatuh ke situs terkenal yang cukup jauh dari Toyohashi. Arashiyama, sebuah distrik wisata di pinggiran ibukota 1000 tahun Jepang, Kyoto. Saya yang baru datang ini dimasukkan sebagai salah satu orang yg mengurusi jalannya acara. Panitia, sebutan kami. Orang baru, layaknya anak magang, diminta untuk berkontribusi dalam kepengurusan seperti ini. Namun, namanya juga magang, ya masih dituntun oleh para senior lah. Beberapa anak baru sudah dapat tugas ngurusin acara lain, saya dan Shofi-san kebagian dalam panitia ini sebagai karir pertama kami. Saya kebagian mengurusi pendaftaran dan Shofi yang menariki/menyimpan/membayar uang ongkos. Setelah diskusi alot dan menegangkan, kegalauan, perhelatan jiwa dan raga, pertarungan antara yang hak dan batil, sekian pilihan lokasi wisata dirumuskan: Arashiyama (嵐山), Ohara shiki Sakuramatsuri (小原四季桜まつり), dan Higashi Koen no Koyo (東公園の紅葉). Berdasarkan voting yang hanya dilakukan mungkin 1% dari anggota, Arashiyama, lokasi terjauh pun …

Nagoya: Nagoya Castle

Kami sampai di area Nagoya Castle pukul 3 sore. Sempat nyasar juga, salah turun stasiun. Jadi, pada peta, di sekitar area Nagoya Castle ini terdapat dua stasiun kereta bawah tanah yang tampaknya dekat. Satu, stasiun City Hall (tempat saya dulu tanda tangan beasiswa). Dua, stasiun taman Meijo (Meijo-Koen). Karena taman Meijo adalah bagian dari Kastil Nagoya, tentu saja wajar bila kami berpikir bahwa stasiun terdekat menuju gerbang kastil adalah stasiun taman Meijo ini. Ternyata…

Nagoya: Pusat Perbelanjaan Osu Kannon

Di ujung mulut lorong tidak jauh tempat makan burung, terdengar bunyi kerincing-kerincing. Setelah sampai ujung lorong, tampak pria berpakaian biksu berdiri di sana memegang mangkok kecil dan kerincingan. Pertama-tama, saya dan teman-teman (para daun) berpikir kalau ini biksu yang minta sumbangan. Kayak yg sering kita temui di tengah jalan besar di Indonesia itu loh, di depan masjid. Atau kemungkinan kedua adalah pengemis yang memakai kostum biksu mengambil kesempatan disana, mumpung dekat kuil, biar pas, pake kostum gitu.

Festival Rakyat Tahara dan Parade Baju Adat Indonesia

Hari Minggu ketiga saya di Jepang, saya mengikuti festival ketiga saya (dan juga typhoon ketiga sebenarnya). Festival ini dilaksanakan di kota Tahara, kota sebelah Toyohashi. Jaraknya cuma setengah jam naik bus. Kami (tim Indonesia) dijemput pake bus dari kampus, berangkat pukul 08.20 tepat. Katanya sih sebenarnya kuota untuk ini festival 10 orang dan semuanya diisi orang Indonesia. Lalu beberapa waktu kemudian, jumlah ini dinego lagi jadi 15 orang, juga ditambah dengan orang Indonesia. Faktanya, yang berangkat 18 orang, Indonesia semua. Biasalah, Indonesia. Setelah Gikadaisai kemaren,masing-masing peserta festival sudah dibagikan baju adat untuk dibawa masing-masing. Saya mendapat kehormatan untuk mencicipi baju pengantin pria dari Minang. Singkat cerita, kami sampai disana dan langsung disuruh ganti baju. Di kejauhan tampak keramaian di jalan blok sebelah sudah dikerumuni orang. Pertanyaan standar: festivalnya ngapain? Dengan satu kata: Parade. Mirip seperti Toyohashi Festival kemaren. Hanya saja, Tahara Festival ini tidak malem dan tidak menari. Kami dan beberapa kontingen internasional lain, anak-anak SD setempat, warga kota, komunitasnya, dan pengiklan toko, serta mobil pemadam kebakaran akan mengelilingi jalur utama kota. Dari titik kami datang …