Cerita Jepang
Comments 3

Perlengkapan Tempur Musim Dingin

IMG_1346

Penduduk daerah tropis sebagaimana penduduk modern pada umumnya menyukai pakaian simpel untuk sehari-hari. Kemungkinan besar hanya perlu dua lapis saja. Lapisan dalam, atas-bawah. Kemudian lapisan luar, kaos dan celana. Sudah. Beberapa -seperti saya- mungkin menambahkan jaket. Saya selalu pakai jaket ketika jalan keluar. Waktu persiapan dari nol: kurang dari dua menit (saya tidak tahu kalau perempuan, katanya bangun sejam sebelum waktu kuliah pun sudah dianggap terlambat).

Kini, saya masih selalu pakai jaket sih. Ya musim dingin pertama nih. Yg panas di Indonesia saja pakai jaket masa disini kagak. Bedanya, sekarang saya juga pakai benda-benda lainnya dan merasa cukup ribet setiap akan pergi keluar.

Memang apa saja sih yg dipakai saat musim dingin? Sedingin itu kah? Itulah masalahnya. Saya juga selalu nggak yakin sedingin apa di luar sana. Setiap hari kombinasi pakaian yg saya pakai sih berbeda, buat eksperimen kalau begini dingin nggak begitu dingin nggak. Angin sih musuh utama. Suhu nyata sih tidak begitu rendah, cuma anginnya itu, multiplier hebat.

Memasuki bulan pertama musim dingin ini, saya sedikit banyak mulai memahami tentang musim dingin. Bisa saja saya salah, tapi saya akan cerita sedikit.

Kaos dan Celana Lengan Panjang

Seperti halnya di negara tropis, hal pertama yg kita saya pakai adalah lapisan dalam, tentu saja! Juga kaos (atau kemeja) dan celana. Mungkin kaos, kemeja, dan celananya yg dibutuhkan adalah yg lengan panjang. Masih biasa…

Masih kurang juga? Lapis kaos dua atau tiga atau empat. Masih biasa…

Jaket dan Mantel

Setelah itu tentu pakai jaket. Nah, setelah itu pakai jaket lagi. Haha… Jadi jaket disini secara umum ada dua: jaket indoor dan jaket outdoor. Jaket indoor adalah yg tidak begitu tebal dan dipakai kalau lagi kerja/kuliah di depan meja. Kalau keluar-keluar, baru pakai jaket outdoor alias coat. Mantel, bahasa Indonesianya. Catatan: Kebiasaan orang bisa beda sih, ada juga yg pake jaket tiga atau cuma mantel doang.

Ngomong-ngomong, disini juga saya baru tahu kalau pakai jas kemudian pakai mantel itu nggak aneh. Keren malah… Hmm…

Di UNIQLO harga jaket sekitar 2000-an yen dan harga mantel (atau jaket tebal) di atas 6000 yen. Beberapa tempat memiliki toko pakaian bekas. Tidak seperti di Indonesia, toko pakaian seken disini bagus-bagus dan harganya cukup miring. Dan ada juga toko yg harganya sama untuk semua item, murah (kualitas nggak tahu tapi). Namun, tetap saja ada juga jaket yg harganya 30.000-an yen ke atas di toko pakaian bekas seperti ini. Entah, barunya berapa harganya.

Syal dan Sarung Tangan

Kemudian, pakai peralatan standar yg sering kita lihat di drama-drama itu. Yg kepikiran adalah tentu muffler atau scarf alias syal bahasa Indonesianya. Keren kan ya pake itu mafura… Sayang di Indonesia panas aja… Jadi jarang liat. Selendang mungkin mirip lah, versi tipisnya.

Saya beli mafura yang ukurannya kotak besar. Jadinya benri euy, bisa diapa-apain. Praktis. Bisa buat syal biasa. Buat sajadah juga bisa. Buat ngangkut-ngangkut apa atau bungkus juga. Bisa buat nutup muka juga atau jadi jilbab kayak cowok arab itu, jadinya muka dan telinga nggak kena dingin. Buat selimut juga bisa (gedenya 1mx1m). Atau diiket di tangan, di kepala, atau di kaki buat demo. Mantab dah. Saya beli 2.900 yen, seken (nggak tahu barunya berapa). Yg standar harganya di bawah 1000 yen sih. Yg dari Indonesia saya juga bawa, cuma belum pernah dipake, nggak yakin saya.

Syal

Kemudian sarung tangan. Sangat penting tuh disini. Kalau nggak punya ya tangan harus dimasukin ke kantong saat jalan. Oh ya, sarung tangan ada juga yg untuk touch screen ternyata. Di Indonesia ada nggak ya… Sayangnya, yg saya beli itu udah nggak mempan lagi ke layarnya iPhone. Karena sarung tangan 100 yen kali ya.

Sarung tangan juga sangat penting kalau naik sepeda atau gentsuki (motor kecil matic). Kalau nggak mau tangannya beku sih. Perhatikan juga tingkat kekedapan udara si sarung tangan, kalau nggak ya dinginnya tembus.

Cupluk dan Lobe

Kemudian kadang kita harus pakai tutup kepala juga terutama mantelnya nggak punya cupluk. Yang bentuknya kayak lobe topi ustadz itu, cuma ya agak besaran dikit. Atau yg full face kayak yg suka dipakai peronda/maling itu juga boleh.

Kepala bisa kedinginan juga loh. Makanya rambut sangat penting disini untuk menghangatkan kepala. Wanita berjilbab pasti sangat bahagia saat musim dingin begini.


Nah, sampai disini standar, dalam artian belum pernah musim dingin pun tahu ada benda itu. Peralatan yg disebut setelah ini tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa benda ini ada dan saya harus memakainya.


Heattech® alias Long Johns

Bertarung di lini paling dalam, benda ini bisa dianggap sebagai pakaian dalam. Ada atasan dan bawahan juga. Bentuknya seperti celana panjang atau baju lengan panjang polos tapi tipis dan ketat. Menempel ke kulit gitu.

Nah, kalau tipis terus ngapain memakai pakaian ini? Ngaruh gan! Mungkin karena bahan yang ada mempertahankan panas tubuh tidak keluar kali ya. Atau juga mengatasi mekanisme pemindahan kalor karena angin sehingga membuat kulit tidak kehilangan kalor dan sensor di kulit tidak mendeteksi dingin kali ya.

HEATTECH. Nggak tahu ini boleh dipakai di luar nggak. Kebanyakan iklannya sih orang yg make ini daleman di luar ruangan… Googling aja coba. Atau lihat ini.

Heattech ini macam-macam harganya. Ada yg 700 yen, ada yg 1500 yen, ada juga yg 8000-an. Modelnya juga ada, tergantung motif, cuma nggak tahu ya sopan nggak kalau keluar pakai heattech doang. Untuk yg baju, punya pilihan tambahan yakni leher. Ada yg lehernya kayak kaos biasa, separuh leher, atau leher penuh. Harga variatif.

Slipper dan Kaos Kaki Indoor

Nah, yg ini penting. Di dalam ruangan kaki adalah bagian tubuh pertama yg merasa kedinginan. Terutama saat kita duduk kerja lama. Dengan demikian, di kamar pun saya selalu memakai kaos kaki. Cuma bukan kaos kaki yg dipakai di dalam sepatu itu. Ada kaos kaki sendiri yg agak tebal, khsusus indoor. Harganya variatif kayaknya, saya cuma pernah beli yg kurang dari 500 yen tapi dapat dua pasang. Cuma nggak seberapa mempan dan cepat melar.

Kalau slipper juga penting. Jika kamar tidak berkarpet, bisa beku itu telapak kaki akibat kontak dengan marmer. Seperti yg kita ketahui, suhu yg diukur oleh sensor manusia adalah suhu pada kulit. Nah, ketika kulit bersentuhan dengan sesuatu yg konduktivitas panasnya tinggi, besi misalnya, kalor dari kulit langsung mengalir ke besi. Akhirnya, walaupun suhu besi atau keramik sebenarnya nggak  begitu dingin, kulit kita merasakan suhu nyata yg berbeda. RealFeel®-nya beda lah, hm…

Jadi kalau keluar balkon, atau menginjak tangga tak berkarpet di masjid, atau sekadar menjejakkan kaki ke WC dingin buanget tanpa slipper.

Pakaian Dingin Indoor

Saya sendiri nggak tahu bedanya apa. Yang jelas pakaian dingin dalam ruangan dan pakaian dingin tidur dijual juga di toko baju. Saya nggak beli sih. Saya mah baju keluar sama baju tidur nggak ada bedanya, haha.

Penutup Telinga dan Leher

Kupluk, Penutup Telinga

Ketika cupluk tidak cukup melindungi leher. Ketika muffler dicuci semua. Nah, perlu nih membajukan leher. Saya baru tahu disini kalau ada baju khusus buat leher doang ini. Mirip manset.

Ada juga penutup telinga mirip headphone. Makenya di belakang kepala, haha. Makanya kecil. Saat saya lihat pertama kali, saya coba pakai di atas kepala seperti bando/headphone kok nggak cukup. Ternyata lewat belakang… Btw, kalau sudah make ini nggak bisa make headphone lagi dong ya.

Kaos Kaki Luar

Kaos Kaki LuarSaya juga baru tahu benda ini minggu ini setelah direkomendasikan oleh teman se-lab. Jadi, ada kaos kaki yang kayaknya bukan kain bolong-bolong biasa itu. Gede kaos kakinya. Bahannya tebal. Nggak bakal tembus udara dah, jadinya kedap. Hangat.

Saya beli di amazon, 1800 yen. Jadinya orang Indonesia yg ada di lab saya (3 orang) pakai kaos kaki ini semua. Haha… Cari aja di amazon inner socks (インナーソックス). Walaupun namanya kaos kaki dalam (inner socks), saya lebih suka menyebutnya kaos kaki luar.  Soalnya make benda ini setelah memakai kaos kaki biasa dulu. Lebih nyaman.

Lipstik dan Krim Tangan

Hal yg patut diperangi saat dingin ternyata bukan hanya suhu rendahnya saja. Saat dingin, kelembaban udara menjadi rendah. Nggak tahu penjelasan fisisnya apa. Apalagi di ruangan yg pakai AC. Bangun tidur, pasti haus parah.

Dengan kelembaban udara rendah ini, kulit dan bibir bisa kekurangan air. Akibatnya kering dan pecah-pecah. Bibir jadi seperti sariawan. Kulit kering jadi putih seperti habis berenang dan juga terasa gatal. Kalau digaruk bisa berdarah. Siku tangan juga merupakan daerah yg paling rawan, setidaknya siku tangan kiri saya.

Untuk mengatasinya, kulit dan bibir perlu diperlembab. Tentu bukan dengan air, ngeri juga dingin-dingin sering cuci tangan (yg paling ketara kering tangan, walaupun paha atau badan pun bisa kering juga). Bibir diamankan dengan sejenis lipstik menthol gitu. Kalau kulit dengan krim pelembab biasa. Sebelumnya saya kira krim ini untuk menghangatkan kulit, mas-mas yg menjelaskan ke saya waktu pertama kali sepertinya kurang memberikan klarifikasi yg jelas. Namun, bukan. Ini krim untuk menjaga kulit agar tetap putih dan cantik normal.

Saya tidak menyangka disini saya akan menjadi pria pesolek, pagi dan petang. Habis mandi, luluran dulu… Terus ke cermin, lipstikan. Membayangkannya saya hii… Sebelum tidur juga begitu. Tidak selalu setiap hari sih, tergantung ketersediaan waktu saat itu, dan seringnya juga lupa.

Krim Tangan dan Lipstik

Rok Duduk alias Selimut Paha

Saya lupa istilah bahasa Jepang untuk benda ini apa. Pokoknya ini dipakai untuk menyelimuti kaki terutama paha saat kita duduk, jadi kayak rok gitu. Pada saatu duduk, walaupun sudah pakai celana atau heattech, seringnya paha juga merasakan dingin. Dengan menaruh rok ini, tingkat kenyamanan saat bekerja/belajar di depan meja meningkat.

Saya menggunakan si syal serba guna saya tadi sebagai selimut paha ini. Mempan juga loh!


Selain itu mungkin masih ada banyak lagi. Misalnya yg belum disebut peralatan kaki seperti sepatu yang tahan air, sepatu yang kedap udara, sepatu yg ngepas dengan kaki, atau sepatu boot sekalian dah.

Misalnya lagi celana kedap angin atau setidaknya celana yg lapisannya tidak cuma satu. Harus gan, pakai jeans yang dibeli di Indonesia gawat, dingin parah. Tembus tuh. Harus jeans khusus, windproof. Saya baru sempat beli celana ginian minggu kemaren, 2000-an yen. Nggak suka jeans (cuma pernah dibeliin jeans sekali sama ibu, itu pun dipaksa karena mau berangkat kesini) saya belinya celana kain yg lapis dua.

Peralatan di atas juga belum mempertimbangkan kondisi dingin ekstrem. Bahkan saya belum tahu gimana orang yg hidup di daerah bersalju berpakaian.

Yg ini saja agak repot, perlu 15 menitan untuk siap-siap. Pasang krim di seluruh tubuh sebelum pakai heatech yg ketat itu. Kemudian lipstikan. Heatech atas bawah sudah dipakai, baru cari baju lengan panjang dan celana panjang. Lalu, pakai jaket dalam. Pakai kaos kaki yg kadang ribet karena sudah pakai celana heattech. Pakai kaos kaki luar lagi yg seringnya susah dipake karena sudah kebanyakan make sesuatu. Make jaket luar alias mantel yg -kalau mantelnya sempit atau lapisan dalam ketebelan- susah dipakai. Terus pakai sarung tangan dan syal. Cari kupluk dan penutup telinga. Baru dah siap keluar. Fuih…

Apalagi kalau mau wudhu, wedew buka kaos kaki dan singsingkan lengannya repot lho.

Cowok aja perlu 15 menit untuk memakai semua itu dari nol. Gimana cewek ya. Penasaran… Ngapain aja sih mereka itu?

3 Comments

  1. rempong banget hidup ya hidup d negara yg ada musim dinginnya. jadi sangat bersyukur hidup di Indonesia😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s