Sosial Politik
Comments 26

Masalah dan Kesalahpahaman terhadap Introvert

Pernahkah Anda bertemu orang yang sulit dimengerti? Harus diseret hanya untuk jalan-jalan, makan-makan, kongkow, pesta, atau sekedar kumpul-kumpul? Berpikirnya seribu kali kalau diajak main? Mahal suaranya? Jarang menyapa walaupun dia baru pulang dari jauh? Jika demikian mungkin Anda sedang berhadapan dengan introvert. Saya sendiri termasuk dalam kategori ini.

Introvert? Mahluk apa lagi itu?

Kedua istilah introvert dan ekstrovert diistilahkan oleh psikolog Carl Jung pada tahun 1920. Beliau mendefinisikan keintrovertan sebagai “an attitude-type characterised by orientation in life through subjective psychic contents” dan keekstrovertan sebagai “an attitude type characterised by concentration of interest on the external object“. Mudahnya, introvert adalah orang yang menemukan kedamaian dalam kesendirian. Akan tetapi, hal ini sering disalahpahami oleh orang sebagai “introvert itu pemalu” atau “introvert itu hikikomori” atau bahkan “introvert itu antisosial”. Hal ini sama sekali tidak benar.

Introvert tidak mesti pemalu. Kondisi pemalu timbul karena penderitanya takut atau tidak nyaman dalam kondisi sosial. Mereka cenderung gugup dalam bertemu orang lain dan canggung dalam mengungkapkan sesuatu. Hikikomori meningkatkan skala ini menjadi mengurung diri atau hanya mau tinggal di rumah saja. Biasanya mereka takut berinteraksi dengan manusia 3D atau mungkin antrofobia. Introvert pada umumnya tidak. Lebih tepatnya, kami mengganggap orang lain itu melelahkan atau mungkin reseh.

Ekstrovert merasa hidup jika bertemu orang lain dan redup jika sendirian. Mereka cenderung bosan atau kesepian dalam kondisi sendirian. Jika ekstrovert sendirian barang lima-sepuluh menit, mereka akan langsung mencari ponselnya atau membuka jejaring sosial. Sebaliknya, orang introvert cenderung lelah setelah beberapa jam dalam mode sosial. Setelah itu, kami butuh waktu untuk mendamaikan dan menenangkan diri. Ngecas lah, intinya. Ini bukan antisosial. Bukan pula tanda-tanda depresi. Bagi kami kesendirian sama seperti tidur untuk mengumpulkan kembali pikiran-pikiran dan informasi yang didapat setelah bersosialisasi tadi.

Hasil riset menyatakan bahwa introversi (keintrovertan) dan ekstroversi (keekstrovertan) berhubungan dengan keturunan atau setidaknya berhubungan dengan komponen genetik. Pada buku Introvert Advantage Making Inner Strengths, dijelaskan bahwa neurotransmitter pada otak introvert dan ektrovert memiliki jalur dominan yang berbeda. Introvert cenderung terlalu sensitif terhadap Dopamine, terlalu banyak rangsangan luar membuat mereka lelah. Sebaliknya, ekstrovert tidak bisa mendapatkan cukup Dopamine sehingga mereka butuh Adrenaline untuk membuatnya sebagai pasokan untuk otak.

Jalur peredaran darah pada otak keduanya juga berbeda. Suatu studi mengatakan bahwa peredaran darah pada introvert banyak terjadi di lobus frontal di daerah yang bertugas mengatur pemrosesan internal seperti perenungan dan banyak terkait dalam proses perencanaan dan pemecahan masalah. Sedangkan peredaran darah ekstrovert banyak mengalir pada lobus temporal dan posterior thalamus yang banyak berurusan dengan masalah indera dan emosi.

Jumlah Introvert

Introvert cenderung sedikit dalam populasi global: hanya 25-30%. Hal inilah yang menyebaban introvert cenderung sulit dimengerti orang banyak karena memang kami minoritas, karena masyarakat jarang dilatih untuk berhadapan dengan orang seperti kami. Banyak kesalahpahaman terjadi atas introvert khususnya dari kalangan ekstrovert. Bahkan mungkin bagi seorang introvert sendiri, aksi introvert lain agak kurang bisa dimengerti. Hal ini tidak lain disebabkan karena cara dunia ini bekerja dan kondisi sosial bekerja ditetapkan oleh para ekstrovert tanpa mempertimbangkan bagaimana introvert bereaksi.

Introvert itu arogan?

Tidak juga. Kesalahpahaman ini mungkin ada hubungannya dengan wujud kami yang lebih cerdas, lebih berkepala dingin, lebih tenang, lebih reflektif, dan lebih sensitif dibanding ekstrovert. Selain itu, mungkin karena kami kurang melakukan basa basi, kekurangan yang sering dianggap oleh ekstrover sebagai tindakan meremehkan. Introvert cenderung berpikir sebelum berbicara sedangkan ekstrovert berbicara sambil berpikir. Inilah mengapa rapat-rapat para ekstrovert tersebut memakan waktu tidak kurang dari 4 jam.

Introvert hampir selalu memperkirakan setiap perkataannya atau bisa dibilang cenderung kalkulatif. Apakah perkataan ini  penting, bisa dianggap lucukah, cocokkah ini dengan konteks, bagaimana kira-kira reaksi pendengarnya, atau bagaimana efek jangka panjangnya. Dengan demikian introvert kemungkinan besar tidak pernah keceplosan, semua kata-katanya terencana. Kalaupun pernah terdengar seperti keceplosan, pasti itu disengaja. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukan hal ini.

Introvert itu pendiam? Mahal suaranya?

Introvert bukan pendiam walaupun kami memang cenderung diam alias tidak banyak bicara. Hanya saja  introvert tidak suka berbicara yang remeh temeh apalagi dengan sembarangan orang kecuali mungkin dengan beberapa orang yang baru bertemu pertama kali. Dengan demikian introvert hanya berbicara jika memang dibutuhkan. Introvert lebih suka menjadi pengamat (observer) dan menganalisa keadaan. Hey, orang yang terkuat dalam suatu ruangan atau rapat biasanya yang paling pendiam, bukan? Jika dia sudah bicara yang lain pasti mengangguk-angguk.

Intinya introvert bukan tidak suka berbicara. Mereka hanya tidak suka basa-basi kecuali mungkin dengan teman dekat. Mereka juga cenderung lebih suka pembicaraan yang serius dan mendalam dibanding pembicaraan yang melebar. Kemudian, coba saja ajak saja seorang introvert mengobrol hal yang dia sukai, bisa tidak berhenti-berhenti bicaranya. Mereka juga bukan orang yang tidak pandai berbicara. Banyak seorang introvert yang bisa memberikan presentasi yang hebat. Bahkan banyak CEO yang mengaku bahwa mereka itu sebenarnya introvert, misalnya Bill Gates.

Karena berpikir sebelum bicara dan tidak suka basa-basi, orang yang bicara dengan introvert biasanya tidak luwes, kadang berhenti atau jeda canggung (awkward) di tengah. Mentok. Akan tetapi, karena sifat mereka yang cenderung diam dan kalkulatif, mereka bisa menjadi pendengar yang baik dan terkadang solutif.

Introvert cenderung tertutup?

Mungkin benar. Karena tidak banyak bicara, introvert cenderung tertutup. Introvert juga tidak suka membicarakan dirinya atau hal pribadi ke sembarangan orang. Tidak seperti ekstrovert yang biasanya bicara sampai berbusa-busa dan sering melakukan dialog semi internal, mengutarakan kekecewaan, menjelaskan siapa dirinya, dan apa yang telah ia perbuat ke semua orang. Seringnya perilaku ekstrovert ini membuat gila orang introvert yang mendengarnya. Tidak seperti ekstrovert, introvert sering menyalahkan diri sendiri dan hanya mengutuk kegelapan.

Oh ya, karena introvert cenderung tertutup berbahagialah kalian yang mendapati orang introvert sebagai teman Anda yang bisa bicara terbuka tentang dirinya kepada Anda. Ia bisa menjadi teman setia sepanjang hidup.

Introvert juga tidak suka dirinya dibesar-besarkan atau jadi perhatian orang. Berbeda dengan ekstrovert yang tidak akan ragu atau canggung saat memamerkan pencapaian IP atau target di blognya atau detail mata kuliah yang diambil semester lalu beserta nilainya atau berhasil wisuda dengan cum laude. Introvert tidak. Kami tidak suka jadi bahan pembicaraan. Kami akan cenderung diam misalkan saat menang lomba, mendapat penghargaan, atau pertukaran pelajar ke luar negeri. Saya sendiri pun akan begitu. Misalkan saya mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke luar negeri tidak akan ada yang tahu meskipun itu teman dekat sendiri mungkin hingga beberapa hari keberangkatan. Saya tidak suka hal itu mengubah pandangan orang atau jadi bahan pertanyaan saat ketemu. Tidak penting.

Introvert tidak sopan?

Sama sekali salah. Saya sudah menyebutkan bahwa introvert tidak suka basa-basi bukan. Kami hanya ingin semua orang hidup jujur apa adanya tanpa ada kata-kata remeh temeh penghalus belaka.

Kami tidak suka mengucapkan selamat baik itu selamat ulang tahun, selamat lebaran, selamat jalan, atau selamat tinggal. Kemudian, kami menganggap pemberian testimoni dan sebagainya itu adalah hal yang melelahkan. We will never look forward to it. Bahkan kami (atau setidaknya saya) hanya akan memberikan sapaan sedikit (seperlunya) kepada teman yang ketemu di jalan.

Meskipun mungkin, jika saya melihat orang lain pergi jauh (misal ke luar negeri) tanpa mengucapkan salam perpisahan saya sendiri juga menganggap hal itu kurang sopan walaupun sepertinya saya juga akan melakukan begitu. Begitu pula kebanyakan orang khususnya ekstrovert. Hal ini tidak lain buku etika yang banyak beredar dan diajarkan di sekolah mengatakan demikian dan ini tak diragukan lagi ditulis oleh ekstrovert. Karena ekstrovert berkuasa, masyarakat pun cenderung memberikan ekspektasi dan akhirnya yang demikian terjadi.

Oleh karena itu, jangan heran terhadap orang yang tidak mau memulai menyapa Anda setelah ia pulang dari bepergian jauh karena bisa jadi dia itu introvert dan menganggap hal itu tidak perlu atau bahkan melelahkan. Sebaliknya, jika Anda mampu datangilah dia dan beri sapaan duluan. Yakinlah mereka akan membalas dengan senyum.

Saya juga membayangkan (dan sepertinya ini memang pernah terjadi) dua sahabat yang masing-masing introvert bertemu sejak lama bertemu hanya akan berhadapan dan bersalaman dengan pandangan yang lebih bermakna daripada kata-kata.

Oh ya, meskipun tidak suka basa-basi, tidak berarti introvert tidak suka atau tidak bisa melucu loh ya. Justru biasanya mereka memiliki humor masing-masing yang orisinil dan berbeda.

Introvert antisosial?

Sama sekali tidak. Memang introvert lebih nyaman dengan pikirannya sendiri. Mereka suka berpikir, suka berkhayal, dan cenderung beraktifitas sendirian atau melibatkan sedikit orang. Akan tetapi, seperti yang ditekankan di atas, introvert bukan benci berinteraksi. Hanya saja kami cenderung tidak ingin melakukan hal yang tidak perlu. Konservasi energi adalah motto kami.

Bertentangan dengan pendapat kebanyakan, introvert juga suka bersosialiasi tetapi dalam cara yang berbeda dan frekuensi yang lebih sedikit dibanding ekstrovert. Kami juga suka kok diajak pergi jalan-jalan hanya saja jika ada kepentingan misal untuk membeli sesuatu, menonton film, atau foto-foto, bukan cuma kongkow tidak jelas. Setelah itu, jika terlalu kami, kami butuh waktu untuk mengecas energi lagi dan mengatur pikiran kami.

Akan tetapi, memang introvert lebih nyaman relaksasi di tempat yang tenang dibanding di tempat ramai (seperti pesta). Itulah mengapa kami susah diajak ke acara-acara atau pesta (misalnya syukuran wisuda) yang ramai. Jika kami datang pun kami tidak tahu harus berbuat apa disana. Tidak ada yang menarik.

Terus kalau ketemu orang introvert gimana?

Jika bertemu orang introvert sapalah dan ajak bicara. Intinya mulailah percakapan. Sudah saatnya orang ekstrovert mengenail lebih jauh orang-orang introvert dan melatih diri berkomunikasi dengan mereka. Mereka tidak menyapa Anda bukan karena mereka tidak sopan, Anda tidak penting, atau bagaimana. Hanya saja itu sudah menjadi bagian dari psikologi mereka. Akan tetapi jangan terlalu banyak bicara keluar topik (off topic) atau tidak sesuai konteks (atau basa basi lah kasarnya) dengan mereka. Hal itu justru akan membuat mereka lelah.

Bagaimana saya memberi tahu teman saya bahwa saya mendukung dia dan menghargai keputusannya menjadi introvert?

Seperti yang dipaparkan di artikel Caring Your Introvert (yang memang juga menjadi basis utama tulisan ini) mengenai langkah baik menangani seorang introvert. Pertama, ketahuilah bahwa introvert bukanlah pilihan. Ia bukan gaya hidup. Ia adalah orientasi. Kedua, jika mememukan introvert sedang melamun atau diam atau bingung di keramaian, jangan menanyakan “kenapa mas?” atau “sehat gan? ada masalah?”. Ketiga, jangan juga mengatakan hal selainnya.

Artikel Terkait

26 Comments

  1. Ivan Ramdhani says

    Artikel yg hebat:) seperti membuat saya membaca sambil bercermin.. Introvert adalah pecinta kedamaian, mungkin bagi masyarakat mereka adalah orang yg anti sosial, tapi sebenernya introvert memiliki sikap menghargai yg lebih baik dr ekstrovert.

  2. Keanu Repka D says

    Terima kasih atas info tentang introvert, ya. Memang benar bahwa para introvert kerapkali disalah pahami oleh masyarakat umum.

    Tetapi, secara umum diskriminasi itu tidak diperbolehkan. Sudah banyak diskriminasi terhadap para introvert, tetapi tetaplah berjuang para introvert!

  3. Nah untung deh nyasar kesini.

    Artikelnya benar-benar menjelaskan bagaimana diri saya yang sebenarnya dan membantu saya agar orang lain dapat mengerti.

    Saya selalu dicap arogan dikelas karena saya jarang berbicara. Sejujurnya saya hanya menganggap bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan. Dan saya benar-benar tidak suka basa basi seperti melakukan obrolan kecil yang tak ada artinya. Namun begitu nyatanya saya sangat ingin berteman dengan banyak orang.
    Saya sangat menikmati obrolan yang sesuai dengan hobi dan hal yang menarik bagi saya.

    Saya tidak bisa menyapa orang terlebih dahulu, sebab itu saya sering dianggap cuek dan tak peduli sekitar. Padahal tanpa mereka sadari, saya memerhatikan mereka hehe.

    Saya tidak suka jadi bahan perhatian, apalagi disuruh nyanyi di depan banyak orang dalam suatu acara. Wah saya menolak sekali seperi itu. Saya juga tidak suka dipuji.

    Jangankan orang lain, tak jarang orang tua saya sering salah paham dengan saya. Disitu kadang saya merasa sedih hehe.

    Dengan ini, saya mau tunjukin ke orang tua saya dan orang lain yang sering nge-cap saya sebagai pribadi yang aneh karena suka menyendiri di kamar dan tidak terbuka.

    Tuh kan saya jadi pidato.
    Terima kasih atas artikelnya🙂

    • clara alisya n says

      hei… kamu salah kali. justru dunia ini udah rusak, karena kultur masyarakat yg lebih memfavoritkan orang2 ekstrovert.

      dunia ini butuh menghargai perbedaan masing2 individu mau kayak bagaimanapun orangnya, dan gaada tipe kepribadian yang paling sempurna daripada yang lain. semua tipe kepribadian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing2. camkan itu.

  4. Hanifa says

    Bener banget, dikelas aku doang yang introvert .Padahal aku dikelas temenan lebih dari 5 orang tapi aku hanya nyaman dengan teman sebangku,itu pun karna teman sebangku ku dulu sama kelasnya. kalau dia belum datang aku lebih memilih duduk dibangku dan main hp atau dengerin musik.Kadang badan bisa jadi down cuma gara gara sekolah. dalam hal berdebat pun aku lebih memilih mengalah dari pada berurusan panjang.

  5. dark shiiin says

    yang paling sulit jika semua teman kantor ekstrovert dn saya sendri introvert apalagi saya adalah karyawan baru yang belum punya cukup pengalaman.
    ketika melakukan kesalahan, saya seperti mengutuk diri sndiri dn selalu memikirkan bagaimana hari esok?
    hal itu sungguh menekan saya.

  6. Menurut ku hanya perlu saling memahami antara keduanya..saya ekstrovert, kadang juga merasa tertekan dengan sikap introvert tanpa ia sadari..ya sama kalik ya kaya anak introvert bete kalo deket-deket anak ekstrovert yang hobi ngomong apa aja, kadang sikap dingin introvert pun melukai..karena seperti halnya introvert butuh kesendirian, anak ekstrovert juga butuh komunikasi yang baik..lebih bete lagi kalo apa yang dikatakan oleh ekstrovert itu dianggap ga penting..kayaknya jadi ga berharga banget..mungkin itu yang bikin masalah selama ini, cara melihat dan kebutuhan yang berbeda yang kurang dapat dipahami satu sama lain..kalo jalan dengan perbedaan itu sulit, jalan aja dengan apa yang sama, perbedaan yang ada cukup kita tau, tapi ga usah jadi pemisah toh sekalipun berbeda masih banyak hal yang mungkin sama..peace^^v

  7. Ping-balik: Tipe Introvert……..?? Ah, Nggak gaul ! | BIT-BIT ISLAND

  8. Bryan says

    Bener banget.
    Artikel ini sangat menginspirasi.
    Kadang jadi introvert itu susah banget, apalagi sama teman kantor yang hampir seluruhnya extrovert jadi merasa terkucilkan.
    Mereka kadang anggap aku sombong atau tak mau bergaul, padahal bukan itu.
    Aku mau bergaul sama mereka tapi kadang aku merasa tak nyaman terlalu lama sama mereka dn membicarakan hal” yg aku ga tau ap intinya.
    Bahkan mereka tak mau menyapa aku duluan, kadang aku sedih kenapa aku ga bisa menyapa mereka duluan?
    Kadang apa susahnya? Tapi bagiku memulai pembicaraan itu susah terlebih lagi kalau mereka nampak acuh padahal sebelumnya pada orang lain mereka responden yang baik.
    Entah benar atau tidak orang” extrovert di lingkungan kerjaku yang membuatku menjadi semakin menutup diri.
    Aku tak suka cara mereka menghabisakn jam istirahat dengan ngobrol dan bermain” tak jelas, itu sangat berisik.
    Aku suka jika kami beristrahat bersama dan makan dengan tenang.
    Dan kenapa sejak dulu aku tak pernah nyaman dengan namanya belajar kelompok?
    Aku tak suka berdebat.
    Tr

  9. Ping-balik: Perjalanan ke Jepang yang Melelahkan | Blog Kemaren Siang

  10. Ping-balik: Kenapa Nggak Pengumuman di Facebook? | Blog Kemaren Siang

  11. menjadi introvert yang aku rasakan kebanyakan c,lebih gak nyamannya … kadang aku merasa sendiri,gak punya relasi yang cukup luas,,, padahal itu sangat penting,,, ,,, tapi ketika aku berusaha untuk menjadi extrovert,aku merasa se akan ini bukan diriku…

  12. Ping-balik: Tabiat Orang Batak? Atau Sumatera Secara Umum? | Blog Kemaren Siang

  13. Ping-balik: Orientasi: Ekstrovert dan Introvert secara Netral | Blog Kemaren Siang

  14. Flow Luxia says

    entah kenapa, kalo menurut gw mengkotak-kotak-kan something seperti introvert atau extrovert itu hal yang kurang bijak. Karakter itu bukan sesuatu yang statis dan monoton seperti itu namun dinamis, bisa berubah, bisa ditingkatkan. orang yang introvert bukan berarti dia terus-terusan bakal jadi penikmat kesendirian. orang yg ekstrovert ngga mesti juga suka berbicara melebar dan ngobrol sembarang.
    intinya, setiap orang bisa berubah. yang ngebuat lo mengkotak-kotakkan diri jadi introvert atau ekstrovert itu bukan genetis. tapi lebih ke lingkungan sosial lo, yang ngga ko sadari telah tertanam ke pikiran bawah sadar lo sejak lo kecil.

    • Terima kasih tanggapannya. Penggolongan psikologis ada itu kan supaya kita bisa memahami diri dan menempatan kadar sosial yg tepat buat kita. Msh byk penggolongan yg lain loh selain intro-ekstro.
      Kemudian salah kalau kamu bilang ekstrovert itu ngomong sembarangan. Ekstrovert itu lebih tepatnya suka bergaul, suka dlm artian tidak cepat capek berbicara. Mereka umumnya mengutamakan keramahan, menyapa, dll. Lebih terbuka dan hangat. Visioner dlm mengerahkan massa. Walaupun (menurut) introvert terlalu byk melakukan itu capek.

      Kemudian, soal genetis atau tidaknya silakan baca di wikipedia memang ada perbedaan study, yg saya bilang di sini (dan ada link sumbernya tuh) ada kemungkinan kaitannya dengan komponen genetis.

    • Hahaha… Saya juga merasakan hal itu… ternyata sulit menjadi extrovert… Menurut saya ,Kita tidak perlu merubah watak dasar kita.. Cukup syukuri apa yang sudah kita punya dengan menjadi seorag introvert yang gaul dan Asertif…

    • Iqbal says

      Anda sangat salah kalo mengatakan introvert dan extrovert bisa dirubah
      ketahuilah.. sifat itu adalah naluri lahiriah yang tidak bisa diperbaiki, sama saja seperti menyuruh singa makan sayuran, kalaupun ada berarti orang itu kelainan genetik dan di dunia ini tidak benar – benar ada orang yang 100% introvert / 100% extrovert…

      dan saya sangat terhina kalau sifat emas saya ini (introvert) dirubah… ini anugerah dari Tuhan dan dari sifat ini saya punya pemikiran matang dan tujuan hidup yang jelas dan dalam jangka panjang.. Orang-orang minoritas seperti kami ini (introvert) menciptakan kelompok mayoritas dari orang-orang yang berbakat… sifat lebih dari kami juga kebanyakan tidak pernah mengeluh dan kuat dengan penderitaan hidup (pengalaman saya)

      Dan statement yang anda buat jelas menunjukan bahwa anda seorang extrovert… saya juga mengerti sebagai introvert sering disalah pahami… Saya juga bisa gila kalau menyendiri terus-menerus dan anda harus tahu dan ini sangat penting… ENERGI INTROVERT HANYA BISA DI ISI (RECHARGE) SAAT PROSES MENYENDIRI DAN ENERGI INTROVERT SERING HABIS DISERAP OLEH ORANG EXTROVERT…

      Memang ada orang yang bisa berubah dari Introvert ke Extrovert dan dia telah menyia-nyiakan sifat emasnya yang berharga.. Ketahuilah! Orang introvert itu SATU yang artinya Mandiri, Setia, Fokus, Penyendiri, Konsisten, Pendirian Teguh…

      Dan saya akui kekuranganna saat berbicara… kadang saat berbicara tiba-tiba ada perubahan ide mendadak omongan terbata-bata, tapi sikap saya terhadap sahabat saya tidak berbeda seperti extrovert… saya sering basa-basi, ngobrol ga jelas, bercanda terus walaupun omongan gak penting..

      Intinya jangan pernah menyuruh orang untuk merubah sikapnya…
      Dan Ketahuilah.. Banyak artikel seperti ini dibuat karena ORANG INTROVERT DITEKAN OLEH ORANG EXTROVERT UNTUK MERUBAH SIKAPNYA dan itu SANGAT MENYAKITKAN

    • Iya dopamine maksudnya. Maaf salah ketik. Sudah saya benahi cetakannya. Makasih sudah berkunjung dan pemberitahuannya ya…

      • ya sama2..🙂

        ternyata dopamine itu sesuatu banget ya, adhd, introvert, fibromyalgia berhubungan dengan dopamine, thnks infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s