All posts filed under: Cerita Jepang

Beberapa kejadian dan pengalaman yang saya rasakan selama di Jepang. Hal unik yang saya temui di Jepang. Diskusi tentang Jepang dan budayanya, dan interaksi dengan orang Jepang dan komunitas Internasional.

Sssssttt…

Setiap pagi saya mendengar orang Jepang yang baru datang di kantor berdesis ria. Datang satu orang. Ssssttt…. Satu orang lagi… Sssttttts…. Nggak semua sih. Sebagian… Ngapa lah ini orang Jepang pikir saya… Rupanya itu singkatan dari “Selamat Pagi”. Jadi kalau ditulis full begini nih. [Ohayogozaima]sssssttsu. Mungkin karena malu atau gimana jadi awal kalimatnya diucap sirr sama mereka. Atau mungkin biar efisien atau gimana kali. Kalau di Indonesia dibuat seefisien begitu, mungkin kira-kira jadi begini… giii….. Atau begini.. likummm….. Kali yak. Di kantor saya dulu di Nagoya, orang yang berdesis gitu kalau ketahuan Shacho (CEO) bakal dimarahi dan disuruh ulang masuk kantornya. Di depan pintu harus salam pakai teriak, cem tentara. OHAYOUGOZAIMASU! Gitu… Jangan sampe deh. Iklan

Haimu, Haitsu, Apato, dan Mansion

Saya bingung dengan nama apato saya sekarang. Namanya, サウスハイム, yang kalau diromajikan, yup! Gimana coba? Disitu bingungnya…. Kalau per silabel Jepang sih jadinya SA-U-SU-HA-I-MU. Tiga bulan disini, misterius gimana romajinya. Masih belum kepikiran untuk nyari tahu. Sering kalau nulis alamat saya memakai romaji. Soalnya malas kan nulis kanji, corat coretnya banyak. Tokyo. Meguro. Begitu sampai ke nama apato ini, jeng-jeng… Masa Sauce Hyme, Sausu Haimu, atau Saus Haim. Coba tebak gimana? Karena bingung balik lagi deh saya ke katakana サウスハイム, selalu begitu. Sampai tiga bulan kemudian, saya googling-googling. Pertama googling pakai frasa Inggris yg saya curigai, Sauce Hyme. No good. Keluarnya Sauce Rhyme, itupun nyampah isinya. Terus saya coba pakai yang paling normal, Saus Haim. Muncul kandidat yang sangat bagus. Ada nama kota di utara Perancis, dekat Jerman. Namanya Sausheim. Wah, kandidat yang bagus! Tapi kok ragu kalau yg punya apato ngasih nama dengan kota ini, pernah kesana apa si nenek. Googling lagi deh pakai katakana, biar lebih ketahuan. Banyak ternyata yang pakai nama tersebut. Ratusan. Dari puluhan laman google, cuma satu link yang memberi hint ttg tulisan …

Telepon Umum

Saya kadang menemukan telepon umum di jalan, terawat dan masih berfungsi. Di depan kampus saya TUT ada. Di halaman gedung kantor sekarang juga ada dua. Di dalam kayak gini bentuknya. Retro banget, tapi bersih dari debu. Dan yang penting fungsional, layarnya masih nyala-nyala. Mesin teleponnya menerima kartu telepon dan koin. Saya nggak pernah liat sih seumur-umur kartu telepon itu yang kayak mana. Udah punah kayaknya. Tapi ada lobang koin 10 dan 100 yen, boleh juga. Saya coba iseng nyobain tadi. Masukin koin 10 yen, udah bisa manggil. Nomor yang tertampil di layar No Caller ID. Hmmm…. Sarana bagus buat ngerjain orang? Berarti telepon umum itu nggak di-assign nomor telepon kah ya? Kirain ada lho nomor teleponnya. Di film-film kan sering tuh orang di telpon via telepon umum, disuruh pergi ke telepon umum mana gitu buat kontakan. Film mata-mata sih. Atau itu di barat doang yak? Kalau menurut biro turisme nasional jepang, pakai telepon umum ini 10 yen bisa 57 detik. Lama juga ya… Murah kan berarti yak?  

Kartu Poin

Di Jepang kartu poin itu banyak dan sangat menyebar. Setiap toko punya sendiri-sendiri. Di Indonesia ada nggak ya….
Oh ya, awal-awal saya nggak tahu ini kartu buat apa. Pas tutor nyodorin kartunya ke kasir, saya kira dia bayarin saya atau ngasih saya diskon atau gimana gitu. Jadi saya bilang terima kasih deh.

Cerita Pak Ujihira: Agama Orang Jepang

Saya dulu punya dosen bahasa Jepang yang nyentrik. Pak Ujihira namanya. Beliau bisa bahasa Indonesia dan tabiatnya juga mirip orang Indonesia. Pernah di Indonesia juga. Beliau banyak cerita ttg Jepang (dan kadang ttg Indonesia), salah satunya adalah tentang agama orang Jepang. Orang Jepang, ngakunya, beragama Shinto. Shinto ini bisa digolongkan ke kelompok animisme, walaupun ada studi modern yang bilang bukan. Btw, di buku SD animisme ini dikatakan agamanya orang primitif. Nyatanya Jepang super modern gitu masyarakatnya yak… Intinya, mereka memuja leluhur. Jadi nih, ada orang hebat di masa lalu, entah mereka raja atau panglima atau ilmuwan. Misalnya ada cerdik cendikia penemu peti penyimpan es, jadi deh dia dianggap dewa es. Mungkin kata dewa disini setara dengan kata imba kali. Wah… Dewa… Quiznya dapat 100 mulu. Lokak IP 4 nih… Makanya di Jepang ini dikit-dikit dewa. Di satu komplek kuil, altarnya bisa belasan. Masing-masing punya nama dan kekuatan spesifik. Cem pokemon gitu. Semuanya ada delapan juta kata si Bapak. Sebutan semua dewanya itu  yaoyorozu no kami (八百万の神), delapan juta dewa. Istilah ini adalah romantisasi dari istilah …

Orang Jepang: Tiada Ekspektasi Politik

Suatu hari, saya di kantor ngobrol panjang dengan teman semeja. Sangat jarang lho di Jepang ngobrol pas lagi suasana kerja. Waktu itu temanya tentang… Jeng jeng jeng… Anime jaman dulu, dragon ball, sailor moon, card captor, doraemon, dll. Juga hobi koleksi stiker Bikkuriman salah satu senpai. Dan setelah ngobrol ngalur ngidul, nyerempet juga ke Trump dan politik jepang. Saya cerita ke mereka. Kalau di Jepang, ketemu orang atau temen di jalan ngomongnya cuaca kan yak? Ya nggak juga lah, jawab temen saya di sebelah. Ternyata bayangan saya berbeda dg kenyataan. Terus saya melanjutkan, ngomongin politik nggak? Kalau orang Indonesia, ketemu temen atau orang nggak dikenal di jalan, politik terkini biasa jadi obrolan. Setidaknya half of the time lah. Di Jepang? Nggak ada topik politik yang bisa diomongin, katanya. Kehidupan politik dan kehidupan mereka seperti kankenai, nggak ada kaitannya. Setidaknya menurut mereka gitu. Mungkin mereka sudah sibuk dan pusing dengan urusan sekolah atau kantor kali ya. Menurut teman saya itu, orang Jepang tidak memiliki ekspektasi apa-apa ke para pejabat dan pemerintah. Apa mau mereka terserah lah, gitu mungkin ya. …

Tronton Baligo Iklan Berjalan

Satu hal yang saya temukan unik di Jepang adalah penggunaan tronton sebagai baligo berjalan. Seperti di foto di atas, si tronton ini dicat penuh dengan iklan. Kemudian si tronton kerjaannya hanya muter-muter wilayah pusat kota dengan lambat. Berjalan dengan sangat lambat. Kalau bisa kena lampu merah di setiap persimpangan, dia akan melakukannya. Pertama kali saya melihat truk semacam ini, di Tokyo, iklan yang ditayangkan di truk adalah iklan sebuah grup band lokal atau grup idol. Foto membernya terpampang raksasa di bak putih tronton. Yang lebih unik bukanlah gambanya. Melainkan si truk juga menyetel lagu keras-keras. Lagu si band tersebut. Namanya juga iklan bukan? Jadi ya, yg diiklankan apa lagi kalau bukan lagu si grup band. Nggak mesti grup band, produk lain juga bisa diiklankan di tronton ini rupanya. Dan tentu saja, pakai suara-suara juga dong. Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini di Indonesia. Mungkin saya kurang gaul aja kali. Setidaknya di Bandung saya belum pernah lihat. Ada nggak ya di Indonesia? Jika nggak ada, wah mungkin ini peluang bisnis tuh! Kalau di Bandung, diputer-puterin …

Sikat Gigi di Jepang Nggak Ada yang Bener

Entah perasaan saya aja atau gimana ya, saya merasa kalau sikat gigi di Jepang itu kok kawai-kawai gitu… Bukan gambar atau disainnya lho ya. Ukurannya. Kecil-kecil gitu. Rasanya beda jauh dengan memakai sikat dari Indonesia. Agak nggak nyaman jadinya kalau dipakai. Awal-awal di Jepang, memakai sikat gigi imut ini sering kali merah-merah manis keluar dari gusi saya. Ada juga sih ukuran yang lebih gede dari ukuran mainstream. Namun, jadi bukan memanjang, malah melebar jauh. Gemuk gitu…. Di gambar atas bisa diamati perbedaan antara sikat gigi di Jepang dan Indonesia. Tiga sikat gigi di kiri dibeli di Jepang. Sikat gigi paling kanan dibeli di Indonesia. Yang kedua dari kanan dikasih sama Singapore Air, jadi mungkin standar di Singapore kali lah ya. Sikat gigi Singapore kurang lebih berukuran sama dengan Indonesia. Saya sengaja beli sikat dengan merek yang sama. Systema. Di Indonesia ngimpor juga mereka. Tampak jelas kalau sikat gigi di Jepang cenderung lebih kecil. Ukuran yang paling banyak ditemukan bisa sampai separuh dari ukuran sikat gigi di Indonesia. Hm Hm… Mulut orang Jepang kecil-kecil atau biar hemat pemakaian …

Selebaran dari Pak Polisi Bandara Chubu

Awal tahun kemaren saya iseng lewat Chubu Centrair International Airport, kebetulan aja dari jalan-jalan ke Indonesia/Singapur, nggak ada salahnya mampir ini bandara. Baru keluar dari terminal kedatangan, seseorang berjas rapi mendatangi saya dan menyapa dengan sopan. Mas-mas, orang mana mas? Anu, saya ini polisi nih… Boleh ngobrol sebentar nggak… Kira-kira begitulah kalau di Indonesiakan ya… Polisi ternyata. Tapi berpakaian p̶r̶e̶m̶a̶n̶ jas. Beliau memperkenalkan diri, kemudian menanyakan asal saya dari mana, ada urusan apa di Jepang. Sambil obrolan mengalir minta saya menujukkan kartu identitas, kalau boleh, katanya. Nama perusahaan saya kerja. Pergi ke masjid atau nggak. Dan lain-lain. Eh, kerja toh? Dulu lulus dari Toyohashi… Hm hm. Tinggal di Nakaku? Wah tahu itu dong, Mabes Polisi Nagoya yg di Nakaku. Pasti sering ke supermarket Yamanaka yak?? Polisinya ramah dan asyik. Saya tidak merasa risih atau terancam. Cuma capai aja setelah perjalanan lebih dari 36 jam. Yang saya rasakan obrolannya yaa kayak kita, orang Indonesia, kalau ketemu dan menyapa orang tak dikenal di jalan. Bedanya, orang tak dikenal ini kepo banget dan sambil mencatat apa yang diobrolkan. Di …

Trade-off between Kamejima Station and Honjin for Reaching Nagoya Mosque

Nagoya mosque is located almost in the exact middle between Kamejima-station and Honjin station. Many people thought that Honjin-station is the nearest and thus the most convenient station to get off from and on to the city subway. Challenging this idea, we measure the walking time taken from both stations. Both stations is comparable in walking time. Finally, we argue that actually Kamejima-station is the better access for Nagoya mosque, considering topology, terrain, train schedule, and also the travel time itself.

Lebaran di Nagoya

Ied Mubarak, 皆さん。 Hari ini saya shalat idul fitri untuk pertama kali di Nagoya. Shalat ied disini tidak di masjid. Masjid Nagoya soalnya super sempit sekali. Untuk shalat jumat saja sudah penuh sesak tiga lantai. Maklum, ukuran satu ruangnya mungkin hanya sebesar ruangan apartemen sedang. Shalat dialihkan ke Port Messe Nagoya. Sebuah hall internasional di dekat stasiun Kinjo Futo. Pelabuhan Nagoya sana. Dengan kata lain: jauuuhh… Harus naik Aonami-line yang mahal, dari ujung ke ujung. Dari stasiun Nagoya memakan waktu sekitar 30 menit, seharga 350 yen. Shalat dimulai pukul 10 pagi. Agak beda dari yang lain nih. Mungkin karena jauhnya itu kali ya. Dan spot ini ternyata aggregat untuk wilayah yang cukup luas. Seluruh Kota Nagoya saja sudah sangat luas untuk ditampung di hanya satu hall internasional. Dan ternyata, memang sangat sesak sekali. Hall yang seluas ini aja tidak cukup. Shafnya harus berhemat. Kalau bisa sujud di sela-sela kaki shaf depannya. Malah dengar-dengar, di masjid Shin-Anjo malah shalatnya dua kloter. Saking gak muatnya… Ndak tahu juga sih, harus klarifikasi dulu sama penghuni disana. Namun, suasanya tadi …