Diskusi dan Ide
Tinggalkan sebuah Komentar

Nuance dan Nuansa

Saya bingung, nuance ini bahasa Indonesianya apa ya?

Bukannya “nuansa” ya gan?

Iya sih itu… Tapi beda deh. Di artikel sebelumnya saya memakai kata nuance dalam bahasa Inggris walaupun saya tahu ada kata nuansa di bahasa Indonesia. Soalnya saya merasa ada nuance di kata nuansa yang membuatnya beda dari kata nuance.

Ehm. Maksud saya, kata nuance dalam bahasa Inggris dan kata nuansa dalam bahasa Indonesia itu punya arti yang sedikit berbeda. Mari kita lihat bedanya.

nuance

  1. subtle distinction or variationNuances of flavor and fragrance cannot be described accurately … — Scott Seegers… these terms have certain nuances of meaning … — Ben F. Nelms

  2. a subtle quality
  3. sensibility to, awareness of, or ability to express delicate shadings (as of meaning, feeling, or value)

(Merriam Webster Online)

nu.an.sa

  1. n variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dan sebagainya)
  2. n kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai)

(KBBI Daring Badan Bahasa Kemendikbud)

Hmm, kalau liat kamus di atas sama kayaknya gan!

Nyet nyet nyet.… Saya berani bertaruh kalau si bapak-bapak perumus KBBI itu cuma ngeliat arti nuance dalam bahasa Inggris kemudian memberi fatwa, inilah arti kata nuansa seharusnya.

Dalam percakapan sehari-hari, kata nuansa dalam bahasa Indonesia hampir tidak pernah diartikan sebagai subtle difference atau perbedaan halus. Tidak percaya, lihat aja daftar frasa berikut ini.

Nuansa Ramadhan. Nuansa Tahun Baru. Nuansa Jawa. Nuansa Tradisional. Nuansa Islami. Nuansa Sejuk. Nuansa Kemerdekaan.

Kalian bisa mendaftar sendiri pemakaian kata nuansa yang umum tersebut dan bisa disimpulkan kalau arti nuansa disana adalah tema atau suasana. Sama sekali bukan perbedaan halus. Kalau emang si KBBI tadi “benar”, kalimat berikut-lah yang harusnya lebih umum.

Ada nuansa di suara dan wajahnya ketika kami bertemu kembali.

Sayangnya, saat membaca kalimat di atas kita langsung berteriak. Nuansa di muka? Suara? Maksute? Nuansa apaan? Agak tuaan dikit kah gitu kah?

Menurut Samsudin Berlian (Kompas, 26 Mar 2010) yang kemudian artikelnya dicadangkan di rubrikbahasa, kata nuansa ini dipopulerkan oleh lagu Nuansa Bening oleh Keenan Nasution pada tahun 1970. Dan sejak itulah orang pada mengasosiasikan kata ini menjadi suasana, suasana bening…

Kita bisa aja berargumen kalau orang-orang yang memakai kata nuansa dengan arti suasana tadilah yang salah. Konyol. Nggak mutu. Namun, masa iya pemakai mayoritas bisa dicap salah dan bodoh semua.

Apa nggak lebih cocok kalau disepakati kalau ada “arti baru” atau “pergeseran makna” di kata nuansa tersebut, laiknya kata maskapai yang tadinya berarti perusahaan (sembarang) sekarang menyempit artinya menjadi perusahaan penerbangan. Jadi si KBBI yang harus direvisi tuh… Bukannya kamus itu tugasnya adalah merekam arti kosa kata sesuai yang dipakai oleh masyarakat? (Alinea ini memandang bahwa kamus itu deskriptif)

Namun saya juga agak sayang kalau kata nuance yang di bahasa Inggris itu tidak lagi memiliki padanan di bahasa Indonesia. Kalau kita tidak lagi memiliki kata untuk menggambarkan sebuah perbedaan yang halus dari suatu makna, kualitas, musik, warna, dll. Separuh diri saya masih percaya bahwa arti kata yang terekam di kamus itu adalah standar emas yang harus dijaga. (Alinea ini memandang bahwa kamus itu perskriptif)

Intinya saya galau. Untuk tujuan artikel ini, saya akan memakai arti nuansa yang tercantum dalam dua kamus terkutip di atas.


Suatu hari, ada yang mengklaim bahwa kita harus memahami bahwa bahasa Indonesia itu sering dirasa-rasakan melebihi makna leksikal kata itu sendiri. Misalnya tentang pemakaian istilah tabrakan, tubrukan, atau tumbukan. Itu artinya sama tapi beda di rasanya… Bernuansa.

Misalnya lagi kata seluruh dan semua. Artinya beda tapi sama, dan susah nentuin dimana bedanya. Kalau kata saya, kata seluruh itu dilihat dari atas sebagai satu kesatuan. Jadi sifatnya tunggal. Semua itu dilihat dari bawah, harus ada komponen-komponennya. Jadi kata semua bersifat jamak.

Jam itu jangka waktu, tetapi bisa juga menjadi saat tertentu. Pukul itu hanya bisa dipalai untuk saat tertentu.

Pencinta itu adalah orang yang mencinta. Pecinta itu adalah orang yang bercinta.

Meninggal. Mati. Mampus. Wafat. Gugur. Kayaknya ini pembaca bisa membedakan nuansa di dalamnya.

Membahas nuansa makna dari kata-kata itu sangat menarik. Di blog ini banyak banget bahasan seperti ini. Misalnya huruf × alfabet, makna × arti × definisi, hantar × antar, jubah, tabrakan × benturan, dan lain-lain. Di masa depan, tentu artikel seperti ini bakal bertambah.

Dengan demikian, saya sadar penuh dan setuju dengan pendapat di atas. Namun, saya tidak setuju bahwa itu hanya terjadi atau bahkan hanya umum terjadi di Bahasa Indonesia. No. Not even close…

Nuansa terjadi di bahasa manapun. Bukan karena orang indonesia itu suka merasa-rasa. Tapi karena orang itu suka merasa-merasa.

Misalnya nih bahasa Inggris. Really sama truly. Kalau really itu punya nuansa “yang sangat” kalau truly itu punya nuansa “sebenarnya”. Jadi kalau kita bilang a really crazy person, kita mengklaim bahwa dia itu sangat gila, gilanya nggak ketulungan. Kalau kita bilang a truly crazy person, kita mengklain bahwa dia itu gila beneran, nggak main-main atau bohongan. Harfiah. Mutlak. Gila segila-gilanya.

Illusion dan DelusionIllusion itu sesuatu yang tidak nyata, digunakan untuk memberikan kesan yang salah terhadap realita. Delusion itu kepercayaan, persepsi, bayangan pikiran, atau pendapat yang salah atau dibuat-buat alias bertentangan dengan fakta. Fatamorgana itu ilusi. Indonesia menang world cup itu delusi.

Postpone × delay × defer. Postpone itu sengaja menunda sesuatu yang sudah dijadwalkan, umumnya ke jadwal yang lain. Delay itu ada kesan tidak sengaja tertunda, di luar dugaan, dan belum tentu ada jadwal penggantinya. Meskipun bisa jadi umbrella term juga, dipakai umum untuk segala penundaan. Defer itu menunda sesuatu tapi belum tentu jadwalnya sudah ditentukan sebelumnya (sebelum dia ditunda).

Bahasa Jepang lebih banyak lagi. Rajanya nuansa keknya. Di JLPT seksi vocabulary justru mengetes pemahaman nuansa dibanding cuma makna kata. Saya sampai stress dan nggak lulus-lulus karenanya. Saya berikan contoh yang gampang aja disini.

Analisis: 分析 bunseki × 解析 kaiseki. Kalau bunseki itu analisis yang lebih menyeluruh, umum, atau ringkas. Kalau kaiseki itu lebih mendalam, metodik, bersifat numerik, dan butuh data yang spesifik.

Malam: 夜 yoru × 晩 ban. Kalau yoru itu lawannya 昼 hiru alias siang, kalau ban itu lawannya 朝 asa alias pagi. Tengah malam itu pakai 夜 yoru = 真夜中 mayonaka.

Marah: 怒る okoru, 叱る shikaru. Kata okoru itu marahnya karena ketidakpuasan subjek yang memarahi. Kata shikaru itu karena kesalahan yang harusnya umum diketahui kalau itu salah. Situasi “guru memarahi siswa karena tidak mengerjakan PR” itu memakai shikaru. Situasi “cewek marah sama cowoknya karena lupa ulang tahun” itu memakai okoru.

Hai aja bisa berarti macam-macam bergantung pada nuansa suaranya.

Kalau didaftar semua bisa-bisa melebihi kamus artikel ini. Sementara contohnya segini dulu. Sisanya simpanan artikel buat lain kali.


Karena ada nuansa ini jugalah kata dalam bahasa asing biasanya tidak bisa dicari padanan utuhnya di bahasa lain. Saya sempat membahas di 11 Kata Indonesia yang Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya. Ada yang komentar: bisa aja ah tuh gan dicari padanannya. Tinggal dibuat konteksnya, katanya.

Namun, mencari exact meaning termasuk nuansanya untuk beberapa kata itu mustahil lho. Misal mabuk dan drunk. Arti keduanya sama… Sayangnya konsepnya berbeda sehingga mereka bernuansa makna.

Mabuk itu konsepnya lebih ke pusing kepala yang sangat dan tiba-tiba karena objek luar sampai susah mikir. Kagak ada asosiasi sama alkohol. Makanya ada istilah mabuk yang bukan dari alkohol, misal dari kendaraan, laut, atau cinta. Konsep ini nggak ada di bahasa Inggris. Padanannya, drunk itu ya kejadian hilang syaraf karena minuman. Tok. Nggak ada istilah car-drunk, sea-drunk, atau love-drunk.

Harus hati-hati kalau nerjemahin sesuatu nih, khususnya novel.


Saya juga ingin membahas tentang keyakinan saya bahwa kalau menulis sesuatu, apalagi pendapat, itu harus memiliki nuansa. Nuanced article. Nuanced opinion. Sedemikian sehingga berbeda dari yang lain, walaupun bahasannya sama. Dengan demikian, ada sesuatu yang baru yang ditawarkan ke pembaca.

Misalnya saja artikel ini sama persis dengan artikel  Nuansa Makna (Samsudin Berlian, Kompas) tadi dan juga Blog Kutu Kamus berikut. Namun, saya setuju bahwa kata nuansa itu dipakai secara salah di masyarat luas, tetapi berbeda di titik argumen bahwa pemakai salah kaprah nuansa = suasana itu semuanya heresy, melainkan saya memandang kalau kamuslah yang harus dimutakhirkan. Saya juga memberikan contoh nuance dari bahasa lain dan antar bahasa.

Well, mungkin bisa juga didebatkan kalau semua hal itu, mau artikel, musik, karangan, masakan, makalah memiliki nuansa. Asal nggak plagiat plek 100% persis-sis kali yak.

Namun, ada juga argumen yang menentang nuance, khususnya di bidang akademik. Makalah berjudul Fuck Nuance (Kieran Healy, American Sociological Association 2017) berikut merupakaan bacaan yang bagus.

Yup, mungkin buat tema artikel lain kali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s