Hari: 22 Juni 2017

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya. Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut: English Formal Informal Informal Possesive I Saya Aku -ku You Anda Kamu -mu He/She/It Beliau Dia -nya We (inclusive) Kita Kita Kita We (exclusive) Kami Kami Kami You (Plural) Kalian Kalian Kalian They Mereka Mereka Mereka Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral. Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya… Jika saya disuruh merevisi tabel …