Kosa-Tata
Comments 2

Duduk Dimana?

Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingin bertanya ke pembaca. Saya pensaran. Kalian pada duduk dimana nih?

Saya bisa ngecek di statistik web wordpress dari peta pengunjung sih. Namun, lebih seru kayaknya kalau interaktif artikel nanya, yg baca jawab di komen, kan…

Eh, ngerti nggak pertanyaannya? Jadi, duduk dimana?


Dari pertanyaan ini, saya menemukan satu contoh bahwa bahasa Indonesia itu tidak logis ataupun konsisten. Masih lebih bagus bahasa Malaysia…

Jadi, suatu hari sekian tahun silam… Saya melancong ke Bangi, Selangor. Sambil ikut konferensi, saya bertemu dengan sanak saudara yg tinggal di sana. Adalah peri kecil saya Batrisya bertanya dengan lucunya.

Abang abed duduk dimane?

Duduk? Kebetulan waktu itu lagi duduk di taman sih kayaknya. Terus saya jadi bingung… Ini… Lagi duduk… Disini… Di kursi taman ini…

Prosesor saya ngehang, saya pun menatap ke ibunya Batrisya, bibi saya. Help me…! 

Ternyata maksud pertanyaan si Ica tadi itu:

Abang tinggal dimana?

Huh. Bahasa Malaysia. Lucu…

Itu perasaan saya waktu itu, di tengah euforia juga kali pertama ke Malaysia dan melihat banyak papan pengumuman yg bikin ngakak di pesawat, bandara, kampus, dll. Mungkin mereka gitu juga kalau ke Indonesia kali ya.

Namun, tunggu dulu! Kalau dipikir, soal kasus duduk ini mereka lebih logis loh.

Tahu kartu apa yang dimiliki setiap orang Indonesia? KTP. Kartu Tanda Penduduk. Yup, penduduk. Artinya orang yang duduk di suatu tempat.

Kata turunan lain juga memiliki makna tentang lokasi / wilayah. Misal menduduki, pendudukan. Bukanlah artinya menaruh pantat di suatu benda (menduduki, ada juga sih arti kesana), atau peristiwa penaruhan pantat (pendudukan). Namun tentang penguasaan wilayah tempat duduk, tempat tinggal orang. Orang lain menetap dengan paksa di tempat duduk tadi.

Sekarang kita cek kata tinggal. Nggak mungkin kan kita menyebut KTP jadi Kartu Tanda Peninggal… Di KBBI juga ada 12 arti kata tinggal dan yang sesuai dengan kata tempat tinggal cuma ada di nomor 11. Itu pun harus ikuti dengan kata rumah- dan tempat- di depannya.

Peninggalan juga artinya agak beda dengan nuansa yang ada di kata “tempat tinggal”. Peninggalan itu yaaa artinya sesuatu yang ditinggalkan orang. Orangnya justru pergi, bukan menetap. Meninggal, well, subjeknya pergi ke dunia lain. Tertinggal, yang harusnya ikutan pergi eh tidak sengaja tidak ikut pergi. Meninggalkan, sengaja menaruh sesuatu di suatu tempat sebelum kita pergi. Tinggal kelas, tidak bisa lanjut ke kelas berikutnya. Semua ada konteks sesuatu yang pergi di kata tinggal ini.

Jadi tempat tinggal atau rumah tinggal hanyalah tempat atau rumah yang nggak kita bawa-bawa kalau kita pergi. Hmm…

Jadi bahasa Indonesia itu aneh dan inkonsisten kalau memakai “Tinggal dimana?” dalam pertanyaan. Tinggal? What the heck are you asking about… Saya ikut kok, nggak tinggal…

“Duduk dimana?” itu lebih logis. Saya duduk di Meguro, Tokyo, sepuluh menit dari Stasiun Oookayama.

Bahasa Malaysia: 1.
Bahasa Indonesia: 0.

Iklan

2 Comments

  1. Manteeeb, tapi menurutku sih masih mending ketidakkonsistenan bahasa Indonesia dibanding ketidakkonsistenan pelafalan huruf di bahasa Inggris 😀

    • Soalnya bahasa Inggris nyerap kosa kata dari buanyak bahasa lain sih… Seluruh penjuru bumi. Dan uniknya mereka mempertahankan ejaan asalnya, cuma bunyinya ya jadi ga konsisten…
      Lalu bahasa Inggris ga punya pusat bahasa untuk rekayasa vocab atau bilang ini benar, itu salah.
      Mungkin kalau bahasa Indonesia udah makin kaya kosa katanya bakal kayak gt juga kali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s