Kosa-Tata, Uncategorized
Comments 3

Jubah

Saya merasa menulis dalam bahasa Indonesia itu lebih banyak tantangannya. Seperti yang saya bilang kemaren di artikel Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi. Lebih-lebih kalau mau menulis fiksi atau cerita.

Membuat dialognya susah, karena bahasa Indonesia sedang mengalami diglossia, punya dua variasi berbeda. Satu formal untuk tulisan. Satu informal, untuk ngobrol. Nah, ketika menulis obrolan alias dialog di teks, hasilnya aneh! Well, tema untuk lain kali.

Membuat deskripsi latar juga susah minta ampun. Bingung memilih kata-kata, atau bingung karena nggak ada kata yang cocok di Bahasa Indonesia itu sendiri. Nuance-nya itu… Karena mungkin saya kurang familiar dengan konsep-konsep fundamental di kepala orang Indonesia. Udah jarang baca literatur berbahasa Indonesia sih. Lebih sering nonton anime/film barat juga soalnya akhir-akhir (satu dekade belakang?) ini.

Case in point, saat saya ingin menulis deskripsi pakaian sebuah karakter. Dan ini berkutat di satu kata: mantel atau jubah atau apapun itu lah.

Gen_Bou_Kingdom

Gen Bou (Kingdom)
Sumber Gambar: wikia.com

Biar gampang saya kasih contoh gambar. Yang ada di kepala saya kira-kira seperti tokoh di samping ini. Saya ingin menarasikan lembar yang merah-merah itu. Atau kalau masih kurang jelas, kayak yang dipakai sama Altair, dari Assassins Creed (Sumber Gambar: screenrant.com).

Kayak gitu lah. Terus dijogress dengan pakaian yang biasa dipakai oleh biksu-biksu tibet.

Kebayang?

Kayaknya itu sejenis mantel deh.

Terus saya coba googling mantel di Google Images. Lho kok, hasilnya beda… Malah per•api•an yang keluar. Bahasa apa itu yak…

Ada lagi kata yang lain Indonesianya: jubah. Cuma kan banyak jenis jubah tuh. Harus didetailkan gimana bentuk jubahnya.

Eh, emang jubah itu yang kayak mana toh?

Karena bingung, saya pun coba bertanya ke KBBI. Di luar sangkaan, jawaban yang saya dapat seperti ini.

ju.bah

n baju panjang (sampai di bawah lutut), berlengan panjang, seperti yang dipakai oleh orang Arab, padri, atau hakim: perutusan dari Saudi Arabia itu semuanya mengenakan — putih

Terus, kalau saya coba cari di Google entah kenapa yang keluar cakep-cakep bikin ngiler kayak di bawah ini nih.

Hasil pencarian Google Image dengan kueri “Jubah”

Ngomong-ngomong, sejak kapan Google Image jadi kayak toko online begitu? Bisa pilih warna segala kalau nyari pakaian. Ngomong-ngomong lagi, itu yg kanan bawah kok kayaknya pencilan…

Yang kayak gitu itu bukannya gamis yak?

Baru kali ini ada asosiasi antara jubah dengan jilbab cewek di kepala saya. Baru tahu…


Kalau memakai bahasa Inggris kok kayak lebih mudah. Kayaknya doang sih, belum dicoba. Nggak tahu, mungkin karena kosa katanya lebih banyak kali ya…

Misalnya ada kata cape yang cuma terbang-terbang di bagian belakang badan doang. Paling pol ya menyelubungi sampai samping.

Ada lagi coat yang mirip jaket tapi lebih panjang dan dipakai di luar jaket. Kayaknya ini Indonesianya mantel. Terus bedanya sama yang inggris mantle Mantle itu dalam ruangan kalau coat luar ruangan.

Ada lagi cloak yang seperti cape tapi lebih kayak selimut dan punya kupluk. Nggak punya lobang buat tangan.

Dan lain sebagainya, seperti robe, tunic, poncho (bukan jas hujan), capote, etc.

Mungkin perbedaan di atas cuma sekadar pedantik. Namun, yang penting adalah banyak pilihan kata… Jadi lebih lancar, variatif, dan spesifik kalau mau membuat deskripsi teks.

Harus banyak ngarang kata-kata baru nih, pusat bahasa…


Setelah empat jam berjuang, berikut lah satu dua paragraf deskripsi karakter yang mau saya tulis tadi.

Rambut acak-acakan dan janggut panjang Raja Vinh sudah perak mengkilat, kontras dengan tiga pemimpin muda di hadapannya. Pakaiannya tebal berupa lapisan kain hijau dan kuning. Harmonis bak langit kuning di atas pematang. Meililit di badan dan menjuntai hingga tumit. Pinggangnya terikat dengan sehelai kain merah. Lebar menutupi separuh perut. Ikatannya tak tampak, disembunyikan di panggul. Kain berbentuk jubah tak berlengan berwarna sama terhampar dari bahu hingga ke betis. Menutupi seluruh punggung di belakang hingga tepi depan badan.

Beliau duduk di kursi tinggi berselimuti kain, berusaha menyamakan titik pandangan mata dengan lawannya. Kaki kirinya tergeletak di lutut kanan. Tangan kanannya memegang tongkat kayu yang sepertinya lebih panjang dari tubuhnya. Tangan kiri tergenggam di pinggang. Badan kurusnya tegap dengan sedikit condong ke depan. Ia menyengir lebar, memberi salam hormat kehormatan kepada forum perdamaian.

Entahlah, gimana jadinya tuh. Apa pembaca bisa membayangkan sesuai dengan di kepala saya atau tidak.

Iklan

3 Comments

  1. Ping-balik: Nuance dan Nuansa | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Collision | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Diglosia dan Dialog dalam Tulisan | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s