Wisata Jepang
Comment 1

The Majestic View in Miyajima Island

Featured Image

kami di

Puncak perjalanan 18 kippu ambisius Jalur Pantai Barat Jepang Kanazawa-Tottori plus Hiroshima ini bisa dibilang ada di Pulau Miyajima ini. Kami mendedikasikan satu hari penuh untuk eksplorasi pulau ini. Dan ternyata kurang! Saking mantabnya ini pulau, udah seharian muter-muter dan hampir habis terlibas badai salju pun, rasanya masih pengen kesini lagi.

Warning: artikel ini kayaknya bakal lebih panjang dari rata-rata artikel seri Musim Dingin Tahun Baru 2015 ini. Namun, lebih banyak deskripsi dan isi ceritanya. Let’s go.

Stasiun, Pelabuhan, Rusa, dan Desa

Jalur menuju Pulau Miyajima dari Kota Hiroshima telah ditulis lengkap di artikel Japan Guide: How to get to and around Miyajima berikut ini. Kami pun mengikuti situs ini di seluruh perjalanan kami.

Kami sampai di stasiun JR terdekat, Miyajimaguchi, cukup pagi. Pukul 9. Dari stasiun ke pelabuhan harus jalan kaki sekitar 10-15 menit. Pemandangan sekitar mainstream seperti pasar di Jepang pada umumnya, tetapi tidak membosankan karena dilatari oleh laut dan ornamen/plang yang unik di daerah ini.

Si stasiun digerbangi oleh Torii merah seperti di gambar kanan bawah.

Sesampainya, kami langsung mencari tempat berlabuh bersandar naik kapal (noriba itu bahasa Indonesia-nya apa ya?). Tak kami kira, sangat-sangat bejubel. Kami paham dari Liburan Musim Dingin 2014 silam sih. Dua tiga hari tahun baru itu bagi orang Jepang itu kayak hari Jumatnya orang kita. Yang tadinya masjid sepi, jadi padat merayap. Beda dengan lebaran tapi ya, nggak pulkam soalnya. Pulkamnya pas obon.Namun, nggak nyangka banyaknya segitu… Saking banyaknya orang, antri masuk kapal kira-kira hampir setengah jam. Ngerasa kayak lagi mudik di pelabuhan merak sih.

Di dalam kapal kami tidak bisa duduk. Namanya aja lagi musim hajinya orang Jepang… Namun, siapa yang mau duduk kalau pemandangan sekitarnya laut! Laut di Jepang lagi!!
Tidak begitu lama, daratan pulau seberang pun mulai terlihat. Tampak di kejauan pelabuhan Pulau Miyajima. Juga Itsukushima Shrine dan Torii-nya yang terkenal itu! Waktu itu pagi hari, jadi si Torii sedang tenggelam di lautan.

Setelah kapal merapat, penumpang berhamburan dari perut kapal. Disambut dengan jalur panjang berkanopi kayu sampai ke bangunan pelabuhan. Pelabuhan begitu ramai seperti halnya subway di tokyo saat rush hour.Oh ya, foto geladak kapal pas kami turun di galeri di bawah kayak keren gimana gitu ya. Kayak film action gitu.

Sampai di luar stasiun, yang pertama menyambut kami adalah cyka shika alias rusa. Mereka sedang bersantai-santai di bawah pohon. Lucu lucu… Beberapa ramah mendekati saat kita mengulurkan tangan, beberapa jutek parah memalingkan wajah saat kita mendekat.Yang saya sayangkan, mereka itu kan menjangan, kok nggak ada tanduknya. Mungkin karena masih kecil. Mungkin juga yang dewasa mencopot tanduknya, ditinggal di rumah. Kasihan dengan manusia-manusia pendatang yang lugu dan nggak tahu malu.

Kami langsung berkeliling mencari informasi dan tempat yang seru. Cari peta dan langsung menentukan rute paling asyik untuk eksplorasi.Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke puncak Gunung Misen dulu, puncak tertinggi di pulau ini. Rencananya biar nggak capek ke atasnya naik pakai kereta gantung. Turunnya baru nanti jalan kaki, biar seru. Baru deh sorenya, pas pantai surut kami menjamahi Itsukushima Shrine dan si Torii yang di tengah laut tadi.

Ada beberapa jalur menuju kereta gantung dari pelabuhan Miyajima. Kami memilih jalur yang melewati rumah dan pertokoan. Jalannya tenang dan damai.Di jalan kami menemukan beberapa tempat menarik. Seperti kuil tua yang seutuhnya terbuat dari kayu di atas, Hokokujinjahoden namanya. Di dekatnya ada pagoda lima lantai.

Pedesaan dan pertokoan di sekitar pelabuhan dan jalur wisata (jalur yang manapun) juga worth it. Asyik gitu… Sayangnya waktu kami datang masih pagi sehinnga pertokoan masih pada belum buka.

Oh ya, yang membuat kami pengen naik gunung dulu adalah karena selain kami lebih menyukai wisata alam dan di pagi hari si Tori masih punya jadwal berendam, juga karena Itsukushima Shrine-nya puadat kayak ikan pepes. Ruamee parah!!Kami berharap, sore nanti para jemaah udah pada pulang sehingga kami bisa main sepuasnya. Anggapan yang kami tidak tahu seberapa salah hingga sore harinya.

Setelah keluar si desa di pinggir laut, mendaki bukit, melewati lembah (agak capek juga padahal belum naik ke puncaknya), kami mendapati daerah non-pemukiman yang bentuknya kayak taman. Lumayan juga.Ada jembatan merahnya juga! Jembatan merah, saikoo..

Tidak lama setelah bukit dan lembah tadi akhirnya sampai juga kami di stasiun kereta gantung. Satu setengah jam lebih mungkin kami berjalan kaki dari pelabuhan kesini. Saat itu kami sadar. Ternyata ada bus yang kesana! Gratis pula!!

Ya, nggak papa juga sih… Lebih seru jalan kaki sambil ngeliat banyak hal kan?! Dapat macam-macam tuh… Dari taman, temple, sampai pagoda. Pemandangan di jalan seru-lah!Atau kalau mau lebih seru, bisa memperbudak orang Jepang satu buat narik becak (literally ditarik lho ya). Mahal tapi keknya… Kasihan juga…

Kereta Gantung dan Puncak Pulau Miyajima

Kami sampai di Stasiun Kereta Gantung hampir pukul 12. Lihat di peta sih katanya kalau jalan kaki naik cuma 20 – 30 menit. Namun, supaya menghemat waktu (cuma ada sehari penuh buat disini) kami memilih naik si ropeway. Rencana turunnya aja yang hiking, biar nggak capek juga.

Jadwal dan harga si kereta gantung bisa ditelusuri di laman Miyajima Ropeway berikut ini. Rute kereta adalah Stasiun Momijidani di bawah, lalu transit di stasiun Kayatani di tengah, dan berakhir di Stasiun Shishiiwa di atas.

Satu kereta isinya max 6 orang. Kami waktu itu kebetulan bareng dengan sekeluarga orang Jepang (ya iya lah ya, masa orang Arab…). Si kakek akrab mengobrol dengan kami. Lupa ngobrolin apa, tapi seru aja obrolannya. Kemudian setelah berapa lama nanti di atas, si kakek mewariskan tongkat naik gunungnya ke kami.

My sons, it is time for you to treasure this staff… I know you, if it is you, you can wield it…

I am not worthy, master…

Perjalanan kereta gantung nggak lama. Pemandangan dari atas kereta aja sudah WOW.Setelah turun di stasiun Shishiiwa, stasiun teratas, pemandangannya lebih WAAW lagi…

Breathtaking!

Observation Deck Stasiun Atas Miyajima Ropeway.JPG

Jadi ini toh penampakan satu dari tiga pemandangan terindah Jepang: Amanohashidate, Miyajima, dan Matsushima. Tinggal satu tempat lagi yg belum saya kunjungi nih. Matsushima, suatu saat… Aku akan datang…

Pemandangan laut emang favorit saya. Nggak jemu-jemu melihat dari sudut pandang mata elang seperti ini. Rasanya: Bebassss… Lepas… Puas…Di observation deck nya juga terdapat teropong buat ngintipi pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Pulau Miyajima. Kalau nggak salah harganya seratus yen. Atau gratis yak? Lupa.

Di daerah stasiun kereta gantung teratas, Stasiun Shishiiwa namanya, tanahnya cukup licin. Jadi harus hati-hati jalan. Daerahnya cukup fotogenik. Walaupun cuma tanah bebatuan, kalau difoto cakep. Peletakan batu-batu besarnya asyik gimana gitu.

Daerah stasiun Shishiiwa ini ternyata bukan yang paling puncak. Masih ada lagi daerah luas di kawasan puncak ini yang bisa dijelajahi. Tentu saja ini berita bagus bagi kami yang berjiwa petualang ini.Menurut laman Map for Strolling situs Miyajima Ropeway ini, pulang balik ke puncak Misen memakan waktu satu jam. Namun, karena waktu itu jalan licin sekali, realitanya kami memakan waktu sekitar satu jam untuk satu arah. Gimana nggak licin, tanahnya literally berlapis es. Kayaknya pilihan kami untuk  naik ropeway (tidak hiking dari pelabuhan) kali ini sangat tepat.

Naik ke puncak misen cukup menantang.JPG

Naik gunung mode hard. Licinnya nggak becanda bro.

Separuh jalan, kami disambut oleh sebuah kompleks kuil lagi. Bangunan terbesarnya namanya Misenhondo Main Hall. Kalau dari Jepang di-Indonesiakan jadi Aula Utama Misen Main Hall???Ketika kami tiba di area aula utama Misen ini, salju pun turun. Jeng jeng jeng…

Yang jelas disini kami sadar, salju menambah kefotogenikan dan kegantengan benda, tempat, ataupun orang sampai tiga atau empat kali lipat.
OMG!!.JPG

Ow. Em. Ji. !.

Oh ya, biar adil saya pasang juga rekan perjalanan saya di perjalanan ambisius 2015 ini. Namanya Sidik Soleman, blogger juga di wordpress. Tulisannya keren-keren lho…
Setelah berfoto ria sambil mengamati thogut yang ada disana, juga sambil menunggu hujan salju reda, kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak, gemilang cahaya… Masih ada setengah jam untuk ke puncak dengan pemandangan yang indah dan tentu saja makin bebas lepas puas.
Dan akhirnya sampai juga!

Daerah Observatori atas.JPG

Foto di bawah ini tertanggal 1 Januari 2015 pukul 13:26. Jadi dari statiun bawah sebelum naik kereta gantung sampai puncak sini hampir memakan waktu dua jam.

Daerah Puncak dari Observation Deck.JPG

Dan berikut adalah foto stasiun atas kereta gantung, Shishiiwa Station dari puncak Mt.Misen! MANTAB KAN!??Laut dari hampir puncak (1)

Dan ini adalah… Siapa ya,,,?

Siapa ya...

Kami pun menghabiskan waktu tanpa foto-foto. Menikmati menakjubkannya pemandangan majestik dari atas sini. Capeknya dan berdebarnya naik gunung dengan mode hard tadi sangat-sangat terbayar…

Badai Salju dan Turun Gunung

Tak berapa lama kabut menyapa. Laut di ujung cakrawala yang tadinya nampak jelas menjadi putih polos. Salju juga mulai turun kembali. Turun. Makin lama makin menumpuk di lantai. Udara yang sudah cukup dingin mulai menusuk tebalnya jaket. Kami semakin khawatir. Jalan yang naik aja licin kayak tadi, gimana turunnya…

Saya iseng turun duluan dari observation deck, dan di depan saya ada mbak-mbak yang turun tangga tampak terburu-buru. Dua tiga detik kemudian, gerburaakk… Si mbak terbang dari tengah tangga ke bawah… Terjerembab. Saya, refleks… Turun dengan kecepatan tinggi. Hampir juga terpeleset, tapi untung sedang fokus tingkat tinggi. Sampai di bawah, saya menghampiri si mbak.

大丈夫?

Saya bertanya ke mbak yang masih terkapar di lantai, nggak papa mbak? 

。。。

Pertanyaan bodoh, jelas apa-apa lah. Tangannya berdarah, dari jari manis atau kelingking mungkin. Mungkin itu sebab si mbak langsung lari menjauh…

Saya lupa, mbak ini mbak yang sama dengan foto di atas atau nggak. Kalau nggak salah inget sih sama, tapi kok setelah cek foto jaketnya beda.

Tak berapa lama saya memanggil Sidik untuk cepat-cepat turun dari area puncak. ASAP harus kembali ke daerah pantai. Entar gak bisa pulang pula. It’s a state of emergency.

Memang benar, jalan jadi terasa makin licin. Mau lantai, mau tanah, mau batu. Licin!

Sesaat setelah keluar dari area observation deck puncak, tepat di belakang kami si mbak tadi ikut. Jari/tangannya masih berdarah, tapi berlapis tisu atau sapu tangan. Kami turun perlahan tapi pasti. Di belakangkabut dan badai salju mengejar. Kami tidak sempat ngobrol, berfoto, atau berhenti menikmati pemandangan lagi. Fokus kami hanya satu, kaki. Tujuan kami satu, bertahan hidup.

Pengunjung yang turun saling tolong menolong dalam grup kecil-kecil, beriringan melewati jalur setapak, menapa es. いつままにgrup kecil kami di perjalanan turun ini jadi bertiga. Karena si mbak tampak nyeri, dan jelas terlihat darah dari tangannya, kami membantui si mbak saat melewati jalan licin. Misal memberikan ranting pohon, atau menjulurkan tongkat, atau menunjukkan jalan yang confirmed punya koefisien gesek.

Perjalanan turun ini serius lebih mengerikan dari perjalanan naik. Kami banyak melihat korban bergelimpangan. Mbah-mbah kepeleset lah. Mbah-mbah kepeleset lah. Ada juga mbah-mbah kepeleset. Di jalan juga tidak jarang terlihat bercak-bercak merah, entah itu darah atau coca-cola.

Meskipun sukar, kami masih tetap bertahan. Kami mencapai stasiun Shishiwa sekitar pukul setengah 3. Baru setelah sampai stasiun kami pun mengobrol dengan kompanion baru kami. Si mbak ternyata kuliah di Tokyo, main ke Hiroshima sendirian. Ia mau mengunjungi keluarga Jepangnya di dekat Hiroshima (di Okayama atau mana gitu)…

Kami turun juga pakai kereta gantung. Ya iya lah! Gile aja lu ndro, hiking turun pas badai salju.Si mbak juga bareng dengan kereta kami. Saya mengira si mbak orang Jepang. Si Sidik menebak bukan. Logatnya agak aneh katanya. Sasuga, aing ora ciren

Ternyata memang bukan. Orang Vietnam. Ryugakusei juga kayak kami.

Setelah sampai di bawah, badai makin kuat. Kira-kira kalau kita berdiri di luar selama satu menit, si kupluk jaket udah jadi putih aja! Nggak pake kupluk? Muka penuh bunga es deh! Kalau masih nggak kebayang, bayangin aja hujan lebat yang bikin banjir dago itu, tapi salju. Kira-kira begitu lah…

Saya dulu mengira hujan salju itu selalu asyik. Ternyata perlu berteduh juga!

Sidik dan si mbak (1).JPG

Si Mbak (kiri), Si Sidik (kanan), dan Si Badai Salju (semua)

Sekitar setengah jam kemudian, kami bertiga sampai di daerah pantai. Dekat si Torii Itsukushima Shrine. Air lautnya sudah surut! Atau lebih tepatnya mungkin, sudah mulai pasang kembali. Perlahan airnya akan menjilati kaki si Torii dan menenggelamkan kembali pijakannya. Menghalangi para pelancong angkuh yang ingin berfoto di bawah roknya…Kami bertiga melihat kesempatan itu langsung berlari kesana. Hujan salju masih deras. Namun, kalau nggak cepat-cepat bakal nggak dapat foto lokasi paling ikonik dari si Three Scenic of Japan dong.

Kami difotoin si mbak dan si mbak difotoin sama Sidik.

Oh ya, foto featured image di paling atas artikel ini adalah foto si Torii saat badainya kencang. Dramatis banget yak…

Featured Image

Jam menunjukkan pukul 16.30. Mentari sudah mulai melambaikan tangannya. Namun, masih ada satu tempat lagi yang belum kami jamahi. Si Kuil Itsukushima yang banyak jemaah pagi tadi.

Kami mengajak si mbak untuk kesana. Masih ramai sih, tapi sayang kan nggak melawat masuk. Ternyata si mbak mau mengejar kereta. Dia harus mampir sebentar ke rumah keluarga Jepangnya tadi, sebelum pulang ke Tokyo. Nggak seperti kami, beliau tidak memesan hotel untuk menginap di Hiroshima.

Kami pun pamit berpisah. Tangan/jari si mbak kayaknya udah aman, dingin kan jadi sepertinya terbius lah. Nggak sakit lagi. Setelah mbaknya pergi, kami melanjutkan “perjalanan” ke dalam kuil Itsukushima.

Itsukushima Shrine

Menuju Kuil Itsukushima

Setelah puas berfoto di Torii dan berpisah dengan si mbak Vietnam, kami jalan langsung menuju Itsukushima Shrine yang ada di kirinya. Harapan kami sih si kuil sudah lengang jadi bisa dipakai main dan foto sepuasnya. Hitung-hitung sambil cari tempat berteduh dari badai, sampai ia berlalu.

Ternyata. Kayaknya semua orang berpikiran yang sama dengan kami. Ramainya mungkin agak berkurang dibanding tadi pagi, tapi tetap seperti pasar malam.

Kalau mau berfoto, harus berjuang sambil melawan arus deras manusia.

Pemandangan di luar kuil lumayan bagus. Bangunan dengan pilar-pilar dan dinding merah dihiasi latar putihnya salju yang menumpuk di tanah dan langit badai.

Bangunannya sendiri juga asyik. Kayak di anime-anime lah. Banyak kuil di Jepang terbuat dari kayu dan bagus secara arsitektur. Namun, seringnya kayunya dibiarkan agar tampak kuno, telah melewati berbagai zaman. Biasanya minim cat, warna kayu alami.

Kuil Itsukushima ini berbeda. Semua dipoles agar tampak cantik dan terawat. Seperti masih digunakan layaknya zaman Jepang dulu. Dengan demikian, saya merasa seperti dibawa ke era Shogun.

Eksplorasi di dalam kuil cukup memakan waktu juga. Luas juga ternyata. Walaupun seringnya kami terbawa arus manusia, tetap saja menghabiskan 30 menit lamanya.

Setelah strolling di pantasi sebentar sambil menikmati turunnya salju (jarang-jarang kan bisa dapat hujan salju selebat ini), kami pun pulang ke Hiroshima. Pelabuhan sore itu tidak seramai paginya. Namun, si badai sepertinya makin malam makin berjaya.

Oh ya. Sebagai penutup, tadi saya sempat bilang kalau salju membuat segala sesuatu menjadi lebih cakep dan fotogenik kan? Tentu saja itu termasuk sobat kecil yang menyambut kami pertama kali tadi pagi, Shika si Rusa.

Rusa di salju.JPG

Ow. Em. Jii….!!!


Liburan Tahun Baru 2015, Hokuriku~Chugoku:

Artikel ini adalah seri dari petualangan 18 kippu ambisius Hokuriku sampai Chugoku pada liburan 7 hari kami pada awal tahun 2015.  Daerah tujuan utama adalah kota-kota di pantai barat Jepang. Perjalanan di JR Imbi Line ini tepat pada saat tahun baru 2015.

Rencana perjalanan secara umum ditulis pada artikel utama. Baca juga eksekusi perjalanan ada pada detail masing-masing situs berikut:

  1. Matsumoto Castle
  2. Kanazawa: Kastil Bersalju, Taman Kenroku, Museum Aneh, dan Stasiun Modern
  3. Gosong Amanohashidate dan Pagoda Salju
  4. Wisata di dalam Kereta Akamatsu, Kyoto Tango Railway
  5. Tottori Sand Dune, Gurun di Pinggir Laut
  6. Tottori Sand Dune Museum ala Rusia
  7. JR Imbi Line, Perjalanan Es dari Tottori ke Hiroshima
  8. Hiroshima Shukkeien Park
  9. The Majestic View in Miyajima Island
  10. Kota Hiroshima, Kastil, dan Taman Perdamaian
  11. Museum Tragedi, Hiroshima Atomic Museum

1 Komentar

  1. Ping-balik: Kota Hiroshima, Kastil, dan Taman Perdamaian | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s