Wisata Jepang
Comments 4

Kyoto: Kiyomizu Temple, Kuil Tanpa Paku Pun Sebatang

Kiyomizudera

Ini adalah artikel terakhir dari seri Liburan Musim Dingin: Kansai. Situs terakhir dalam perjalanan pertama memanfaatkan 18 Kippu ini adalah Kuil Kiyomizu. Kuil ini termasuk salah satu kuil terkenal di Jepang yang wajib jadi tujuan wisatawan. Kuil ini juga terdaftar sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Situs ini terkenal karena terbuat seluruhnya dari kayu tanpa penggunaan paku di seluruh strukturnya. Di tempatkan di posisi yang cukup tinggi, pemandangan dari kuil ini pun mengagumkan. Dari bawah, struktur kokoh kuil ini tampak sangar dan liat.

Kiyomizudera dapat diakses dari stasiun Kiyomizu-Gojo, 20 menit jalan kaki. Kalau nggak mau terlalu jauh, dari stasiun Kyoto bisa juga naik bus nomor 100 atau 206 turun di halte Kiyomizu-michi. Tapi tetap jalan lagi sih 10 menit. Soalnya, kuil ini ditempatkan di dearah agak dalam, jauh dari jalan besar. Dan tempat yang tinggi, jadi jalannya nanjak.😀

Dari jalan besar menuju kuil, kiri kanan jalan dipenuhi bermacam toko oleh-oleh. Makanan, baju, mainan, keramik. Lengkap kayaknya deh. Dan kalau beruntung dan berani, kita juga bisa ngeliatin cewek-cewek Jepang berbaju kimono lewat, dan terus ajak foto bareng…

Okeh, kami berangkat dari Fushimi Inari sekitar pukul 12 lewat. Kami harus berangkat pulang dari Kyoto ke rumah paling lambat pukul lima sore dari stasiun Kyoto, supaya nanti di Toyohashi bisa naik bus terakhir dari stasiun Toyohashi ke asrama kampus. Yah, inilah Jepang, kita harus peduli dan taat dengan waktu gan…

Tadinya mau naik bus, terus antriannya jeng… Mana bus kan gerbongnya cuma satu. Sudah antri sekitar 15 menit, agak gerimis pula, laper pula, belum shalat pula. Pengalaman kemaren di Nara, nyari tempat shalat di luar susah, akhirnya kami memutuskan keluar antrian dan kembali lagi ke stasiun Kyoto. Mau shalat di tempat kemaren, hari pertama. Eh, kan hujan ya… Tempat kemaren basah dong! Sedikit mencari, ternyata di atas juga ada koridor super luas. Sepi. Bebas hujan. Bisa liat shinkansen lewat. Shalat nyaman… Stasiun Kyoto memang paling asyik buat shalat.

Jam 2 barulah kami sampai di Kiyomizudera. Setelah jalan agak jauh tentunya…

Menyambut di depan adalah gerbang yang dihuni oleh dua sosok raksasa. Katanya sih pelindung kuil, agak lupa, ada nama dan maksud dari bentuk si patung raksasa di kedua pilar gerbangnya. Gerbang ini beda dengan torii ya, karena ini tera bukan jinja. Kiyomizudera adalah kuil Budha.

Dari depan tampak juga pagoda tiga lantai.

Kuil ini sedang dalam masa renovasi di beberapa tempatnya. Saya sudah datang dua kali ke sini, pada 1 Januari 2014 yakni saat 18 Kippuan dengan Sidik dan pada bulan Maret 2014, Study Trip dari kampus. Konstruksinya masih ada juga. Pemandangannya juga belum berubah, belum spring sih, arghh. Padahal kalau banyak sakuranya kayak gambar di Japan Guide ini pasti kan keren banget.

Lanjut, dari pagoda dan bel raksasa dan konstruksi bangunan, kampu pun belok ke kiri, mencari WC. Katanya sih jalur ini jalur istimewa, jalur ibu atau gimana nggak paham juga, tapi karena fokus kami waktu itu adalah kebelet jadi nggak begitu memperhatikan. Kayaknya lumayan juga, ada sungai-sungai, jembatan kecil, dan pernak-pernik kuil Jepang standar. Seperti omikuji alias ramalan keberuntungan (yg bayar) atau doa yang digantun (yg juga bayar).

Akhirnya kami ketemu juga WC tepat di depan gerbang tiket masuk ke bagian dalam Kiyomizudera. Katanya ini toilet terakhir dari rangkaian penapakan di dalam kuil, jadi kalau mau pipis kesempatan terakhir adalah disini.

Antrian menuju bagian dalam kuil cukup panjang juga. Kami harus beli tiket dulu, harganya 500 yen. Tiket ini nanti ditunjukkan saja ke bapak-bapak yang jaga di depan gerbang. Well, nantinya kami akan menyesal kenapa kami beli tiket. Karena ternyata, kalau lewat jalur terbalik, dari bawah, kita bisa menjelajah tanpa bayar… Bagian bawah nggak ada yang jaga. Menyesal…. Arghhh…

Bagian dalam sangat-sangat sumpek sekali. Bau dupa kan. Dan orangnya itu wuih, ya 11-12 dengan Fushimi Inari Taisha lah. Namanya juga tahun baru. Banyak yang pengajian ke kuil. Hampir kayak pepes, untuk bergerak maju saja susah. Apalagi mau berfoto ria di pinggir beranda dengan pemandangan sekitarnya. Antrian ke altar pun sangat ramai manusia, tapi kami nggak tertarik kesana sih.

Struktur si kuil ini memang kayu padat semua. Melihatnya saja sudah wow.

Pemandangan dari teras juga lumayan asyik. Ada teras di bagian seberang. Ada pagoda orange di depan. Bagian bawah banyak pepohonan dan jalur jalan kaki yang rapi. Sebagian kota Kyoto pun terlihat di kejauhan.

Kiyomizudera ini tinggi. Kata Daimon sensei, ada pepatah di Jepang. Kalau kita mau melakukan sesuatu yang besar, misalnya melamar seseorang atau pindah pekerjaan, kita harus punya keberanian seperti melompat dari teras Kiyomizudera. Inggrisnya “to jump off the stage at Kiyomizu“. Tingginya kira-kira seperti gambar di bawah ini. Waduh, ngajak nikah aja berat ya…

Setelah bangunan utama Kiyomizudera ini, memutar di bagian belakang, terdapat jalur lagi ke daerah atas sedikit. Kuil cinta gitu (lupa namanya apa). Ada banyak dewa-dewa yang berkaitan dengan bidang ini disana. Jimat-jimat tentang cinta juga dijual di toko khusus di atas.

Ada juga dua pasang batu. Konon, jika kita bisa berjalan dari satu batu dan menyentuh batu satunya lagi dengan mata tertutup, berarti jodoh kita akan bagus. Hmm… Banyak juga loh yang nyoba walaupun ruuaame gini… Padahal, kekononannya nggak seberapa “menggiurkan” menurut saya.

Terdapat juga shrine dewa-dewa lain disini. Ada keterangannya sih. Ada dewa yang bisa mengabulkan permintaan apapun dari kita satu saja. Ada dewa yang . Gitu-gitu lah. Nggak ngerti bedanya gimana.

Nah, selanjutnya yang kami lakukan adalah melewati rute jalan kaki menuruni kuil sampai keluar kuil lagi. Ada teras untuk memfoto Kiyomizudera dari samping. Foto pertama artikel ini diambil dari teras ini. Ada pula jalur jalan kaki yang dikelilingi oleh pepohonan, cantiknya kalau kesini musim semi atau musim gugur. Warna pink dan warna merah oranye pasti menghiasi jalan ini. Ada pula jalur yang kirinya pahatan batu seperti nisan kuburan, nggak tahu apa.

Di bagian seberang Kiyomizudera, ada pagoda oranye yang tadi tampak. Kami melihat sebentar, eh, bertemu dengan orang Indonesia lain. Nggak kenal sih, pekerja dari sekitar Osaka atau Kyoto katanya. Mereka pun heran begitu tahu kami dari Toyohashi dan Tokyo, baru 4 bulan kok udah berani jalan sejauh ini kek Kyoto, sendirian…

Dan dari merekalah kami tahu bahwa bisa jalan-jalan di seluruh kompleks ini, gratis! Asal rutenya dibalik… Arghh, menyesal. Terima kasih infonya, sobat sebangsa.

IMG_2690

Saya dan Sidik foto di depan pagoda

Turun setelah pagoda ada gedung-gedung kantin (yang tadi difoto dari atas) dan di sebelahnya ada kolam dengan air cucuran. Entah kenapa, banyak yg antri di air cucuran ini.  Ada tiga buah cucuran. Katanya tingkat satu manjur untuk belajar, dua untuk panjang umur, tiga untuk cinta. Hmm… Kenapa nggak minum yang di kolam aja ya, kan campuran ketiganya. Lebih ampuh dong.

Begitulah perjalanan 18 Kippu Liburan musim panas kami diakhiri di Kiyomizudera ini. Maret, saya juga berkunjung ke kuil ini dalam study trip unversitas. Di situs ini juga perjalanan kami akhiri.Sayangnya pemandnagan di kedua perjalanan saja sih, belum beda jauh. Kembangnya juga belum bunga. Jadi study trip ke Kyomizudera nggak akan saya laporkan, cukup artikel ini sajalah. Yang beda hanya teman jalannya. Lumayan. Itulah yang membuat beda. Sama pemandangannya tapi beda rasanya ^^…

Menjelang pukul empat, saya dan sidik jalan dengan kecepatan jalan yang mungkin hampir dikategorikan lari. Di kiri kanan, toko-toko menjual barang-barang yang sangat menggiurkan. Hanya saja, saya dan Sidik tidak memiliki minta oleh-oleh apapun. Selain tidak ada yg mau dikasih, bingung juga milih apa. Batas kereta terakhir yg kami perhitungkan masih satu jam lagi. Namun, kami memilih untuk mengakhiri perjalanan empat hari yang super ini lebih cepat. Kami ingin berhenti di Maibara sebentar, tempat kami melihat salju pertama kalinya empat hari lalu, dan mencoba merasakan salju dengan keempat indra kami yg lain. Yup, termasuk nyoba nelen salju. ^^

4 Comments

    • Saya sih nggak, tapi karena turnya kan dipandu universitas kayaknya mereka bayar. Sebelum masuk ada staf yg ke loket dulu ambil tiket gitu…

  1. Ping-balik: Kyoto: Fushimi Inari Taisha di Tahun Baru 2014 | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s