Wisata Jepang
Comments 5

Pusat Perbelanjaan Namba ~ Ternyata Jepang Bisa Kotor Juga

Bola-bola lampu

Setelah makan di Restoran Xinjiang Muqam, mumpung ada di daerah Namba kami pun keliling. Sebenarnya nggak tahu mau ngapain, tapi ya udah, keliling aja tanpa tujuan. Daerah Namba ini sih kayaknya pusat kota. Banya gedung tinggi dan pertokoan. Jalan dan perempatannya pun besar. Stasiun bawah tanahnya apa lagi. Punya lebih dari 40 pintu masuk! Lorongnya kayak mall. Memang mall sih kayaknya.

Jalan nggak ada tujuan, kami melihat peta untuk mencari tujuan. Namanya di Jepang, nemunya tera alias kuil. Yah, di Jepang katanya kuil lebih banyak dibanding convenient store (alias mini market). Keliling sambil menuju arah itu kuil di Om-gle-map kami menemukan sebuah koridor perbelanjaan yg cukup menarik. Ada spanduk kain besar tergantung di atas lorong dengan bendera negara-negara ASEAN. Nggak tahu ada acara apa atau itu tempat apa. Tentu saja secara alami kami mencari benda Indonesia dan ternyata ada.

Di ujung lorong, pejalan kaki sangat-sangat ramai. Jalan bercabang empat sampai lima. Kalau di Indonesia, di mana ya bisa menemui jalan besar yg bisa dijalankakikan saat belanja seperti ini. Ciwalk? Ha. Di dalam kompleks beraninya. Braga? Dilewati mobil. Disini ramainya kayak pasar malam, well, secara teknis ini memang pasar yang tetap buka saat malam.

Masih ngotot nyari tera tadi, kami memilih cabang yang ke arah sungai. Sampai akhir nggak ketemu sih si tera, lagi keluar sama pacarnya kali. Namun, di sungai kami menemukan sesuatu yang menarik pula. Sungai yang dihias! Jembatannya asyik juga. Lampu-lampu yang indah. Sungai yg tidak bau, gelap namun bersih. Kapan Indonesia bisa memanfaatkan sungainya seperti ini.

Sebenarnya sederhana saja hiasannya. Namun, hasilnya seru kan… Asal kalinya bersih.

Melanjutkan perjalanan, kami memilih jalur yang menjauh dari titik kami bermula datang. Biar seru lah, banyak yg dijelajahi. Eh, kok agak sepi. Gedung tinggi masih banyak sih tapi daerahnya tidak sesak manusia seperti tadi lagi. Besar satuan kandela juga menurun tajam, makin remang-remang. Tampak beberapa ibu-ibu berdiri di pinggir jalan sambil bawa tisu atau brosur atau apa itu. Agak gelap nggak keliatan.

“Mas, sachi?”, kata ibu tadi mendekat.

Setidaknya itu yang saya dengar. Bukan mas juga sih, tapi onichan, kan orang Jepang. Nggak mudeng dan nggak minat, saya cuma mengangkat tangan saja. Makin jalan makin ketemu ibu serupa yg juga berinisiatif sama. Berulang kali saya mendengar sachi. Agak jauh, nanya ke Sidik. Eh, sachi naon? Masak nggak tahu sih? Euphemism itu. Awalnya itu pasti ujungnya yg lain. He? Naon? Bahasa Jepang? Bukan. Ah, kuping maneh! Naon sih?  Masaji.. Massage.

Oh.
Daerah abunai rupanya.

Onichan daijoubu?” Berkali-kali kami lewat dan banyak yg menghampiri. Begitu ditolak beberapa jawabannya gitu dg nada kayak ibu-ibu mengkhawatirkan anaknya yg jatuh dari sepeda. Kakak nggak papa?

Melupakan koridor gelap yang baru kami lalu, jam 11 datang juga. Capek. Nggak niat belanja juga kami, wong jalan-jalan pengen yg murah. Hari kedua jalan-jalan besok, menurut jadwal, kami harus berangkat pagi jam 7. Ah, kami pun melakukan rolling back action. Berbelok ke arah tempat kami datang. Yang ada stasiun disana sih. Dan koridor makin lama makin banyak orang lagi. Dan muakin banyak lagi.

Disinilah kita sampai kepada judul artikel.  Begitu sampai di Jepang, yang paling saya jelas terlihat dan saya kagumi adalah begitu rapi dan bersihnya kota disini. Jalanan mulus. Sampah tak terlihat, kalaupun ada paling hanya satu dua kertas terbang ketiup angin. Namun, kotak sampah sangat jarang terlihat. Kalau mau buang sampah, repot minta ampun. Di tempat wisata pun, misal di Arashiyama, terdapat plang bertuliskan “sampah harap dibawa pulang” di sebelah tong sampah khusus kaleng. Hm.

Namun saya tidak menyangka. Ternyata Jepang bisa kotor juga. Bukan soal onechan yg menawari kami sachi tadi loh ya. Bukan. Kotor dalam arti harfiah. Setelah tiga bulan disini, baru kali ini, di Namba ini saya nemu. Di atas jembatan yang sangat besar, belakangan kami tahu namanya Nipponbashi Bridge dan Dotonbori Bridge, sampah berserakan. Putung rokok, bungkus teh kotak, plastik, muntahan. Padahal di kedua ujung sana dan satunya, terdapat koridor yang mengandung manusia kayak dendeng.

Di foto nggak begitu kelihatan sih. Tapi trust me, lebih kotor buanget. Dibanding tempat lain di Jepang tentunya. Sama Indonesia atau Si Kota Babi Bandung ya tentu saja kalah lah.

Suatu hari di Bandung, saya di pinggir jalan sedang ingin beli Kopi Aroma. Karena laper, tadi saya makan pisang dan kulitnya masih ada di kantong jaket. Mumpung parkir deket pasar, saya pengen buang itu kulit. Tanya deh ke “tukang parkir” (kemungkinan besar tukang ilegal) setempat. “A’, kotak sampah dimana ya?

Tebak jawaban beliau apa… “Buat apa dek?” Syok saya waktu itu. Sepertinya menurut mereka kotak sampah ada fungsi lain. Untuk mengais makanan sisa mungkin salah satu contohnya, seperti babi.

Saya yakin, bukan cuma Bandung tapi hampir seluruh kota besar di Indonesia pantas dapat julukan Kota Babi. Apalagi penduduknya, selama masih punya mindset seperti babi, ya memang tak pantas dijuluki manusia mereka. Nggak perlu nyebut kota lah. Kampus saya ITB juga gitu mirip dengan Namba ini padahal kotak sampah dimana-mana. Sedikit off topic, anak ITB yang naik motor via trotoar pun banyak… Begundal semua. Ngapain mereka ke ITB ya. Tak pantas digelari mahasiswa mereka itu. Saat Jalan Juanda banjir super parah setinggi betis sehingga motor saya mati kebanjiran, saat darurat seperti itu pun, saya masih malu untuk berkendara di trotoar. Akhirnya, dorong.

Jawaban si tukang parkir selanjutnya setelah saya jelaskan apa perilah saya mencari kotak sampah (jika Anda penasaran yakni untuk membuang sampah), jawaban beliau lebih membuat saya syok. Buang aja disini dek, repot amat. Sambil menunjuk lubang saluran air kecil yg ada di tepi trotoar.

Mari kembali ke Namba. Sepertinya, daerah itu sedikit kotor dibanding daerah lain karena banyak anak muda yg berkeliaran. Suatu pemandangan yang jarak – menurut sidik – di Tokyo. Ini merupakan hal yang menarik. Tingkat individualisme di Kansai ternyata tidak setinggi di daerah Kanto. Hmm…

Efek lainnya adalah banyak orang mabok. Kami melihat beberapa manusia nemplok di lantai yg tidak bisa dibilang bersih untuk tidur alih-alih nyaman. Di sampingnya, temannya menelpon seseorang dengan nada panik. Hmm…

Kami juga baru sadar setelah penasaran, ini daerah kok kotor, dan menanyakan ke Om-Gle. Ternyata ini daerah namanya Nipponbashi. Daerah ini, bersama dengan daerah Namba adalah pusat perbelanjaan padat di Jepang. Bisa disetarakan dengan Pusat Perbelanjaan Osu Kannon di Nagoya dan Akihabara di Tokyo.

Berjalan sedikit kami pun menemukan pintu masuk lain ke stasiun bawah tanah Namba. Sambil memperhatikan trotoar jalan, tangga menuju bawah tanah, lorong bawah tanah, dan lain-lain, memang kesan disini lebih kotor dibanding kota lain di Jepang. Namun, setidaknya masih beberapa tingkat lebih bersih dari kebanyakan kota besar di Indonesia.

5 Comments

  1. saya ngerasa excited kalo udah liat jalan besar isinya orang lalu lalang ditengah macem-macem toko gitu. nanya juga, dimana sih tempat di Indo yang kayak gini. palingan kalo lagi ada festival dan banyak stan tapi pasti banyak sampah berserakan dan tempat sampahnya juga susah dicari. maaf curhat ._.v semangat!

    • Hmm, yg saya tahu konsep belanja sambil jalan kaki dan toko di kanan kiri koridor dan banyak gedung terpisah di Indonesia cuma Ciwalk, Bandung.
      Tapi itu cuma satu mall doang kan, gak kayak di negara maju misal Jepang ini. Banyak gedung dg pemilik terpisah, satu kompleks sangat besar.

      Kalau di Indonesia masih mengandalkan sistem mall dan kendaraan pribadi sih. Jadi ya, gitu…
      Dan betul, kalau ada festival pasti kotor parah. Sedih ya?

      • candidates for world leaders says

        kalo kita bicara cuma tentang sampah aja ya jelas kita sedih,terlalu sempit juga wawasan kita tentang Indonesia. Perlakuan yang kita terima dari dunia Internasional pun juga sangat berbeda dari jepang. menurut saya, Indonesia itu tidak bisa dibanding bandingkan dengan negara lain. justru menurut saya Indonesia adalah negara fantastis. cuman kalo buat motivasi aja sih ya silahkan.. lagian kita sangat bisa kok menjadi negara terbersih di dunia. kenapa ? karena 80% populasi di Indonesia adalah umat islam. coba kalo mereka mengamalkan haditsnya pasti beres kok. hehhe..
        jujur… saya nggak suka kalo Indonesia dikatakan tertinggal dengan negara lain. sebenarnya apakah yang kita cari sama dengan apa yang mereka ingin wujudkan ? apakah kita ingin negara yang sempurnanya seperti mereka? apakah kita melangkah tidak dengan petunjuk sehingga kita lupa apakah dunia ini hanya manusia saja yang memandangnya ? apakah keindahan hanya penilaian di mata manusia. bagaimana dengan Allah, para malaikat ? kalo kita bicara negara maju pasti bayangan kita adalah kemewahan dan kegemerlapan. kesenangan dan kemudahan. jadi… alangkah baiknya kalo kita tidak tergoda pesona pesona yang akan mengikis cinta kita pada Indonesia. mungkin banyak orang yang tidak faham kenapa sih kok rasanya kita ini selalu kalah dengan negara negara lain. kenapa ? mungkin karena orang Indonesia selalu menggunakan kamus yang salah. cara memandang yang sangat lemah, dan mungkin terkena berbagai racun dunia dari segala arah. so.. make your sharper comprehension hehehe….

  2. Ping-balik: Semangat Jiwa Muda, Seishun 18 Kippu ~ Liburan Musim Dingin: Kansai | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Osaka: Makan Malam ala Xinjiang di Muqam dan Tabehoudai Bagus Resto | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s