Bulan: Januari 2014

Enam Jam Berjalan Kaki Keliling Nara

Hari ketiga dalam Perjalanan Liburan Musim Dingin: Kansai, tujuan kami adalah kota Nara. Kota ini adalah ibukota Jepang kuno. Nggak kuno-kuno amat sih, sekitar 1300 tahun lalu. Menurut peta, situs-situs yg bisa dilihat di kota ini jaraknya dekat-dekat. Banyak tapi dekat. Katanya kalau tidak menghabiskan waktu minimal dua jam berkeliling disini, nggak puas. Jadi kami mendedikasikan setengah hari untuk menjelajahi ini. Enam jam akhirnya kami berjalan kaki berkeliling (dan itu blm cukup juga ternyata!). Pada rencana sih, maunya seharian penuh dari pagi jam 9. Hanya, paginya kami main-main dulu di Osaka sebentar karena kemaren belum sempat ke Osaka. Pertama-tama, dari tempat menginap di Osaka, kami bergerak ke stasiun JR Nara. Stasiun ini sebenarnya lebih jauh dari lokasi situs dibanding stasiun Kintetsu Nara. Namun, kami kan pergi dengan 18-Kippu, biar murah (gak harus bayar lagi) ya sudah kami lewat jalur JR. Dari stasiun, Nara Park dapat ditempuh dengan 20 menit berjalan kaki. Kami sampai pukul 12 lewat dalam keadaan lapar, jadi mampir dulu ke Saizeriya (dari kemaren nggak kepikiran untuk makan di restoran yg cukup aman dan …

Tiga Penginapan Berbeda saat Liburan Musim Dingin: Kansai

Sabtu, 28 Desember 2013 teman saya Sidik datang ke Toyohashi ketika hari mulai gelap. Jadwal ini agak mundur dari rencana karena konsep abstrak yang sulit dilawan di pagi hari Jepang saat musim dingin: dingin. Selimut adalah sahabat. Kami sudah merencanakan untuk keliling Jepang dengan tiket murah 18 Kippu dari tahun lalu, sebelum kejelasan bahwa kami akan ke Jepang sampai. Yah, bisa dibilang impian kami lah. Dan berdasarkan diskusi singkat, daerah Kansai sebagai pusat budaya Jepang jadi tujuan pertama kami musim dingin ini. Note: Paragraf ini adalah review, cerita prolog penuh dapat dibaca di prolog rangkaian artikel Liburan Musim Dingin: Kansai ini di Semangat Jiwa Muda, Seishun 18 Kippu ~ Liburan Musim Dingin: Kansai. Kami belum merencanakan apa-apa saat bertemu itu. Hotel. Itinerari. Daftar situs yg mau dilihat. Tahunya cuma 18 Kippu itu untuk lima hari dan bisa naik kereta lokal JR manapun aja. Malamnya barulah kami mikir detail perjalanan yang bisa dilihat di artikel prolog tadi. Setelah itu, pukul 11 malam lewat kami baru mengubek-ubek situs perhotelan untuk memesan penginapan. Menurut beberapa sempai, saat 18 …

Osaka: Makan Malam ala Xinjiang di Muqam dan Tabehoudai Bagus Resto

Hari pertama perjalanan 18-Kippuan Fuyu Yasumi kami ke Kansai. Malam itu kami syok sekali saat mengetahui bahwa kami salah tanggal saat memesan Hotel Taiyou Osaka. Karena mbak-mbaknya baik, kami dapat juga kamar double non-smoking cadangan dg harga yg agak lebih mahal dari pesanan kami. Setelah menghabiskan waktu istirahat untuk mengupas expedia, agoda, dan japanica habis untuk mengamankan tempat menginap untuk hari berikutnya (dg memesan dua hotel lain), kami pun sadar bahwa kami lapar. Sambil nyari hotel, saya menghujani om-gle dengan pertanyaan “restoran halal Osaka.” Pranala paling dapat diandalkan adalah situs Masjid Osaka: Halal Restaurants in Osaka. Dengan pertimbangan transportasi dan kedekatan dari hotel, serta lokasi restoran (pengen jalan-jalan sekalian kan), kami memilih ke daerah Namba. Ada restoran halal bernama Muqam di 2-2-8 Dotonbori, Chuou-ku, Osaka. Katanya sih makanan ala Xianjiang. Ini situsnya muqam.pepper.jp. Dari hotel, kami cukup ngesot sedikit lewat subway sekitar 10 menit, 2 stasiun, 200 yen (agak sayang sih sebenarnya, harus bayar, karena bukan JR [kami kan jalan2 pakai tiket 18-Kippu yg bisa naik kereta JR manapun]). Keluar di Exit 25, jalan 1 menit …

Kobe: Shin-Kobe Ropeway dan Nunobiki Herb Garden

Dari Kobe Harborland melihat-lihat kapal, laut, bianglala, dan kapal, kami mengunjungi kereta gantung kobe alias Shin-Kobe Ropeway. Kobe adalah kota pantai dan kota gunung. Kota sempit yang dibatasi oleh dua kontur bumi tersebut di selatan dan utara. Shin-Kobe Ropeway bisa diakses dengan subway, keluar di stasiun subway Shin Kobe. Atau kalau Anda naik shinkansen, bisa juga berhenti di stasiun JR (Shinkansen only) Shin Kobe. Setelah jalan via mall subway yang sangat panjang dan terintegrasi dengan stasiun kereta bawah tanah, kami langsung mendapati pintu masuk kereta gantung Kobe baru di sebelah mall di depan pintu keluar subway. Sebenarnya nggak sih. Begitu keluar sempat bingung dan konsult ke GoogleMap. Eh, ternyata tepat di dedepan subway ada plang penanda: Shin Kobe Ropeway ke kanan. Begitu belok kanan, tiga meter dari plang pertama tadi, ada plang lagi yang mengarah ke atas tangga, masuk ke mall di sebelah gerbang subway tadi. Bingung kan kami… Tapi begitu naik tangga, ada plang lagi dan ketahuan deh akhirnya mana pintu masuk ke area jalur tambangnya. Naik jalan miring yang cukup panjang berliku-liku (karena …

Kobe: Harborland, Bianglala, dan Museum Kapal

Rencana awal kami ke Kobe adalah berangkat jam 7 (dari tempat menginap di Osaka) dan berkeliling disana hingga siang (jam 12an). Mungkin karena matahari lagi datang bulan suka molor, kami akhirnya berangkat pukul 8 lewat. Maklum, semalam ngubek-ubek situs perhotelan buat menginap nanti malam dan besok malam dan kemudian berkeliling cari makan di pusat keramaian Osaka, Namba, sehingga tidur agak malam (standar sih sebenarnya, jam 11-an). Hotel Taiyou tempat kami menginap ini pun walau ada AC juga tetap dingin. Jadi agak tidak rela meninggalkan tempat tidur. Osaka-Kobe dari stasiun Osaka hanya memakan waktu setengah jam. Hanya saja, dari Hotel ke stasiun Osaka kami harus berdiri di kereta jalur lingkar Osaka selama 20 menitan. Sebenarnya persis di sekitar Hotel Taiyou ada Kebun Binatang Tennōji, tapi tutup. Memang banyak tempat wisata yg tutup di minggu pergantian tahun ini. Kami sampai di stasiun Kobe sekitar pukul 9 pagi. Tujuan pertama kami adalah bay alias pantai. Kebanyakan orang ke Kobe mau liat kapal. Kami juga. Jikalau otomotif buatan Jepang di dunia pasti lewat pelabuhan Toyohashi, hal yang baru di Jepang (dahulu) …

Kyoto: Arashiyama di Musim Dingin

Pada perjalanan 18 Kippu Liburan Musim Dingin lalu, Kyoto, lebih spesifiknya lagi Arashiyama, adalah situs yang pertama kali kami kunjungi. Seperti yang sudah sempat saya tulis bulan lalu, saya pernah ke Arashiyama sekali untuk melihat daun kuning momiji. Kunjungan waktu itu menyenangkan, tetapi kurang memuaskan. Yah, walaupun berangkat dari Toyohashi pukul 7.00, kami sampai disana pukul 14.00. Kemudian, kami hanya memiliki waktu 3 jam untuk berkeliling situs wisata tersebut. Sebenarnya, pada kunjungan kedua saat 18-Kippuan ini, saya dan Sidik juga sampai disana sekitar pukul 14.00. Sebelas dua belas lah. Namun, karena ini kunjungan kedua saya dan kami tidak punya konstrain waktu, komunitas, dan bus, kunjungan kedua ini lebih bisa dinikmati. Sebagai situs wisata yang menjual pemandangan pepohonan (terutama momiji) sebagai daya pikat utama, sesuai dugaan Arashiyama di musim dingin tidak begitu spesial. Pegunungannya hijau atau bahkan gundul, ada sedikit putih-putih nempel sih. Udara dingin tetapi tidak cukup untuk membekukan sungainya. Wisatawan yang hadir juga tidak seramai waktu itu. Yah, setidaknya yang terakhir ini merupakan hal yg bagus buat kami. Jembatan Togetsukuyo – seperti kunjungan pertama …